
Bab Dua Puluh Satu
“Hai, bagaimana kabarmu?“ tanya Gary muncul tiba-tiba didalam kantornya.
“Baik, bagaimana semuanya lancar?“
“Sangat! Itulah sebabnya mengapa aku bisa cepat kembali. Bagaimana dengan penawaran kontrakmu?“
“Aku sudah membacanya tapi sayangnya aku belum bisa menerimanya.“
“Tapi kenapa?!“ Gary tampak sangat kaget mendengar keputusan Stella.
“Syarat mutlak dari surat kontrak itu mengharuskan aku tinggal dan menetap diluar negeri untuk kebutuhan promosi. Sementara jelas-jelas aku tidak mungkin tinggal jauh dari keluargaku.“
Mimik wajah Gary tidak bisa terbaca oleh Stella. Tapi yang jelas Gary tampak sangat kecewa. “Semua ini bisa membuatmu sukses dan menghasilkan banyak uang! Dan kenapa kau harus tinggal dan menetap diluar negeri adalah untuk kepentingan promosi buku-bukumu,“ kata Gary dengan nada dingin.
“Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa meminta David untuk berhenti dari pekerjaannya dan memintanya ikut denganku.“
Gary mendengus sambil tersenyum mengejek, mendengar pembelaan Stella atas pekerjaan suaminya.
Stella berusaha untuk tidak tersinggung dengan sikap Gary. “Bagiku karir memang penting tapi kau lupa yang terpenting bagiku adalah keluargaku. Aku tidak bisa bersikap egois. Aku adalah seorang ibu dan seorang istri. Kalau harus memilih antara kesuksesan dan keluarga, aku lebih memilih keluargaku dibandingkan dengan apapun juga.“
“Terlalu berlebihan bagiku! Kau tidak memikirkan baik-baik penawaranku,“ kata Gary sangat kecewa mendengar penolakan Stella.
“Aku sudah mempertimbangkannya dan sudah memutuskannya, maaf,“ kata Stella sambil tersenyum.
Gary memandangi Stella. Ia mendehem sesaat. “Jadi apa syarat darimu agar kerjasama ini bisa terwujud?“
“Mungkin kalau hanya datang dan bertemu dengan media sesekali dan jika ada acara temu pembaca, mungkin aku akan memikirkannya dan menyetujuinya tapi setelah segala urusan itu beres, aku akan pulang secepatnya. Itupun dengan jadwal yang diperketat, mungkin bisa dua atau tiga acara dalam satu hari,“ kata Stella terus terang.
“Kau manusia, bukannya robot! Bisa-bisa kau jatuh sakit kalau hal itu sampai dilakukan, “ kata Gary dengan marah.
Ia tidak mengerti mengapa Gary begitu marah mendengar keputusannya. “Aku ke sana, bukan untuk bersantai tapi membantumu menjual novel-novelku agar bisa laris di pasaran, hanya itu dan setelah hal itu aku lakukan, tidak ada lagi yang bisa menahan kepulanganku.“
“Apa sih susahnya berpisah sebentar dengan keluargamu!? Banyak wanita bahkan rela menjual harga dirinya hanya untuk berada dalam posisimu saat ini!“ kecam Gary dengan sinis.
Stella menghela napas menenangkan diri. Dia tidak boleh emosi menghadapi sikap Gary yang menurutnya sudah agak berlebihan. “Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar bagiku, jangankan tiga tahun, tiga hari saja mungkin aku tidak sanggup meninggalkan keluargaku tanpa alasan yang kuat.“
“Kesuksesan bukan alasan yang kuat!?“ sahut Gary lagi.
“Gary,“ Stella mencoba berkata setenang mungkin sambil menegakkan punggungnya. “tidak ada alasan yang bisa membuatku meninggalkan keluargaku apalagi hanya masalah materi,“ kata Stella menegaskan.
“Kau bebas menilai apapun tapi aku hanya mengatakan apa adanya diriku,“ kata Stella menatap Gary dengan sungguh-sungguh. “Aku sangat mencintai keluargaku dan aku tidak bisa menggantikan keberadaan mereka dengan apapun juga.“
“Kau begitu mencintai suamimu tapi apa kau yakin dia tidak pernah berselingkuh darimu?!“ sahut Gary dengan kesal.
Stella sangat terkejut mendengar kata-kata sinis dan tajam yang keluar dari mulut Gary. Dan tidak tahu apa yang mesti ia katakan.
Ia menutup matanya kuat-kuat sebelum menjawab pertanyaan yang terlampau mengusik emosinya itu. Jawabannya, dia pasti akan mati sebelum hal itu sampai terjadi! pekiknya dalam hati. Dia sangat percaya suaminya setia padanya, sama seperti diapun selalu setia dan mencintai suaminya dan tidak pernah sekalipun, ia berpikir sebaliknya. “ Kalau hal itu terjadi, maka dengan berat hati aku harus menerimanya,“ kata Stella dengan tegas.
Gary benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Stella . “Kau akan memaafkannya!?“
“Tidak,“ kata Stella dengan tegas.
Gary terdiam, tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
“Kalau sampai hal itu terjadi, maka aku akan meninggalkannya untuk selamanya.“
Kening Gary mengerut mendengar pernyataan Stella yang tegas.
“Tapi aku percaya suamiku tidak akan pernah menghianatiku,“ tambahnya dengan yakin sambil tersenyum.
“Dia masih sering bertugas keluar kota ‘kan!?Dari mana kau tahu, dia tidak berselingkuh,“ ejek Gary pedas.
“Aku pasti tahu kalau dia menghianatiku. Gary, please bisakah kita berhenti membahas masalah pribadiku?“
“Aku hanya ingin kau berpikiran jernih!“
“Saat ini, pikiranku sejernih air sungai yang berasal dari mata air yang paling jernih.“ Stella tersenyum. “Bicaralah dengan pengacaramu mengenai hal ini, kalau semuanya bisa diatur menurut ketentuanku maka semua kerjasama ini akan terwujud tapi kalau tidak, berarti kita belum jodoh di dalam bisnis,“ kata Stella dengan santai.
Gary menghela napasnya, menahan diri untuk melanjutkan bujukannya tapi akhirnya dia mengalah dan mengangguk. “Akan kucari jalan keluar atas masalah ini.“
“Gary dengar, aku sangat menghargai kesempatan yang kau berikan padaku tapi harus kau ingat untuk memprioritaskan kepentinganmu sebelum bertemu denganku.“ Stella tersenyum lagi.
“Membuat uangku berkembang dan menghasilkan adalah napasku dan aku berjanji padamu akan segera memberimu kabar baik secepatnya.“
“Jangan terburu-buru, santai saja. Aku menunggu, keputusan terbaikmu.“
“Aku janji. Aku akan makan malam disini, malam ini.“
“Oke!“ kata Stella sambil mengantar Gary keluar dari ruangannya.