Najwa

Najwa
BAB. 44 Hadiah untuk Najwa



Setelah mendapatkan restu dari orang tua Reyhan, justru membuat Najwa semakin resah, bukan karena resah tanpa alasan, tapi karena tentang Leo salah satunya. Kalau dulu Najwa selalu hati-hati agar keberadaan Leo tidak di ketahui oleh orang lain, tapi orang tua Reyhan selalu terang-terangan membawa Leo keluar. Mereka sepertinya tidak di ambil pusing kalau keberadaan Leo menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang. Najwa bukan takut, ataupun malu, tapi jika suatu saat identitas Leo terungkap Najwa tidak ingin menyeret keluarga Reyhan dalam situasi yang sulit. Namen rasa kuatir Najwa hanya di anggap hal yang sepele bagi orang tua Reyhan, orang tua Reyhan lebih sering mengajak Leo jalan-jalan atau pun mengajaknya untuk pertemuan keluarga. Apa lagi Reyhan juga akhir-akhir ini selalu membawa Leo ke kantornya, membuat Najwa semakin resah, Reyhan tidak pernah berpikir bagaimana pandangan para karyawannya saat Leo memanggilnya dengan panggilan Deddy. Siang ini setelah selesai sidang Najwa langsung pergi ke moll untuk menyusul Rika dan Leo. Rika meminta Najwa untuk memilihkan hadiah, karena Minggu depan istrinya Rendi akan ulang tahun


" Najwa, mamah di sini!"


Najwa tersenyum saat melihat Rika dan Leo duduk di sofa tunggu


" Mamah beli apa lagi untuk Leo sampai sebanyak ini?"


Rika tidak menjawab pertanyaan dari Najwa, ia hanya meringis, ia tau kalau Najwa tidak menyukai hal seperti itu


" Oma belikan dua robot untuk Leo, mom, dan Leo juga membelikan boneka untuk Tasya."


Najwa langsung mendengus kesal saat mendengar ucapan dari anaknya


" Jangan terlalu memanjakan Leo mah."


" Tidak apa-apa Najwa, lagian juga tidak setiap hari."


" Iya deh mah. Mamah mau beli perhiasan apa untuk Key?"


" Kalau kalung sudah pernah, lebih baik cincin saja."


Najwa langsung mengangguk. Akhirnya mereka memutuskan untuk melihat perhiasan di toko itu. Najwa langsung melihat cincin-cincin itu, jujur saja ia tidak mengerti dengan perhiasan, apa lagi berlian. Mata Najwa berhenti di cincin bentuk simpel dengan satu mata berlian di tengahnya


" Ini sepertinya bagus mah, sangat simpel."


Rika langsung mengangguk, lalu ia langsung meminta pegawai untuk mengambilkan cincin itu


" Kamu coba dulu Najwa, pas atau tidak ukuranya."


Najwa mengerutkan dahinya bingung saat Rika menyodorkan cincin padanya


" Kenapa harus aku coba mah?"


" Ukuran tangan Key dengan ukuran tangan kamu sama Najwa, untuk itu mamah meminta kamu menemani mamah."


" Baiklah mah."


Najwa memakaikan cincinnya di jari manisnya. Rika tersenyum puas saat melihat cincin itu melingkar di jari manis Najwa


" Bagus Najwa, tapi coba kamu lihat-lihat, siapa tau ada yang lebih bagus lagi."


Najwa langsung mengangguk, ia langsung melihat-lihat deretan cincin-cincin lagi, ia juga berkali-kali mencoba cincin yang lain, tapi ia tetap suka cincin yang pertama ia coba


" Aku lebih menyukai yang tadi mah."


" Iya sudah mamah ambil cincin yang tadi."


Najwa pikir karena ukurannya kecil, pasti harganya lebih kecil, tapi ternyata dugaannya salah, harga cincin itu setara dengan penghasilan Najwa selama 1 tahun menjadi pengacara


Mereka langsung duduk lagi di sofa sambil menunggu proses pembayaran. Rika langsung menyerahkan kotak perhiasan kecil pada Najwa


" Ini untuk kamu, Najwa."


" Ini apa mah?"


" Tiga hari lagi kamu juga ulang tahun, ini untuk kamu."


Najwa langsung mengambil kotak perhiasan yang di serahkan Rika, lalu ia langsung membuka kotak itu, ia sangat tercengang saat melihat kalung liontin berlian, walaupun kalung itu sangat kecil, tapi harganya tidak main-main contohnya seperti cincin tadi yang setara dengan penghasilannya selama 1 tahun


" Mah, hadiahnya yang lain saja, ini terlalu mahal."


