
Rika langsung mendekati Najwa, ia langsung memeluk Najwa sangat erat. Tangisan Najwa menjadi meledak setelah di peluk oleh Rika, ia merasakan pelukan hangat dari seorang wanita tua selain ibunya. Sedangkan Reyhan hanya tersenyum lebar, ia merasa hidupnya sudah benar-benar sempurna. Leo menuruni tangga mendekati mereka
" Mommy, Leo sudah ngantuk."
Najwa langsung menghapus air matanya, lalu mereka langsung melepaskan pelukannya. Rika langsung tersenyum saat melihat wajah Leo, yang terlihat sangat menggemaskan
" Kenapa turun? Harusnya Leo tidur di kamar Leo."
" Tapi Leo ingin sama mommy, Oma."
" Katanya mau tidur di sini, Leo nggak asik ah!"
Mereka tertawa saat mendengar Bagas meniru gaya bicara Leo yang so imut, aneh tapi lucu
" Leo mau sama mommy, oppa."
" Malam ini Leo tidur di sini iya Najwa, kamu antar Leo ke kamarnya."
Najwa hanya mengangguk saat Bagas meminta Leo tidur di rumahnya. Reyhan langsung menggendong Leo menaiki tangga di ikuti Najwa
" Ayo masuk Najwa, ini kamar Leo."
" Iya mas."
Najwa menghela nafas pelan, saat mengetaui Leo memiliki kamar sendiri, jelas-jelas Leo di sini hanyalah tamu, tapi mereka benar-benar menganggap Leo keluarganya. Reyhan langsung meletakkan tubuh Leo yang sudah setengah tidur, ia langsung mengecup kening Leo sekilas, lalu langsung mematikan lampu kamar, dan menyalakan lampu kamar tidur
" Najwa, aku keluar dulu."
" Iya mas."
Najwa langsung berbaring di samping Leo sambil memeluk tubuh kecil Leo yang tertidur
" Maafkan mommy, Leo, selama ini mommy tidak bisa memberikan keluarga yang utuh seperti yang kamu inginkan, tapi setelah ini kamu akan benar-benar memiliki mas Reyhan sebagai Deddy mu, kamu pasti bahagiakan sekarang'kan? Kita pasti akan bahagia, mommy tidak akan pernah membiarkan siapapun merusak kebahagiaan kita lagi, tidak akan pernah!"
Air mata Najwa kembali mengalir deras, ia tau walaupun sudah mendapatkan restu dari orang tua Reyhan, tapi perjalanan mereka masih penuh dengan lika-liku, ia yakin Alex dan keluarganya tidak akan tinggal diam, setelah mengetahui Najwa akan menikah dengan Reyhan, ia yakin kalau mereka tidak akan rela kalau Leo menjadi bagian keluarga dari Reyhan. Terkadang Najwa juga lelah dengan sikap mereka yang selalu mengusik hidupnya, tapi ia tidak bisa apa-apa selain berpura-pura tegar dan berani di depan keluarga Alex. Kasur di belakang Najwa bergerak pelan, ada sesuatu yang berbaring di belakang Najwa sambil memeluk tubuh Najwa
" Bukan'kah kamu harusnya bahagia sekarang, karena kita sudah berhasil mendapatkan restu, tapi kenapa kamu menangis, Najwa?"
" Aku bahagia, dan sangat bahagia mas, terima kasih karena kamu masih selalu memperjuangkan aku."
Reyhan langsung mengeratkan pelukannya sambil mencium bahu Najwa
" Aku yang harusnya berterimakasih padamu, setelah kebohongan yang telah aku lakukan saat itu, tapi kamu masih memberikan kesempatan untuk aku."
" Ayo kita keluar, aku takut orang tua mas mengira kita melakukan macam-macam di sini."
Reyhan langsung tertawa pelan sambil beranjak bangun dari ranjang bersama Najwa, setelah mereka di depan pintu, Reyhan langsung menarik pergelangan tangan Najwa hingga Najwa bersandar di dinding, ia mengunci tubuh Najwa dengan kedua tangannya, lalu langsung mendekatkan wajahnya
" Kamu jangan gila mas! Kita sekarang sedang ada di rumah orang tua mas."
" Jadi kalau di rumahku kamu mau kita melakukannya?"
" Aku tidak mengerti dengan sikapmu, jelas-jelas mas itu perjaka, tapi seperti duren."
