Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 35 judul istana Gary



Bab Tiga Puluh Lima


David dan Samuel ikut mengantar Stella ke bandara.


Panggilan waktu keberangkatan pesawat mereka sudah terdengar memanggil dan diserukan berulang-ulang.


Stella memeluk dan mencium David dan juga Samuel, untuk yang terakhir kalinya sebelum, ia benar-benar harus meninggalkan mereka.


“Tenang saja, Muel akan sampai dua minggu dari sekarang!“ kata Gary sambil menggenggam tangan Stella dipesawat.


Stella tersenyum miris lalu melepaskan tangannya dari sentuhan tangan Gary.


Ia memandang kearah jendela pesawat untuk melihat suami dan anaknya yang melambaikan tangannya, melepas kepergiannya.


Ia merasa tidak rela meninggalkan keluarga kecilnya! Ia benar-benar merasa sedih lalu cepat-cepat menghapus air matanya.


Dia tidak boleh bersikap seperti ini! Apapun yang dia lakukan sekarang, setimpal dengan kenyamanan masa depan keluarga kecilnya kelak.


Stella benar-benar merasa takut berpergian sendiri! Saat dia menginjakkan kakinya di bandara rasanya dia ingin berseru dan memanggil David untuk memaksanya ikut.


Bagaimana kalau sampai ia terpisah dari Gary!? Bagaimana caranya ia kembali nanti!?


Stella benar-benar merasa panik dan ia benci pergi sendirian tanpa suaminya yang biasa menjadi penopangnya.


Seakan mengerti kegelisahan Stella, Gary mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tenang saja.“


Stella memandangi tangan Gary yang sekarang menjadi satu-satunya yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Ia menghela napas berat sambil mengulurkan tangannya kearah tangan Gary.


Gary menggenggam tangan Stella dengan mengaitkan jari-jari mereka sambil tersenyum lalu menuntun Stella, seolah-olah Stella adalah miliknya dan berniat untuk menunjukkan kepada seluruh isi dunia.


Stella menggigit bibirnya sambil mengikuti arah langkah Gary, ia seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.


Gary membawa Stella tinggal di istana kecilnya!


Stella hampir tidak percaya begitu memasuki sebuah kawasan yang luas dan tertata indah dengan taman dan perkarangan yang sangat terawat.


Sebuah bangunan megah menyambut kedatangan mereka dari kejauhan.


Stella belum pernah melihat rumah sebesar dan semegah rumah Gary seumur hidupnya! Mungkin lebih cocok kalau disebut istana Gary. Karena rumah Gary berukuran paling tidak, lima kali besar mansion-nya! Stella benar-benar kehabisan kata-kata untuk menggambarkan rasa takjubnya.


“Selamat datang di rumah mungil-ku,“ kata Gary sambil beranjak turun dari mobil.


Stella tersenyum menyembunyikan rasa kagumnya.


Benar-benar luar biasa! pekik Stella dalam hati.


“Kau suka?!“ tanya Gary memancing pujian dari mulut Stella.


“Lumayan,“ jawab Stella sambil menahan diri.


“Lumayan?“ sahut Gary penasaran sambil tersenyum.


“Yah, lumayan!“ kata Stella sambil tersenyum lagi.


“Baiklah, ayo aku perlihatkan seberapa lumayannya rumah-ku.“


Stella hanya tersenyum kecil menanggapi pernyataan Gary.


“Apa kau lelah?“


“Sejujurnya yah, aku memang lelah.“


“Kalau begitu, mari kutunjukkan kamar kita!“ kata Gary sambil tersenyum.


“Kamar kita!?“


“Maksudku, kamarmu! Dan juga posisi kamarku,“ ralat Gary dengan cepat.


Stella tersenyum kecut sambil memandang ragu kearah Gary.


“Ayo,“ kata Gary sambil mengulurkan tangannya.


Stella mengerutkan kening, bingung lalu tertawa sambil memandangi Gary.


“Aku tidak akan tersesat dirumahmu, Gary percayalah padaku!“


“Malah sebaliknya, percayalah kau bisa tersesat tanpaku!“


“Tidak terima kasih, paling tidak aku bisa bertanya kepada pelayanmu, iya ‘kan, dimana arah kamarku kalau aku sampai tersesat.“


Stella tertawa sambil berjalan mengiringi langkah Gary.


