
Bab Empat Puluh Tiga
Gary sedikit terkejut saat mendapati Stella sedang memandang kosong ke arahnya.
Rupanya dia tertidur saat sedang menjagai Stella!
“Hai, bagaimana kabarmu?“ sapa Gary sambil tersenyum lembut.
“Micquel menghubungimu iya ‘kan?“ sahut Stella sambil mencoba tersenyum tapi dia tidak sanggup untuk bisa tersenyum.
“Maaf, sudah membuatmu cemas tapi aku sudah bisa menerima keadaan sekarang.“
Stella menelan ludahnya dengan susah payah sambil berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
“Aku yang memaksa Micquel untuk mengatakan keberadaanmu. Aku harap kehadiranku tidak mengganggumu.“
“Beberapa saat yang lalu, pasti aku tidak mau diganggu oleh siapapun juga tapi sekarang aku memang harus bertemu denganmu,“ kata Stella menguatkan diri.
“Katakanlah, aku akan melakukan apapun untukmu.“
“Aku harus kembali besok pagi tapi aku mau Samuel tidak ikut bersamaku sampai aku bisa menyelesaikan semuanya.“
“Kau bermaksud untuk menceraikan David dan menyelesaikan semua ini iya ‘kan!?“
“Aku harus mendengar semua penjelasannya terlebih dulu sebelum memutuskan,“ katanya melemah dengan tekadnya sendiri.
“Tapi dengan semua bukti-bukti itu sudah jelas kalau dia sudah menghianatimu!“ kata Gary tidak percaya.
Stella terdiam dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Jangan bilang, kau akan memaafkannya!“ seru Gary benar-benar tidak bisa mengerti sikap Stella.
“Aku tidak tahu, Gary tapi yang jelas, jujur, saat ini aku masih terlalu kaget dan tidak mengira kenapa semua ini bisa terjadi. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa?“ katanya sambil menatap Gary dengan lemas.
“Hanya saja,“ lanjutnya lagi.
“Sembilan tahun juga bukan waktu yang sebentar untuk mengambil keputusan berpisah saat ini, terlalu banyak kenangan manis yang sudah kami alami bersama-sama. Apalagi dengan adanya Samuel sebagai pengikat diantara kami, sulit rasanya untuk mengambil keputusan untuk berpisah atau bagaimana? Aku juga tidak tahu harus bagaimana nantinya! Aku sungguh tidak tahu, tapi yang jelas aku harus bertemu dengan David dan mendengar penjelasannya.“
“Aku akan menemanimu!“ sahut Gary mencoba menerima sikap Stella.
Stella mengambil tangan Gary lalu meremasnya.
“Aku ingin, kau menjaga Samuel untukku. Hanya kau yang bisa kupercaya untuk menjaga Samuel disini,“ kata Stella mencoba menguatkan diri.
“Tapi …!“
“Pinjamkan Micquel, untukku agar bisa mengatur semua keputusanku yang akan kuambil nantinya“
“Tapi …!“ selanya lagi.
“Meskipun aku lebih nyaman dan lebih yakin kau tidak akan meninggalkan aku sendirian tapi Samuel lebih membutuhkanmu disini dan aku juga bisa sedikit lega karena Micquel bekerja untukmu, paling tidak dia tidak akan membiarkan aku tersesat sendirian dijalan iya ‘kan!?“ kata Stella mencoba bergurau.
Gary menghela napas berat sambil memandangi Stella.
“Apa kau yakin?“
Stella mengangguk sambil tersenyum.
“Aku yakin. Kuharap kau bisa mengatur sebuah alasan perjalanan agar Samuel tidak merasa curiga dengan kepergianku, aku tidak mau dia sedih kalau tahu mengenai hal ini.“
Air mata Stella menetes lagi.
“Bagaimana aku bisa menjelaskan semua ini padanya nanti!? Bagaimana kalau kami benar-benar harus berpisah!?“ kata Stella dengan putus asa.
Gary memeluk tubuh Stella yang gemetaran.
Samuel memandang sedih kearah maminya yang sedang mencari surat-surat dan mengepak beberapa helai pakaiannya kedalam koper.
Sambil tersenyum Stella mendekati anaknya dan memeluknya dengan lembut.
