
Bab Tiga Puluh tiga
Stella tidak percaya novel-novelnya akan segera beredar diluar negeri dan didalam negeri!
Matanya berbinar melihat surat kontrak yang sudah direvisi menuruti semua keinginannya.
Ia segera, menghubungi David untuk mengabarkan berita gembira yang telah ia dapatkan tapi dia harus kecewa karena sambutan David tidak seperti yang ia bayangkan.
Ia berharap David memberinya selamat dan bertanya tentang rencana-rencana management yang telah disusun untuk memperkenalkan novel-novelnya, yang ada dia hanya mengatakan, “Aku sedang sibuk. Kita bicarakan nanti sore.“
Stella memandang ragu ke lembar surat kontrak yang sudah ditandatangani hanya saja belum diserahkan kepada Micquel untuk mengurusnya.
Mendengar tanggapan suaminya, dia menjadi sangat sedih dan berpikir ulang demi kebahagiaan suaminya. Entah apa yang menjadi beban pikiran David mengenai terobosan barunya ini, mau tidak mau, semangat Stella meredup.
Ponselnya berbunyi disamping tempat tidurnya.
Stella tersenyum senang karena mengira suaminya yang menelepon tapi begitu melihat nama Gary dilayar, kesenangannya kembali meredup lalu mengangkat ponselnya.
“Bagaimana kabar penulisku hari ini!?“ sambut Gary ketika Stella menyapa melalui ponselnya.
“Entahlah,“ sahut Stella tidak bermaksud untuk memberi harapan kepada Gary mengenai kerjasama diantara mereka.
“Apa masih ada yang belum sesuai dengan keinginanmu? Kalau mengenai uang muka, kita bisa bicarakan dan aku akan mengikuti semua keinginanmu.“
“Bukan itu masalahnya. Semuanya sudah sempurna tapi suamiku belum memberi tanggapan yang sesuai dengan harapanku. Aku masih harus membicarakan masalah ini lebih lanjut dengannya.“
“Dan apa yang akan kau lakukan kalau dia menolak untuk mendukungmu?“
Stella terdiam sambil memandang langit-langit. “Aku tidak tahu.“ Stella menghela napas tiba-tiba, ia merasa sangat lelah dengan kekeraskepalaan suaminya.
“Stella, ini merupakan sumber penghasilan yang menjanjikan untukmu, untuk anakmu! Pikirkan tentang masa depan yang lebih terjamin bila kita segera mencetak novel-novelmu!“
“Itu benar, tapi tanpa adanya dukungan suamiku, aku merasa ragu untuk memulai kerjasama ini. Biar aku bicara dulu padanya sebelum memberi kepastian kepadamu.“
Gary terdiam.
Stella memastikan sambungan masih berlanjut. Tapi karena tidak ada tanggapan dari Gary, ia segera mematikan ponselnya.
Karena merasa kesal menunggu telepon dari suaminya, akhirnya Stella mengajak Samuel untuk berjalan-jalan ke pusat permainan anak dan merasa sedikit terhibur melihat senyuman gembira anaknya.
David menyambut kepulangan anaknya lalu menggendongnya naik keatas sambil mendengarkan celoteh-celoteh Samuel.
Stella meletakkan tas tangannya kedalam kamar sambil menunggu David masuk kedalam kamar mereka.
David duduk diatas ranjang sambil menatap Stella yang juga sedang menatapnya sambil melipat tangannya. “Jadi maunya bagaimana?“ tanya David tanpa semangat.
“Aku mau kau mendukungku!Jangan seperti ini.Tawaran seperti ini, tidak bisa kita pandang sebelah mata begitu saja. Ada penghasilan yang besar, yang bisa menjadi warisan tambahan untuk anak dan cucu kita. Tapi aku tidak suka kalau tanggapanmu seperti ini!“ kata Stella dengan bahasa formal.
“Lakukanlah yang kau rasa benar.“
Seharusnya Stella merasa senang mendengar kata-kata David tapi malah sebaliknya dia malah menutup matanya sambil menghela napas. “Lupakan saja.“
“Apa maksudmu?“ tanya David tidak mengerti.
