
Bab Enam Belas
Ia merinding berulang kali dan berusaha menepis-nepis tubuhnya yang merinding karena jijik, apalagi melihat tubuh ular yang menggelepar, ia tidak berani memandangnya lagi lalu dengan cepat ia berlari masuk kedalam mobil.
Gary menangkap tubuh Stella untuk menenangkannya.
Stella berontak kuat karena bayangan ular tadi begitu melekat
dipikirannya!
Tapi Gary menahannya dan berusaha menenangkan Stella.
Stella mencengkram dan memeluk tubuh Gary untuk membuang semua rasa takut dan jijiknya. “ Yah, Tuhan! Yah, Tuhan! “ Ia merasa ada yang menyentuh kakinya dan ia kembali histeris dan gemetar ketakutan.
Dengan cepat, Gary menggendong tubuh Stella yang gemetaran dan cenderung ingin berlari menjauhinya.
“Stt, stt, stt, tidak apa-apa itu hanya ranting kering yang terkena hembusan angin,“ kata Gary mencoba menenangkan Stella.
“Gary kita pulang sekarang, kita pulang yah! Aku takut, aduh!“ Stella meringkuk dipelukan Gary dengan wajah dan tangan terkepal didada Gary karena ketakutan.
“Hei, tidak apa-apa, aku ada disini. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi padamu.“
“Gary kumohon, bawa aku kedalam mobil! Aku tidak mau keluar dari mobil sebelum kita sampai kedalam mansion!“ pekiknya lagi.
Stella benar-benar ketakutan dan ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia tidak lagi mempertimbangkan rasa malunya berada didalam pelukan Gary selama dia berada disini! Yang jelas, ia tidak akan mau menjejakkan kaki ditempat ini lagi seumur hidupnya!
Tubuhnya semakin gemetaran. Wajahnya benar-benar pucat. Satu-satunya yang dia tahu adalah ia mau Gary membawanya pergi dari tempat itu secepatnya!
“Stella, Stella lihat aku! Tatap aku!“ kata Gary mencoba menarik perhatian Stella dengan memegangi wajahnya.
Tapi Stella benar-benar panik sampai menangis karena takut.
Gary tahu seharusnya dia tidak mencium Stella! Tapi toh, kenyataannya dia memang mencium Stella.
Mata Stella yang basah terbelalak kaget merasakan ciuman Gary, sesaat ia tidak bisa berpikir apa-apa dan hanya terpaku kaget. Ia bisa merasakan bibir Gary bergerak dibibirnya dan mengulum bibirnya.
Matanya mengerjap dan tersadar! Ia melengos menjauhi Gary dengan perasaan marah dan kecewa.
“Stella …“
“Aku hilang kendali dan kau berusaha mengalihkan pikiranku, aku mengerti itu,“ kata Stella dengan hati-hati. Ia mencoba tersenyum dan tetap tenang. “Terima kasih, aku sekarang sudah jauh lebih tenang. Bisakah kita pergi sekarang?“
“Stella …,“ desah Gary sambil membelai wajah Stella.
Stella menghindari sentuhan Gary. “Gary, bisakah kita pulang sekarang!? Aku hanya ingin tidur dikamarku sendiri, tolong!“
“Kita tidak akan pulang sebelum kita membicarakan hal ini!“
Stella memandangi Gary dengan marah.
“Aku mau kau percaya, aku tidak bermaksud untuk menciummu tadi.“
“Aku tahu,“ jawab Stella dengan cepat.
“Dan aku mau kau yakin, aku melakukannya hanya untuk menenangkanmu, tidak lebih.“
“Aku yakin,“ sahutnya lagi.
“Dan ciuman itu aku lakukan untuk menenangkanmu, tidak lebih.“
“Aku tahu “ kata Stella pada akhirnya. Tubuhnya yang tegang mulai bisa santai dan mulai bisa menerima penjelasan Gary.
Dia tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap kepada Gary setelah ciuman Gary tadi.
“Jadi kau sudah tenang sekarang?“
“Jadi apa aku boleh, menciummu lagi?“ goda Gary sambil tersenyum.
Stella melotot sambil tersenyum. “Tentu saja tidak boleh, terima kasih,“ sahut Stella sudah bisa menarik napas lega.
“Kau sungguh takut dengan ular?“ kata Gary mulai memecah kekakuan diantara mereka.
