
Bab Tiga Puluh Enam
Peliputan media dilakukan secara langsung di istana Gary dan pada malam harinya diadakan pesta penyambutan selamat datang untuk Stella, didalam istana Gary.
Stella tidak tahu berapa undangan yang disebar Gary tapi melihat kesibukan para pelayan membersihkan seluruh aula, tim dekorasi yang secara khusus didatangkan untuk menghias ruangan dan taman dan juga berbagai tim yang khusus yang mengatur jalannya acara, dia bisa memastikan bahwa pesta yang diadakan Gary bukanlah hanya 'pesta kecil' seperti yang Gary katakan padanya.
Rebecca membawakan kado khusus dari Mr. Machunn untuk Nyonya rumahnya.
Saat membuka kado dari Gary, Stella tampak terkejut mendapati sebuah gaun malam yang sangat indah!
Gaunnya terbuat dari bulu-bulu halus dan untaian batuan swaroski berkualitas baik, bukan hanya itu saja! Satu set perhiasan dan juga sepatu yang berwarna senada dengan gaunnya telah disiapkan Gary untuknya.
Rasanya Stella enggan mengenakan semuanya ini, baginya semua ini terlalu mewah untuknya tapi sebagai penghargaan kepada Gary atas semua jerih payahnya dan menghargainya sebagai tuan rumah yang murah hati maka dia mengenakan semuanya itu tanpa banyak komentar.
Saat Stella meminta bantuan Rebecca untuk memakaikan kalung berlian pinjaman dari Gary, pintu kamarnya diketuk pelan.
Gary tampak gagah dan tampan dengan taxido resminya masuk kedalam kamar Stella sambil memandangi Stella yang sudah berdandan rapi.
Stella tidak percaya Gary terang-terangan memandanginya dengan pandangan penuh kekaguman.
“Berhentilah memandangiku seperti itu!“
“Kau sungguh tampak luar biasa, Putri tidur!“ kata Gary sambil memberi isyarat agar Rebecca keluar setelah mengambil kalung dari tangan Rebecca.
Tanpa diminta, Gary memberi isyarat kepada Stella untuk mengangkat rambut panjang yang sudah dirollating bergelombang lalu memasangkan kalung berlian itu dileher jenjang milik Stella.
Gary menghela napasnya sambil memandangi bayangan Stella dikaca cermin.
“Sempurna!“
“Terima kasih. Bagaimana menurutmu tentang pertemuan dengan media tadi pagi?“ tanyanya dengan antusias sambil merapikan gaunnya.
“Hebat! Kurasa, kau telah memberi suasana baru dalam dunia karya tulis dan bisa dipastikan peminat dari bukumu bukan hanya didominasi oleh kaum hawa saja tapi juga kaum adam juga akan berebutan untuk membeli novel-novelmu.“
“Kau sungguh membuat aku malu!“ wajah Stella merona memerah mendengar pendapat Gary.
“Katakan berapa banyak penulis yang benar-benar cantik sepertimu!?“
“Banyak!“ sahut Stella sambil mengalihkan pandangannya dari Gary.
“Tunggu saja diluar, aku masih harus memakai sepatuku dulu.“
Gary langsung menggandeng tangan Stella dan membimbingnya duduk diatas ranjang.
Sebelum sempat Stella berkomentar, Gary sudah mengambil kotak sepatu dan memasangkan sepatu itu ke kakinya dengan lembut.
Wajah Stella kian memerah.
“Kau tidak harus melakukannya Gary, aku bisa mengenakan sepatuku sendiri.“
“Biarkan aku melayanimu, cantik,“ kata Gary dengan tulus.
“Gary, kuharap tidak akan ada perasaan yang lain diantara kau dan aku selain persahabatan dan bisnis. Kau ingat …, aku sudah menikah dan akan lebih baik bagimu jika tidak mengharapkan hubungan yang lebih dari persahabatan.”
Dia tidak dapat membaca arti tatapan Gary kepadanya saat ia selesai berbicara tapi dia tidak menyesal mengatakannya, bagaimanapun ia tidak mau sampai membuat Gary salah paham dan mengharapkan cintanya.
“Aku tahu,“ kata Gary sambil tersenyum lalu memberikan tangannya untuk menarik Stella bangkit dari posisinya.
Stella merasa lega mendengar jawaban Gary.
Paling tidak, dia bisa menganggap pertemanan mereka tidak akan berujung kearah sakit hati.
Sampai kapanpun juga, dia tidak akan mungkin bisa mencintai pria lain selain suaminya sendiri dan dia tidak pernah berniat untuk membagi cintanya karena baginya hanya David-lah adalah sumber kehidupannya!
