
Bab Tiga Puluh Satu
Di ruang makan sudah tersedia aneka sarapan pagi, lalu ia mengambil piring dan menyendok nasi goreng dan mengambil sepiring buah yang sudah dikupas.
“Hai,“ sapa Steven dengan kikuk sambil tersenyum.
“Oh, hai! Selamat pagi. Sarapan?“
“Kuharap, kau tidak keberatan kutemani pagi hari ini.“
“Tentu, kenapa tidak?“ sahut Stella sedikit melunak.
Lagipula rasa penasarannya tentang tunangan Steven kembali menarik perhatiannya. Dia ingin menanyakan tentang Brenda dan kecurigaannya.
Steven duduk dihadapannya.
“Aku sudah melihat Brenda-mu. Dan kuakui dia memang tampak mirip denganku,“ kata Stella tanpa basa basi ketika Steven sedang memakan sarapannya.
“Sangat! Itulah kenapa aku katakan, kau terlahir kembali dalam kelahiran yang sama. “
“Steven, apakah Brenda sudah meninggal?“
Steven menatap Stella dengan tatapan berkaca-kaca lalu mengangguk.
Stella merasa punggungnya lemas melihat jawaban Steven. “Aku turut menyesal, Steven. Itukah sebabnya kau terus menerus memandangiku, karena kau merindukan Brenda, iya?“ Stella turut merasakan kesedihan dan kerinduan Steven terhadap tuanangannya itu.
“Aku bersalah padanya.“ Steven berusaha menahan kesedihannya dalam senyumannya tapi Stella yakin Steven menangis dalam hati ketika melihat tangannya bergetar, tampak jelas Steven mencoba mengendalikan perasaannya sekuat tenaga.
Stella menyentuh tangan Steven sebagai tanda penghiburan atas kesedihan yang dirasakan Steven.
Steven memandanginya sambil meneteskan air mata. “Maaf!“ kata Steven tidak sanggup menahan perasaan sedihnya dan meninggalkan Stella.
Stella menghela napasnya sebelum memutuskan untuk mengikuti Steven.
Steven memandangi lautan luas yang membentang dihadapannya. Deru angin yang kuat berkali-kali menerpa mereka.
“Ijinkan aku memelukmu, Stella. Please …,“ Steven tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Dengan ragu, Stella mengangguk dan masuk kedalam pelukan Steven. Ia merasa kasihan dengan kehilangan yang dirasakan Steven.
“Kalau saja aku tidak membiarkanmu menyusulku ke Eropa maka semuanya pasti akan baik-baik saja!“
Stella tahu, Steven sangat merindukan Brenda dari cara Steven memeluk erat tubuhnya.
“Jangan salahkan dirimu, semuanya sudah takdir. Aku percaya, Brenda ingin kau melanjutkan hidupmu. Kau masih muda dan sangat tampan, kau pasti bisa mendapatkan cinta yang lain.“
“Aku sangat terkejut saat melihatmu didalam pesta. Hampir saja aku menghampiri dan menciummu karena merasa Brenda-ku telah hidup kembali tapi ketika salah seorang temanku memberitahuku tentangmu, aku benar-benar tidak bisa terima apalagi melihat kebahagiaan terpancar dari wajahmu saat sedang bersama suamimu. Entah kenapa untuk sesaat, aku merasa kau mengkhianatiku!“
Stella bisa merasakan kesedihan yang dialami Steven. Ia mencoba menenangkan Steven, lewat pelukannya.
“Jauhkan tangan kotormu dari Stella atau aku akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping!“ hardik Gary tiba-tiba menghampiri mereka dengan marah.
“Jangan bilang bahwa kau rela untuk dipeluknya!?“ tuding Gary dengan marah.
Hati Stella benar-benar ciut mendengar tudingan Gary yang memekakkan telinga itu.
Steven berusaha untuk menarik tangan Stella, begitupun juga dengan Gary!
Mereka sama sekali tidak ada niatan untuk melepas pegangan mereka masing-masing.
Stella merasa mau gila karenanya. “Steven lepaskan aku. Gary coba dengarkan aku, ini hanya salah paham!“ kata Stella menghela napas panjang. Kalau dia tidak menarik Gary dari situ dan bicara padanya secara pribadi maka sudah bisa dipastikan mereka akan terlibat dalam perkelahian!
Tapi Steven juga tidak mau melepaskan tangannya!
Oh, Tuhan! pekik Stella, serasa mau gila melihat kedua pria ini. Keadaan ini akan membuatnya tambah runyam!
“Steven, please lepaskan aku, aku perlu bicara dengan Gary sebentar, please!“ Stella meminta pengertian Steven dan meyakinkan dia akan segera kembali kepadanya. “Please!?“
Akhirnya Steven melepaskan tangan Stella sambil sebelumnya mengelus pergelangan tangan Stella dengan ibu jarinya.
Gary benar-benar naik pitam karena tindakan Steven dan berniat menerjang Steven.
Cepat-cepat Stella menggunakan tubuhnya untuk menghalangi Gary.
Gary segera menahan diri tapi matanya tidak meninggalkan Steven sedikitpun!
Kalau sampai Stella lengah sedikit saja, ia yakin Gary pasti akan langsung menerjang Steven. Maka ia memberanikan diri menyentuh wajah Gary untuk bisa benar-benar mendengar kata-katanya.
Jantung Stella serasa mau copot saat Gary memandanginya dengan marah!
Perasaan marah karena merasa dihianati? Tentu saja! Tadi malam, Gary begitu mencemaskan keadaannya sampai rela, tidak tidur nyenyak untuk menjagainya tapi kini, ia membela Steven dan mendapatinya dalam pelukannya.
Stella menghembuskan napasnya sambil mencoba tetap tenang. “Kita harus bicara.“
“Lepaskan aku!“ Gary menepis kasar tangan Stella.
“Gary, kau salah paham, Steven tidak bermaksud jahat padaku.“
“Yah, sudah kulihat itu dan aku bisa melihat juga betapa kau menikmati pelukannya, sementara aku begitu mencemaskanmu!“
Stella menelan ludahnya dengan susah payah, mencegah Gary pergi dengan marah seperti itu.
Bagaimana caranya untuk pulang nanti kalau Gary meninggalkannya!? pekiknya dalam hati. “Ikutlah denganku sebentar.“ Sella benar-benar berharap Gary mau mendengarkan permintaannya.
Untunglah Gary sedikit melunak lalu berjalan lebih dulu dan Stella mengikutinya dari belakang.
Karena tidak melihat jalan, Stella tidak menyadari bahwa Gary telah berhenti berjalan sampai ia menabrak tubuh kekar milik Gary. “ Maaf, “ katanya cepat.
Gary menahan diri untuk menangkap tubuh Stella karena masih marah padanya! Bisa-bisanya Stella membiarkan pria lain memeluknya dan malahan Stella memeluknya balik! Ia geram bukan main melihat hal itu.
Ia pergi, mencari Stella dikamar Jesicca tapi tidak menemukannya dan diberitahu bahwa dia sudah menunggu di ruang makan. Dengan hati yang berbunga, ia pergi mencarinya tapi menemukan ruangan itu masih tampak kosong dan ketika ia bertanya kepada pelayan, dia diberitahu, Stella pergi bersama seorang tamu pria menuju arah pantai! Dan saat dia tiba disini, dia menemukan Stella sedang memeluk dan dipeluk erat oleh Steven! Apa Stella bermaksud untuk membodohinya!?