
Bab Empat Puluh Delapan
“Aku tidak mau kau menyesali percintaan ini, Stella.“
Stella menahan tangisnya.
“Aku bukan wanita baik-baik Gary! Belum genap satu bulan, suamiku meninggal. Aku sudah bersatu dengan pria lain. Demi Tuhan, saat ini aku tidak bisa mengenali diriku sendiri, sekarang! “ seru Stella sambil menangis menyesali diri.
Gary menenangkan Stella dan menghapus air matanya.
“Stt, jangan khawatir aku akan menjagamu, menjaga anakmu dan bayi-bayi kita nantinya. Ijinkan aku menikahimu,“ pinta Gary sambil menghapus air mata Stella yang terus-menerus mengalir.
“Yah, Tuhan! Aku tidak mungkin menikahimu Gary. Aku mencintai David!“
“Dan aku mencintaimu! Aku akan menunggu sampai kau benar-benar mencintaiku tanpa merasa lelah. Ijinkan aku menunjukkan seberapa besar cintaku padamu.“
Gary menciumi jari jemari tangan Stella dengan penuh kesungguhan.
“Ini pasti akan menjadi skandal yang menghebohkan, Gary!“
“Aku tidak perduli, asalkan kau bersedia menikahiku! Kau adalah istriku dan kau adalah belahan jiwaku, yang harus kau lakukan hanya menikmati semuanya itu. Katakan yah, sayangku. Katakan yah!“
“Aku perlu waktu …“ kata Stella mencoba mencari alasan untuk menolak Gary.
“Tidak! Katakan yah sekarang, please katakan yah! Yah!? Yah!?“ bujuk Gary sambil menciumi leher Stella dan membelai setiap jengkal tubuh telanjang Stella dan membuainya.
Stella memejamkan mata dan mendesah.
“Kau curang,“ erang Stella sambil membelai tubuh kekar milik Gary. Tanda ia sangat menikmati sentuhan Gary.
“Katakan yah! Katakan Yah!“ bujuk Gary lagi tanpa menyerah.
“Yah!“ kata Stella sambil mengerang nikmat saat jari-jari Gary bermain diintisari kewanitaannya.
“Apakah itu berarti yah kau setuju untuk menikah denganku ataukah yah untuk sekali lagi bersatu denganku?!“ tanya Gary mulai percaya diri.
Ia sudah mulai percaya ia memiliki sesuatu yang akan membuat Stella mempertahankannya.
“Yah, yah, yah untuk apapun yang kau inginkan!“
Stella mengerang dan menerima ciuman Gary dan mulai bergerak seirama bersama Gary.
Stella benar-benar wanita yang luar biasa! Gary tersenyum sambil memandanginya saat matahari sudah terbit dan cahayanya menerangi ranjang mereka.
Stella berulang kali menggeliat tapi tidak terbangun dan masih menikmati tidur pulasnya.
Gary tidak keberatan dengan hobi calon istrinya itu.
Ia tersenyum lebar sambil membelai wajah Stella yang putih merona.
Dengan hati-hati ia menyingkirkan helaian rambut Stella yang jatuh menutupi wajahnya. Ia tidak percaya penantiannya akan sampai juga saat ini!
Sekarang, tugasnya saat ini adalah kembali menyakinkan Stella dengan komitmen dan jawaban Stella kepadanya.
Ia yakin, saat ia meninggalkan Stella sendirian, Stella pasti akan mengulur waktu dan mengubah jawabannya sendiri. Ia tidak boleh menyia-yiakan setiap detiknya untuk menyakinkan Stella! Dan tidak boleh ada keraguan dalam diri Stella untuk menerimanya sebagai suaminya. Titik!
Jantung Gary berdebar dengan keras sambil menunggu Stella bangun dari tidurnya.
Stella mengerang lagi sambil menggeliat dan memeluk tubuhnya. Lalu perlahan menyadari pria yang berada bersamanya saat ini, bukanlah David, suaminya.
“Aku tidak keberatan dengan kebiasaanmu itu.“
“Kita akan memberi tahu tentang pernikahan kita kepada Muel,“ kata Gary sambil meraih tubuh Stella yang menjauh darinya.
Stella menghela napas ragu, tidak sanggup memandangi Gary.
Ia tidak tahu harus berkata apa untuk membuat Gary melupakan kejadian semalam.
“Semalam …,“ kata Stella.
“Indah sekali,“ Gary merengkuh tubuh Stella sambil mengecupnya. “Aku mencintaimu,“ kata Gary.
Stella mencoba berkilah dan mencari alasan untuk mengakhiri kesalahan yang telah ia perbuat.
“Stt, jangan katakan apapun untuk mengurungkan janji yang sudah kita buat semalam.“
Stella mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menolak Gary tapi ketika Gary menyentuh perutnya dengan lembut dan menempelkan telinganya, Stella benar-benar kehabisan kata-kata untuk menolak Gary.
“Kuharap bayi kita perempuan. Atau laki-laki?“ katanya sambil tersenyum. “Tidak masalah buatku apapun jenis kelamin anak kita, kuharap kau tidak keberatan dengan semua itu. Aku merasa sangat bahagia, Stella.“
Stella benar-benar tidak bisa mengomentari kata-kata lembut yang keluar dari mulut Gary.
“Kalau aku tidak hamil…“ Stella mulai berniat untuk mencari alasan mengakhiri hubungan mereka.
“Aku tetap akan menikahimu. Dan terus berupaya agar kau bisa hamil secepat yang kau inginkan,“ kata Gary mulai menciumi perut Stella dan bergerak kearah bawah tubuh Stella.
“Jangan,“ cegah Stella.
“Aku ingin mandi sekarang,“ katanya dengan perasaan malu.
“Biarkan aku menyiapkan air untuk kita mandi.“
“Kita?“ tanya Stella tidak mampu menyembunyikan senyumnya.
“Aku juga perlu mandi. Apa kau suka, kalau aku jarang mandi?“
Wajah Stella benar-benar merah padam mendengar godaan jahil dari Gary.
“Dikamarmu juga ada kamar mandinya, Gary. Kau tidak harus mandi bersamaku,“ katanya mencoba memberi batasan.
“Sudah terlambat untuk merasa malu sayangku. Aku sudah melihat dan menyentuh semuanya,“ goda Gary sambil membelai tubuh Stella yang ditutupi selimut lalu perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh Stella.
“Gary …!“
“Mulai saat ini, kau adalah milikku dan aku,“ Gary membawa tangan Stella menyentuh dadanya. “adalah milikmu.“
“Aku tidak yakin apakah aku bisa jatuh cinta lagi, Gary,“ aku Stella dengan jujur.
“Meskipun seumur hidup kau belum bisa mencintai aku, aku akan menerimanya dan aku hanya akan menunjukkan rasa cintaku padamu.“
“Gary, apakah kau benar-benar yakin mencintaiku? Aku ingin kau benar-benar berpikir ulang sebelum kita melangkah lebih jauh lagi.“
“Apakah kau bisa merasakan debaran jantungku?“ tanya Gary dengan lembut.
Stella mengangguk pelan.
“Setiap debarnya, menyerukan namamu sebagai cintaku. Kau bisa membuatku melupakanmu, kalau kau membuat jantung ini tidak berdetak lagi,…“
Stella menutup mulut Gary. “ Jangan teruskan lagi, “ kata Stella sambil memeluk tubuh Gary.