
Bab Empat Puluh
Sepertinya, kepulangannya yang akan sedikit tertunda tidak membuat David marah.
Stella merasa sedikit sedih mendengarnya.
Alasan David untuk membunuh kesepiannya, dia berusaha untuk selalu aktif bekerja.
Ditinggal dua orang yang paling dicintainya dengan dipisahkan antar benua yang luas membuatnya hanya bisa pasrah.
Stella hanya bisa minta maaf dan berjanji akan menebusnya saat dia kembali dari tour promosinya.
Lagipula setelah ini, mereka hanya akan mengadakan perjalanan kembali pada tahun yang akan datang dan hanya untuk jangka waktu satu bulan untuk memenuhi jadwal promosi yang sudah disiapkan management.
Tapi yang membuatnya tidak nyaman, rupanya David tidak se-frustrasi dirinya dalam menghadapi gejolak biologisnya.
Stella menghela napas sambil tersenyum dan membelai Samuel yang sudah tertidur.
Ia menghabiskan waktu dengan hanya berbaring dan membelai lembut rambut anaknya tanpa puas-puasnya memandangi dan menciuminya perlahan.
Gary tidak henti-hentinya tersenyum saat melihat Stella terlelap bersama anaknya. Wajahnya tampak sangat bahagia. Saat ini dia seolah sedang berada disurganya sendiri karena memandangi dua mahkluk paling indah sedang tertidur, saling berpelukan.
Ia menghabiskan waktunya memandangi mereka berdua tanpa membangunkan mereka.
“Mami?“ erang Samuel sontak mencari-cari maminya.
Tapi kemudian kembali tenang setelah melihat maminya yang sedang tertidur pulas disampingnya. Dengan lembut Samuel mengecup maminya dengan hati-hati sambil tersenyum.
Stella bergerak sedikit tapi tidak terbangun dengan ciuman Samuel.
Samuel terkekeh melihat kebiasaan maminya yang senang menghabiskan sebagian waktunya ditempat tidur.
Lalu hampir menyapa saat menemukan Gary yang sedang memandangi mereka sambil tersenyum.
Dengan cepat Gary memberi isyarat agar Samuel jangan membuat istirahat Stella terganggu dan segera mengajaknya keluar kamar.
Samuel terkekeh pelan sambil mengikuti Gary keluar dari kamar.
Gary memesan pizza sesuai dengan keinginan Samuel sambil menonton televisi diruang tamu bersama dengan Samuel.
Ia tidak menduga bisa menghabiskan begitu banyak waktu untuk berbincang sambil turut menyaksikan film pertualangan anak-anak!
Ia tidak merasa sungkan membelai dan menyuruh Samuel duduk disebelahnya seperti layaknya bapak dan anak.
Hatinya serasa melambung saat membayangkan hal itu!
Stella keluar kamar dengan panik karena tidak dapat menemukan Samuel disampingnya.
Hampir saja ia menangis karena mengira semua ini hanya khayalannya semata tapi segitu melihat Samuel berada dengan nyamannya dalam rengkuhan tangan Gary sambil berbagi pizza dan tertawa melihat film yang sedang diputar, ia tersenyum lega tapi dalam hatinya menyayangkan melihat pemandangan didepannya, serasa kurang pas dengan tidak adanya David bersamanya saat ini.
Ia menghela napas lagi sebelum mengambil potongan terakhir yang menjadi rebutan diantara mereka yang sedang asyik suit.
“Milikku!“ sela Stella sambil terkekeh dan menikmati pizza terakhir mereka tanpa merasa bersalah.
Gary dan Samuel saling berpandangan aneh dan berbisik penuh persekongkolan lalu menatap Stella yang sedang asyik menggigit pizza terakhir mereka.
Stella dengan cepat menyadari kejahilan yang terpancar di wajah mereka setelah berbisik-bisik dan terkekeh karenanya.
“Oh, tidak! Tidak! Jangan berani-berani, yah! Jangan!“ katanya sambil mencoba berlari sejauh mungkin lalu cepat-cepat memilih masuk ke kamar tapi rupanya gerakan Stella masih kalah cepat dibandingkan gerakan Gary yang jauh lebih gesit darinya.
“Smack Down!“ teriak mereka sambil menangkap Stella lalu membanting tubuh Stella diatas ranjang.
Gary yang bertugas mengunci tubuh Stella dan memegangi kedua tangannya sementara Samuel yang bertugas memberi Stella hukuman.
Biasanya dia bersama papinya yang selalu usil menjahili maminya.
Stella berontak sambil tertawa menahan geli karena ciuman basah dari Samuel di seluruh wajahnya. Tapi kuncian Gary membuat tangan dan tubuhnya tidak bisa bergerak dan hanya bisa menahan geli dan terengah kecapean dengan wajah penuh air liur Samuel.
Melihat Stella kehabisan tenaga untuk melawan mereka, Gary melepaskan pegangannya sambil tertawa kearah Samuel dan menertawakan Stella yang berusaha untuk membersihkan air liur Samuel.
“Jangan!“ teriak Samuel langsung lari keluar kamar.
Gary benar-benar tidak menyangka Stella akan menerjang balik tubuhnya hingga jatuh terlentang!
Dengan gesit Stella membalurkan ludah-ludah bekas jilatan dan ciuman basah Samuel pada wajah Gary.
Napas Stella terengah-engah senang melihat Gary kewalahan menghadapi serangan baliknya sambil tertawa-tawa puas karena telah berhasil membalas dendam.
Gary memegang kedua tangan Stella dan menghentikan aksi balas dendamnya sambil ikut tertawa.
Stella baru menyadari betapa intimnya posisinya saat ini.
