
Bab Dua Puluh Tiga
Stella kembali secepat mungkin setelah berhasil menemui manager resort dan penginapan untuk menyediakan satu set meja makan malam romantis lengkap dengan pelayan yang akan setia mendampingi mereka agar mereka bisa mendapatkan pelayanan apapun secepatnya.
Saat ini Steven sedang memunggunginya sambil menatap matahari terbenam.
Mau tidak mau, hati Stella agak berdesir. Bagaimanapun Steven adalah seorang pengusaha muda yang tampan dengan segudang kharisma untuk diinginkan wanita banyak dan meskipun ia percaya, bahwa ia sangat mencintai suaminya tapi ia juga tidak buta, untuk sedikit menikmati pesona Steven saat ini.
Sebenarnya, ia merasa ragu untuk pergi tanpa asistennya apalagi Steven secara spontan ingin melihat lokasi yang ia sarankan tapi mungkin karena Steven ingin mempersembahkan pesta yang luar biasa bagi calon istrinya. Ia tidak tega menolak ajakan Steven.
Steven memiliki tinggi badan +/- 183 cm dengan bentuk tubuh yang sangat-sangat sempurna. Sangat kekar dan terlihat proposional. Wajahnya tampan, rasanya terlalu sukar untuk digambarkan lewat kata-kata. Alisnya tebal, sorot matanya lembut dengan bulu mata yang sempurna. Hidungnya mancung. Bibirnya terlihat sangat seksi apalagi saat dia menyunggingkan senyumannya.
Dengan sekuat tenaga, ia berusaha untuk bersikap sewajar mungkin dan berusaha tidak ikut mabuk oleh pesona Steven.
Berada disini bersama Steven, membuat imajinasinya melambung untuk mendapatkan cerita baru untuk karya tulisnya!
Beruntunglah Stella karena ia, telah bersuami dan tidak menjadi salah satu penggemar Steven.
Jika hal itu sampai terjadi, bisa dipastikan, ia tidak akan rela membiarkan Steven pergi kemanapun tanpa dirinya. Dia akan mengunci rapat-rapat Steven dalam kamarnya dan tidak akan membiarkan pergi!
Stella menertawakan lamunannya lalu menggeleng kuat-kuat. Tidak seharusnya, ia bertingkah seperti remaja lagi!
Stella memberitahu Steven semuanya akan disiapkan dalam waktu lebih kurang 15 menit oleh pihak resort dan hotel sesuai dengan keinginan Steven.
“Betapa indahnya tempat ini,“ desah Steven lalu memandangi Stella.
“Itulah sebabnya aku merekomendasikan tempat ini!“ Stella tersenyum bangga sambil menikmati cahaya matahari terbenam lagi.
Ia merasa wajahnya memerah dan untuk sejenak merasa kikuk karena tatapan Steven padanya saat ini.
Kalau saja, ia tidak ingat tujuan Steven mengajaknya kesini untuk mengobservasi tempat resepsi pernikahannya, mungkin ia akan berpikir Steven sedang berusaha memikatnya saat ini!
“Silahkan,“ kata Stella mempersilahkan Steven duduk dan
membiarkan pelayan mencatat setiap masakan yang akan dicoba.
Steven bahkan memesan sebotol sampanye! Sempurna untuk makan malam romantis, desah Stella sambil membayangkan seandainya David ada disini bersamanya.
Setelah Steven selesai memesan menu yang dia inginkan, Stella berniat membiarkan Steven menikmati suasana romantis ini sendirian.
Steven menggeleng sambil tertawa renyah mendengar Stella akan meninggalkannya sendirian untuk menikmati makan malamnya.
Sangat enak untuk didengar!
Stella mengerjapkan matanya untuk menyadarkan dirinya dari pesona Steven. Dia tidak mau terbuai oleh pesona Steven! tegasnya pada dirinya sendiri.
“Apa kau berniat meninggalkan aku dengan semuanya ini?“
“Tentu saja tidak, aku akan berbincang dengan manager hotel sampai kau selesai mencoba semua ini,“ kata Stella dengan tenang.
“Katakan padaku, Stella. Apa kau takut padaku, Stella?“ tanya Steven dengan tatapan menggoda.
Stella mendehem kikuk. “Apa maksudmu?“ kilah Stella sambil tertawa kecil. “Dan apa yang harus kutakutkan!?“
Debar jantungnya terasa dipasangi mic! Dia takut, Steven bisa mendengar debar jantungnya, saat ini!
“Temanilah aku disini, aku kesepian tanpa tunanganku,“ bujuk Steven dengan suara memelas.
Stella tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, ia memutuskan untuk duduk bersama Steven.