
Bab Dua Puluh Empat
Yang membuatnya bingung dan agak terganggu karena Steven secara terang-terangan memandanginya saat ini. “Kenapa kau memandangiku seperti itu?“ tanya Stella hati-hati karena ia yakin seyakin-yakinnya saat ini Steven benar-benar berniat untuk mempesonanya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?“ tanya Steven sambil tersenyum lalu menyesap sampanye-nya.
“Kalau saja aku belum menikah, mungkin aku akan berpikir, kau mencoba memikatku makanya aku bertanya padamu apa seperti ini caramu menatap setiap wanita?!“ tanya Stella sambil merona dan menyesap air putih untuk menenangkan diri.
“Tentu saja tidak. Tapi memang beginilah caraku menatap setiap wanita yang kusukai.“
Kening Stella mengerut mendengar candaan Steven. Dia hanya bisa tersenyum kecut menanggapi Steven. “Kau adalah pria yang sangat mempesona Steven, calon istrimu pasti was-was melepasmu pergi sendirian dan aku yakin, dia juga tidak kalah mempesonanya darimu karena ia begitu percaya diri melepasmu pergi sendirian tanpa pengawalan darinya.“ 'Playboy!' tambahnya dalam hati.
Steven tahu, Stella sedang berusaha menepis godaannya. “Dia hampir tidak memperdulikan aku!“ keluh Steven mengharapkan simpatik Stella dan usahanya berhasil telak saat melihat perubahan sikap Stella.
“Pasti bukan karena dia tidak perduli padamu. Mungkin cara seorang Brenda mencintaimu berbeda dari wanita kebanyakan tapi tentunya kau harus bangga karena bisa memiliki wanita yang sangat mempercayaimu. Kau tidak mau terus-terusan dicemburui kemanapun kau pergi iya ‘kan?“ kata Stella tersenyum lagi. “Bagaimana dengan makanan ini menurutmu?!“ tanya Stella mengalihkan pembicaraan kearah yang netral.
“Lumayan,“ kata Steven sambil memasukkan seiris daging kedalam mulutnya tanpa meninggalkan tatapannya pada Stella.
“Steven, tolong jangan pandangi aku terus. Bisa-bisa aku bisa tergoda karenanya!“ kata Stella setengah bercanda.
Ia berharap Steven menyadari kesalahannya.
“Aku suka memandangimu,“ goda Steven lagi.
Ia senang melihat rona merah yang mencuat di kedua pipi Stella.
Stella mendehem pelan sambil menghela napas. Ia tidak nyaman dengan candaan Steven! “Tapi maaf, aku tidak suka dengan semuanya ini, Steven dan aku harus jujur, aku merasa terganggu dengan candaan ini. Aku sudah menikah, ingat?!“ Stella memperlihatkan cincin kawin di jemarinya. “Dan aku tidak mau jatuh cinta pada pria yang bukan suamiku,“ katanya sambil tertawa kecut berharap Steven mulai mengubah sikapnya.
“Apa benar, aku bisa membuat wanita jatuh cinta hanya dengan cara seperti ini?“ Tanya Steven dengan lembut.
Kini dia benar-benar yakin Steven sedang merayunya! Dan yah Tuhan, suaranya…, tatapannya…, tentu saja ia sanggup membuat seorang wanita terpesona dengan semua yang dimilikinya, erang Stella dalam hati, sambil berusaha mempertahankan akal sehatnya.
Meskipun Steven adalah pria yang terlalu sempurna untuk ditolak tapi dia tidak berniat bermain api dan menghianati kepercayaan suaminya. “Kau sudah tahu jawabannya!“ kata Stella mencoba setenang mungkin menjawab pertanyaan Steven.
“Tidak, aku tidak tahu. Katakan padaku,“ pancingnya sambil memainkan gelas Kristal ditangan kanannya dan menunggu jawaban Stella.
“Jujur, sebagai seorang pria, kuakui kau sangat mempesona dan aku percaya calon istrimu sangat mencintaimu.“
“Oh, yah! Tapi pastinya, aku telah gagal mempesonamu iya 'kan !?“ desah Steven berlagak sedih dengan gaya yang lucu.
Stella tidak bisa menahan tawanya. “Yah, dan aku patut bersyukur karenanya.“
“ Apa maksudmu? “ tanya Steven sambil tertawa.
Sebelum Stella menjawab pertanyaan Steven dengan jujur, ia kaget melihat Gary dan Jesicca sedang berjalan kearahnya. “Oh, hai!“ katanya dengan senyuman heran “ Kejutan yang menyenangkan!? Sedang apa kalian disini?“ tanya Stella dengan tatapan menggoda Jesicca.
Dalam hati, ia berharap Gary sedang mengajak Jesicca berkencan sekarang ini!
“Aku hanya ingin jalan-jalan dan Jesicca menyarankan tempat ini padaku, iya ‘kan Jesicca!?“ jawab Gary tanpa mengalihkan tatapan tajamnya kearah Stella.
“Iya tentu. Apa kami mengganggu acara kalian?“
“Tentu saja tidak, iya ‘kan Steven!? Kami sedang mencoba makanan di resort ini.“
“Dengan makan malam romantis seperti ini?! Wow!“ kata Gary terdengar sedang mencemburui pasangannya.