“Jadwal Mami sangat padat sekali dan Mami harus terbang kesana kemari dalam waktu singkat. Mami tidak mau, kamu kecapean. Mami akan kembali secepatnya setelah menyelesaikan semua pekerjaan Mami. Kalau perlu apa-apa, kamu bisa menghubungi Gary diponselnya atau mengetuk kamar sebelah.“
“Gary bukan orang biasa Mami.“
“Tidak mungkin, dia terus-menerus menemaniku.“
“Sayang, kau tahu betapa besarnya cinta Mami ke kamu?“
“Melebihi cinta Mami ke Papi.“
Stella menghela napas mendengar jawaban polos dari anaknya.
Teringat kembali saat-saat ia mengatakan hal itu. Mereka bertiga selalu rukun dan bahagia.
Mengapa hal ini mesti terjadi dan menghancurkan segalanya?! sesal Stella lagi-lagi menghela napas. Matanya berkaca-kaca lalu cepat-cepat ia menghapus air matanya sebelum Samuel melihatnya.
“Yah, melebihi apapun didunia ini. Jadi mungkinkah, Mami akan meninggalkanmu sendiri disini tanpa kembali lagi?“
Samuel menatap maminya sambil membelai wajahnya dengan caranya sendiri.
Stella cepat-cepat memeluk anaknya sambil menangis tanpa suara dibelakang Samuel lalu cepat-cepat menghapusnya sebelum melepaskan pelukannya lalu tersenyum kepada Samuel.
“Muel janji, tidak akan nakal.“
“Terima kasih. Mami percaya Muel akan minum susu pada waktunya. Makan dengan teratur, belajar materi yang sudah diberikan …“
“Mi …, Muel sudah tahu, lagipula Mami akan segera kembali ‘kan!?“
“Pasti, secepatnya. Mami janji!“ kata Stella sambil mengecup pipi Samuel.
Sesudah Samuel tertidur, Stella memberikan sederetan pesan kepada pengasuh Samuel untuk menjaganya dengan lebih telaten lagi, sesudah kepergiannya. Ia baru bisa tenang setelah mendengar janji yang menenangkan dari pengasuhnya itu.
Stella memeluk Bella sebagai tanda terima kasih dan memberikan uang tunai sebagai pegangan jika Samuel dan dia memerlukan sesuatu.
Ia sengaja, tidak tidur dikamar Samuel melainkan tidur dikamarnya sendiri dan membiarkan lampu kamarnya tetap mati lalu menangis lagi, sampai ia tertidur dan berharap tidak akan bangun lagi.
Stella berangkat pagi-pagi sekali sebelum Samuel bangun tapi ia sudah meninggalkan surat agar Samuel tidak terlalu sedih dengan kepergiannya.
Dia tidak tega melihat Samuel melepaskan kepergiannya kali ini.
Gary mengantar kepergian Micquel dan Stella ke bandara sambil masih terus memandangi wajah Stella yang pucat.
“Kau baik-baik saja?“
“Tidak, tapi aku akan belajar untuk baik-baik saja. Maaf mengenal jadwal tour yang berantakan.“
Gary meremas tangan Stella seolah memberinya kekuatan.
"Tidak masalah, management yang akan mengatur semuanya."
Stella mengangguk sambil mengenakan kaca mata hitam.
Micquel tidak berkomentar apa-apa.
Stella tersenyum kecil.
“Aku titip Muel yah, please…“ katanya dengan suara bergetar lalu air matanya kembali menetes dengan sendirinya.
“Aku akan menjaganya, tenang saja.“
“Terima kasih, terima kasih,“ kata Stella sambil melepaskan pelukan Gary dan masuk kedalam ruangan tunggu.
“Jagai, dia.“
“Jangan khawatir, aku akan menjaganya.“
“Micquel …“
Micquel meninju pelan pundak Gary sambil tersenyum tulus.
“Aku tahu perasaanmu padanya. Aku berjanji akan menjaganya sebagai ipar dari saudaraku.“
“Terima kasih,“ kata Gary sambil menjabat tangan Micquel dan memeluknya.
Gary memandangi Micquel yang sudah masuk kedalam ruangan tunggu kemudian segera kembali ke hotel.