
Bab Lima Puluh
Stella berharap keluarga Gary menentang pernikahan mereka!
Dalam hati dia merasa tidak yakin untuk menikah lagi dan bagaimana dia bisa menata kembali kepingan hatinya? Ia tidak tahu jawabannya.
Bagaimana bisa, ia memulai hidup yang baru? Sanggupkah ia menjalani semua kehidupan barunya? Ia tidak mau mengalami sakit hati untuk yang kedua kalinya.
Walaupun Gary sudah meyakinkannya tapi hatinya terasa tawar mendengar pernyataan Gary tentang kesungguhan cintanya.
David juga dulu begitu dan Stella sama sekali tidak pernah menyangka David sanggup menghianati cintanya.
Mampukah seorang seperti Gary dengan segudang kelebihan yang dimilikinya bisa berlaku setia kepadanya?! Stella tidak tahu dan tidak mampu berpikir apa-apa.
Gary meyakinkan dirinya untuk pindah keluar negeri dan mengembangkan karir bridal dan penulisan novel-novelnya disana.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia membiarkan usahanya tetap dikembangkan di Indonesia dan membeli satu rumah pribadi untuknya dan Samuel.
Ia tidak mau menggantungkan hidupnya pada seseorang lagi. Karena ia tidak tahu rumah tangganya dengan Gary akan berjalan bagaimana nantinya.
Gary mengerti segala kekhawatiran Stella. Stella masih belum yakin dengan semua pengaturan yang sudah ia buat. Tanpa diminta, ia membukakan rekening khusus untuk Stella dan memberikan uang setiap bulannya dengan nominal yang cukup fantastis, sehingga tanpa bekerjapun dan hanya menghambur-hamburkan uangnya saja, Stella bisa hidup dengan nyaman tapi dengan tegas Stella menolak untuk menerapkan cara hidup yang sangat tidak sesuai dengan kebiasaannya selama ini.
Ia tahu Stella belum sepenuhnya percaya kepadanya.
Dia juga berkeras membuka dana pendidikan dengan nilai yang menjamin masa depan pendidikan dan kehidupan Samuel kelak.
Stella tidak bisa mencegah dan membiarkan Gary berbuat seperti yang telah ia rencanakan dengan penuh permohonan agar Stella tidak mencegahnya.
Dalam hati, Stella tersenyum dan tidak pernah berniat untuk menggunakan uang pemberian Gary. Biar saja uang itu berbunga dan dikembangkan pihak bank.
Ia masih cukup mampu untuk membiayai dan mengembangkan semua bisnisnya dengan penghasilannya sendiri.
“Terima kasih,“ ucapnya dengan tulus sambil mencium Gary.
Baru kali ini ia merasa diurus dan dimanjakan.
Bukannya dia tidak bersyukur dengan David sebagai kepala rumah tangga, tapi David cenderung pasif dan tidak bisa mencari pemasukan yang cukup untuk menopang semua kebutuhan rumah tangga maka sebagai seorang istri, dia-lah yang selalu berinisiatif agar bisa menghasilkan dan menutup semua kekurangan keuangan untuk kebutuhan keluarga kecilnya.
Sedangkan Gary? Mungkin saja karena dia berasal dari keluarga yang mampu sehingga, ia bisa melakukan semuanya itu. Tapi kalau David yang berada di posisi Gary saat ini, akankah David bersikap semurah hati ini?
Stella tersenyum kecut.
Salah satu kekurangan David yang selalu ia tutupi sampai saat ini, David terlalu kikir untuk memberi semua penghasilannya meskipun untuk menunjang kebutuhan rumah tangga mereka.
Sampai detik ini, Stella tidak pernah memperhitungkan semuanya itu karena ia terlalu dibutakan dengan cinta dan kasihnya kepada keluarganya.
Baginya tidak masalah siapapun yang menopang dan menghasilkan penghasilan lebih, asalkan mereka bisa hidup lebih layak dan lebih nyaman terlebih lagi untuk menunjang semua kebutuhan Samuel.
“Aku sudah mengatur seluruh resepsi dan pemberkatan di rumah kita.“
“Rumah kita?“ sahut Stella sambil tersenyum dan masih tampak sibuk menggantung gaun-gaun pengantin desain terbarunya.
“Kuharap, kau tidak keberatan untuk pindah bersamaku.“
“Baiklah, setelah aku selesai mengurus segala sesuatunya disini.“
“Segala sesuatu itu apa maksudnya?“
“Renovasi tempat,“ kata Stella.
“Mengatur management yang baru karena aku akan sering tidak berada di sini dan sebagainya dan sebagainya,“ katanya lagi.
“Tapi kita akan dinikahkan satu minggu lagi dari sekarang!“
Stella tertawa sambil menatap Gary yang menatapnya dengan serius.
“Apa kau yakin tidak sedang bercanda, Gary?“
“Sangat yakin!“
Gary tersenyum bangga lalu meraih tubuh calon istrinya dalam pangkuannya.