“Yah, baiklah,“ kata Gary pada akhirnya.


Kamarnya berada disebelah kamar Gary.


Kamar itu berukuran lebih besar dari ruangan showroomnya dan ditata dengan semua kelengkapan kamar tidur yang mewah dan semuanya berukuran raksasa.


“Kau suka kamarmu?“


“Yah, terima kasih.“


“Apa kau yakin tidak ingin makan dulu?“


“Dibanding makan, aku hanya ingin tidur saat ini.“


“Kamarku disebelah, jadi kau bisa mengetuk pintuku, kapanpun kau ingin. Ada bel pelayan di sebelah tempat tidurmu, kau bisa meminta apapun yang kau perlukan. Sekarang, beristirahatlah.“


“Terima kasih.“


Stella menutup pintu kamarnya sambil mengamati seisi ruangan kamar barunya.


Wow! decaknya benar-benar kagum.


Untuk sesaat, rasanya Stella tergoda untuk berendam dan mandi tapi begitu mencoba berbaring di tempat tidurnya, ia menghela napas karena nyaman dan langsung terlelap.


Kalau saja tidak ada pintu penghubung, pastilah Gary akan merasa cemas karena Stella tidak kunjung datang mengetuk pintu kamarnya.


Rupanya ia sedang terlelap karena kelelahan dan tidak membutuhkan gangguan darinya.


Akhirnya dia kembali menutup kembali pintu penghubung diantara kamar mereka.


Ia lalu memanggil kepala pelayannya untuk memberi sejumlah instruksi penting dan tidak boleh dilalaikan untuk menyambut kedatangan Stella.


Stella tidak tahu berapa lama dia terlelap tapi ia agak terkejut saat mendapati seorang wanita yang sedang memberi instruksi sambil berbisik-bisik kepada pelayan untuk membereskan pakaiannya ke dalam lemari.


“Maaf, kalau saya membuat anda terganggu dengan kehadiran saya. Saya benar-benar minta maaf!“


“Tidak apa-apa, sungguh!“ kata Stella sambil tersenyum.


“Nama saya Rebecca, Nyonya. Saya adalah asisten pribadi yang ditunjuk Mr. Machunn untuk membantu apapun yang anda perlukan!“


“Sempurna,“ sahut Stella dengan tenang.


“Terima kasih Rebecca, kuharap kita bisa berteman baik. Aku tidak mau terlalu formal dalam berhubungan, kuharap kau mau memanggilku Stella saja.“


“Maaf kalau saya tidak bisa menuruti permintaan anda, Nyonya. Ijinkan saya memanggil anda Nyonya Stella.“


Stella tidak bisa memaksa Rebecca untuk menghilangkan panggilan formalitas diantara mereka maka dia tidak memaksa lagi dan memberitahu akan mandi.


Tubuhnya terasa sangat segar, setelah mandi dengan air hangat dan mencuci rambutnya.


Rebecca tampak setia berdiri diruangan kamar tidurnya.


“Duduklah, ada sofa yang empuk yang bisa kau duduki disana,“ goda Stella melihat kekakuan sikap Rebecca dalam melayaninya.


Wajahnya yang putih pucat langsung memerah karena godaan Stella. Akhirnya dia menurut apa yang disarankan atasan barunya itu.


“Apa kau sudah menikah Rebecca?“ tanya Stella.


“Belum, Nyonya.“ Wajahnya tampak lebih memerah dibandingkan sebelumnya.


“Kau pasti akan menemukan pria yang cocok untuk wanita manis sepertimu dan apa kau tahu, Gary ‘kan belum menikah! “


Stella mengedipkan matanya dengan jahil.


Buru-buru Rebecca melonjak kaget hingga berdiri dari tempat duduknya.


“Nyonya!“


“Apa kau tidak melihat dia adalah seorang pria yang menarik dan dia juga mapan!“ puji Stella dengan senang melihat Rebecca tersipu.


“Nyonya, benar-benar saya tidak berani memikirkan hal itu, benar Nyonya!“


Rebecca tampak panik mendengar godaan Stella.


Siapa sih yang tidak tertarik dengan Mr. Machunn!? Tapi sayangnya dia terlalu dingin terhadap wanita!


