Najwa

Najwa
BAB. 28 Ancam Najwa



Setelah selesai membuat laporan tentang pemukulan itu, Najwa dan Andi langsung keluar dari kantor polisi, mereka sudah di cegat oleh banyak wartawan


" Mbak Najwa ada masalah apa dengan nyonya Adipati?"


" Ada urusan apa nyonya Adipati datang ke kantor Mahesa?"


" Apa yang Anda bicarakan hingga nyonya Adipati emosi memukul Anda?"


Najwa hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan dari mereka, ia memang sengaja agar mereka terus berspekulasi tentang insiden itu. Setelah Andi memosting rekaman video itu, dunia maya semakin gencar menghujat habis-habisan keluarga Adipati, seakan belum cukup dengan sekandal Alena Adipati yang masih hangat di bicarakan, sekarang ibunya datang ke kantor pengacara pihak penutut hingga melakukan pemukulan. Sekarang Najwa dan Andi sudah ada di ruangan Najwa


" Setelah ini rencana selanjutnya apa, Najwa?"


" Menunggu lawan lengah, baru kita pukul mundur, dan sepertinya sebentar lagi juga mereka akan menguber-nguber kita untuk minta damai."


" Najwa, kamu benar-benar ingin nyonya Adipati di penjara?"


" Terserah dia, mau di penjara atau datang untuk minta maaf pada Bunda. Andi, ini adalah keinginamu, menjadi wanita tegas. Aku sudah melakukan yang terbaik di setiap ucapanmu."


Andi langsung mengelus pucuk kepala Najwa. Najwa memang sudah banyak berubah, tapi ia tetap kuatir pada Najwa


" Najwa, kamu jangan berharap banyak dulu, mereka masih punya banyak uang, kemungkinan besar mereka bisa lolos."


" Mereka punya banyak uang dan relasi, tapi kita punya otak Andi, kita lihat saja sejauh mana mereka tahan di bully netizen."


Andi langsung tersenyum sambil menarik ikat rambut Najwa, lalu ia langsung mengacak-acak rambut Najwa dengan gemas. Sekarang Andi tau, kalau Najwa, sangat berani


" Andi, aku butuh sandaran, bukan butuh untuk mengacak-acak rambutku, aku masih banyak kerjaan. Menyebalkan!"


" Sandaranmu sekarang bukan aku lagi, Najwa."


" Lalu siapa?"


Andi hanya tersenyum, saat mendengar pertanyaan dari Najwa


" Cepat katakan? Apa kamu menyuruhku untuk bersandar di sofa saja? Kamu pelit, atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar?"


Najwa menatap mata Andi dengan penuh selidik. Andi langsung berbisik pada telinga Najwa


" Reyhan."


Walaupun hanya satu kata, berhasil membuat mata Najwa membuat sempurna


" Jahat!"


Andi langsung mendekap tubuh Najwa untuk bersandar di dada bidang miliknya


" Aku tau, kamu akhir-akhir ini banyak masalah, dan semalam kamu juga mabuk, jangan lakukan itu lagi Najwa, kamu harus bersyukur karena ada bang Andre, kalau tidak, aku tidak tau bagaimana nasibmu. Maaf, semalam saat butuh sandaran aku tidak ada."


" Bukan kamu yang harus minta maaf, tapi aku, aku yang harus minta maaf."


" Tidak perlu minta maaf Najwa, sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah minta maaf."


Andi mengelus pucuk kepala Najwa, ia memang merasa bersalah atas kejadian semalam. Entahlah, masalah apapun yang menyakut Najwa, ia selalu saja kuatir. Najwa juga merasa bersalah, seharusnya semalam ia tidak terjun bebas ke dunia malam, tapi semalam otaknya sudah tidak bisa untuk berpikir. Tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu


Tok-tok


Andi dan Najwa langsung melepaskan pelukannya


" Masuk."


" Mbak, di luar ada pak Raka Wiliam dan pengacaranya."


" Iya."


Setelah Diana pergi. Najwa langsung mengikat rambutnya lagi, lalu langsung melihat ke arah Andi


" Ingat, jangan mengajak berantem lagi, nanti wajahmu tambah bonyok."


" Siapa juga yang mau ngajak berantem dengan pak Raka, yang ada aku akan berakhir di rumah sakit."


Najwa langsung keluar dari ruangannya, ia tau kalau Raka datang pasti menginginkan hak asuh anaknya, ia langsung menuju ke ruang tamu


" Selamat sore pak Raka, ada yang bisa saya bantu?"


