Passion Of Love By Lucy Ang

Passion Of Love By Lucy Ang
passion of love bab 22 judul presentasi



Bab Dua Puluh Dua


“Stella pergi dengan siapa tadi?“ tanya Gary, saat melihat Stella masuk ke dalam mobil sport berwarna biru metalik.


“Oh, itu salah satu klien kami. Steven, meminta Stella memperlihatkan lokasi yang cocok untuk mengadakan resepsi pernikahannya.“


“Tapi dengan mobil sport? Dimana Stella akan duduk!? Dan kenapa, dia tidak membawa mobil sendiri?!“


“Tunangan Steven tidak mau tahu mengenai pernak-pernik urusan pernikahan sampai hari H-nya tiba, maka dari itu, ia sangat membutuhkan pendapat pribadi Stella dalam segala hal dan Steven yang telah membujuk Stella untuk ikut dalam mobilnya. Untuk menghemat waktu, katanya.“


“Apa kau tahu kemana mereka akan pergi?!“ tanya Gary dengan cepat.


“Ke salah satu resort terbaik dikota ini, Jamaica Island itu adalah tempat yang paling romantis dikota ini!“ kata Jesicca sambil mendesah kagum.


“Seberapa jauh perjalanan ke sana?“ tanya Gary dengan cepat.


Ia curiga Steven memiliki ketertarikan kepada Stella.


“Lebih kurang empat jam perjalanan.“


“Mereka akan kemalaman untuk bisa pulang kesini!“


Jesicca tidak mengerti dengan sikap Gary yang tampak seperti kebakaran jenggot. Ia menghela napas setelah mengerti situasi yang sedang terjadi. Gary jatuh cinta dengan atasannya! “Stella telah memperhitungkan situasinya sebelum menyanggupi permintaan Steven.“


“Dan dia tidak khawatir  sedikitpun!?“


“Sebenarnya dia agak khawatir tapi mengingat kepercayaan yang telah diberikan Steven untuk mengurus segala keperluan pernikahannya dengan bugget no limit maka Stella berusaha semaksimal mungkin, untuk tidak mengecewakan Steven.“


Gary mendengus kesal. Kenapa Stella tidak berpikir panjang sebelum menerima ajakan pria yang baru dikenalnya!?


“Jangan khawatir, Steven berjanji akan mengantar Stella pulang sebelum larut malam.“


Yah, kalau bulan ada dua! “Kau tahu dimana lokasinya?“ tanya Gary cepat.


“Yah, aku tahu.“


“Kalau begitu, ayo ikut dan tunjukkan jalannya!“


“Stella akan marah bila tahu aku meninggalkan pekerjaanku tanpa sebab yang jelas!“


“Aku menjamin masa depan pekerjaanmu! Tenang saja. Bilang saja aku yang memintamu ikut. Dia sudah pernah menawariku tentang bantuan ini.“


“Lakukanlah dengan cepat!“ kata Gary tanpa basa basi sambil keluar ruangan.


“Bagaimana?!“ tanya Stella sambil memperlihatkan keadaan sekitar pantai yang indah, apalagi ketika mereka sampai disana, cahaya matahari mulai terbenam dan meninggalkan sorot keemasan yang sangat menakjubkan di atas permukaan air laut.


“Indah,“ jawab Steven sambil menatap Stella.


Stella tersenyum kikuk.  Lalu mulai melangkah menyusuri bibir pantai sambil menunggu sinyal positif dari Steven.


“Dan bagaimana idemu untuk pestaku nanti?“


Stella tersenyum manis. “Lokasi tempatmu berdiri sekarang adalah tempat saat kau berdiri menyambut mempelaimu yang akan datang dari sana.“


Steven memandang arah yang ditunjukkan Stella kepadanya. “Dan?“


“Kursi-kursi akan disusun dengan posisi seperti piramid agar semua mata bisa tertuju pada kalian.“


“Tanpa meja?“ tanya Steven sambil tersenyum menggoda.


“Yah, tanpa meja. Hidangan berat akan kita sajikan di pelataran cottage disana, yang tentu saja akan dihias indah nantinya dan dicottage inilah, kalian akan menginap.“


“Apa tidak janggal nantinya?“


“Tidak akan, percaya saja padaku. Selain itu didepannya nanti, akan kita setting panggung untuk tempat kalian dan para tamu bisa berdansa.“


“Terus acaranya bagaimana?“ tanya Steven sambil duduk disebelah Stella.


“Pertama, tentu pemberkatan pernikahan. Karena pemberkatan yang kalian inginkan bergaya barat, tentu kita tidak akan memberi kejutan diawal tapi diakhir acara.“ Stella sudah bisa membayangkan raut wajah kebahagiaan mereka karena memilih tempat seindah ini. “Pada saat pernikahan kalian sudah diberkati dan selesai menandatangani surat pernikahan, nanti kau harus menggendong pengantinmu disepanjang karpet yang sudah disiapkan. Lalu saat kalian berjalan, para undangan akan membantu untuk menyebarkan bunga segar kearah kalian dan juga, aku akan menambahkan pesta kembang api dan pada saat itulah, kau diharapkan memberi ciuman yang penuh cinta kepada pengantinmu.“


Stella mendesah bahagia. Ia sangat menyukai pekerjaannya!


“Apa menurutmu, semua itu sudah romantis?“ Tanya Steven sambil tersenyum kepada Stella.


“Bukan hanya romantis! Super dupel malah. Percayalah, calon istrimu pasti akan kelepek-kelepek mengenang pesta pernikahan kalian! Garansi!“ tambahnya lagi.


Steven tertawa mendengar promosi dan jaminan Stella untuk menyakinkannya.


“Aku ingin mencoba aneka masakan disini? Bisakah kau mengatur pelayan untuk menyajikan satu set meja makan kursi untuk kita ditepi pantai sekarang ini?“


Stella berpikir sesaat sebelum memberi jawaban. Mereka bisa terlambat pulang ke kota, kalau tidak pulang sekarang juga tapi mencari hari lain dengan jarak tempuh yang cukup jauh lagi juga, bukan keputusan yang efisien. “Yah, kenapa tidak!? Tunggu sebentar yah.“ Stella berjalan meninggalkan Steven.