
Bab Tiga Belas
Ketika sarapan, David mengucapkan terima kasih kepada Gary atas pertolongan yang diberikan kepada istrinya, dengan bantuan Stella sebagai penterjemahnya.
“Aku juga sekali lagi mengucapkan terima kasih kepadamu Gary, sungguh,“ tambah Stella dengan tulus.
“Itu bukan apa-apa. Bisakah kita sarapan tanpa adanya semua kekakuan ini lagi?“ Gary mencoba bergurau.
Stella membisikkan sesuatu kepada David lalu David tersenyum kepada Gary sambil mengangguk.
David membawa Stella kedalam kamar sambil mengoleskan ulang obat untuk menutup luka gores pada telapak kaki Stella sebelum berangkat ke kantor.
Gary mengetuk pintu kamar Stella sebelum masuk.
“Hei, ada apa?“ tanya Stella melirik dari balik laptopnya.
“Harusnya, kau beristirahat.“
“Hei! Yang sakit itu kakiku, lagipula ini hanya luka gores kecil.“
“Luka gores kecil, katamu !?“
“Baiklah, agak besar sedikit. Sudahlah, ada apa?“
“Aku akan pergi keluar hari ini, mungkin aku tidak akan pulang dan makan malam disini.“
“Baiklah,“ jawab Stella dengan cepat.
“Apa yang sedang kau kerjakan?“ tanya Gary penasaran.
Dengan cepat Stella, menutup laptopnya. “Bukan apa-apa!“ katanya dengan cepat.
“Jangan-jangan kau selingkuh dibelakang David yah?“
“Jangan bicara yang aneh-aneh!“
“Aku mau tahu, apa yang akan dikatakan David, …“ kata Gary sengaja menggantung kalimatnya.
“Aku hanya sedang menulis novel!“ seru Stella cepat lalu menutup mulutnya rapat-rapat dengan perasaan malu.
“Novel?“ tanya Gary tertarik. “Roman!?“
Stella tersenyum malu lalu mengangguk.
“Boleh aku membacanya?“
“Tidak!“
“Kenapa tidak?! Apakah seburuk itu?“
“Apanya yang buruk!? Malahan menurutku, ceritaku yang kubuat ini sangatlah romantis,“ sanggah Stella mau tidak mau jadi tersipu.
Hanya saja saat ini, ia belum siap kalau karyanya dibaca orang lain.
“Menurutmu begitu?“ goda Gary sambil mendekati Stella.
“Sudah sana pergi, hus-hus-hus!“ usir Stella sambil menyembunyikan laptop dibelakang tubuhnya.
Gary mengulurkan tangannya sambil menunggu.
“Kau sudah ditunggu! Ingat pekerjaan, pekerjaan?!“ katanya mengingatkan Gary.
“Mereka pasti akan menungguku, tenang saja dan aku bisa saja mengulur waktu semauku kalau aku mau.“
“Itu namanya tidak professional, Bos!“
Gary masih menunggu dengan sabar.
Stella mendecak menyerah. “Boleh dibaca tapi tidak boleh memberi komentar apapun, bagaimana?!“
“Oke!“ kata Gary sambil mengambil laptop dari tangan Stella setelah ia mengubah versi bahasanya terlebih dahulu.
Stella menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil sesekali melirik dari balik jari jemarinya.
Dia merasa takut, Gary akan memandang rendah hasil karyanya dan ia merasa belum siap, kalau tulisannya harus dikritik saat ini!
Gary membaca novelnya dengan serius lalu sesekali melirik Stella sambil tersenyum penuh arti. Matanya berbinar dan sesekali mengangguk dengan wajah menahan sesuatu.
Apakah itu berarti Gary menyukai karyanya ataukah memaklumi kekurangan dalam karya tulisnya? Ia terus bertanya-tanya dalam hati, sementara Gary makin tenggelam membaca karya tulisnya.
Dan kapan Gary akan menjatuhkan bom waktu itu kepadanya!?
Dan mengapa, Gary lama sekali membaca setiap lembar karya tulisnya?! Stella merasa wajahnya memanas karena pikiran-pikiran yang tidak dapat ia ungkapkan saat ini.
Sementara Gary makin tenggelam membaca karya tulisnya.
Dan semakin lama menunggu, membuat jantungnya semakin berdebar kencang.
Stella merasa wajahnya memanas karena pikiran-pikiran yang tidak dapat ia ungkapkan saat ini.
Ia hanya menuangkan apa yang terlintas dalam pikirannya.
Dalam hatinya, ia hanya ingin karya tulisnya bisa diterima dan disukai para pecinta karya fiksi.
Hampir lebih kurang dua jam-an, Gary berada didalam kamarnya dan Stella terlalu tegang untuk mendengar pendapat Gary mengenai karya tulisnya. Sebenarnya, ia belum siap kalau karya tulisnya dibaca orang lain, David sekalipun tidak diijinkan untuk membaca karyanya tapi dalam hatinya yang paling dalam, ia juga ingin mendengar pendapat jujur mengenai karya tulisnya. Ia takut David akan bicara bohong untuk sekedar menyenangkannya. Tapi Gary, dia adalah pria asing yang akan bicara jujur mengenai karya tulisnya! Dan sekarang dia panik!