“Aku mau mandi sekarang, tolong jangan ganggu aku sekarang ini, oke!“
“Stella , aku tidak bermaksud …“
“Yah, kau memang bermaksud untuk itu! Paling tidak kau baca dulu surat kontrak yang ditawarkan Gery tapi kau sama sekali tidak mau perduli dan memang tidak bermaksud untuk mendukungku dalam hal ini iya 'kan! Aku istrimu, Vit dan aku butuh dukunganmu, kenapa kamu tidak pernah mau mengerti aku!? Jadi tolong biarkan aku sendiri sekarang! “ kata Stella merasa sangat terpukul dengan sikap suaminya. Ia masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini.
Memang David adalah pria yang sempurna baginya hingga dia tidak pernah terlalu memusingkan kekurangan yang ada pada suaminya selama ini.
Tapi saat ini, dia kembali diperhadapkan dengan sikap acuh suaminya yang selalu memberi persetujuan tanpa memberi dorongan semangat dan dukungan. Sikap apa itu coba!? Stella benar-benar kesal dan sedih dengan sikap suaminya itu! Paling tidak, apa sih susahnya memberikan dukungan moril untuknya, tanpa harus menyimpan pendapat pribadinya sendiri.
Sudah jelas-jelas, ia katakan bahwa hanya David-lah satu-satunya pria dalam hidupnya. Hanya David seorang! Dan bagaimana bisa, dia terus meragukan ketulusan cintanya!?
Beraninya dia! pekik Stella dengan kesal dalam hati.
Padahal dengan semua kesepakatan ini bisa memberi dampak yang baik bagi masa depan mereka agar bisa hidup lebih mapan lagi, tanpa harus mengorbankan waktu bersama keluarga.
Dia bisa bekerja di rumah tanpa berpisah dari keluarganya! Di surat kontrak juga tidak melarang bila Stella ingin mengajak keluarganya untuk ikut berpergian bersamanya, saat ia harus menjalani serangkaian promosi untuk kelancaran penjualan novel-novelnya nanti.
Stella benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir David!
Beda dengannya meskipun kangen dan tidak rela berjauhan dengan suaminya, ia selalu mendukung karir suaminya jika ia harus pergi, selama lebih kurang dua minggu setiap bulannya untuk memeriksa pabrik-pabrik perusahaan tempatnya bekerja.
Harusnya hal yang sama bisa dilakukan David.
Stella keluar dari kamar mandi sambil cemberut.
David memeluknya begitu dia keluar dari kamar mandi. “Maafkan aku,“ katanya. "Hanya saja, aku merasa takut. Semua kesuksesanmu, bisa membawamu jauh dariku.“
“Mana mungkin, David. Apapun yang aku lakukan hanya untuk kita, untuk Muel! Bagiku, menjadi ibu rumah tangga itulah yang terpenting tapi kita tahu semuanya itu tidak akan cukup, kalau aku tidak membantu mencari sumber penghasilan yang lain," kata Stella mencoba memberi pengertian lagi kepada David.
David hanya bisa terdiam.
"David, kontrak ini merupakan tawaran penghasilan tambahan yang luar biasa bagi kita. Nantinya, aku bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan keluarga kita, kalaupun ada, itu untuk keperluan promosi, itupun, aku boleh mengajak keluargaku ikut serta. Lalu dimana letak keberatanmu?!“
“Jelas-jelas Mr. Machunn tertarik padamu, dan kau tahu itu!“
“Tapi sayangnya, aku sudah menikah, David!“ sela Stella dengan cepat. “Ada perbedaan besar yang membuatnya tidak bisa memilikiku! Dan memangnya kenapa kalau dia menyukaiku!? Harusnya kau bangga dengan hal itu! Diumur yang sudah tidak remaja lagi ternyata masih banyak pria yang menyukaiku!“ tambah Stella dengan kesal lalu membuang napasnya sambil menenangkan diri.
“Karena aku tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan mereka semua, Stella! Hatiku ini tidak tenang bila memikirkan mereka semua, dengan semua kelebihan mereka! Aku takut, kau akan berubah pikiran dan kemudian meninggalkan aku!“ kata David sambil bersimpuh dihadapan Stella dan meremas rambutnya untuk meluapkan perasaan tertekannya.