Dia duduk diatas paha atas Gary dan saat ini, Gary sudah berhasil memegangi tangannya dan membuatnya saling bertatapan tanpa bisa melakukan apa-apa!
“Maaf, Gary tapi aku lupa bilang padamu bahwa Mami pasti balas dendam sesudah di-smack down!“
Samuel masuk kedalam kamar sambil masih tertawa.
Stella langsung memanfaatkan kelengahan Gary dan menarik tangannya dan menjauh dari Gary.
“Dasar nakal! Kau harus merasakan serangan balik Mami!“
Samuel memekik sambil menjauhi Stella yang langsung mengejar.
“Ampun Mami, ampun!“ katanya sambil tertawa dan menghindari kejaran Stella.
Hampir saja dia melakukan kesalahan!
Kalau saja tadi Samuel tidak menyela mereka, pasti saat ini ia sudah menggulingkan tubuh Stella dan menciumnya! Gary mengumpat dalam hati.
Dan kalau itu terjadi, sudah dipastikan semua usahanya selama ini akan gagal total!
Gary dan Stella mengajak Samuel dan pengasuhnya untuk berjalan-jalan sore ke pusat keramaian dan shoping center terkenal di LA.
Stella sempat merasa kikuk dengan situasi yang tengah ia hadapi saat ini, Gary tampak sangat dekat dengan Samuel dan mereka tampak seperti sebuah keluarga bila berjalan karena ia juga menggandeng tangan Samuel saat berjalan.
Ingin sekali Stella melepaskan tangan Samuel dan berjalan bersama pengasuh Samuel dibelakangnya tapi melihat pancaran bahagia dimata Samuel, Stella tidak sanggup melepaskan tangan Samuel.
Terkadang Gary juga menggendong Samuel dipundaknya agar Samuel bisa melihat diantara kerumunan orang-orang asing yang bertebaran diantara mereka dan menunjukkan kemana arah yang Samuel inginkan.
Stella menghela napas sambil menatap pusat kemewahan kota yang terpapar dihadapannya sambil membayangkan seandaikan saja, saat ini David ada bersama mereka, tentulah dia akan sangat bahagia. Lagi-lagi dia hanya bisa menghela napas tanpa memperhatikan langkah kakinya.
Ia kaget saat tangannya ditarik dengan tiba-tiba!
“Kau berjalan kearah yang salah, Nyonya,“ kata Gary sambil tersenyum.
Stella hanya tersenyum kecil.
“Dimana Samuel?“
“Disebelah sana bersama pengasuhnya,“ kata Gary sambil menunjuk arah.
“Seharusnya kau tidak melamun dijalan ramai seperti ini. Kau bisa terbawa arus langkah orang-orang dan terhilang dari kami.“
“Hanya saja,“ Aku menghela napas.
“Aku berharap, David bisa ada disini bersama kita.“
“Ada saatnya, nanti,“ kata Gary sambil tersenyum kecut.
Lalu ia tersenyum lagi, sambil menggandeng tangan Stella agar tidak terpisah darinya karena ramainya orang-orang yang bisa membuat Stella kembali menjauh darinya.
Stella pun tidak pernah berpikir macam-macam saat mendapat perlindungan dari tubuh Gary saat menerobos keramaian orang-orang untuk mencapai tempat Samuel dan pengasuhnya berada.
Apa yang ia pikirkan, hingga dia berjalan kearah yang salah!?
Seharusnya dia bisa lebih waspada agar tidak tersesat seperti ini! keluhnya menyalahkan diri.
David selalu bisa menemukan dimanapun dia berada saat sedang tersesat saat sedang pergi bersama.
Dia hanya perlu menyebutkan posisinya saat itu dan berdekatan dengan toko apa maka David akan segera mencarinya dan menemukannya dengan cepat.
Ia merasa sangat sedih dan sangat merindukan David! Andai saja David ada disini bersamanya, … lamunnya.
Kalau saja Gary tidak menemukannya, bagaimana caranya dia bisa pulang dan bertemu dengan anaknya!? Untunglah, Gary juga orang yang teliti dan tidak lelah-lelahnya mau perduli kepadanya seperti David, ucap Stella dalam hati.
Dia merasa sangat beruntung sekaligus sedih karenanya.
Stella tidak tahu apakah dia harus menyesal atau tidak membatalkan jadwalnya seharian ini. Konsekuensi harus tinggal lebih lama di negeri yang asing terbayarkan saat melihat rona kebahagiaan terpancar dari wajah anaknya.
Ia merasa semua pengorbanannya tidak sia-sia! Semua kebimbangan dan kegelisahan, menguap bagaikan asap. Asalkan dia bisa melihat senyum anaknya, ia rela untuk mengenyampingkan sejenak rasa rindu pada suaminya.
Dua minggu tidak bertemu dengan anak dan suaminya sangat menyiksanya.
Ia tidak tahu bagaimana wanita lain akan menyikapi situasinya saat ini. Dan saat ini, haruskah ia malu mengakui kalau dia begitu merindukan kehangatan suaminya?!
Yang jelas, dia tidak perduli lagi untuk mengakui jujur, dia memang sangat merindukan kehangatan suaminya dan semakin hari hasrat itu semakin menyiksanya!
Mungkin karena selama ini kehidupan rumah tangga mereka begitu sempurna ia rasakan dan juga kehidupan percintaan mereka yang terbilang cukup aktif, satu dengan yang lain. Karena itu berada jauh dari suaminya begitu menyiksa dan menyesakkan hati.
Gary menegur Stella yang kedapatan melamun lagi.
Wajah Stella merona, membayangkan kalau sampai Gary tahu apa yang baru saja ia lamunkan! Bagaimana reaksinya!? Cepat-cepat, ia meminum lemon tea-nya sambil menggeleng kuat-kuat.