Tanpa ragu lagi, akhirnya Stella bisa tersenyum lega dan meraih uluran tangan Gary lalu keluar bersama-sama.
Para undangan memberi tepuk tangan sebagai ucapan selamat kepada Stella dan Gary saat memasuki ruangan pesta.
Stella tersenyum manis sambil sedikit menunduk kepada seluruh undangan yang hadir lalu tersenyum gembira kearah Gary.
Puluhan sorot kamera tidak henti-hentinya mengabadikan fotonya dan Gary.
Mereka duduk disebuah bangku yang disusun menghadap para undangan yang belum berhenti bertepuk tangan sampai mereka duduk.
Alunan musik mulai diperdengarkan dan hidangan demi hidangan mulai dibuka dan disajikan kepada para tamu.
Pembawa acara mulai memulai acara dengan menyuruh semua undangan yang ada untuk berdiri dan mengangkat gelas sampanye mereka sebagai ucapan selamat kepada Stella.
Dengan sigap Gary membantu menarik kursi duduk Stella agar Stella bisa berdiri dengan mudah dari kursi duduknya.
Stella mengucapkan terima kasih sambil berdiri ditempatnya dan menerima ucapan selamat dari para undangan yang hadir.
Ia menyambut ucapan selamat dan menerima tos pelan dari gelas kristal yang berisi sampanye.
Pembawa acara mempersilahkan Gary dan Stella untuk memulai acara dansa dan menuju panggung dansa yang telah disediakan.
Sambil masih terus tersenyum, Stella berjalan mengiringi langkah tegap Gary dan menerima uluran tangannya sebelum memulai acara dansa lalu dengan perasaan bahagia mulai bergerak mengikuti irama musik yang mengalun lembut.
Lima menit kemudian banyak pasangan yang mulai bergabung bersama mereka di lantai dansa.
Stella menerima ajakan dansa pria lain dengan enggan. Ingin rasanya dia menolak tapi ia tidak mau disebut sombong sebagai tuan rumah pesta ini.
Ia hanya melirik Gary dengan kikuk lalu menyunggingkan senyuman kecil saat Gary meminta persetujuannya.
Dengan enggan Gary tersenyum dan memberikan tangan Stella kepada Richard, jutawan playboy yang menyukai tantangan menaklukan wanita! Dan setahunya belum pernah ada wanita yang mampu menolak pesona Richard selama ini. Begitu dia menetapkan targetnya. Dia selalu berhasil mendapatkannya!
Gary merasa cemas dalam hati tapi sedikit tenang saat melihat tatapan keengganan jelas muncul melalui sorot mata Stella saat menerima ajakan Richard. Tapi berapa lama Stella sanggup bertahan dari pria bersenyum malaikat itu!?
Di setiap senyuman Richard seolah menebar jala pesona kepada wanita yang diincarnya. Dan kali ini Gary tahu, wanita yang dincar Richard kali ini adalah Stella!
Gary menggeram dalam hati.
Stella tidak mengerti mengapa Richard terus menerus memandanginya sambil mencoba memikatnya seperti itu! Dan dia sangat terganggu karenanya.
“Apa ada masalah?“ tanyanya tidak tahan dan merasa muak berada dalam pelukan Richard.
“Maksudnya?“ tanya Richard, tidak meredupkan senyumannya.
“Kau tampak sedang berusaha untuk menggodaku.“
“Apa ada larangan dengan hal itu, my lady?“ tanyanya dengan anggun.
“Jelas ada kalau wanita yang anda incar itu saya dan perlu saya ingatkan usaha anda akan gagal total karena saya sudah menikah. Jadi dari pada anda menyia-yiakan waktu anda untuk memikat saya lebih baik anda menghemat waktu anda,“ sahut Stella sambil memaksakan senyumnya.
“Saya sangat suka dengan tantangan dan saya percaya anda telah memberi saya tantangan itu!“ desah Richard dengan penuh percaya diri.
“Anda tahu, semakin anda menolak saya semakin saya akan mengejar anda.“
“Coba saja, dan kalau sampai tangan anda berani turun satu centi lagi ke bokong saya, saya pastikan saya akan menampar anda dihadapan para tamu yang hadir. Sekarang naikkan tangan anda dari pinggul saya!“ kata Stella dengan serius.
Richard terkejut dengan peringatan Stella dan dia tahu Stella tidak main-main dengan peringatannya maka ia memilih untuk menjadi gentelment sejati dan mencoba mengubah strateginya.