
Sudah 1 Minggu Najwa duduk diam membisu di kamar, kalau pun ia harus pergi kuliah, ia langsung pulang, ia tidak berbicara apa-apa pada Alena adiknya Alex, ia sekarang memutuskan untuk menjauh dari keluarga Adipati, ia tidak ingin berurusan lagi, luka yang Alex berikan hingga saat ini masih membekas di hatinya, terlebih lagi ia belum menceritakan kehamilannya pada ibunya, ia takut ibunya kecewa, entah dengan cara apa Najwa memberitahu tentang kehamilannya, Najwa bingung harus mulai berbicara dari mana, bahkan ia juga tidak bercerita dengan sahabat kecilnya, ia juga menghindari sahabat kecilnya sekarang, ia takut kalau membuat Andi kuatir dengan kandungannya. Annisa masuk ke dalam kamar putrinya
" Sayang, kenapa masih tidak makan juga nak, ada masalah apa?, wajahmu juga pucat, ayo kita ke dokter nak."
" Tidak perlu Bund."
Najwa langsung membaringkan tubuhnya, ia langsung menarik selimut. Annisa yang melihat putrinya seperti ini, ia sangat kuatir, tapi ia tidak tau kenapa putrinya seperti ini. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu di kamar itu
Tok-tok
Annisa langsung membuka pintu, ternyata Alena yang datang
" Siang Tante, saya ingin bertemu dengan Najwa."
" Masuklah nak, Najwa sedang tiduran, kalau begitu Tante tinggal dulu."
Annisa langsung keluar dari kamar putrinya. Alena langsung masuk ke dalam, ia tidak tau kenapa Najwa menjadi berbuah 1 seminggu ini, bahkan Najwa selalu datang pas pelajaran di mulai dan pulang setelah selesai pelajaran, walaupun ia dan Najwa berbeda jurusan, tapi biasanya Najwa tidak seperti itu
" Najwa, kenapa kamu menjauhiku?, apa salahku?, kalau memang aku punya salah aku minta maaf."
" Alena, pulanglah, tidak perlu datang lagi, aku tidak ingin lagi berurusan dengan nama marga Adipati."
" Najwa, kenapa?, apa kalian berdua putus?, tapi walaupun putus jangan begitu caranya Najwa, kamu tidak boleh membenciku juga, bukan'kah kita sahabat?"
Najwa langsung duduk, kini matanya langsung menatap Alena dengan tatapan sinis
" Alena, persahabatan kita cukup sampai di sini!"
" Kamu egois Najwa! yang punya masalah itu kamu dan Abang, tapi kenapa aku yang di salahkan!"
Najwa yang mendengar suara bentakan dari Alena, ia pun sangat marah
" Karena abangmu telah menghamiliku Alena! Aku hamil anaknya, tapi abangmu tidak mau bertanggung jawab, dan menyuruh aku untuk menggurkan kandungannya! Jika kamu di posisiku, apa kamu masih ingat bersabat dengan adik yang telah membuat masa depanku hancur?!"
" Tidak Najwa, Abang bukan pria seperti itu, Abang sangat mencintaimu, aku harus berbicara dengan Abang, Abang harus bertanggung jawab."
Tubuh Alena sudah sangat gemetar, ia tidak percaya kalau kakanya lari dari tanggung jawab
" Sudah aku katakan Alena! Aku tidak ingin berurusan dengan keluarga Adipati! Aku tidak butuh tanggung jawab dari abangmu!"
Annisa yang mendengar teriakkan putrinya tentang tanggung jawab, ia langsung nyolong masuk ke dalam kamar putrinya
" Tanggung jawab apa ini maksudnya Najwa?!"
Ini pertama kalinya Annisa bertanya dengan nada berteriak, seumur hidup Annisa tidak pernah berteriak pada putranya. Najwa langsung turun dari ranjang, ia langsung bersimpuh di depan kaki ibunya
" Bund, aku minta maaf telah membuat Bunda kecewa, aku hamil."
" Pria mana yang telah menghamilimu Najwa!"
" Tidak Bund, aku tidak bisa mengatakan siapa pria yang menghamiliku."
Najwa terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Annisa yang melihat putrinya seperti membela pria itu, ia semakin emosi
" Katakan Najwa! Dia harus bertanggung jawab!"
