
Bab Sebelas
Tubuhnya terasa mati rasa saat Gary menggendongnya dalam pelukannya dan membawanya ke salah satu pondokan yang tersedia di sana.
Samuel menangis sambil memeluk maminya.
“Hei, Mami tidak apa-apa. Jangan menangis lagi, yah? “ kata Stella berusaha tersenyum ditengah-tengah gigilannya.
Ia baru sadar, ia terlalu lama berada didalam air.
Gary menepuk-nepuk punggung Stella agar ia bisa memuntahkan air laut yang banyak tertelan olehnya setelah itu, Gary memberinya teh hangat yang diantarkan oleh seorang pengurus pondok. “Kau harus membuka semua pakaianmu dan menghangatkan tubuhmu didepan perapian.“
“Baiklah,“ katanya disela gigilannya. “bisakah kau keluar dulu?“
“Kau gemetaran, demi Tuhan!“ Gary tidak percaya, Stella memperlakukannya seperti orang asing!
Stella memejamkan matanya, menahan tubuhnya agar berhenti gemetaran. “Aku bisa membuka pakaianku sendiri. Dan secepat kau keluar, secepat itu juga aku bisa menghangatkan tubuhku,“ kata Stella sambil menahan gigilannya.
“Muel disini aja, bantuin Mami!“
“Iya, Muel bantu Mami yah,“ kata Stella tidak mau anaknya cemas.
“Aku akan membalikkan badanku kalau kau merasa khawatir aku berbuat macam-macam! “
“Bukan seperti itu, …,“ Stella menghela napas tidak mau berdebat lagi lalu memberi isyarat kepada Gary untuk membalikkan badannya.
Secepat kilat Stella membuka seluruh pakaiannya dan Samuel membantu menyeka tubuhnya dengan handuk bersih. Stella ragu sesaat sebelum melepaskan pakaian dalamnya meskipun Gary sudah memunggunginya. Ia memutuskan untuk melepaskan semua pakaian dalamnya dan menyekah tubuhnya dengan cepat. Ia membungkus tubuhnya dengan handuk karena selimut yang disiapkan cukup meragukan untuk dipakai, lalu ia menghangatkan diri didepan perapian. Kemudian, ia tersadar telah bersikap egois dan tidak memikirkan Gary! “Kau juga perlu mengeringkan tubuhmu Gary,“ kata Stella sambil membilas tubuh anaknya didalam pondok.
Gary menyentuh tangan Stella yang masih dingin. “Biar aku yang melakukannya. Aku juga perlu membilas tubuhku.“
Stella tidak tahu, seberapa merah wajahnya mendengar kata-kata Gary. Tapi ia tidak berkata apa-apa lalu memunggungi mereka sambil menghangatkan diri diperapian.
Samuel memeluk tubuhnya dari belakang. “Aku sangat takut kehilanganmu, Mami.“
“Maafkan Mami, sudah membuat Muel cemas. Mami janji, tidak akan membuat Muel cemas lagi,“ kata Stella sambil memeluk tubuh anaknya dan memakaikan pakaian bersih padanya.
“Apa kau mau membilas tubuhmu?“ tanya Gary yang sudah berpakaian lengkap.
“Yah, air laut membuat tubuhku lengket. Apa kau bisa membawa Samuel berjalan-jalan sebentar?“ pinta Stella.
“Berjanjilah, kau akan memanggilku kalau memerlukan bantuan.“
“Tentu, aku berhutang nyawa padamu.“
“Jangan bodoh,“ kata Gary tersenyum sambil membelai pipi Stella sekilas lalu mengajak Samuel untuk keluar pondok.
Setelah selesai, ia keluar untuk menyapa Samuel dan Gary.
“Kau tidak apa-apa?“ tanya Gary dengan cemas ketika melihat Stella keluar sambil tertatih-tatih.
“Hanya tergores karang, tidak apa-apa.“
“Duduk!“ kata Gary dengan tegas kepada Stella.
Stella menghela napas lalu menuruti perintah Gary.
Ia merasa sangat risih ketika Gary menyentuh pergelangan kakinya dan mengangkat kakinya dan mencoba menarik kakinya.
“Lukanya cukup dalam. Dan kalau kau berusaha untuk berjalan seperti tadi, maka luka ini akan berdarah lagi.“
“Tidak apa-apa. Aku akan membebatnya dengan handuk kecil sebelum kita pulang.“
“Dan menjadi infeksi sebelum kau sampai kedalam mobil.“
“Oh, ayolah! Ini hanya luka kecil.“ Stella benar-benar tidak habis pikir, mengapa Gary menakut-nakutinya seperti itu.
Gary membisikkan sesuatu kepada Samuel.
Samuel menatap maminya dan mengangguk kearah Gary.
“Disana tampaknya ada restoran seafood yang enak,“ kata Gary sambil tersenyum lebar.
“Baiklah, kalian pergi saja. Aku akan menunggu disini sambil menikmati matahari terbenam.“
“Atau, kau bisa ikut bersama kami!?“
“Terima kasih, tapi aku lebih memilih …,“
Stella memekik kaget saat tubuhnya terayun ke udara. Reflek, ia mengaitkan tangannya ke leher Gary agar tidak terjatuh. “Gary! Apa yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!“ tanyanya sambil menahan malu.
Samuel cekikikan, melihat maminya panik.
“Kita akan makan seafood. Iya ‘kan Muel?!“
“Iya, benar!“
“Iya, tapi jangan seperti ini! Kau membuatku jadi tontonan, demi Tuhan!“ desis Stella dengan panik.