Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 46 judul David datang untukku!



Bab Empat Puluh Enam


Yang jelas, ia tidak mungkin jatuh cinta lagi setelah apa yang telah terjadi pada rumah tangganya.


Kepercayaan dirinya mengenai kesempurnaan pernikahan ternyata mendorongnya ke jurang yang paling dalam!


Tidak ada lagi yang namanya kesetiaan cinta didunia ini.


Stella menghapus air matanya yang jatuh sambil memandang pemandangan laut yang terhampar disamping jalanan yang mereka lalui.


“Aku akan menunggu di mansion.“


“Baiklah.“


Stella menutup teleponnya lalu tersenyum dan membelai rambut Samuel.


“Indah yah?“ kata Stella sambil menunjuk kearah lautan.


“Tapi Samuel tidak mau, kita ke laut sekarang Mami.“


“Benar tidak mau mampir dan main air sebentar?!“ tanya Stella sedikit heran mendengar pernyataan Samuel.


“Papi sudah tidak ada. Gary juga tidak ada bersama kita.“


“Kenapa kita harus membawa Gary dalam percakapan ini?“ tanyanya bingung.


“Karena dia bisa menjagai, kita berdua Mami,“ sahut Samuel sambil memandangi maminya.


Stella menghela napas panjang sambil menatap Samuel.


“ Oh, sayang, no no no. Mami mau, mulai saat ini, kita jangan terlalu mengandalkan Gary. Sekarang tanpa Papi, hanya ada Mami dan Muel. Kita harus belajar mengandalkan satu dengan yang lain. Mami akan menjaga Muel dan Muel akan menjaga Mami, bagaimana?“ kata Stella mencoba menguatkan diri.


“Kukira Gary, menyayangi kita.“


“Yah, mungkin dia menyayangi kita tapi dia bukan bagian dari kita. Dia punya kehidupannya sendiri. Kalau dia terus sibuk mengurusi kita, bagaimana dia bisa mengurusi kehidupannya yang lain?“


“Apakah kita merepotkan Gary, Mami?“


“Mami kira begitu,“ jawab Stella sambil tersenyum kecut.


“Jadi mulai sekarang, lebih baik kita mulai belajar untuk bisa hidup lebih mandiri lagi, bagaimana?!“


Samuel menghela napas sedih sambil mengangguk.


“Seandainya Papi masih ada bersama kita, pasti Papi yang akan menjagai kita.“


Air mata Stella menetes lalu cepat-cepat ia memeluk Samuel tanpa sanggup berkata apa-apa.


Robi menunjukkan rumah bertingkat dua yang langsung berhadapan dengan pantai.


Rumah yang menenangkan.


Tapi sayangnya jarak dari lokasi kekota bisa memakan waktu dua jam-an. Cukup menjadi pertimbangan Stella sebelum memutuskan.


Setelah melihat keadaan dalam rumah, Stella merasa sangat nyaman melihat setiap ruangan yang dibangun didalamnya. Dia dan Samuel saling bertukar pandang tanpa berkomentar lalu Samuel ikut menjelajah dengan bebas ke setiap ruangan sementara Stella mengikuti dengan sabar.


Robi menjelaskan fungsi-fungsi setiap ruangan sebelum ditinggalkan pemiliknya yang sebenarnya, hal itu sebenarnya, tidak perlu dilakukan tapi karena merasa tidak enak untuk menegurnya langsung maka ia membiarkannya.


Dan yang membuat rumah itu tambah sempurna adalah kolam renangnya yang ditata indah bersatu dengan taman. Mereka bisa mengadakan acara panggang-panggangan disini! teriak Stella benar-benar senang dalam hati tapi senyumnya langsung memudar saat mengingat, hanya ada dia dan Samuel saat ini, tanpa suaminya.


Stella mengerjapkan matanya untuk menahan air matanya.


Sungguh berat rasanya, mengingat kini dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk tempatnya bersandar.


Tempatnya berbagi tawa dan sedih.


Tempatnya mencintai dan dicintai.


Sekarang dia sadar, ia menyesal karena membiarkan kemarahan meliputinya!


Kalau saja dia memahami dan memaafkan David, pasti saat ini mereka masih bersama!


Stella mencoba menutup rasa sakit hatinya yang menguak.


Tapi bisakah, ia mencintai David secara utuh seperti dulu?


Stella tidak mau berandai-andai.


Ia menghapus air matanya dengan cepat sebelum Samuel melihatnya menangis.


Setibanya ia di mansion, Stella mencoba untuk berbaring.


Dia terlampau lelah untuk melakukan aktifitas apapun selain berbaring di ranjangnya.


Ranjangnya bersama David.


Air matanya mengalir lagi.


Ia meringkuk dibawah selimut sambil terisak pelan.


Meskipun David telah menghianatinya tapi dia masih sangat mencintainya dan merindukannya!


Mungkin seharusnya, ia membencinya karena semua yang telah dilakukan David kepadanya tapi ia tidak bisa!


Matanya menatap ke arah nakas dan membujuk tangannya untuk mengambil surat yang ditinggalkan David untuknya sebelum mengakhiri hidupnya.


Sampai sekarang, dia sama sekali belum menyentuh surat itu.


Dia tidak sanggup membaca apa yang akan dikatakan David lewat suratnya.


Semuanya sudah terlambat! katanya pada dirinya sendiri.


Tapi akhirnya, dia membuka juga surat ber-amplop putih yang ditulis David.


Stella membelai surat itu sebentar sebelum mengeluarkan kertas didalamnya.


“ Maafkan aku karena terbelenggu dengan rasa tidak percayaku.Tidak seharusnya aku menghianati cintamu. Aku sangat mencintaimu melebihi hidupku, Stella. Aku menyesal karena tidak bisa mendampingimu lagi. Karena aku tidak layak untuk menerima cintaimu yang begitu tulus. Aku memang bodoh tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak pernah mencintai


wanita lain selain dirimu. Yang selalu mencintaimu, David.“


Stella menangis meraung sambil meremas surat David!


Air matanya tidak henti-hentinya mengalir.


Seluruh tubuhnya bergetar karena isakannya dan perasaan menyesalnya.


Ia juga sangat mencintai David!


Sampai kapanpun juga meskipun dia sudah menyakitinya, tapi dia sangat mencintainya! teriaknya dengan penuh kesedihan, mencoba mencari bayangan David dalam remang cahaya kamarnya, berharap David akan datang padanya!


Dan David telah datang untuknya!