
Bab Lima Belas
Setelah memastikan Gary benar-benar memahami tentang rute jalan yang akan mereka datangi akhirnya, Stella setuju untuk pergi tanpa ditemani supirnya.
Jalan yang mereka tempuh rupanya cukup jauh dan berliku. Stella tidak tahu bagaimana jadinya dia kalau ditinggal sendirian ditempat seperti ini! Sepanjang jalan yang mereka lewati hanya terdapat satu dua mobil yang melaju dari arah yang berlawanan dengan mereka. Hampir saja Stella bertanya apakah Gary benar-benar memahami arah jalan yang mereka tempuh karena sekarang mereka memasuki daerah seperti kawasan hutan yang masih sangat rawan. Lalu berbelok kearah kiri, melaju lagi dan mulutnya hampir terbuka lebar karena saat ini pemandangan perbukitan yang hijau dan lautan terbentang luas dihadapan mereka! Ia benar-benar kaget dan takjub ada tempat seperti ini dikotanya! Untuk sesaat, ia tidak bisa berkomentar apa-apa!
Gary tersenyum puas saat melihat ekspresi kagum yang tergambar jelas di wajah Stella.
“Disini!? Benar disini?“ tanya Stella mencari kepastian dari Gary dengan tatapan kagum lalu turun setelah Gary mematikan mesin mobil.
“Bagaimana menurutmu?“ Tanya Gary sangat tertarik mendengar pendapat Stella.
“Aku percaya calon istrimu akan sangat menyukainya!“ pekik Stella dengan penuh kekaguman. Ia menghirup dan menyelami udara puncak yang menyegarkan.
Tanpa polusi dan aktivitas padat lainnya. Ini adalah surga dunia! Mata Stella berbinar kagum sambil menatap Gary. “Aku yakin calon istrimu adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi ini. Oh Gary, aku tidak mengira ternyata kau pria yang sangat romantis!“
“Menurutmu begitu?!“ Gary menyembunyikan senyum bahagianya.
“Apa kau bergurau? Jelas seperti itu!“ sahut Stella dengan yakin.
“Apakah kau ada usulan mengenai tata letak ruangannya? Dan jenis bangunan yang kau inginkan?“ tanya Gary meminta pendapat Stella.
Jujur saja, ia membeli tanah ini karena mengingat Stella dan berharap Stella akan menyukai semuanya ini. Ia bermimpi ia, Stella, Samuel bisa bersama-sama menghabiskan waktu libur bersama ditempat ini, setelah semuanya jadi.
Dulu, sebelum bertemu dengan Stella, tidak pernah ada keinginan untuk menetap di Indonesia tapi setelah bertemu Stella, ia merasa enggan kembali ke negaranya.
Saat ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama Stella!
Stella berpikir sesaat. “Kalau menurutku, disini mungkin bisa dibangun villa bertingkat tiga, tentu saja dengan balkon-balkon yang lebar.“
“Balkon?“
“Yah, Balkon! Agar bisa melihat seluruh pemandangan ini lebih bebas dan bisa bersantai disana.“ Stella mencoba menggambarkan gambaran yang ada dibenaknya kepada Gary.
Setelah Gary mengangguk mengerti, barulah Stella mengambarkan lagi ide ruangan-ruangan yang perlu dibangun didalam villa Gary dan calon istrinya.
“Gazebo?! Apa itu tidak berlebihan?“ tanya Gary sambil terkekeh.
Stella merengut. “Apa kau gila!? Dengan pemandangan seindah ini? Tentu harus ditambahkan gazebo. Kurasa tempat ini bisa berfungsi ganda untuk disewakan kepada pasangan-pasangan yang ingin menikah dengan suasana romantis seperti ini! Oh,“ desahnya. “kalau saja tempat ini sudah dibangun dari dulu, pasti aku dan David akan menyewa tempat ini. Tempat ini sangatlah romantis menurutku,“ kata Stella mendesah dengan mata yang berbinar.
Gary hanya bisa tersenyum kecut menanggapi kata-kata Stella.
Mereka duduk di bongkahan kayu besar yang tergeletak.
“Aku yakin kau sudah mengukur tingkat kepadatan tanah sebelum berencana untuk membangun villa diatas ini iya’kan!?“ kata Stella dengan pasti.
“Wow! Sempurna,“ sahut Stella sambil mendesah kagum. “ Lalu kenapa kau belum mengajaknya kesini?“
“Siapa?“ tanya Gary bingung.
“Tentu saja, calon istrimu!?“ sahut Stella sambil tersenyum.
Gary mendehem, “Hal itu belum bisa kulakukan,“ sahut Gary sambil mengalihkan pandangannya.
“Kenapa? Dia juga orang bisnis yah!?“ goda Stella penasaran. Dia merasa bahagia mendengar berita bahagianya Gary.
“Mungkin,“ jawab Gary sambil tersenyum menggoda.
Kening Stella mengerut tidak mengerti. “Kau apa?”
“Aku masih belum menentukan calon istriku, Stella.“
Stella kehabisan kata-kata mendengar pengakuan Gary.
Dia merasa kikuk telah berada disini dengan Gary. “Oh, begitu!“ sahut Stella sambil termenung bingung lalu mencoba untuk tersenyum menanggapi kata-kata Gary. “Kalau begitu, apa perlu aku memberimu rekomendasi?“
“Tidak, terima kasih!“ sahut Gary dengan cepat.
Mau tidak mau, Stella hanya bisa tersenyum melihat ekspresi ngeri dari Gary menanggapi tawarannya. Ia mendehem untuk memendam rasa kecewanya. “Kalau kau butuh bantuanku, jangan segan-segan memintanya karena selain senang membantu pengantinku, aku juga Cupid yang baik hati! Aku akan membantumu menemukan cinta sejatimu!“ kata Stella setengah bergurau.
Gary tertawa mendengar kata-kata Stella. “Hampir amat sangat menyakinkan tapi sekali lagi, tidak terima kasih.“
“Hei!“ Stella merengut karena disepelekan oleh Gary lalu tertawa.
“Stel, … jangan bergerak dulu,“ Gary berkata pelan berbisik dengan wajah yang agak pucat.
“Ada apa? Kenapa!?“ Dia tahu ada sesuatu yang salah dari perkataan Gary!
“Ada binatang kecil yang merayap dibajumu,“ bisiknya pelan. “Tenang, tetap tenang,“ kata Gary lagi, karena melihat wajah Stella yang pucat.
Ia mencoba bergerak sepelan mungkin
agar tidak mengagetkan ular hijau yang saat ini sedang merayap di bahu Stella.
Stella mulai merasakan gerakan aneh dan mendesis merasa dibahunya! Dia sampai tidak berani bernafas! Jangan ular, jangan ular! Kumohon, pinta Stella dalam hati.
Stella sempat melihat ular yang diambil Gary dari tubuhnya, sebelum Gary meremukkan kepalanya dengan satu injakan. Ia menjerit jijik sekaligus merasa takut.