Reyhan langsung tertawa pelan, saat di bilang seperti duren
" Aku tidak pernah melakukan apa-apa dengan wanita mana pun Najwa, dan ciuman pertamaku kamu juga yang mengambilnya saat di rumahmu saat itu."
Najwa langsung diam, ia tidak bisa lagi berkata-kata, hanya saja ia tidak menyangka kalau Reyhan selama ini begitu menjaga diri, tidak heran saat itu Reyhan bertanya boleh aku mencintaimu, terlihat jelas kalau saat itu adalah ciuman pertama Reyhan. Reyhan langsung mencium bibir Najwa, tidak hanya mencium tapi juga sedikit melumut. Tidak ada nafasu yang menggebu-gebu di antara mereka, yang ada ketulusan cinta mereka. Reyhan menghari ciumannya dengan mengecup kening Najwa, ia tersenyum bahagia menatap wajah Najwa
" Aku mencintaimu calon istri."
Najwa langsung tertawa pelan saat mendengar panggilan baru Reyhan
" Kenapa mas semakin hari semakin manis? Lama-lama aku bisa diebetes mas."
" Kamu juga bisa memanggilku calon suami."
" Ayo kita turun mas."
Reyhan langsung mengangguk, ia langsung menggandeng tangan Najwa keluar dari kamar Leo, lalu Najwa langsung berpamitan pada orang tua Reyhan
" Kami pulang dulu om, Tante, terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang kalian berikan padaku."
Rika dan Bagas langsung mengangguk, mereka langsung memeluk Najwa bergantian, senyuman bahagia dari kedua orang tua Reyhan tidak pernah pudar
" Najwa, sekarang kamu jangan panggil om dan Tante lagi, kamu harus memanggil kami dengan panggilan papah dan mamah seperti Reyhan."
" Iya om, eh iya pah."
Najwa menjadi sedikit gugup dengan ucapan Bagas, sementara Reyhan ia masih tersenyum
" Tuh'kan masih saja panggil om lagi."
" Iya maaf, belum terbiasa om, eh pah."
Lagi-lagi Najwa salah bicara membuat mereka tertawa kecil saat melihat kegugupan Najwa
" Kalau keluarga Adipati mengusikmu dan ingin merebut Leo darimu, kamu tidak perlu takut lagi, papah tidak akan membiarkan kamu menghadapi masalahmu seorang diri."
Najwa hanya mengangguk paham, sementara Reyhan langsung mengerutkan keningnya, ia tidak pernah menyangka kalau papah tirinya benar-benar sudah mengetahui masalah Najwa
" Dari mana papah tau tentang itu?"
" Maaf Rey, papah memang sangat lancang ingin mengetahui apa maksudmu untuk mencari kecurangan dari Arman Malik, untuk itu papah mencari tau semua masalahnya, akhirnya papah mengerti maksudmu, sekali lagi papah minta maaf."
Bagas merasa sangat bodoh dengan ucapannya, bisa-bisanya ia keceplosan tentang masalah Najwa, ia takut kalau Reyhan marah padanya
" Papah tidak perlu minta maaf padaku, tapi aku yang berterimakasih pada papah, karena papah mau membantu masalahku dan Najwa."
Bagas langsung menepuk pundak Reyhan pelan
" Aku adalah papahmu, sesulit apapun masalahmu dan Najwa, papah akan membantu kalian sebisa papah, jadi jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada papah, Rey."
Reyhan langsung mengangguk paham
" Iya sudah kalian hati-hati."
" Iya mah."
" Iya Tante, eh mah."
Mereka berdua langsung benar-benar pergi dari rumah orang tua Reyhan, di perjalanan Reyhan terus saja menggenggam tangan Najwa, walaupun ia jelas-jelas sedang menyetir
" Mas, fokus menyetir, jangan terus menggenggam tanganku."
" Tapi aku tidak ingin melepaskannya, Najwa."
" Tapi bahaya mas."
" Iya hanya malam ini, lain kali aku akan membawa pak Samsul."
" Apa-apa pak Samsul, pekerjaan kantor juga pak Samsul, enak sekali menjadi kamu, mas, menjadi bos yang malas-malasan!"
" Tidak setiap hari Najwa, ini semua aku lakukan hanya untuk mengejar cintamu, tapi setelah kita menikah, aku pasti akan rajin ke kantor lagi."
" Alasan!"
" Tidak alasan Najwa, kalau aku tidak ke kantor, mungkin sudah bangkrut kantor papah."
Najwa hanya mengangguk