
Sudah biasa kalau Najwa selalu datang telat ke pekerjanya, bukan sekali dua kali, ia selalu seperti itu. Najwa langsung masuk ke dalam ruangannya. Di dalam sudah ada Andi yang sudah duduk sambil memeriksa laporan dari Aundri
" Akhirnya kamu datang juga Najwa, aku tidak tau harus gimana lagi, ini kelayen hanya ingin kamu yang menjadi pengacaranya, alasannya karena kamu tidak pernah gagal dalam menyelesaikan sebuah kasus."
" Iya ampun Andi, kamu menyuruh aku segera datang hanya untuk membahas pekerjaan yang tidak jelas, aku masih harus menjadi pengacara Aundri."
" Bukan'kah kasus Aundri belum kamu tenda tangani?"
" Iya memang belum."
" Iya sudah, masalah Aundri biar aku yang urus, sekarang kamu tanganin kasus perceraian, milik Shireen Aurora."
" Kenapa harus aku sih?"
" Najwa, kamu tidak mau minta foto bersama Shireen Aurora? Bahkan banyak yang ingin menjadi pengacaranya, dan ini kesempatan agar namamu semakin di atas angin."
" Memang siapa Shireen Aurora? Bisa membuat namaku ke atas angin?"
" Kamu tidak tau Shireen Aurora? Seorang model papan atas di Indonesia? Benar-benar wanita aneh."
" Aku tidak tau, lagian tidak penting juga, lalu jam berapa Shireen datang?"
" Sebentar lagi Shireen datang, kamu lebih baik duduk dulu, sepertinya kamu masih dengan suasana kurang baik."
Najwa langsung meletakkan tasnya masih dengan posisi berdiri
" Diam Andi! Aku kesini mau kerja, bukan mau membahas masalah pribadi!"
" Galak banget Najwa."
" Pusing, Reyhan terus saja menelponku, dan pagi-pagi Reyhan sudah datang ke rumah sambil membawa piano untuk Leo, lalu Leo langsung bermain piona dengan wajah ceriah bersama Reyhan, aku kesal, bahkan Leo tadi hanya ingin bersama Reyhan, Leo tidak ingin ikut denganku!"
" Katanya jangan bahas masalah pribadi, tapi kenapa kamu curhat Najwa?"
Najwa yang mendengar pertanyaan dari Andi, ia sangat kesal
" Andi!"
Andi hanya tersenyum, saat mendengar teriakkan sahabatnya. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu
Tok-tok
Najwa langsung menyuruhnya untuk masuk
" Masuk."
Shireen langsung masuk ke dalam ruangan Najwa. Andi langsung memperkenalkan Najwa pada Shireen
" Pagi mbak Shireen, ini adalah Najwa, orang yang mbak Shireen cari."
Najwa langsung mengulurkan tangannya pada Shireen
" Shireen Aurora."
" Najwa Putri Kasna, mari silahkan duduk."
Najwa, Andi dan Shireen langsung duduk. Najwa bisa melihat kalau Shireen adalah wanita yang sederhana dan ramah, itulah penilaian Najwa. Najwa langsung membuka pembicaraan
" Boleh saya memanggil Mbak, agar saya lebih enak?"
" Tentu saja boleh, mau di panggil siapapun yang penting nyaman, dan aku juga tidak suka bersikap terlalu pormal, jadi aku akan memanggil diri sendiri dengan panggilan aku. Apa sudah boleh di mulai?"
" Silahkan mbak."
Najwa langsung memegang pulpen dan sudah ada not di meja
" Tolong bantu aku untuk mengurus perceraianku, dan sekaligus untuk mendapatkan hak asuh anakku."
" Masalahnya apa mbak?"
" Suamiku selingkuh, dia memiliki hubungan di luar sana. Sebenernya aku curiga sudah lama, tapi aku mencoba untuk menampik kecurigaan itu, hingga aku mendapat bukti kalau dia benar-benar selingkuh."
Shireen langsung mengeluarkan amplop coklat, lalu langsung memberikannya pada Najwa
" Semua bukti ada di situ, termasuk foto-foto dan data perempuan yang menjadi selingkuhan suamiku."
