
Bab Dua Puluh Sembilan
“Apa kau tidak pernah berpikir untuk memberitahuku!?“ tanya Gary dengan marah ketika Stella membukakan pintu.
“Gary, aku mengantuk. Bisakah, kita membahas masalah apapun besok pagi saja.“
“Bagaimana kau bisa setenang ini sementara ada maniak yang menginap disebelah kamarmu!?“
Jesicca! erang Stella dalam hati sambil menarik napas kesal. “Jesicca berlebihan Gary, kamar ini hanya banyak nyamuknya tapi lihat sekarang, sudah lebih nyaman dan bisakah kita melupakan hal ini dan kembali beristirahat.“
“Aku akan menghajar pria itu!“
“Gary, jangan!“ kata Stella buru-buru Stella menahan Gary.
“Atau kau memang menyukainya!?“ tuding Gary dengan ketus.
“Gary!“ pekik Stella tidak percaya mendengar tudingan Gary. “Jesicca itu hanya berpikir berlebihan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Steven tapi aku percaya, dia tidak akan menjahatiku.“
“Kau membelanya!? Jadi benar kau menyukainya, iya 'kan?! Percuma aku mengkhawatirkanmu!“
“Gary, aku sudah tidak ada hak lagi untuk menyukai pria lain karena aku adalah wanita yang sudah menikah, ingat 'kan?!“ kata Stella mencoba untuk sesabar mungkin menghadapi tudingan tidak masuk akal dari Gary.
“Tapi nyatanya kau membelanya!“
“Kecilkan suaramu, ini sudah malam!“ kata Stella sambil menghela napas. Mau tidak mau, ia harus menahan kedua tangannya ke lengan Gary untuk membuat Gary tenang. “Sudahlah Gary, aku tidak mau terjadi kekerasan apapun. Lagipula, ini tidak seperti yang kaupikirkan. Aku susah untuk menjelaskannya saat ini tapi aku yakin ini hanya salah paham!“ kilahnya berusaha untuk menenangkan Gary lagi.
“Aku tidak mau kesalahpahaman ini membuatmu terluka!“ Gary berbalik memegangi kedua lengan Stella.
“Aku akan baik-baik saja, Gary percayalah padaku,“ kata Stella sambil tersenyum kikuk.
“Baik, kalau aku tidak boleh menghajar bajingan itu, kau harus mengijinkan aku untuk tidur di kamar ini!“
Hampir saja Stella tertawa.“Tapi untuk apa?!“
“Untuk melindungimu, tentu saja.“
“ Baik, kalau memang kau mengkhawatirkan aku, biarkan aku bertukar kamar denganmu. Kau tidur disini, sementara aku dan Jesicca tidur dikamar sebelah.“
“Tidak! Bagaimana kalau dia tahu dan menyelinap masuk kedalam kamarmu? Dan Jesicca? Dia tidak bisa melindungimu! Lagipula kalau aku disini, paling tidak, aku bisa membuktikan pembelaanmu tentang klien-mu itu!“ kata Gary masih tidak mau mengalah.
“Kau tidak akan pergi meskipun aku mengusirmu keluar dari kamarku iya 'kan!?“ Stella kehabisan kata-kata mendengar pembelaan Gary tentang kesalahpahaman itu.
Gary memasang wajah serius.
“Baik, baik lakukan yang menurutmu baik. Dan kau akan tidur disofa ‘kan!?“
Gary melirik sofa hotel lalu melangkah gontai ke tempat tidur untuk mengambil bantal kepala tanpa banyak berkomentar.
Stella membuka tirai kelambu lalu masuk kedalam selimut dan memeluk bantalnya tanpa menghiraukan keberadaan Gary dikamarnya.
Tidak lama, ia berbaring, ia merasa sangat terganggu dengan suara tepukan Gary.
Rupanya ucapannya mengenai nyamuk dipinggiran pantai itu ada benarnya! kata Stella sambil tersenyum dalam hati.
David akan mengamuk jika tahu istrinya sudah tidur satu ranjang dengan pria lain selain dirinya! Dan bagaimana kalau sampai ada seseorang yang mengambil foto mereka dan memberitahu David!? Ohk! Stella mengerang putus asa.
Ia membuka matanya lebar-lebar. Ia terlalu banyak berhayal!
“Gary, kau sudah tidur?“ tanya Stella dengan suara pelan, berharap Gary tidak menjawab dan mendengar dengkurannya.
