Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 12 judul makan dilaut



Bab Dua Belas


Betapa malunya dia! Kalau saja yang menggendongnya saat ini adalah suaminya, David, pastilah dia akan sangat menikmatinya dan menganggap hal ini, sangatlah romantis tapi kenyataannya!? Stella kehabisan kata-kata untuk membuat Gary menurunkannya.


Gary tersenyum puas melihat Stella kehabisan kata-kata dan tampak pasrah dalam gendongannya. Sementara Samuel berjalan tanpa banyak berkomentar. Ia menurunkan Stella diatas sofa duduk yang empuk dengan arang bakaran yang berada tepat ditengahnya.


Pelayan membawakan buku menu. Disini, mereka bisa memilih sendiri cara pengolahan yang diinginkan yaitu membakar sendiri ikan, cumi atau udang yang sudah dibumbui atau ingin langsung menyantap tanpa repot harus membakar terlebih dahulu. Setelah berembuk akhirnya mereka memilih membakar sendiri ikan dan cumi yang mereka pesan.


Ponsel Stella berbunyi saat mereka sedang membakar aneka pesanan mereka dan Stella tersenyum saat melihat suaminya saat ini sedang menghubunginya.  “Sayang,“ sapa Stella sambil memberi kode kepada Samuel.


Dengan girang, Samuel mendekati Stella.


“Sayang, kau tidak apa-apa ‘kan?! Perasaanku tidak enak sepanjang hari tadi. Aku coba menghubungi ponselmu tapi tidak ada jaringan dan ketika aku pulang, katanya kau pergi kelaut bersama Samuel dan Mr. Machunn. Aku sangat mencemaskanmu!“


Stella sangat senang mendengar suaminya bisa merasakan peristiwa yang baru saja ia alami tapi ia tidak mau membahas hal itu ditelepon dan membuat suaminya semakin cemas.


“Kami nggak apa-apa sayang, nanti akan kuceritakan saat sudah tiba di mansion. Sekarang kami sedang menyantap seafood bakar habis itu baru pulang, tidak apa-apa 'kan?“


“ Yah, tidak apa-apa. Aku sudah bisa tenang sekarang. Aku mencintaimu.“


“Aku juga cinta kamu. Apa kamu mau bicara dengan Muel?“


Sebelum Stella memberikan ponselnya kepada anaknya, ia memberi isyarat untuk tidak menceritakan kejadian tadi agar tidak membuat papinya cemas. Setelah Samuel mengangguk mengerti, Stella memberikan ponselnya sambil tersenyum lega.


Samuel mencoba berceloteh dengan riang dan menceritakan permainan apa yang mereka naiki hari ini.


Stella mengambil batangan pemanggang dan membalikkan ikan simba yang mereka pesan. Ia berkeras membantu meskipun Gary sudah berulang kali mengusirnya. “Kakiku hanya tergores! Bukannya habis dioperasi,“ katanya dengan kesal.


Stella mendecak kesal sambil melotot kearah Gary.


Gary garuk-garuk kepala akhirnya mengalah dan membiarkan Stella membantu membakar pesanan mereka.


Memang berbeda sekali kalau menyantap seafood didepan hamparan lautan luas. Stella dan Samuel sampai menambah nasi dan makan dengan lahap tanpa malu-malu dihadapan Gary.


Gary juga tidak mau kalah dan menghabiskan setiap nasi yang disendokkan Stella. Ia harus memperdaya Stella agar mau menyendokkan nasi ke piringnya dengan memperlihatkan tangannya yang sudah kotor dengan bumbu kecap.


Stella juga menunjukkan tangannya yang sama kotornya dengan Gary namun akhirnya mengalah melihat sikap keras kepala Gary dan menyendokkan nasi keatas piringnya.


Setelah mereka sampai di mansion, Stella menolak tegas saat Gary akan menggendongnya seperti tadi. Ia meminta sopir memanggilkan suaminya.


Gary menghela napas tak acuh lalu masuk kedalam mansion 


David setengah berlari menghampiri mobil mereka dan melihat keadaan istrinya. “Kenapa … !?“


“Nanti ceritanya didalam, sekarang gendong dulu.“


Mata David menyipit karena penasaran lalu ia menghela napas panjang sambil mengambil tubuh istrinya dengan sigap dan membawanya masuk kedalam kamar.


Mungkin karena kaget dengan kejadian yang dirasakan tadi sore, malamnya, Samuel ingin tidur bersama orang tuanya, khususnya Stella.


David dan Stella memahami ketakutan yang dialami Samuel, ia hampir saja kehilangan maminya!


Mereka menyambut Samuel masuk kedalam selimut dan tertidur dalam pelukan dan buaian Stella.