
Bab Tiga Puluh Dua
“ Coba lihatlah ini!“ kata Stella sambil mengeluarkan foto yang diselipkan Steven dikamarnya.
“Jangan bilang, kau memang pernah berhubungan dengannya!?“
“Kau salah paham. Sudah jelas harusnya kau curiga tapi yang ada didalam foto itu bukanlah diriku, tapi Brenda, tunangan Steven. Coba lihat tulisan dibelakangnya, “ tambah Stella lagi.
Kening Gary mengerut membaca kata-kata dibalik potret tersebut.
“Bisa saja foto ini adalah hasil rekaan.“
“Aku percaya Steven memang benar-benar bertunangan dengan Brenda.“
“Lalu mengapa dia memelukmu? Dan kenapa, dia tidak membawa tunangannya kesini kalau memang hal itu benar!?“
“Brenda sudah meninggal, Gary. Itulah sebabnya aku membiarkan Steven memelukku dan kenapa aku memeluknya, itu hanya karena aku merasa kasihan kepadanya.“
“Apa kau yakin?“ tanya Gary sambil menatap Stella dengan tajam.
“Tentu aku yakin, sekarang biarkan aku bicara padanya sebentar lagi, paling tidak untuk menebus kesalahpahaman kemarin malam. Kau mau menungguku 'kan!? Atau aku harus memanggil taxi untuk mengantarkanku pulang?“ tanya Stella hati-hati.
“Lima belas menit atau aku akan menyeretmu pulang!“
“Terima kasih, lima belas menit sudah lebih dari cukup. Sampai bertemu dimobil,“ kata Stella baru bisa tersenyum lega mendengar jawaban Gary.
Gary memandangi Stella yang setengah berlari, menghampiri Steven.
“Ayo kita jalan-jalan sebentar,“ ajak Stella sambil tersenyum.
“Aku tidak mau dikasihani!“ kata Steven dengan tajam.
“Bohong, kalau aku katakan, aku tidak merasa kasihan setelah tahu keadaanmu tapi kalau kau ijinkan, biarkan aku membantu sedikit meringankan beban pikiranmu, hanya itu saja.“
Steven memandang dikejauhan dengan sorot mata yang menerawang.
“Kalian sudah lama bertunangan?“ tanya Stella membuka pembicaraan.
“Sedari kami kecil.“
“Cinta masa kecil bersemi sampai dewasa!? Betapa romantisnya!“ desah Stella merasa sangat sedih.
“Sayangnya, aku baru menyadari betapa aku sangat mencintai Brenda setelah kepergiannya.“
“Kadang-kadang, kita memang baru bisa merasakan ketika sudah kehilangan.“
“Aku dan Brenda dijodohkan sewaktu masih kecil oleh kedua kakek buyut kami. Aku benci padanya ketika tahu hal itu. Tapi dia terus saja mengikutiku tanpa bosan. Surat wasiat kakek menuliskan jika pernikahan kami batal maka warisan yang menjadi bagianku akan dialihkan menjadi bagian anakku kelak. Maka singkat cerita, aku menerima cinta Brenda dengan terpaksa. Aku selalu menjahatinya tapi dia selalu setia mendampingiku sampai saat papaku meninggal, aku baru bisa merasakan kebaikan hatinya dan mulai belajar mencintainya. Aku benar-benar bertekuk lutut dan jatuh cinta padanya.“ Steven tersenyum sambil memejamkan matanya. “Seandainya saja, dia tidak menyusulku dan menungguku pulang maka semuanya ini tidak akan terjadi!“ erang Steven sambil menyesali diri.
"Apa yang terjadi?“ tanya Stella dengan hati-hati.
“Pesawatnya jatuh dan ditemukan dalam keadaan rusak total hingga hanya menyisakan kepingan yang sudah bercampur dengan penumpang. Brenda adalah salah satu penumpang di maskapai penerbangan itu!“ Steven tidak sanggup menahan air matanya.
Stella tidak yakin harus memeluk Steven karenanya, ia hanya meremas tangan Steven memberi penghiburan.
“Aku benar-benar putus harapan dan memutuskan tinggal di Eropa sampai empat tahun lamanya dan baru kembali ketika aku merasa siap menerima kenyataan.“
“Sampai kau melihat aku,“ tebak Stella sambil menghela napas.
Steven tidak bergeming dalam kesedihannya.
“Steven, kalau kau mencintai Brenda maka kau harus melupakannya dan membiarkannya tenang bersama Tuhan. Aku percaya, Brenda juga ingin kau bahagia dan mendapat kebahagiaan yang baru. Aku yakin, kau pasti bisa dan yang paling penting tolong coret namaku dalam daftar buruanmu karena aku sudah ada yang memiliki dan karena aku bukan Brenda-mu,“ kata Stella sambil tersenyum. Ia merasa lega saat Steven sudah bisa sedikit tersenyum mendengar kata-katanya.
“Aku bisa memberimu segalanya, Stella.“
Stella tersenyum melihat usaha Steven yang pantang menyerah. “Percayalah aku sudah memiliki segalanya, Stev. Aku tidak kekurangan apapun, selama aku masih memiliki suami dan anakku. Maafkan aku, aku berharap kita bisa berteman dan aku tidak keberatan jika kau memerlukan teman untuk bicara suatu saat nanti tapi tentu saja dengan satu syarat,“ kata Stella dengan yakin.
“Apa itu?“ tanya Steven sambil tersenyum menggoda.