“Menurutmu?!“
Stella menekan-nekan kepalanya. “Tidurlah disini, sebelum seluruh darahmu dihisap nyamuk-nyamuk itu.“ Dan aku tidak bisa tidur karenanya, tambahnya dalam hati.
Seluruh tubuh Gary menegang seolah tidak percaya mendengar kata-kata Stella.
“Apa kau yakin?“ tanya Gary lalu memukul pipinya sendiri dan mendapatkan nyamuk yang telah menghisap setetes darahnya.
“Tidak apa-apa kalau kau tidak mau,“ sahut Stella dengan kesal. Ia mengantuk sekali dan ingin sekali tidur! “Kita hanya berbagi ranjang!? Tak ada yang akan terjadi!“
“ Baiklah, kalau itu maumu. “
“Kalau saja ada pilihan lain,“ desah Stella pelan.
“Apa katamu? Bicaralah dengan bahasa yang kumengerti.“
“Tidak apa-apa. Cepat tutup kelambunya sebelum nyamuknya masuk!“ kata Stella dengan cepat.
Gary langsung naik dan merapikan pengait kelambu agar terlindung dari gigitan nyamuk.
“Terima kasih.“
Stella tersenyum kecut sebelum berbalik memunggungi Gary lalu terlelap dengan mudahnya.
Hari sudah pagi, secara otomatis Gary bangun dari tidurnya meskipun tadi malam, ia sulit untuk tidur.
Lagi-lagi ia berada dalam satu tempat tidur yang sama dengan Stella hanya saja, ia menyayangkan ukuran tempat tidur yang begitu besar sehingga menciptakan jarak yang lebar diantara mereka. Dalam hati, ingin sekali, ia menukar keadaan seperti saat mereka berada didalam gubuk. Paling tidak, saat itu ia bisa memeluk tubuh Stella tanpa Stella sadari!
Gary tersenyum sambil memandangi Stella yang masih tertidur pulas. Gary tidak berani menyentuh wajah Stella, takut Stella terbangun dan menjauhinya. Ia sudah tahu akibat memaksakan perasaan kepada Stella.
Meskipun Gary, mesti mengakui Steven jauh lebih tampan darinya! Lebih muda, tampak lebih berkharisma dan mempesona, itupun dengan penolakan Stella sebagai jawabannya.
Gary tidak habis pikir, ada wanita yang benar-benar setia dan menjaga janji perkawinannya seperti Stella!
Ia harus memikirkan cara untuk bisa meluluhkan hati Stella dan mau menerima kebersamaan mereka, tanpa memberi Stella kesempatan untuk menolaknya. Dan cara yang paling ampuh saat ini, hanyalah bisnis.
Dengan menjalin bisnis dengannya, bisa mengikat Stella untuk bisa terus bersamanya sambil ia akan berusaha menemukan bukti-bukti perselingkuhan suaminya!
Gary berharap David pernah mengkhianati cinta Stella barulah dia punya kesempatan untuk memenangkan hati Stella secara perlahan namun pasti. Dia tidak perduli berapa lamapun waktu yang harus ia jalani untuk mencapai tujuannya itu tapi yang jelas, satu hal yang ia tahu pasti, dia tidak mau melepas Stella, apapun alasannya! Gary tersenyum lagi sambil masih terus memandangi Stella.
Stella menggeliat sambil menguap lebar lalu memeluk bantal gulingnya lagi.
Gary tidak percaya bisa melihat semuanya ini!
Ia tersenyum melihat kepolosan Stella dalam tidurnya. Wajahnya terlihat seperti malaikat dan tampak sangat bahagia.
“Aku akan membuatmu lebih bahagia.“ Gary berkata dalam hatinya sambil mengelus wajah Stella dengan hati-hati. “Aku berjanji.“ Gary tersenyum lagi.
Gary menunggu sampai Stella bangun lebih dulu dengan pura-pura masih tertidur.
Stella membuka matanya sambil menatap langit-langit kamar hotel tempatnya menginap. Sudah dua kali dia berada di satu ranjang dengan Gary! keluhnya dalam hati.
Ia melirik Gary yang masih tampak lelap. Keningnya mengerut, sambil memperhatikan Gary dengan lebih seksama. Belum pernah sekalipun ia memperhatikan Gary selama ini dan yang pasti, tidak boleh ia lakukan! Hanya saja, mumpung Gary masih terlelap, mungkin ia bisa mengamati wajah Gary sebagai sumber inspirasi tulisannya!