“Apa kau senang?“
“Lebih tepatnya panik! Gary, tidak! Tidak mungkin, aku bisa menyelesaikan semuanya ini tepat pada waktunya. Kita harus memundurkan tanggal pernikahan kita,“ kata Stella sambil berpikir cepat.
“Paling tidak, enam bulan dari sekarang sampai semua bisnisku lancar dan bisa kutinggal pergi.“
Gary menyipitkan matanya.
“Sayang, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan tapi percaya atau tidak aku akan menyeretmu ke altar, pada minggu yang akan datang,“ kata Gary dengan penekanan khusus.
Gary membungkam protes yang akan dilancarkan Stella dengan ciumannya. Sehingga Stella hanya bisa bergumam sebentar lalu mengalah dan balas menikmati ciuman Gary.
“Kau curang!“ desis Stella.
Gary tertawa penuh kemenangan.
“Aku suka sedikit curang supaya bisa menjadikanmu istriku yang sah secepatnya. Kalau saja kita hanya menikah secara hukum tanpa adanya pemberkatan, besokpun kita sudah bisa diresmikan sebagai Mr dan Mrs. Machunn. Tapi kurasa kau tidak menginginkan hal itu iya ‘kan!?“ goda Gary setengah berharap.
“Jangan pernah bermimpi bisa mengikatku setia dengan hukum negara selain janji suci pernikahan di Gereja!“
“Aku sudah tahu hal itu, sayang dan aku tidak keberatan!“ kata Gary sambil mencium Stella lagi.
Stella sangat bahagia mendengar pemberkatan pernikahannya akan dilakukan di Gereja Pendeta Gabriel.
Dia sangat menyukai Pendeta itu karena begitu ramah dan rendah hati.
Untuk mengurus segala tata letak dan desain showroom barunya akhirnya Stella membayar jasa desain interior yang sesuai, menurutnya dan menyerahkan penyelesaian dan kepemimpinan showroomnya dibawah kendali Jesicca untuk mengurus management showroomnya.
Meskipun belum bisa melihat realisasi bagaimana akan jadinya nanti tapi Stella yakin bisa mengandalkan mereka untuk menjalankan bisnisnya itu.
Gary ingin Stella memakai gaun pengantin dihari resepsi dan pemberkatannya tapi Stella keberatan dengan hal itu. Ia merasa tidak pantas untuk mengenakan gaun pengantin untuk yang kedua kalinya tapi Gary memaksanya dan mematahkan segala keberatannya dengan ciuman sampai akhirnya Stella memutuskan untuk membuat desain gaun pengantin yang simple namun elegan lalu menunjukkannya kepada Gary.
Gary keberatan dengan desain gaun yang menurutnya terlalu sederhana untuk pengantinnya itu!
“Terima atau tidak sama sekali!“ ancam Stella.
“Dengan ditaburi Kristal dan berlian, baru aku setuju.“
Stella melotot kesal.
“Aku ingin gaun yang simple saja,“ bujuk Stella mencoba bertahan dengan keinginannya.
“Sayang,“ bujuk Gary sambil mengusap-usapkan wajahnya kewajah Stella yang sedang merajuk.
Berapa banyak wanita yang bersedia untuk bertukar tempat dengan Stella dan berupaya mendapatkan yang terbaik untuk hari pernikahannya tapi Stella bahkan tidak menginginkan semua kemewahan yang dia tawarkan!
“Please sayang, suamimu ini bukanlah orang miskin dan pelit,“ desahnya lagi sambil tersenyum.
Stella menghela napas pasrah.
“Sedikit saja, mungkin disini dan disini saja itu sudah cukup!“ kata Stella sedikit mengalah dan memperlihatkan hasil akhirnya kepada Gary.
“Sedikit disini dan disini, nih, dan nih,“ kata Gary menambahkan coretan pada sketsa gaun Stella.
“Sekalian saja, seluruh bagian gaun ditutupi kristal dan berlian!“
“Sempurna!“ sahut Gary dengan cepat.
Stella melotot.
“Kalau begitu carilah mempelai lain untuk menikah denganmu dan mengenakan gaun ini, bagaimana?“ sahut Stella dengan kesal.
“Baiklah, lakukan sesuai dengan keinginanmu tapi aku akan membayar untuk gaun itu.“
Stella tertawa mendengar pernyataan Gary.
“Baik.“
Stella sengaja menyebutkan sejumlah uang yang sengaja dilambungkan jumlahnya dengan tenang.
Gary menyetujuinya tanpa berkedip ataupun berpura-pura kaget.
“Tambahkan untuk taxidoku dan Muel yah pada tagihannya.“
Stella tertawa terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala.
“Aku berharap bisa memiliki calon pengantin sepertimu,“ berpikir sesaat.
“Tidak usah banyak-banyak, dua saja kurasa aku akan langsung kaya.“
“Sayangku, kau sudah kaya tanpa harus menunggu saat itu tiba!“ kata Gary sambil tersenyum senang.
Stella hanya bisa tersenyum kecut menanggapi kata-kata Gary.