" Kenapa aku harus berurusan dengan keluarga Adipati lagi. Najwa, semangat, kamu adalah seorang pengacara, kamu tidak boleh membawa masalah pribadimu dengan pekerjanmu." batin Najwa
Najwa langsung mencoba bersikap biasa saja
" Ini suami mbak, dan perempuan ini benar selingkuhan suami mbak?"
Shireen langsung mengangguk mantap, tapi matanya penuh dengan pertanyaan pada Najwa
" Apa kamu kenal dengan suamiku?"
" Tidak, tapi saya kenal dengan perempuan ini, dia adalah Alena Adipati, mantan sahabatku dulu."
" Bagus kalau begitu Najwa, sepertinya aku tidak salah untuk mengurus perceraianku."
Najwa hanya tersenyum, ia tidak tau sandiwara apa lagi yang akan menunggunya di depan sana, tapi jujur saja Najwa penasaran dengan reaksi nyonya Adipati, saat sekandal anaknya mencuat
" Anak mbak usia berapa?"
" 5 tahun."
" Perempuan atau laki-laki?"
" Laki-laki."
" Wah bagus, berarti anak kita bisa berteman."
Shireen sangat terkejut, saat mendengar Najwa sudah punya anak, karena Najwa masih terlalu muda
" Boleh aku bertanya?"
" Silahkan mbak."
" Kamu menikah usia berapa? Kalau anakmu sudah berusia 5 tahun."
Najwa mencoba tertawa, ia sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, jadi sudah tidak aneh lagi untuk ia dengar
" Aku belum menikah mbak, saat melahirkan usiaku baru saja 19 tahun."
" Jangan becanda, kamu adalah seorang pengacara terkenal, siapapun sudah tau namamu, walaupun kamu selalu menutupi wajahmu, tapi aku yakin harusnya kamu terekspos media dulu, tapi kenapa tidak ada tentang berita itu?"
" Aku sengaja menutupi identitasku mbak, apa lagi aku juga selama ini tinggal di Ausi, jadi wajar kalau tidak terekspos."
" Najwa, kalau ada waktu kita main bareng, pasti anak kita senang memiliki teman baru."
" Boleh mbak, jadi sekarang anak mbak tinggal sama siapa?"
" Semenjak suamiku pergi, anakku tinggal bersamaku."
" Oh, lalu sekarang suami mbak tinggal di mana?"
Shireen yang awalnya bersikap santai, tapi sekarang ia menjadi terdiam, dan matanya yang mulai berkaca-kaca
" Dia sudah tinggal di apartemen dengan wanita itu."
Najwa sangat terkejut saat mendengar jawaban dari Shireen, ia tidak menyangka kalau Alena akan berubah, dulu Alena paling tidak suka di dekati oleh seorang pria, lalu Najwa langsung melihat foto pria yang bersamaan Alena, ia mengingat-ingat foto pria itu, wajahnya seperti tidak asing, ia merasa pernah bertemu, tapi ia tidak tau pernah bertemu di mana, hingga akhirnya ia ingat, pria itu adalah yang di tabrak oleh Leo sekitar 1 Minggu yang lalu, saat di moll
" Apa mbak sudah mantap untuk bercerai?"
Shireen hanya menjawab dengan anggukan kepala, sambil mengusap air matanya. Najwa menatapnya dengan rasa kasihan, ia juga ikut merasakan dengan situasi ini, walaupun ia belum pernah melihat kelayen yang sangat lemah, dan ini pertama kalinya Najwa melihat seorang wanita mengajukan perceraian sambil menangis. Najwa langsung berdiri, lalu ia langsung mengusap punggung Shireen. Shireen langsung memeluk Najwa dengan posisi duduk
" Menangis saja mbak, aku mengerti perasaan mbak, dulu aku juga pernah ada di titik yang rapuh."
Shireen langsung menangis sekencang-kencangnya di pelukan Najwa. Najwa yang melihat itu, ia pun ikut menangis
" Aku pasti akan berusaha untuk memenangkan kasus ini, dan hak asuh anak juga pasti akan jatuh ke tangan mbak, mbak tidak perlu kuatir."
" Terimakasih Najwa, tidak apa-apa suamiku pergi, tapi aku tidak bisa hidup tanpa anakku, jadi tolong aku, Najwa"
" Pasti mbak."
Air mata Najwa semakin deras, ia juga sama, mempertaruhkan apapun hanya demi Leo, apapun itu akan ia lakukan untuk Leo