
Annisa akhirnya mengerti kenapa putrinya semalam pulang dengan keadaan mabuk, putrinya memiliki masalah bertubi-tubi, dari masalah keluarga Adipati, dan bodohnya lagi anak tirinya hingga sekarang masih saja belum menjelaskan tentang Renata. Sebenarnya Annisa ingin sekali menjelaskan kalau Renata adalah adiknya Reyhan, tapi ia takut kalau Najwa membenci Reyhan dengan kebohongan yang di buat di masa lalu, jadi ia membiarkan Reyhan sendiri yang menjelaskan pada Najwa. Reyhan sudah 6 tahun pulang ke Indonesia, tapi Reyhan masih saja belum menjelaskan pada Najwa. Kalau di bilang Reyhan pengecut, iya Reyhan memang pengecut menurut Annisa, bahkan masalah sepele di biarkan berlarut-larut, hingga membuat masalah itu menjadi rumit. Annisa langsung berdiri, ia langsung memeluk putrinya yang menujukan raut kesedihan, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca
" Najwa, apapun keputusan yang kamu ambil, Bunda akan selalu mendukungmu nak, Bunda hanya ingin yang terbaik untuk kehidupanmu."
Najwa langsung melepaskan pelukan ibunya, ia langsung menatap mata ibunya
" Bunda tidak marah, semalam aku mabuk?"
" Untuk apa Bunda marah. Bunda tau alasan kamu mabuk nak."
Annisa langsung mencium kening putrinya, ia tau putrinya selalu berpura-pura tegar, bahkan sekarang mata putrinya sudah merah ingin menangis, tapi putrinya selalu saja menahan air matanya. Memang semenjak pulang dari Ausi, Annisa tidak pernah melihat putrinya menangis di depannya, tapi ia yakin kalau semalam putrinya menangis. Annisa langsung melepaskan pelukannya.
" Najwa, berhenti berpura-pura tegar di depan Bunda. Bunda merasa kalau Bunda tidak becus jadi Bunda yang baik untukmu. Semenjak pulang dari Ausi, kamu selalu saja berpura-pura tegar di depan Bunda."
Najwa yang mendengar ucapan dari ibunya, ia langsung memeluk ibunya yang masih berdiri dengan posisi duduk, tapi ia tetap akan berusaha tegar di depan ibunya, ia ingat ucapan Andi, jangan pernah membuat ibunya kuatir, sudah cukup dulu ia membuat harga diri ibunya terinjak-injak oleh perbuatanya, dan sekarang sudah waktunya ia berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri
" Aku baik-baik saja Bunda, bagiku Bunda yang terbaik. Bunda tidak boleh berbicara kalau Bunda tidak becus menjadi Bunda yang baik, bahkan aku bersyukur, Bunda selalu saja mengerti tentang perasanku, terimakasih Bunda."
" Kamu adalah anak Bundaa, ingat pesan Bunda, jangan pernah memendam perasaanmu sendiri nak."
" Iya Bunda."
Mereka langsung melepaskan pelukannya. Annisa langsung meninggalkan putrinya yang masih duduk, bahkan ia tidak bisa tegar, ia sudah ingin menangis saat melihat mata putrinya berkaca-kaca. Setelah ibunya pergi, Najwa hanya tersenyum getir, ia terus mencoba untuk menguatkan hatinya tentang kejadian semalam. Tiba-tiba ada asisten rumah tangga mendekati Najwa
" Non, di depan ada Den Andi."
" Iya bi, suruh tunggu sebentar."
" Baik non."
Najwa langsung pergi masuk ke dalam kamar, ia langsung siap-siap. Setelah selsai Najwa langsung ke luar dari kamarnya. Annisa yang melihat putrinya sudah rapih, ia langsung bertanya
" Najwa, kamu yakin akan keluar dengan muka lembam seperti ini?"
" Iya Bun, aku harus ke kantor polisi, untuk membuat perhitungan pada nyonya Adipati."
Annisa hanya bisa menghela nafas berat, bodohnya ia dulu tidak melaporkan Alex sebagai tersangka pelecehan, saat itu ia tidak ingin melaporkannya karena berpikir keluarga Adipati tidak akan pernah mengusik hidup putrinya lagi, tapi ternyata salah, keluarga itu masih saja mengusik kehidupan putrinya. Najwa dan Andi langsung menuju ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah
" Najwa!"
Najwa menghela nafas berat, saat Reyhan mendekatinya
" Aku masuk mobil dulu."