“Mau tahu pendapatku?!“ kata Gary menghela napas sambil menutup laptop Stella dan memandangi Stella dengan wajah yang serius .
“Sebentar, sebentar.“ Stella menarik napas dulu lalu meraih bantal kepala dan memeluknya kuat-kuat. “Baiklah, sekarang katakan.“
Stella menutup matanya rapat-rapat.
Setelah beberapa saat belum mendengar satu patah katapun dari Gary, lalu ia membuka matanya dan menemukan Gary sedang memandanginya dengan tatapan aneh. “Aku menunggu,“ katanya mengingatkan.
“Kau belum siap mendengar pendapatku,“ kata Gary lalu berniat untuk pergi dari kamar Stella.
“Apa kau gila!?“ kata Stella sambil memekik gemas. “Katakan saja, seburuk apapun aku siap untuk mendengarnya. Tapi kalau terlalu buruk tolong jangan katakan! Baik-baik, katakan saja yang sejujurnya, aku siap, yah aku siap!“ Stella mengatur napasnya lagi sambil memberanikan diri memandangi Gary.
“Menurutku, …“ kata Gary sengaja menggantung perkataannya. Wajah Gary mendadak sangat serius dan tampak ragu untuk mengungkapkan pendapatnya.
Stella menelan ludahnya lalu mendehem keras. Memberi tanda untuk menunda sebentar. Ia melemaskan tangannya lalu menyuruh Gary melanjutkan kata-katanya. Dia sudah bersiap mendengar komentar terburuk dan terjujur yang belum pernah ia bayangkan selama ini. 'Yah, apa sih yang dia harapkan dari hasil imajinasinya!' desah Stella dalam hati dengan sedih.
“Stella, …“ Gary menggenggam tangan Stella yang dingin.
Karena panik dan cemas, tanpa sadar Stella meremas balik tangan Gary. “Katakan saja. Mungkin ini saatnya aku mengetahui observasi yang jujur tentang novelku. Katakan saja yang sebenarnya meskipun menyakitkan, aku akan menerimanya.“ Stella mengeluh dan berharap ia mengatakan yang sesungguhnya dalam hati.
Gary tersenyum geli melihat kecemasan Stella.
Stella merasa akan mendengar kabar baik dari Gary mengenai tulisannya, tapi apakah perasaannya tidak salah membaca mimik wajah Gary!? Stella berpikir ragu. Dan semakin kesini, ia merasa wajah Gary berubah seperti malaikat suci yang penuh dengan kasih sayang, ada bagian dalam dirinya yang menyakini hal itu! Bahwa novelnya cukup layak untuk dibaca dan disukai!?Keningnya mengerut penasaran.
“Bagus sekali!“ kata Gary sambil tersenyum lebar.
“Apa maksudmu!? Jangan bercanda!? Aku tidak mau, kau berbohong hanya untuk menyenangkan aku,“ sahut Stella tidak percaya diri mendengar komentar Gary.
“Stella, aku berkata jujur. Dan dengan sedikit perbaikan, Kurasa aku bersedia untuk menerbitkan novelmu ini.“
Stella mencoba untuk mengolah kata-kata Gary dalam pikirannya yang mendadak turun menjadi pentium dua. “Tolong katakan lagi,“ pinta Stella dengan pelan dan tanpa sadar tangannya semakin erat menggenggam tangan Gary. Apa ini mimpi?
Gary tahu Stella tidak sadar menggenggam balik tangannya! Ia suka sentuhan dan remasan jemari Stella yang melingkupi jari-jarinya. Gary tersenyum dan berkata dengan tulus mengenai karya tulis Stella. “Stella, aku akan menerbitkan novelmu ke seluruh dunia!“ seru Gary dengan pasti.
Stella benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya saat itu.
Ia senang tapi rasa haru yang lebih menghinggapinya saat ini. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.Tubuhnya terguncang. Ia menangis karena bahagia!
Gary memberanikan diri memeluk tubuh Stella untuk menenangkannya dan memberikan kepastian dalam setiap kata-katanya.
“Apa kau benar-benar suka novelku?!“ tanya Stella berusaha menghentikan rasa haru-nya.
“Sangat suka! Dan aku tahu pasti lewat novel-novelmu, uangku bisa menjadi berlipat kali ganda.“
Stella tersenyum lalu menyadari bahwa dirinya berada di pelukan orang yang salah saat ini. Sambil tersenyum kikuk ia melepaskan diri dari pelukan Gary. “Maaf, aku agak …, kau tahulah,“ katanya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya harus mengganti kemejaku saja, kok,“ goda Gary dengan ramah.
“Maaf, kalau begitu,“ sahut Stella sambil tersenyum lebar.
“Aku serius dengan penawaranku barusan. Nanti malam kalau aku tidak kemalaman, kita akan membahas kerjasama ini tapi kalau tidak kita bertemu besok pagi, apa tidak masalah?“
“Yah, tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan! Bagiku, sudah cukup kalau novelku disukai, “ sahut Stella benar-benar merasa lega.
Gary tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu menutup pintu kamar.
Stella terdiam sesaat sambil memandangi notebooknya, antara percaya dan tidak, yang jelas saat ini ia benar-benar merasa bahagia!
Ia tidak menganggap serius penawaran Gary barusan, baginya sudah cukup kalau tulisannya menarik untuk dibaca.