Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 8 judul mengagumi Stella



Bab Delapan


Ingin rasanya, ia menolak tapi ia tahu itu sangat tidak sopan apalagi melihat tatapan atasannya yang sangat menghargai kesediaannya.


Samuel menepuk-nepuk bahu papinya seolah mengerti dan menghibur papinya agar tabah melihat maminya digandeng pria lain.


Gary tidak melepaskan genggaman tangannya saat membimbing Stella berjalan menuju lantai dansa.


Stella merasa risih dan berusaha menarik lepas tangannya dari genggaman tangan Gary yang jauh lebih besar dari tangannya tapi tampaknya Gary tidak mengacuhkan usahanya untuk membuat segalanya lebih mudah. Seharusnya Gary hanya berjalan disampingnya tanpa menyeret paksa berjalan disampingnya.


“Apakah perlu menarikku seperti tadi?“ tanya Stella dalam senyumnya, ia berusaha menahan diri. Ia tahu, semua orang sedang memperhatikan mereka saat ini.


“Aku ingin, kita bisa pulang secepatnya. Apa kau mau berlama-lama ditempat ini?“ jawab Gary, memberi penjelasan.


Sontak Stella terkejut mendengar penjelasan Gary.


Yah, Tuhan apa yang ia pikirkan! Ternyata Gary sangat memperhatikan Samuel. “Maafkan aku, tapi kau sangat tidak sopan menarik tanganku seperti tadi." katanya. 'Hal itu, hanya pantas dilakukan suamiku!' tambahnya dalam hati. “Tapi aku berterima kasih, kau sangat memperhatikan Samuel.“


“Muel anak yang menyenangkan.“


“Muel?!“ kening Stella mengerut mendengar panggilan kesayangan mereka terucap dari mulut Gary. “Dia mengijinkanmu memanggilnya Muel?“ tanya Stella lagi, tampak geli mendengar ucapan Gary dan menolak percaya kalau Muel mengijinkannya memanggil dengan nama kecilnya.


Semua pelayan dan para asistennya saja tidak diijinkan untuk memanggilnya dengan nama kecilnya kecuali dia dan suaminya.


“Apa ada yang aneh?“ tanya Gary heran melihat sorot ketidakpercayaan terpancar dari mata indah milik Stella.


“Hanya saja,“ kata Stella sambil menahan tawanya. “dia tidak pernah mengijinkan satu orangpun untuk memanggilnya dengan nama itu selain kami. Apa benar, dia mengijinkanmu?“


Gary menatap Stella dengan tatapan serius.


“Oh, baiklah, mungkin kau benar.“


Gary melotot tidak senang mendengar gumaman Stella.


“Baiklah, aku percaya!“ katanya kini dengan yakin sambil tertawa lepas.


“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu Stella?“


“Apa kau buta?!“ sahut Stella merasa geli.


Kening Gary mengerut bingung.


“Tentu saja aku bahagia. Sangat bahagia!“ tegas Stella dengan yakin sambil tersenyum tulus.


“Tapi suamimu …!“ Gary menghela napas tidak melanjutkan kata-katanya.


“Bukan seorang yang kaya?! Hanya seorang karyawan biasa?“ tebak Stella melanjutkan kata-kata Gary. “Bagiku, dia sempurna, baik sebagai seorang suami dan ayah dari anakku,“ jawab Stella dengan bahagia. Tanpa sadar ia tersenyum dan matanya menatap langsung kearah suaminya, yang tampak sedang memandanginya dengan tatapan tidak rela. Ia tidak bisa menahan senyumannya lagi.


“Tidak ada seorang wanitapun yang berpikiran seperti itu dijaman ini,“ sahut Gary dengan  yakin.


“Banyak! Salah satunya aku,“ sahut Stella sambil tersenyum yakin.


“Apa maksudnya itu?! Tentu saja aku sangat yakin!“ kata Stella tidak mengerti mengapa Gary meragukan kata-katanya.


