
Bab Tiga Puluh
Stella mengecek apakah Gary masih benar-benar tertidur pulas atau setengah tertidur dengan memanggil namanya dan membayang-bayangi wajah Gary dengan bayangan tangannya.
Gary berusaha untuk tidak bergeming dan tetap tenang. Ia tahu, saat ini Stella sedang mengecek keadaannya.
Stella senang, Gary masih tertidur pulas. Napasnya naik turun dengan teratur. Stella tersenyum membiarkan dirinya larut untuk menikmati pemandangan disampingnya.
Stella harus mengakui, kalau wajah Gary benar-benar memiliki kelebihan sebagai seorang pria! Meskipun saat ini, dia tidak bisa melihat mata biru Gary tapi ia bisa memperhatikan wajah Gary secara seksama.
Stella tertarik dengan bakal janggut dan kumis yang baru tumbuh. Dengan penampilan seperti ini, Gary terlihat lebih seksi dan menggoda. Ia membayangkan, Gary juga akan sukses bila merintis karir di bidang permodelan!
Stella mengerjapkan matanya dengan kuat lalu menepuk-nepuk pipinya untuk mengusir rasa kekagumannya.
Dia tidak boleh terlalu mengagumi seseorang, melebihi kekagumannya dengan suaminya! katanya mengingatkan dirinya sendiri.
Stella menghela napas lalu memandangi wajah Gary lagi.
Bagaimanapun, dia juga seorang wanita yang bisa melihat, bukan!? Dan meskipun dia sangat mencintai suaminya, dia tidak bisa mengingkari sosok menggoda didepannya ini. Tapi sayangnya, kalau hal ini, diteruskan pastilah akan timbul niatan tidak baik dalam pikirannya.
Mungkin tokoh wanita dalam novelnya cocok bila mendapatkan Gary sebagai pasangannya. Ia tersenyum senang lalu dengan hati-hati melangkah masuk kedalam kamar mandi tanpa lupa menguncinya terlebih dahulu.
Stella berusaha bersikap setenang mungkin, saat melihat Gary sudah bangun dari tidurnya.
Ia berusaha menyembunyikan rasa bersalahnya karena telah mengamatinya diam-diam. Stella tersenyum kikuk sambil mengencangkan jubah mandinya. “Pagi!“ sapa Stella.
“Pagi!“ sahut Gary sambil tersenyum dan memegangi bakal jenggotnya.
Gerakannya terkesan wajar, hanya saja hal itu membuat wajahnya langsung memerah karena teringat apa yang ia lakukan tadi, diam-diam memperhatikan bakal jenggot Gary. Stella pasti akan mati karena malu, kalau saja, Gary tahu dia bukanlah wanita baik-baik karena mengambil kesempatan untuk mengamati wajahnya, saat ia masih tidur tadi!
“Teh dan telurmu.“ Gary menunjuk kearah nakas. “Dan house keeping telah mengantarkan pakaianmu.“
“Terima kasih dan terima kasih juga telah memilihkan pakaian untukku. Aku akan menggantinya.“
“Jangan terlalu dipikirkan,“ Gary tersenyum dan mengakhiri perdebatan yang akan diupayakan Stella.
“Memangnya kenapa?“
“Aku akan memakai bajuku dan kau bisa memilih satu tempat yang kau inginkan sekarang ini.“
“Aku akan ke kamar mandi.“
“Baiklah, jangan keluar paling tidak lima belas menit, oke!?“
“Aku akan memberi tanda kalau mau keluar.“
“Terima kasih.“
Stella menunggu sampai melihat pintu kamar mandi tertutup, barulah ia bergerak secepat kilat dan memakai semua pakaiannya.
Ia mengeringkan rambutnya dengan pengering yang tersedia dikamar hotel lalu membiarkan wajahnya bebas dari make up dan hanya mengoleskan pelembab bibir di bibirnya.
Setelah selesai, ia memutuskan untuk membangunkan Jesicca, kalau-kalau dia belum bangun dan bersiap-siap pulang. Dia juga memberi tahu Gary tentang niatnya itu dari balik pintu kamar mandi sebelum melangkah keluar kamar.
Didepan pintu kamarnya, ia menemukan amplop putih bertuliskan namanya tergeletak dilantai. Ia membuka amplop itu dan benar-benar kaget saat melihat wanita yang tampak sangat mirip dengannya, tertawa bersama Steven dalam sebuah festival! Dan dia sangat yakin wanita yang difoto itu bukan dirinya tapi yang membuatnya bingung kenapa wanita dalam foto ini, bisa sangat mirip dengan dirinya?! Setahunya, dia tidak punya saudara kembar?! Stella membalik foto itu dan menemukan tulisan dibelakangnya.
Yang mencintaimu selamanya, Brenda!
Stella menghela napas panjang. Ia menyesal telah menuduh Steven berbohong!
Ia menutup matanya tanda menyesal. Ia merasa ada sesuatu yang janggal, ia coba untuk mengingat-ingat perkataan Steven mengenai tunangannya itu.
“Kelahiran yang kedua kalinya? Jangan-jangan…?!“ Tubuh Stella menegang. “Yah, Tuhan apa itu mungkin!?“ Stella berharap pikirannya salah. Ia berniat untuk mencari tahu tapi setelah mengingat kembali apa yang telah terjadi tadi malam, dia tidak mau ada salah paham lagi. Lalu ia menghela napas panjang sebelum keluar dari dalam kamar hotelnya.
Setelah memberitahu Jesicca untuk bersiap-siap, dia memberitahu akan menunggu mereka di ruang makan. Ketika berjalan melewati kamar Steven, Stella ragu apakah harus menanyakan hal ini langsung ataukah tidak, tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya. Rasa penasarannya dia pendam dalam-
dalam lalu turun kebawah.