Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
Passion of Love bab 41 judul alat bantu oh alat bantu



Bab Empat Puluh Satu


Acara pagi ini adalah acara yang sungguh sangat mendebarkan baginya!


Dia diwawancara dan tayangannya disiarkan secara langsung dalam acara bincang bintang inspirasi wanita Amerika yang terkenal diseluruh dunia!


Bermimpipun tidak dia bisa berada disini!


Bukan sebagai penonton tapi sebagai nara sumber! Ia benar-benar tidak percaya dan hampir menangis haru karenanya!


Malamnya, setelah memastikan pintu kamarnya sudah terkunci. Stella langsung mengambil bantal dan selimut lalu meletakkannya disofa dengan langkah ragu.


Ia menghela napas panjang sebelum membuka dengan hati-hati laci meja riasnya yang selalu ia kunci rapat.


Ia sungguh merasa bersalah kepada Rebecca karena menyuruhnya membeli alat yang bersifat sangat pribadi seperti ini.


Stella agak ragu saat membuka kotak transparan berwarna hitam didepannya.


Dengan perlahan, ia mengeluarkan isinya lalu terkejut dan menutup matanya karena malu!


Dia tidak percaya harus melakukan ini! keluhnya.


Antara ragu dan penasaran, Stella kembali memandangi alat bantu yang tergeletak diatas mejanya.


“Yah, Tuhan! Yah Tuhan, aku pasti sudah gila!“ katanya buru-buru memasukkan benda itu kedalam kotak dengan ngeri tanpa mau memandanginya lagi lalu ia mencoba untuk tidur-tiduran disofanya sambil membaca majalah yang anehnya, terasa tidak menarik lagi!


Matanya mencuri pandang kearah kotak diatas meja tamunya dengan takut-takut.


Akhirnya karena penasaran dan desakan dalam dirinya, membuatnya kembali duduk dan mengambil kotak itu lalu membukanya setelah menghembuskan napas kuat-kuat.


Ia bisa merasakan betapa merah wajahnya karena menahan rasa malunya saat mencari tahu bagaimana cara bekerja, alat yang saat ini sedang berada ditangannya jadi bagaimanapun dia harus mencari tahu, iya ‘kan!?


Ia merasa agak ngeri bercampur malu melihat alat bantu mulai bergerak dengan pelan sesuai dengan kecepatan dan gerakan yang dia pilih.


David pasti menertawakannya saat dia mengatakan hal ini, nanti malam!


Stella terkekeh pelan dan tidak percaya dia sudah mulai terbiasa, melihat dan memegang mainan barunya itu.


Ia lalu mencoba dan melihat sampai getaran penuh untuk melihat reaksi yang ditimbulkan.


Matanya terbelalak sambil menahan tawa gelinya lalu mendehem sambil membaringkan tubuhnya senyaman mungkin dibawah selimut dan mulai menurunkan tangannya kebagian intisari kewanitaannya.


Ia mengerutkan keningnya saat benda asing itu masuk dan mulai menjalankan fungsinya.


Dan anehnya, benda itu memainkan perannya dengan sangat baik hingga membuat Stella menekuk kedua kakinya dan membiarkan dirinya terlena sambil menikmati sensasi yang ditimbulkan alat bantu yang sedang bekerja didalamnya.


Tanpa sadar, ia mengerang dan mendesah karenanya.


Bel kamarnya berbunyi!


Stella berguling dengan panik sampai terjatuh dan berusaha menahan pekikannya.


Dia mengumpat tanpa suara.


Ia bimbang antara ingin membiarkannya atau membukakan pintu. Tapi dia juga tidak mau sampai pengasuhnya terbangun dan menemukan majikannya dalam kondisi yang memalukan seperti ini!


Gary memanggil-manggil Stella dengan cemas sambil menempelkan telinganya ke pintu kamar Stella.


Ia yakin mendengar suara-suara gaduh dari dalam kamar Stella! Dan Stella sama sekali belum merenspon panggilannya!


Gary merasa sangat cemas kalau sampai terjadi apa-apa kepada Stella dan anaknya.


Ia kembali mengetuk pintu kamar dengan keras. Dia tidak perduli kalau suara ketukannya dan bel yang dibunyikan berulang kali akan mengganggu tamu-tamu yang lain!


Stella berhasil memakai kembali ****** ********, secepat yang dia bisa.


Dia kesulitan mematikan alat bantu yang seolah kehilangan tombol off-nya lalu dengan panik mencari tempat persembunyian tercepat bagi benda terlarangnya itu akhirnya dia memutuskan untuk menimbunnya dibelakang sofa dan segera menutupinya cepat-cepat dengan selimut tebalnya.


Lalu ia segera mengencangkan piyamanya sebelum berlari untuk melihat tamu tak diundangnya itu!


“Gary? Hai! Ada apa?!“ katanya sambil terengah tapi tidak membukakan pintu untuk mempersilahkan Gary masuk seperti biasanya.


“Hai juga, apa kau baik-baik saja?“ tanya Gary penasaran.


"Kau habis berolahraga?"


Wajah Stella memerah tanpa bisa ditutupi.


“Yah, tentu aku baik-baik saja, sedikit berolah raga,“ jawab Stella dengan kikuk.


“Apa ada hal yang penting?“ potongnya cepat.


“Apakah ada seseorang didalam!?“


“Seseorang? Tidak-tidak, ini tidak seperti yang kau bayangkan, maksudku aku hanya ,…“ berpura-pura menguap,


“sudah tertidur tadi.“


Stella berusaha keras untuk menguap lagi.