“Buang jauh-jauh pikiranmu untuk memilikiku sebagai pasangan hidup.“
“Kekasih?“
“Apalagi itu!“ sahut Stella sambil tertawa.
“Tidak.“
“Stev!“
“Anggap saja, aku telah membayar uang muka sampai aku menemukan cinta yang lain.“
Senyum Stella tambah merekah. “Baiklah, aku menunggu kedatangan kalian di mansionku. Sekarang aku harus pergi dan aku percaya, kau pasti bisa menemukan cintamu yang baru.“
“Stella,“ panggil Steven sebelum Stella pergi.
“Yah?“
“Boleh aku menciummu sebagai tanda perpisahan kepada Brenda-ku?“
Stella meringgis sambil berpikir keras lalu mengangguk dengan menunjuk keningnya.
Jari-jari Steven menyusuri bibir Stella dengan lembut. “Ijinkan aku menciummu disini,“ kata Steven sambil menatap Stella.
Keningnya mengerut naik, mendengar permintaan Steven lalu berpikir sesaat lamanya. “Baiklah tapi aku ingin, kau menganggap aku sebagai wanita lain setelah Brenda, oke?! Jadi kau bisa melanjutkan hidupmu karena aku yakinkan ciuman kami, akan sangat berbeda!“
“Seandainya saja aku bisa,“ katanya dengan sedih.
Harusnya ia tidak berpikir nekat, keluh Stella dalam hati. “Bagaimana biasanya Brenda menciummu?“ tanyanya sambil menghela napas berat.
“Ciuman manis sekilas dibibir,“ kata Steven sambil mengelus bibirnya yang merah.
“Kalau begitu, ijinkan aku yang menciummu dan aku akan memberi tahu perbedaan yang nyata lewat ciuman kami. Dan setelah ini, kau harus benar-benar melupakanku dan jangan pernah mengingat-ingat lagi tentang ciuman ini, bagaimana?“
“Yah, aku janji. Aku akan melupakan Brenda untuk selamanya dan memulai lembaran baru dengan mengenang ciumanmu sebagai langkah awalku mengawali cinta baruku.“
“Aku yakin Brenda pasti wanita yang sangat lembut, tapi sebaliknya aku agak sedikit liar dalam bercinta!“ aku Stella menahan sipuannya. “Ingat, saat ini kau telah mencintai aku dan akan merelakan kepergianku setelah ciuman kita berakhir, oke!?“ kata Stella kembali menegaskan hal itu.
“Seberapa liar memangnya ciumanmu itu, aku jadi penasaran?!“ tanya Steven sedikit usil, menantang Stella untuk membuktikan kata-katanya.
Stella tersenyum sambil memberanikan diri dan dengan percaya diri lalu mendekati Steven dan menyuruhnya sedikit menunduk karena tinggi badan mereka hampir terpaut 20 centi!
Steven menuruti perintah Stella dan tahu memang Stella bisa membuktikan kata-katanya setelah melihat tatapan Stella yang penuh dengan percaya diri.
Stella mengaitkan tangannya ke leher Steven dan benar-benar menciumnya tanpa ragu sedikitpun sampai Steven terbelalak dan terbuai dengan ciumannya!
Jesicca berusaha keras menghalangi Mr. Machunn yang ingin berlari dan menghalau Steven dari Stella!
Setelah yakin telah membuat Steven merasakan perbedaan antara Brenda dan dirinya, Stella melepaskan ciumannya. Tapi belum bisa lepas dari Steven karena ia masih memegangi punggungnya. “ Sekarang, kau bisa melepaskan aku, “ kata Stella mengingatkan. Dia pasti sudah gila! keluh Stella pada dirinya sendiri.
“Wow!“ kata Steven setelah beberapa saat tidak bisa berkata apapun.
“Yah, benar!“ timpal Stella sambil tertawa dan memberi isyarat kepada Steven untuk menyingkirkan tangannya dari pinggulnya sekarang.
“Oh, yah maaf! Aku tidak akan melupakan kenangan ciuman tadi Stella dan terima kasih karena sudah bersedia menjadi wanita pertama setelah Brenda.“
“Aku doakan, kau bisa segera mendapatkan cinta sejatimu, seperti aku. Aku harus pergi sekarang, selamat tinggal,“ kata Stella sambil melambaikan tangannya.
Steven tidak menghalangi langkah Stella lalu memandangi lautan luas yang membentang dihadapannya sambil tersenyum lega, mencoba merelakan bayang-bayang Brenda pergi darinya.
“Kenapa kau harus menciumnya?!“ tanya Gary dengan marah.
Stella sudah tahu hal ini akan terjadi. “Aku menciumnya karena aku memang harus menciumnya!“ jawabnya apa adanya.
Lututnya masih bergetar karena ciumannya tadi.
“Aku tidak mengerti!“
“Gary, dia masih tetap mengharapkan aku adalah Brenda-nya, maka aku mengambil keputusan untuk menunjukkan perbedaan besar antara aku dan Brenda-nya. Sekarang aku bisa lega karena aku yakin, dia akan kembali melanjutkan hidupnya dan mencari cinta yang lain.“
“Sungguh tidak masuk akal dan kenapa kau harus menciumnya!?“
“Gary, aku tahu, kau berusaha melindungiku tapi lama-lama kenapa aku merasa seperti kau sedang mencemburui aku!?“
“Yah, terserahlah!“ sahut Gary sambil berjalan mendahului Stella setelah beberapa lama kehabisan kata-kata untuk membantah kata-kata Stella.
“Kalau begitu ayo kita pulang!“