
Dari pada terus membuat penasaran, Najwa pun memutuskan untuk bertanya pada wanita itu
" Maaf kalau boleh tau, Tante siapa iya?"
" Saya Rika Sanjaya, ibunya Reyhan."
Najwa langsung menelan ludahnya sendiri, entah kebetulan macam apa, sampai bertemu di situasi seperti ini dengan ibunya Reyhan
" Maaf saya benar-benar tidak tau, kalau Tante ibunya Reyhan."
Rika hanya tersenyum masih sambil mengobati tangan Najwa. Najwa menjadi gugup, tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat
" Ini pasti sakit, setelah ini segera ke dokter."
Najwa hanya menganggukkan kepalanya. Shireen datang membawa tas berisi baju ganti Najwa
" Ayo Najwa, kamu ganti baju dulu."
" Iya mbak."
Shireen langsung membantu Najwa untuk berdiri
" Terimakasih Tante, maaf kalau kita bertemu di situasi tidak menyenangkan seperti ini."
" Tidak apa-apa, saya bisa mengerti. Apa yang terjadi tadi bukan kesalahan kamu, saya juga tadi melihat sendiri."
" Kalau begitu saya permisi untuk mengganti baju dulu, karena buru-buru akan ke rumah sakit."
Najwa dan Shireen akan melangkah pergi, tapi, Rika langsung berbicara lagi
" Najwa, lain kali hati-hati, kita bertemu lagi lain waktu."
" Baik Tante."
" Najwa, saya sangat menyukai anakmu, anakmu sangat menyenangkan dan pintar."
Najwa sangat terkejut, tapi melihat senyuman tipis di bibir Rika membuat Najwa lega
" Kami permisi dulu Tante."
" Sama-sama, kalau begitu saya juga akan pergi."
Najwa hanya mengangguk. Setelah itu Najwa langsung masuk ke dalam kamar mandi, ia langsung mengganti bajunya, bukan hanya tangan dan sebelah pahanya yang terluka, tapi rambutnya juga kotor karena jus
" Sialan sekali waktu itu, walaupun sudah salah tetap saja arogan dan sombong."
Najwa selsai merapihkan rambut dan ganti baju, ia langsung keluar dari kamar mandi
" Sini tasnya aku yang bawa."
" Terimakasih mbak."
Shireen langsung mengambil alih tas Najwa
" Jangan bilang terimakasih, ayo kita pergi ke rumah sakit, aku yang akan menyetir mobilmu."
Najwa hanya mengangguk. Mereka berjalan pelan ke luar restoran. Baru saja akan naik mobil, Reyhan datang dengan nafas yang ngos-ngosan
" Najwa, bagaimana keadaanmu? Mana yang sakit?"
" Mas Rey, kenapa bisa ada di sini?"
Reyhan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Najwa, matanya langsung melihat ke seluruh tubuh Najwa
" Mamah tadi menelponku, kenapa bisa sampai begini tanganmu, Najwa?"
Shireen menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat Reyhan sangat kuatir pada Najwa
" Pak Reyhan, kalau Anda terus bertanya, kapan saya bisa membawa Najwa ke rumah sakit?"
Najwa dan Shireen langsung terawa, hanya luka kecil, tapi Reyhan sangat heboh
" Baiklah, aku yang akan menyetir."
Selama di perjalanan, Reyhan terus saja bertanya tentang kejadian di restoran tadi, tapi kemudian Reyhan menjadi diam dengan wajah yang merah padam. Najwa tau Reyhan pasti marah. Setelah mengantarkan Najwa ke rumah sakit, mereka memutuskan untuk langsung pulang, termasuk Shireen yang pulang lebih dulu. Sekarang Najwa dan Reyhan sudah ada di rumah. Annisa berkali-kali menghela nafas panjang saat melihat keadaan putrinya, matanya masih saja berkaca-kaca melihat tangan dan paha putrinya
" Sudah tidak terlalu sakit Bun, jangan menatapku seperti itu."
" Seharusnya saat kamu memutuskan untuk pulang ke sini, Bunda melarangmu Najwa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini, seharusnya Bunda yang mengalah, bunda yang ikut denganmu ke Ausi."
" Bunda, tidak perlu memikirkan hal itu, sudah aku katakan, sebelum aku memutuskan pulang ke sini aku sudah memikirkannya dengan sangat matang."