“Mungkin, bukan takut tepatnya, tapi jijik.“
“Apa kau mau kalau kuajak kesini lagi?“
“Tidak, selama aku masih bernapas!“ jawab Stella cepat.
Gary tertawa dengan keras mendengar jawaban Stella sambil menyalakan mobil.
Stella tidak perduli, ejekan Gary atas tanggapannya.
Stella setengah tertidur ketika merasa ada yang tidak beres dengan laju mobilnya. Jantungnya berdetak keras ketika terdengar suara aneh keluar dari mesin mobilnya dan laju mobil menjadi tersendat-sendat. “Apa yang terjadi?!“
“Entahlah, aku akan melihatnya.“ Gary mencari senter dan keluar untuk memeriksa mesin.
Bunyi jangkrik membuat kening Stella mengerut sambil menahan napas sesaat.
Hari sudah benar-benar gelap dan sialnya, belum ada lampu jalan yang terpasang! Gelap gulita.
Untung saja malam ini, bulan bersinar penuh dan sedikit membantu menerangi jalan mereka.
Stella mempertimbangkan untuk ikut keluar dan menanyakan keadaan mesinnya tapi dia berpikir ulang mengingat keadaan sekitar yang masih rawan dari binatang melata atau binatang liar apapun, Stella memutuskan membuka jendela sambil bertanya kepada Gary.
“Kurasa, aku harus menunggu sampai cahaya benar-benar memadai untuk memperbaikinya.“
“Apa cahaya senter saja tidak cukup untuk membantu penerangan?“ Stella merasa khawatir lalu mencoba mengecek sinyal ponselnya kembali. Tidak ada jaringan!“ Bagaimana dengan ponselmu?“
Gary mengeluarkan ponselnya lalu menggeleng sambil memperlihatkannya kepada Stella. Sama juga tidak ada jaringan!
Stella mulai gelisah. “Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan bantuan?“
“Di daerah ini ada rumah penduduk mungkin kita bisa menumpang disana sampai pagi menjelang.“
“Maksudmu, melewati hutan?!“ sahut Stella dengan mata terbelalak kaget.
“Yah,“ jawab Gary dengan berat hati.
“Aku lebih suka tinggal didalam mobil dari pada harus berjalan melewati hutan yang masih sangat liar seperti itu!“ pekik Stella kehilangan kendali.
“Stella, aku mengerti ketakutanmu tapi kita perlu makan, air dan tidur. Mungkin kita bisa tidur disini tapi untuk keperluan makan dan air? Aku bisa saja berjalan sendirian kedalam hutan untuk menemukan rumah penduduk tapi aku takut tidak bisa menemukan jalan kembali kesini sebelum matahari terbit. Apa kau yakin akan tinggal disini sendirian?“ kata Gary mencoba memberi pengertian kepada Stella.
Stella merasa menyesal kenapa harus mengalami situasi seperti ini! Dia tidak mau menjejakkan kakinya di antara rerumputan liar yang menyimpan begitu banyak bahaya!
Tapi beranikah ia menunggu di mobil sendirian? Karena mesin mobilnya mati, otomatis ia tidak bisa menyalakan ac dan karenanya ia harus membuka jendela mobilnya sepanjang malam dan ia tidak tahu binatang apa yang bisa menyelinap masuk kedalam mobilnya kala dia tertidur! Dia benar-benar panik memikirkannya. Belum lagi, pasti sekarang ini David dan Samuel sedang mengkhawatirkan keberadaannya! Stella merasa sangat cemas dan sedih memikirkan keluarga kecilnya!
“Aku bisa menggendongmu kalau kau mau, sebelum hari bertambah gelap,“ kata Gary mencoba memberi solusi melihat kecemasan yang terpancar dari wajah Stella.
“Yah, yah, betapa romantisnya!“ Stella menghela napas dalam-dalam dan menenangkan diri. “Aku akan berjalan dengan kakiku sendiri, terima kasih.“
“Apa kau yakin?“
“Secepatnya kita menemukan rumah penduduk, semakin baik buat kita. Aku tidak akan membiarkan rasa takutku membuatku mati kutu ditempat ini!“
“Baiklah, kalau begitu ayo!“ kata Gary memimpin jalan.
Untung saja ia sudah mengganti sepatu hak tingginya dengan sandal, jadi lebih mudah baginya untuk menyusuri jalanan tanah seperti ini. Sepanjang langkahnya, ia berusaha keras untuk meredam semua rasa takutnya sambil masih terus berjalan pelan dalam keremangan.