Najwa tau Andi memberikan waktu untuk ia berbicara berdua dengan Reyhan
" Mau apa lagi?"
Najwa menatap mata Reyhan yang sudah berdiri di depannya. Reyhan menatap wajah Najwa dengan perasaan sangat kuatir
" Di maafkan! Aku harus pergi sekarang mas."
" Najwa, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semua tentang kebohongan di masa lalu, dan masalah mamah, aku juga akan bisa meyakinkan mamah, karena mamah bukan orang seperti itu Najwa, aku yakin mamah menerimamu. Najwa, aku dulu sudah pernah melepasmu, tapi kali ini aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku lagi. Aku sangat mencintaimu Najwa."
Najwa hanya diam, ia melihat Reyhan seperti sangat kacau, matanya memerah dengan Kantong mata sedikit menghitam, Reyhan sepertinya tidak tidur semalam
" Mas Rey, mukamu kenapa sampai bonyok?"
Sebenarnya Najwa ingin sekali mengusap muka lembam Reyhan, tapi ia hanya berani bertanya, walaupun hatinya benar-benar sangat kuatir
" Andre marah, karena aku telah membuatmu menangis."
" Hah!"
Najwa benar-benar sangat terkejut, kenapa Kaka sepupunya bertindak sejauh itu
" Maaf, kalau bang Andre sudah keterlaluan, tapi mas Rey pantas untuk mendapatkannya, bahkan sepertinya luka dari bang Andre tidak terlalu banyak."
" Kalau kamu ingin memukulku, pukul saja, aku siap, asalkan kamu dan Leo selalu ada di sampingku. Najwa, kasih aku waktu yang tepat untuk menjelaskannya, aku juga tidak ingin terus memendam masalah ini, yang jelas Renata bilang kalau dia minta maaf, karena telah menyeretku pergi dari hidumu, itulah pesan terakhir sebelum Renata meninggal."
" Hah!"
Jujur Najwa terkejut, bukan'kah mereka berdua sudah kenal lebih lama, bahkan foto-foto di rumah Reyhan, ada foto-foto saat Renata memakai seragam SMA dan Reyhan yang memaik kaos putih polos, yang harusnya minta maaf bukan Renata, tapi harusnya ia, ia telah mencintai calon suami orang
" Iya, maukah kamu memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya?"
Reyhan sebenarnya ingin menjelaskan sekarang juga, tapi posisinya Najwa sudah akan pergi, mungkin lain waktu ia jelaskan tentang Renata. Najwa hanya diam sambil berpikir
" Apa aku berikan kesempatan untuk menjelaskan tentang Renata? Kenapa mas Rey dan Bunda seperti ada sesuatu yang di sembunyikan, dan ucapan Bunda juga seperti sudah mengetahui tentang Renata. Simpan saja tentang Renata, Najwa, yang harus kamu pikirkan adalah Sinta. Gadis kecil yang bersaman mas Rey."
" Lalu bagaimana dengan Sinta? Gadis yang berkenalan denganku di Bandara saat itu?"
" Sinta adalah asistenku, dia menggantikan pak Samsul. Pak Samsul saat itu mengalami kecelakaan, saat akan pulang kampung, aku yang membiayai semua rumah sakitnya hingga sembuh total, tapi pak Samsul tidak ingin menerima biyaya pengobatan dengan geratis, untuk itu pak Samsul menyuruh adiknya untuk menjadi asistenku, hingga pak sembuh dan bisa kembali bekerja menjadi asistenku lagi."
Najwa langsung tersenyum, saat tau Sinta ternyata adalah asisten pribadi Reyhan, tapi ia masih bingung dengan penjelasan yang akan di jelaskan Reyhan. Najwa langsung menatap Andi, yang sedang menatapnya. Andi sengaja membuka kaca mobilnya, dan menatap ke arah mereka. Andi yang melihat Najwa menatapnya dengan mata bertanya, ia langsung menganggukkan kepalanya
" Kenapa Andi selalu saja berpihak pada mas Rey? Benar-benar menyebalkan."
Reyhan hanya tersenyum puas, saat mendengar ucapan dari Najwa. Najwa yang melihat senyuman dari Reyhan membuat jantungnya berdetak lebih kencang
" Baiklah, aku akan memberikan kesempatan untuk mas Rey menjelaskannya padaku, tapi lain kali saja, aku ada urusan sekarang."
" Iya, Terimakasih pengacara Najwa."
" Dasar menyebalkan!"
Najwa langsung masuk ke dalam mobil, masih sambil tersenyum