" Bund, Alex tidak ingin bertanggung jawab, Alex ingin menggugurkan kandungan ini Bund, aku tidak mau Bund, aku tidak mau menggurkan kandungan ini Bund, aku sudah membuat dosa besar, aku tidak ingin membuat dosa lagi Bund."
Najwa langsung menangis sekeras-kerasnya. Annisa yang mendengar penjelasan dari putrinya, ia langsung membangunkan putrinya, lalu langsung memeluk putrinya sangat erat
" Najwa, Bunda memang sangat kecewa, tapi jika kamu menuruti permintaan pria itu, Bunda lebih kecewa lagi, tenanglah Najwa, Bunda akan selalu ada untukmu sayang."
Kini ucapan Annisa menjadi lembut, setelah mendengar penjelasan dari putrinya, ia tau putrinya hanya Gadis polos, dan usia putrinya saja baru 18 tahun lebih, jadi ia tidak bisa menyalahkan putrinya, ia sangat bersyukur karena putrinya tidak menggurkan kandungannya
" Mas Ardan, maaf, maafkan aku tidak bisa menjaga putri kita mas, maaf mas, didikanku yang lemah lembut hingga tidak tau kalau putri kita baru saja membuat kesalah besar, sekali lagi aku minta maaf mas." batin Annisa
Annisa langsung menangis, ia merasa bersalah dengan almarhum suami pertamanya, karena menjaga Najwa adalah amanah dari almarhum suaminya, bahkan suaminya meminta untuk mendidik Najwa dengan sedikit keras, tapi ia bukan wanita seperti itu, ia sudah berubah menjadi baik setelah menikah, ia bukan seperti suaminya yang seorang mafia, ia tidak bisa mendidik putrinya dengan cara sedikit kasar. Najwa juga memeluk ibunya sangat erat, ia pikir ibunya akan mengusirnya, tapi ternyata tidak, bahkan ibunya mengatakan kecewa jika ia menuruti permintaan pria itu
" Bund, maafkan Najwa, karena kata cinta membuat Najwa khilafah Bund, maaf Bund, aku seharusnya tidak mempercayai pria yang belum menikahiku, sekali lagi aku minta maf Bund."
" Tidak apa-apa sayang, semua orang pasti pernah membuat kesalahan, Bunda tidak bisa marah padamu, dan jangan minta maaf lagi pada Bunda."
Menurut Annisa semua orang pasti pernah membuat kesalahan, termasuk ia dulu, ia dulu bukan Wanita baik-baik saat berpacaran dengan Berayen, ia adalah ketua Geng motor, tapi setelah ibunya Annisa menjodohkan Annisa dengan Ardan, hidupnya 100% berubah, walaupun Ardan seorang mafia, dan membunuh siapa saja yang berurusan dengannya, tapi Ardan mampu mendidik Annisa menjadi wanita lemah lembut, dan selalu melindungi Annisa dalam keadaan apapun, jadi menurut Annisa putrinya harus mendapatkan kesempatan kedua. Najwa tidak menyangka di saat seperti ini, ibunya masih tidak bisa marah, ibunya benar-benar sabar menghadapinya. Tiba-tiba perut Najwa merasa keram, Najwa langsung melepaskan pelukannya, ia langsung memegang perutnya
" Ah, sakit, sakit."
" Sayang kenapa?, pasti keram, Bunda akan mengantarmu pergi ke rumah sakit, kamu harus kuat sayang, kamu dan anakmu harus bisa bertahan."
Annisa langsung merangkul pinggang putrinya. Alena langsung meminta untuk ikut
" Tante, boleh aku ikut untuk melihat kondisi Najwa?"
Annisa belum menjawab pertanyaan dari Alena, tapi Najwa langsung menjawab pertanyaan itu
" Tidak perlu! Cepat pergi dari rumah ini, dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi!"
" Najwa, aku tau kamu benci dengan Abang, tapi tolong kamu jangan benci aku juga, aku akan katakan semua tentangmu pada mamah, agar Abang bertanggung jawab."
" Sudah aku katakan! Aku tidak butuh belas kasih dari keluargamu Alena! Tanpa belas kasih dari keluargamu, aku akan tetap membesarkan anak ini, dan aku mampu membesarkan anak ini!"
Najwa sekarang bukan lagi menjadi Gadis lemah lembut, setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki nada membentak, ia sudah lelah menjadi Gadis baik-baik