Stella benar-benar tersentak kaget, melihat kegalauan yang dirasakan suaminya selama ini.
Suaminya tidak tahu, baginya, kualitas David sebagai seorang suami benar-benar Great A dan tidak akan tergantikan oleh pria manapun juga! Ia tersenyum lalu menghampiri David dan memegangi wajah David hingga bisa menatapnya.
“Sayang, jangan terlalu mencintai aku. Dari pertama kali, kita berkenalan sudah kukatakan jangan terlalu mencintai aku, lebih banyaklah mencintai Tuhan kita, dari pada aku. Tuhan yang menyatukan kita dan kita sudah berjanji untuk selalu setia sampai mati dihadapanNya. Aku selalu memegang janji itu dan kuharap kau juga begitu, selamanya.“
David memeluk Stella dengan penuh rasa syukur.
Stella memang tidak pernah berubah. Dari pertama kali, dia bertemu Stella sampai hari ini, Stellanya tetap sama. Malahan ia bertambah baik dan romantis.
Ia bersyukur karena Stella telah memilihnya dari sekian banyak pria yang mengejar cintanya! Tapi dalam hatinya yang paling dalam, ia takut suatu saat Stella akan tergoda pria lain dengan semua kelebihan mereka tapi ia bisa sedikit lega karena Stella selalu terbuka dengan semua hal termasuk mengenai pertemuan-pertemuan bisnis yang dia lakukan. Harusnya, dia bisa lebih mempercayai Stella seperti Stella mempercayainya. David menyadari hal itu dan mempererat pelukannya.
Stella menguap lebar diranjangnya dengan malas. Ia melihat David sedang mempelajari surat kontrak yang ditawarkan Gary kepadanya. “Hai,“ sapa Stella sambil menatap David.
David mengambilkan air minum untuk Stella sambil mengelus wajah cantik milik istrinya.
“Terima kasih.“ Stella menghabiskan air yang diberikan suaminya.
“Penawaran ini sungguh sangat murah hati.“
“Aku tahu.“
“Kau sudah menandatanganinya.“
“Yah, sebelum aku meneleponmu. Tapi aku menyerahkan semua ini, kepadamu. Tanpa dukungan dan kepercayaanmu, aku akan menolak kerjasama ini.“
“Apa benar?!“
“Berat memang tapi kalau disuruh memilih antara kebahagianmu dan juga kesuksesan, sudah pasti aku lebih memilih kebahagianmu. Aku tidak mau kau sampai tertekan karena semua ini.“
“Apa kau akan bahagia?“ tanya David sambil tersenyum.
“Jujur?“ tanya Stella sambil memandang suaminya lalu mengangkat bahunya. “Sedikit ngedumel tapi akan bahagia karenamu.“
“Aku mau kau bahagia.“
“Aku memang wanita yang paling bahagia!“ sahut Stella sambil tersenyum lebar. “Karena memilikimu disisiku.“ tambahnya sambil memeluk David dengan penuh rasa cinta.
David melepaskan pelukan Stella dan menggenggam tangannya. “Benar kamu tidak menyesal melepas semua ini?“
Stella menggeleng pasti. “Sudah pasti.“
“Aku percaya padamu dan aku akan mendukung terbitnya setiap novelmu.“
“Apa?!“ tanyanya tidak yakin. “Benar, kau menyetujuinya!?“ tambahnya lagi.
“Yah, mungkin sesekali aku bisa mengambil cuti dan ikut pergi bersamamu.“
“Pasti! Dan tenang saja, setelah semuanya berjalan lancar, aku mau kau berhenti bekerja dan senantiasa menghabiskan waktu bersamaku dan anakmu.“
“Enak dong!“ sahut David sambil tertawa.
“Beruntunglah karena kau menjadi suamiku!“ pekik Stella senang sambil menciumi David dengan penuh kegembiraan.
Lalu ciuman mereka berubah lembut dan membuai satu dengan yang lain, secara alamiah, mereka saling membuka pakaian dan menyatukan cinta mereka sampai Stella memekik saat mencapai kepuasannya dan disusul erangan puas David atas istrinya.