Rika langsung menggeleng saat Najwa menyodorkan kalungnya kembali


" Tapi mah."


" Sini, mamah pakaikan kalungnya."


Najwa langsung menghela nafas panjang saat Rika memakaikan kalungnya di leher Najwa


" Sangat cocok di pakai oleh kamu Najwa."


" Tapi ini terlalu berlebihan mah, mamah sudah menyayangi aku dan anakku saja sudah lebih dari cukup."


" Mamah tidak berlebihan Najwa, mamah tidak akan pernah menganggap kamu calon menantu mamah, tapi mamah menganggap kamu sudah seperti anak mamah sendiri."


Najwa langsung menghela nafas sambil meneteskan air mata, bukan karena hadiah yang sangat mahal, tapi perlakuan keluarga Reyhan yang selalu menyayanginya dan anaknya membuat ia sangat terharu, ia langsung memeluk Rika


" Terima kasih mah, aku suka hadiahnya."


" Gitu dong Najwa, kamu juga anak mamah seperti Key, mamah tidak pernah menganggap Key menantu, tapi mamah sudah menganggapnya seperti anak mamah sendiri."


Najwa dan Rika langsung melepaskan pelukannya


" Memang Key kapan ke rumah mah?"


" Mungkin setelah Rendi pulang dari Perancis, biasalah semenjak Reyhan pulang ke Indonesia, sekarang menjadi Rendi yang selalu mengecek kantor Reyhan, lagian kasian juga Reyhan kalau terus mondar-mandir, apa lagi perusahaan peninggalan papahnya juga bukan hal yang mudah untuk Reyhan tangani."


Najwa langsung mengangguk, ia mengerti kalau Reyhan tidak bisa memegang perusahaan di Perancis, bagaimana pun juga perusahaan peninggalan papahnya sangat besar, dan memiliki dua cabang jadi tidak heran kalau Reyhan tidak bisa mengatasi semuanya


" Habis ini mamah mau kemana?"


" Mau ke rumah Rendi, Leo ingin main dengan Tasya"


Tasya adalah balita yang berusia 1 tahun, dia adalah anak Rendi dan Key, Najwa juga sudah mengenal mereka, hanya saja ia belum pernah bertemu dengan Rendi, adik pertama Reyhan karena Rendi masih mengurus bisnis di Perancis. Najwa langsung menatap ke arah anaknya yang sedang asik memainkan robotnya


" Kenapa Leo suka sekali main bersama Tasya?"


" Tasya sangat lucu dan menggemaskan mommy, dia suka menangis."


Najwa dan Rika langsung tertawa saat mendengar jawaban dari Leo, jawaban macam apa juga, bahkan Leo saja masih sering menangis, tapi bisa-bisanya Leo menyukai tangisan Tasya. Seorang pegawai wanita langsung mendekati mereka sambil membawa tas kecil berisi cincin dan credit card. Pegawai wanita itu langsung menyerahkan tas kecil dan credit card pada Rika


" Ini pesanan nyonya."


Rika langsung mengambil yang di serahkan pegawai wanita


" Iya terimakasih."


Mereka pun langsung berdiri


" Sekarang kamu mau ke kantor lagi Najwa?"


" Iya mah, kerjanku masih belum beres."


" Iya sudah kalau begitu bajumu mamah sekalian bawakan saja, tadi kata Key bajumu sudah jadi."


" Iya mah, nanti aku telpon Key untuk mengucapkan terimakasih padanya."


" Iya Najwa."


Sejak dulu Najwa bukan tipe wanita yang suka shopping atau pecandu barang mewah, ia terbiasa hidup sederhana seperti dulu, walaupun sekarang ia sudah menjadi seorang pengacara, tapi mulai sekarang ia harus terbiasa dengan gaya hidup seperti mereka. Rika sering sekali mengajak Najwa keluar dan membeli banyak barang-barang untuk Najwa, bahkan membuat Najwa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat harga barang-barang itu, walaupun Najwa tidak pernah mengharapkan apapun selain kasih sayang dari keluarga Reyhan, tapi keluarga Reyhan selalu saja memanjakan Najwa dan anaknya. Mereka sudah sampai di parkiran mobil


" Iya sudah kamu hati-hati Najwa."


" Iya mah."