Saat pertama kali menemui Mr. Machunn di istana ini, dia hanya menatapnya sekilas lalu mengangguk kearah Mr. Jerry sebagai pemegang wewenang urusan rumah tangga di sini, tanpa bicara banyak. Mr. Jerry-lah yang memberitahu tugas dan bayaran yang akan diterima.


Dalam pekerjaannya, ia diharuskan menginap dan ikut serta dalam setiap perjalanan Stella.


“Tenang saja, ini adalah rahasia kita berdua,“ bisik Stella sambil tertawa melihat betapa merahnya wajah Rebecca.


Rebecca penasaran bagaimana sikap Mr. Machunn terhadap Stella apakah sama dengannya ataukah …?


Rebecca cepat-cepat menepis pertanyaan bodohnya dalam hati.


“Makan malam akan disediakan saat anda inginkan, Nyonya.“


Stella hampir saja tertawa saat melirik hiasan jam raksasa yang berdiri kokoh disamping perapian.


“Apakah kalian biasa menyantap makan malam, jam sepuluh malam? “ tanyanya sambil tertawa.


“Besok saja, aku tidak mau mengganggu istirahat para koki. Kalaupun aku lapar, aku akan mencari dapurnya dan membuat makananku sendiri.“


“Para koki belum bisa istirahat kalau anda belum memesan masakan untuk makan malam anda, Nyonya.“


“Apa!?“ sahut Stella tidak menyangka.


“Apa Gary sudah tidur?“ tanya Stella ragu.


Rebecca berpikir sesaat,


“Saya rasa beliau belum tidur, Nyonya. Beliau menunggu anda, bangun untuk makan malam.“


“Katakan, kau bercanda iya ‘kan!?“


Stella tertawa menganggap Rebecca bergurau tapi setelah melihat wajah polos Rebecca yang tidak berniat bergurau dengan jawabannya, ia melonjak kaget.


“Ayo, kalau begitu tolong antarkan aku bertemu dengannya!“


Gary sedang duduk seorang diri, dikursi santai.


Kening Stella benar-benar mengerut melihat kolam renang yang memiliki diameter berukuran raksasa.


Dalam hidup, Stella baru pertama kali melihat kolam renang dengan ukuran sebesar ini lalu ia bersiul untuk menarik perhatian Gary yang tampak sedang melamun memandangi kilau air kolam.


“Hai,“


Gary berdiri dan menghampiri Stella sambil memberi isyarat kepada Rebecca untuk pergi meninggalkan mereka.


“Sepertinya aku sudah menemukan putri tidur abad dua puluh.“


Gary mempersilahkan Stella duduk.


“Aku memang suka tidur dan tidak suka olahraga, sekarang kau sudah tahu rahasiaku iya ‘kan!? Kuharap kau tidak membocorkan rahasia ini!“ sahut Stella sambil tertawa.


“Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku, Putri tidur.“


Stella tertawa lalu memberi isyarat bahwa perutnya lapar dan minta diisi.


Gary langsung memberi isyarat tangan kearah seorang pria dan disambut anggukan cepat dan secepat pula ia menghilang dari hadapan mereka.


“Lain kali, aku ingin kau makan tanpa menungguku.“


“Aku hanya tidak berselera kalau harus makan seorang diri.“


“Tidak ada saudara yang tinggal bersamamu disini?“


“Tidak. Mereka lebih memilih tinggal di London.“


Stella memilih untuk tidak menggali lebih dalam lagi mengenai keluarga Gary.


“Apakah kau suka dengan asistenmu?“


“Sangat suka. Dia wanita yang suka tersipu. Kau harus melihat saat dia tersipu, sangat cantik sekali!“


Mata Gary menyipit sambil memandangi Stella.


“Apa kau berniat untuk menjodohkan aku dengannya?“


“Apa mungkin?!“


“Yah, kalau jariku ada dua belas!“


Stella tertawa mendengar kata-kata Gary.


“Kalau digabungkan ‘kan bisa!“ selanya.


Gary melotot dengan pandangan mengancam.


Stella tertawa menanggapi reaksi Gary.


Gary juga ikut tertawa.


Ia merasa bahagia bisa bersama Stella tanpa adanya gangguan dari siapapun juga.


Dari kejauhan Rebecca bisa melihat bahwa jelas-jelas majikannya sangat menyukai Stella.