" Bunda tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada orang seperti itu, Bunda pikir orang seperti itu hanya ada di sinetron."
Annisa langsung meneteskan air mata, baru saja putrinya pulang beberapa bulan, hidup putrinya sudah benar-benar kacau. Reyhan yang dari tadi diam, ia pun langsung berbicara pada ibu tirinya
Annisa hanya mengangguk. Najwa tiba-tiba mengingat putranya
" Mas, kalau kamu di sini, lalu Leo pulang dengan siapa?"
" Tadi mamah sudah mengirim pesan, kalau boleh Leo menginap untuk malam ini."
" Tapi, Leo belum pernah menginap dengan siapapun di sini mas, bahkan saat di Ausi juga hanya kedua sahabatku saja, tidak ada orang lain."
" Najwa, mamah itu calon ibu mertuamu, tentu bukan orang lain."
" Aku takut merepotkan mamahmu, lalu bagaimana kalau Leo menangis?"
" Biarkan saja mamah repot, biar memiliki kerjaan, kalau Leo sampai menangis, nanti juga di antar ke sini Najwa."
" Baiklah mas."
" Iya sudah Bunda mau bantu bibi masak dulu. Rey, kamu malam ini makan di sini saja nak, sudah lama Bunda pengen makan bareng lagi seperti saat papah kamu masih hidup, tapi kamu selalu saja menolak."
" Iya Bun, aku juga kangen masakan Bunda."
" Kangen masakan Bunda, tapi kalau kesini tidak pernah makan, kenapa? Kamu sedang modus iya?"
" Tidak Bun, sekarang aku malu, aku sekarang sudah seperti orang asing di keluarga ini, terutama semenjak aku memutuskan pergi ke Perancis."
" Tidak perlu berpikir seperti itu Rey, Kamu tetap anak Bunda, walaupun statusnya nanti jadi menantu, tapi tetap sama saja, kamu tetap anak Bunda."
" Iya Bun."
Annisa langsung pergi dari situ, sekarang tinggal Najwa dan Reyhan di ruangan itu. Reyhan langsung duduk di samping Najwa, ia langsung mengusap lembut pipi Najwa sambil terus menghela nafas kasar
" Mas, sedang mikirin apa?"
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya
" Mas, mamahmu cantik, orangnya juga baik."
Reyhan langsung tersenyum
" Memangnya mamah bilang apa saja padamu?"
" Mamah mas bilang, lain kali kita berbicara lagi, kira-kira, apa yang akan di bicarakan? Apa dia akan memarahiku karena statusmu itu masih perjaka mas."
" Tidak mungkin Najwa, mamah tidak akan memarahimu."
" Tapi aku takut kalau mamah mas tidak memberikan kita restu."
Reyhan langsung menghela nafas berat, lalu langsung mengelus lembut rambut Najwa
" Tidak mungkin Najwa, jangan terlalu takut seperti itu, mamah sudah berkali-kali menyuruhku untuk menikah, apa lagi setelah Renata tidak ada, aku selalu saja di suruh menikah, mamah bilang kalau sekarang aku tidak memiliki alasan untuk tidak menikah, kalau dulu aku masih memiliki alasan untuk menjaga Renata, tapi semenjak Renata tidak ada, mamah sering mengenalkan aku dengan anak dari sahabatnya, tapi aku selalu menolak, aku bilang pada mamah kalau aku sudah memiliki wanita pilihan yang belum bisa aku kenalkan ke mamah, tapi suatu saat aku akan mengenalkan wanita itu, wanita yang sudah membuat aku jatuh cinta dalam pandangan pertama."
" Maksud mas?"
" Iya wanita itu hanya kamu Najwa, kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai."
Tiba-tiba ponsel Reyhan bergetar
Dret....dret....
Reyhan langsung mengangkat telpon itu
" Hallo, mah."
" Kamu di mana sekarang?"
" Masih di rumah Najwa mah."
" Najwa mana Rey? Mamah ingin berbicara pada Najwa."
Reyhan langsung memberikan ponselnya pada Najwa
" Mamah mau berbicara denganmu."
Najwa mengangguk sambil mengambil ponsel yang di serahkan Reyhan
" Hallo,Tante."
" Bagaimana lukamu, apa masih sakit Najwa?"
" Sudah mendingan Tante, dua sampai tiga hari lagi juga sembuh."
" Najwa, besok siang Tante ajak ke dokter kulit teman Tante