“Kalau tidak terlalu penting biar kita bahas besok pagi, bagaimana?“ kata Stella berharap Gary segera pergi dari kamarnya.


Mata Gary memincing, lengkap dengan kerutan pada kedua alisnya lalu segera menahan pintu yang akan ditutup Stella.


Dia yakin, ada sesuatu yang disembunyikan Stella darinya!


“Kurasa, aku harus membahasnya sekarang.“


“Ini sudah larut malam, Gary dan kurasa aku …“


Stella memejamkan matanya karena Gary sudah berhasil masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan kata-katanya.


“Apa kau yakin, kau sendirian disini?“ tanya Gary dengan curiga melihat tumpukan selimut yang berantakan dan juga keadaan sofa yang kelihatan kusut lalu berjalan kesana kesini untuk melihat-lihat keadaan sekeliling sambil menatap Stella.


Stella seperti kebakaran jenggot lalu duduk dengan cepat diatas selimut yang berantakan itu.


“Aku sangat yakin!“ katanya mencoba menutupi rasa gelisahnya.


“Apa aku boleh tahu apa yang sedang terjadi?“ tanya Gary dengan curiga sambil mendekati Stella yang makin menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Stella semakin merapatkan dirinya dan kaget saat selimutnya menggeser jatuh ke badan sofa.


Ia mencoba berusaha bersikap sesantai mungkin untuk menutupi benda terlarangnya dengan tubuhnya agar Gary tidak melihat dan curiga pada cetakan  benda terlarangnya!


Ia lebih baik mati dari pada Gary harus mengetahui apa yang ia sembunyikan saat ini! pekiknya benar-benar berharap bisa menghilang dari hadapan Gary saat ini.


“Tidak! Maksudku, tidak terjadi apa-apa. Oh, ayolah Gary biarkan aku beristirahat sekarang, aku ngantuk sekali,“ kata Stella mencoba bersandiwara lagi.


Dalam hatinya sangat berharap Gary akan percaya dan pergi tanpa bertanya lebih lanjut lagi.


“Baiklah, kalau begitu tidurlah didalam,“ sahut Gary setelah lama terdiam.


Mata Stella terbelalak senang lalu tersenyum kikuk.


“Aku akan mengantarmu pergi!“ katanya dengan perasaan lega.


“Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kau masuk kedalam kamar,“ sahut Gary dengan santai.


“Tidak!“ pekik Stella tanpa sadar.


Buru-buru ia menahan diri.


“Maksudku, aku berkeras mengantarmu lalu aku bisa segera masuk kedalam kamarku,“ kata Stella buru-buru melompat dengan cepat dan membimbing Gary keluar dari kamarnya.


Tanpa terduga-duga, Gary berkelit dan berlari menuju sofa yang diduduki Stella tadi.


Stella memekik kaget lalu langsung berlari dan menyelipkan tubuhnya dengan cepat sebelum Gary menarik selimutnya.


“Aku ingin melihat yang kau sembunyikan dibalik selimut itu, Stella.“


“Tidak! Tidak boleh! Sampai matipun kau tidak boleh melihatnya! Tidak boleh! Benar-benar tidak boleh, Gary!“ pekik Stella, setengah mati berusaha mengecilkan suaranya agar tidak memancing keributan, yang bisa mengganggu istirahat anak dan pengasuhnya.


“Stella, biarkan aku melihatnya!“ kata Gary tetap berkeras dan tidak mau mengalah.


“Tidak!“


Stella mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan Gary.


“Jangan Gary please, aku benar-benar tidak menyembunyikan apa-apa darimu!“


Stella benar-benar tidak tahu lagi bagaimana warna wajahnya saat itu!


Gary tidak mengalah dan berlari memutari sofa.


Stella berbalik dan melompat kearah Gary dengan cepat sehingga ia menimpa tubuh Gary tanpa berpikir panjang untuk mencegah Gary menyibak tumpukan selimutnya.


Gary mengaduh pelan saat kepalanya membentur panel lantai.


Stella merasa sangat menyesal karena tidak sengaja menyakiti Gary. Reflexs, dia segera mengusap-usapkan sebagian rambut panjangnya ke kepala Gary yang sakit tanpa berpikir panjang.


“Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu!“ kata Stella sambil berulang kali mengulangi usapan-usapan rambutnya.


Gary tertawa sampai terguncang melihat kepanikan Stella yang tidak menyadari tindakannya.


Dia percaya, saat ini Stella benar-benar tidak sadar, dia sedang berada diposisi yang sangat intim dan sangat menggoda bagi pria dewasa sepertinya!


Ia mendehem sambil menunggu Stella menyadari perbuatannya.


Stella terkejut saat merasakan denyutan kuat yang seolah membelai daerah sensitifnya.


“Maaf!“ katanya buru-buru bangun dan membenahi piayamanya yang tersibak sambil menunduk dalam-dalam.


Gary bangkit sambil tersenyum kecil.


“Tidak apa-apa.“


Gary mendekati Stella lalu mengangkat dagunya sampai Stella benar-benar memandanginya sekarang.


“Berjanjilah apa yang kau sembunyikan itu tidak akan menyakitimu.“


Wajah Stella merah padam lalu dengan susah payah mengangguk tanpa berkomentar.


Gary melirik sekilas kearah sofa lalu tersenyum.


“Istirahatlah, kita akan membicarakan hal ini besok pagi.“


Gary melangkah menuju pintu dan berpamitan kepada Stella sebelum pergi.


Stella seolah-olah kehilangan tulang belulangnya saat Gary pergi dan menutup pintu kamarnya!


Ia memekik karena merasa malu!