Sekedar basa-basi, Najwa menyalami mereka sebelum duduk di sofa


" Bilang pada Shireen, untuk memberikan hak asuh Angga padaku."


" Atas dasar apa Anda meminta mbak Shireen untuk memberikan hak asuh anaknya? Mbak Shireen adalah ibu kandungnya, dia berhak untuk mengasuh Angga."


Najwa langsung tertawa, sambil menatap sinis pada Raka, ternyata orang di hadapannya tetap saja sombong, walaupun sudah di hujat habis-habisan


" Bagaimana bisa anda menjamin kehidupan Angga, kalau kehidupanmu saja sedang di ujung tanduk?"


" Apa maksudmu?"


Najwa tau kalau Raka mulai gelisah, ia yakin kalau kebusukannya takut ketahuan lawan, dan sesekali Raka juga melihat ke arah pengacaranya, yang masih setia mendengarkan pembicaraan mereka


" Berapa jumlah uang yang Anda dapatkan dari Alena?"


Raka sangat terkejut, wajahnya langsung terlihat pucat pasi. Najwa tersenyum girang, melihat Raka seperti maling yang tertangkap basah


" Kamu keluar dulu, saya mau berbicara empat mata dengan Najwa."


" Baik pak."


Pengacara itu langsung keluar. Najwa masih tersenyum, ternyata Raka masih punya malu


" Kenapa mengusirnya? Anda malu kalau kebusukanmu saya bongkar?"


" Jangan mengada-ada, saya memiliki perusahaan, tentu banyak uang, untuk apa saya meminta uang pada Alena."


" Perusahaan yang sudah di ambang kebangkrutan itu maksud Anda? Jangan kira saya tidak tau kecurangan apa yang Anda lakukan untuk mendapatkan tender real estate!"


" Sialan!"


" Jangan coba-coba untuk mencari masalah pak Raka. Cukup diam dan tidak hadir pada sidang, agar prosesnya tidak bertele-tele lagi."


" Apa yang kalian mau sebenarnya?"


" Jangan lagi menurut hak asuh Angga, dan jangan mencoba untuk mengancam mbak Shireen untuk menghancurkan karirnya."


" Hanya itu?"


Najwa hanya mengangguk puas, sedangkan wajah Raka sudah merah padam


" Kartu Anda ada pada saya pak Raka, jadi saya ingatkan untuk tidak berbuat curang. Mulut saya kadang licin, tidak tau kapan tiba-tiba saya mengatakan itu semua pada orang tuanya dan kaka Alena. Anda juga tau sendiri saya ada hubungan apa dengan mereka?"


Raka langsung pergi dari situ, tanpa berbicara lagi. Najwa tersenyum sinis, saat melihat Raka pergi tanpa permisi. Najwa juga sebenarnya kasihan pada Alena yang mau di kuras uangnya


" Walaupun aku benci dengan keluargamu, tapi aku sedikit kasihan padamu, Alena. Cepat atau lambat, aku akan membongkar semua kebusukan Raka, tapi setelah permasalahanku selsai dengan ibumu." batin Najwa


Tiba-tiba ponsel Najwa berdering, ia mengerutkan keningnya saat ada nomer asing menghubunginya


" Hallo, siapa."


" Iya Najwa, ini aku Alena."


" Iya ada apa? Kemarin ibumu datang mencariku, semalam kakamu juga mencariku, pacarmu juga baru saja pergi dari sini, dan sekarang kamu juga menghubungiku. Ada apa sebenarnya dengan kalian? Kenapa senang sekali mengusikku?"


" Bisakah kita bertemu sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, Najwa."


" Aku sibuk, jangan pernah menggangguku lagi."


" Najwa, aku mohon, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu."


" Ternyata keluarga Adipati itu semuanya tidak memiliki hati. Hidupku tidak untuk mengurusi masalah keluargamu saja."


" Najwa, kali ini saja, aku mohon, aku tau keluargaku selalu mengganggumu, tapi kali ini aku juga ingin berbicara denganmu."


" Sial sekali! Ternyata kamu juga sangat keras kepala."


" Najwa.."


Najwa langsung mendengus kesal


" Dimana?"


" The lounge, jam tuju aku tunggu."


" Iya."


" Terimakasih Najwa."


Najwa langsung mengakhiri sambungannya begitu saja, ia sangat malas untuk bertemu dengan Alena, tapi bagaimana pun juga Alena pernah menjadi sahabatnya