“Bagaimana kalau dia dipecat? Bagaimana kalian akan hidup?!“


Sebenarnya cukup mengherankan bagi Stella, mendengar pertanyaan seperti itu dari Gary. Mungkin, kalau Gary adalah saudara atau teman lamanya, mungkin saja kekhawatiran itu, bisa saja ditanyakan tapi Gary adalah orang asing baginya dan cukup aneh sampai-sampai Gary terkesan mengkhawatirkan kehidupannya apalagi tentang kelancaran finansialnya. Tapi Stella dengan sabar tetap menjawab pertanyaan Gary. “Aku malah lebih senang kalau hal itu sampai terjadi. Itu artinya dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama kami. Lagipula aku bisa menopang semua kebutuhan kami lebih dari cukup tanpa penghasilan darinya.“


“Dan kau tidak keberatan dengan hal itu?!“


“Yah, tentu saja! Siapapun yang mencari uang, bagiku sama saja, tidak masalah.“


“Omong kosong!“


Stella merasa tersinggung dengan tanggapan Gary. “Entah kau percaya atau tidak, kurasa itu, bukan urusanku!“


“Maafkan aku, bukan maksudku untuk tidak mempercayaimu tapi kenapa kau begitu setia kepadanya?!“


Kening Stella mengerut. “Tentu saja karena aku mencintainya!“ jawab Stella dengan nada sedikit kesal.


“Omong kosong!“


Stella lagi-lagi melotot tidak senang mendengar tanggapan Gary.


“Apa yang kau lihat darinya!? Dia tidak tampan menurutku dan yah Tuhan, hidupnya … sangat biasa-biasa saja!“


Ingin rasanya Stella menendang Gary karena telah merendahkan suaminya. “Aku mencintainya apa adanya.“


Gary menyorotkan sorot mata meremehkan ucapan Stella.


Stella tidak memperdulikan tanggapan Gary. “Memang dulu, sebelum aku menikah, kuakui banyak pria yang jauh lebih tampan dari David yang mengejar cintaku. Percaya atau tidak, dulu aku tidak memperdulikannya tapi ia terus menerus datang tanpa merasa lelah dan yang membuatku menghargainya karena ia tidak pernah mencoba bersaing dengan pria-pria lainnya. Dia hanya menunggu dan menunggu.“ Stella tersenyum, saat mengenang masa lalunya. “Sampai suatu saat aku bertengkar hebat dengan kekasihku dan memutuskan hubungan dengannya saat itu juga, hanya saja karena dia tidak menerima keputusanku, akhirnya, aku nekat menerima cinta David, pada malam aku memutuskan kekasihku untuk membuatnya menjauh dariku.“ Stella tersenyum lagi. “Dari situlah, aku baru mengenal pribadi David yang menyenangkan, orangnya sederhana dan kepribadiannya yang lembut, dia tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang ini, malahan dia bertambah baik dan romantis setiap harinya.“


Stella menantang Gary untuk membantah pernyataannya sambil tersenyum.


Akhirnya Gary tersenyum kecut, “Aku percaya, kau benar-benar merasa bahagia.“


“Tentu saja, aku bahagia!“ sahut Stella dengan tenang.


“Maaf, boleh saya berdansa dengan istri saya?“ pinta David dengan sopan.


Stella tersenyum lalu menterjemahkannya kepada Gary dan bersiap menerima uluran tangan suaminya.


“Tidak!“ jawab Gary dengan tegas.


Stella terperangah kaget mendengar jawaban Gary yang mantap dan tidak mengerti kenapa Gary menolak untuk menyerahkannya kepada suaminya.


“Kita harus pulang sekarang,“ kata Gary dengan tenang menjelaskan.


Stella tersenyum lega saat mendengar penjelasan Gary lalu menyampaikannya kepada David.


David menghela napas lalu meraih pinggang Stella dan berjalan kearah meja tempat Samuel ditinggalkan lalu berpamitan pulang dengan atasannya.