
judul novel: Kekasih Brengsekku
penulis Lucy Ang
genre komedi romantis 18+
status ongoing
platform NovelToon/MangaToon
selamat membaca, semoga suka yah
Bab 10
Akhirnya, Dodi dilarikan ke ruang gawat darurat karena tidak sadarkan diri, menggunakan ambulance puskesmas.
Karena sekolah tidak mengijinkan siswa-siswinya membawa handphone maka baik aku maupun Dodi, tidak membawa handphone. Untung puskesmas deket dari tempat kejadian. Jadilah Dodi dibawa pake ambulance ke rumah sakit terdekat.
Setelah mendaftarkan Dodi, aku segera meminjam telepon rumah sakit untuk memberitahu keadaan Dodi saat ini kepada mami agar mami segera memberitahukan mami papi Dodi.
"Piye toh Din, ngapain kamu ngeracunin anak orang pake bom gas kamu!" kata mami sambil tertawa terpingkal-pingkal diseberang telepon.
"Mami mah, luh!"
"Yah udah, bentar lagi mami kesana sama maminya Dodi. Kamu tenang aja, Dodi gimana keadaannya? Apa sudah sadar?!"
"Lagi diberi pertolongan pertama mi diUGD. Dinda belom liat. Ini Dinda pinjem telepon rumah sakit."
"Yah udah, sekarang kamu temenin Dodi yah, ntar dia nyariin kamu lagi."
"Iya mi."
Di UGD, aku bertemu dengan dokter jaga, namanya Dokter Marwan. Dia menanyakan apa ada obat yang alergi? Aku menjawab tidak tahu.
"Apa keluarga pasien sudah datang?" tanyanya lagi.
"Sedang dalam perjalanan ke sini, Dok."
"Penyebab pingsannya? Apa tahu?"
Aku jawab dengan dengan pelan dan setengah berbisik.
"Gas alam, Dok,"
"Gas bocor maksudnya?" katanya sedang menulis di laporan kesehatan Dodi.
Aku cepat-cepat menggeleng. Lalu berbisik lagi ketelinga pak dokternya.
. "Gas alami dok," kataku malu-malu.
"Gas alami maksudnya?" tanya dokter Marwan tidak mengerti.
Aku berdehem lagi, lalu berbisik lagi, antara malu dan kesal, dokternya kagak ngerti-ngerti.
"Kentut dok!" ucapku dengan nada keras.
Semua mata otomatis tertuju padaku. Aku pura-pura tidak melihat dan mengalihkan pandanganku keatas. Ngeliat kumpulan cicak yang tampaknya juga sedang menertawakanku!
Kejamnya mereka! Tidak memikirkan perasaanku! kataku dengan sedih dan hatiku merasa terluka karenanya. Cici Lucy Ang, kenapa ini bisa terjadii!? Tolong coret adegan ini sih ci! desahku dalam hati.
Ingin rasanya, aku menghilang ditelan bumi saat itu juga. Rasanya aku bisa merasakan, bahwa saat ini wajahku pasti memerah kayak kepiting rebus.
"Sekarang kondisi Dodi, gimana dok?" tanyaku dengan jutek dan kesal.
Dokter Marwan masih berusaha untuk mengendalikan rasa gelinya. "Sedang ditangani, " katanya cepat-cepat keluar dari ruangan.
Gelegar suara tawa terdengar jelas ditelinganya. Diikuti suara tawa geli didalam ruangan.
Mereka nih tertawa diatas, penderitaan orang lain! Kejam, kejam! (sambil nyanyi lagu dangdut) gerutuku dalam hati.
Kondisi hatiku sekarang, benar-benar dalam kondisi amburadul tidak menentu. (Bisa dibayanginkan nggak tuh betapa ruwetnya?)
Rasa malu dan juga sakit hati berubah menjadi kemarahan kepada Dodi yang saat ini jadi sasarannya. Kalau saja dia tidak pingsan, tentu aku nggak akan dipermalukan seperti ini!
Aku berusaha meredam emosiku. Tadinya, aku berniat keluar kamar dan meninggalkan Dodi, tapi hatiku juga ora tegel.
(ps. ora tegel itu artinya nggak tega)
Semuanya ini terjadi karenanya, maka ia harus bertanggung jawab.
"Ubi panggang, sialan. Semua ini pasti gara-gara dia!" geramku saat mengingat-ingat.
Dia selalu memesan ubi madu dari tukang sayur yang selalu lewat rumahnya.
"Ingat yah pak, khusus kalo ada ubi madu aja, bapak tolong panggil saya, kl saya nggak ada, titip mami. Bilangin saya yang pesan. Nanti uangnya ambil sama mami."
Jadi ubi madu selalu rutin diantar dan jadi menu favoritnya. Satu kilo ubi madu panggang, bisa dihabiskan sendirian.
Paling nikmat itu, menikmati ubi panggang yang dipanggang didalam panggangan seperti happy call itu. Aku seneng banget pake happy call buat panggang ubi.
Bakarnya cukup dengan api kecil saja. Ntar dibolak balik, sampe madunya ngalir keluar.
Buh, itu kalo emang asli ubi madu, wanginya semriwing, sampe kedepan- depan bisa tercium aromanya.
Untuk rasanya beh, nggak perlu dibahas lagi. Pokoknya ubi madu yang dimakan panas-panas, itu emang enak tiada tara-nya.
Sama halnya dengan pop mie yang dimakan dicuaca yang dingin, itulah gambaran tepatnya, kenapa ubi madu selalu menjadi favoritnya.
Dan karena ubi madulah, sekarang aku mendapatkan akibatnya!
Aku berjanji akan berpantang ubi mulai dari sekarang! Akan ku stop langganan ubi madu dari sih mamang sayur. Tapi kemudian, aku berdalih pada diri sendiri. Ahh, nggak mungkin karena ubi madu yah. Gile aja, gimana dia bisa hidup tanpa makan ubi panggang yang lezat itu! ( nyanyi, aku tak sanggup ... )
Tiba-tiba aku mengingat menu kemarin malam yang aku makan, salah makan apa aku yah.
"Ahhh, jengkol kecap buatan mami!" pasti gara-gara itu.
Sanking enaknya jengkol buatan mami, aku ingat sampe nambah nasi dua piring. Yah, pasti gara-gara jengkol. Serangan bomnya. Terlalu kuat dan merobohkan Dodi.
Tapi, apa aku sanggup berpantang jengkol kecap buatan mami yah!? Dinda meremas rambutnya, serasa mau gila memikirkan kalau harus menjauhi makanan lezat seperti itu. Aku kok jadi ngiler begini, gara-gara mikirin jengkol dan ubi panggang sih. Buru-buru, kulap air liurku dengan lengan bajuku.
bersambung ke eps 11
langsung meluncur ke novelnya yuk biar bisa baca dari eps 1 sampai seterusnya, kalau kalian suka tolong tekan tombol fav dan like di novelnya yah, ditunggu