
Reyhan langsung menghela nafas kasar, memang terlalu banyak masalah yang harus ia hadapi setelah kedua orang tuanya menikah lagi
" Alvin, aku tidak bisa semudah itu untuk memafkan mereka, dan perlu kamu tau, kalau saja bukan karena ulah mereka, mungkin aku sudah bersama wanita yang aku cintai, tapi karena ulah mereka aku harus menghapus rasa cinta terhadap gadis itu. Kamu tau kenapa? Karena gadis itu adalah adik tiriku. Kamu tau aku bertahun-tahun tersiksa hanya mencintai Gadis itu, aku tidak bisa melupakannya, tapi aku tidak bisa bersamanya, jadi jangan pernah mengatakan kalau kamu sama terlukanya, karena yang lebih terluka adalah adikku dan aku."
Mata Alvin mulai berkaca-kaca, setelah mendengar penjelasan dari Reyhan, ini memang pertama kalinya Reyhan mau berbicara dengannya, biasanya Reyhan akan langsung pergi, tapi kali ini Reyhan menjelaskan semua yang di alaminya, membuat Alvin tidak menyangka kalau Reyhan lebih menderita darinya, dari adiknya yang menyembunyikan penyakitnya dan sekarang ia juga tau Reyhan tidak bisa bersama wanita yang di cintai karena ulah papahnya
" Maaf, aku tidak tau tentang itu, tapi tolong anggap papah sebagai papahmu, jangan pernah menganggapnya orang asing."
" Sudah?"
" Belum, boleh aku memanggilmu Abang? Usiaku juga masih 19 tahun, aku ingin memiliki Abang seperti teman-temanku pada umumnya di kampus, semua teman-temanku memiliki Abang, hanya aku yang tidak memiliki Abang."
Reyhan langsung menghela nafas panjang, ini memang pertama kalinya ia berbicara panjang lebar pada Alvin, biasanya ia akan menghindari Alvin, walaupun Alvin berkali-kali mengajaknya untuk berbicara
" Apa kamu menganggap aku sebagai abangmu?"
Alvin langsung mengangkat kepalanya, ia mangguk mantap saat mendapat pertanyaan dari Reyhan, ia memang sudah menganggap Reyhan sebagai sodara kandungnya, tapi Reyhan selalu saja menolak untuk berbicara dengan Alvin
" Baiklah, mulai dari sekarang kamu boleh memanggilku Abang, tapi jangan pernah sekali-kali membahas tentang papahmu, suatu saat aku pasti akan menerima papahmu, tapi bukan sekarang. Aku perlu waktu untuk menyesuaikan diri."
" Baik, terimakasih bang."
Alvin langsung tersenyum lebar, hingga memperlihatkan lesung pipinya, ini pertama kalinya ia tersenyum setelah 9 tahun berlalu tentang kejadian orang tuanya, apa lagi Reyhan yang tidak pernah menganggap ia sodara, hatinya semakin terluka. Reyhan langsung mengangguk sambil tersenyum, lalu ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Jujur saja Alvin sangat bahagia saat melihat jawaban dari Reyhan sambil tersenyum
" Aku tidak tau kapan Reyhan akan menerimakku dan papah sebagai keluarganya, tapi setidaknya sekarang aku bisa lebih dekat dengannya, semoga saja ini awal yang baik." batin Alvin
Setelah itu Alvin langsung pergi ke kamarnya. Reyhan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pikirannya terus berputar-putar memikirkan kata-kata papah tirinya dan Alvin
" Apa aku harus menerima mereka sebagai keluargaku sekarang, memang tidak ada salahnya kalau aku menerimanya, sudah cukup selama ini aku menghindari mereka tanpa alasan yang jelas. Sekarang Najwa juga sudah kembali lagi padaku, dan Renata juga sudah tidak merasakan sakit lagi, lalu untuk apa aku masih tidak bisa menerima mereka." batin Reyhan
Setelah terus berpikir Reyhan langsung tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 08.30WIB, Reyhan langsung turun dari kamarnya, senyumannya masih terpancar seperti saat Reyhan menjawab dengan anggukan kepala pada Alvin semalam. Reyhan sampai di menjadi makan yang sudah di tunggu ibunya, papah tirinya dan Alvin
" Pagi mah, pagi pah, pagi Vin."
" Pagi juga."
Mereka menjawab bersamaan sambil tersenyum saat mendengar Reyhan memanggil Bagas papah, terutama Bagas, ia sangat bahagia saat Reyhan menyapanya. Mereka langsung memulai sarapan tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Setelah selesai sarapan Bagas langsung membuka pembicaraan
" Kapan kamu mau mengenalkan Najwa ke sini nak?"
" Mungkin 2 hari lagi pah, aku akan mengenalkan Najwa pada kalian."
" Baiklah, papah tunggu, jangan lupa bawa Leo lagi ke mari, papah sangat suka bermain-main dengan Leo."
" Iya pah."
" Akhirnya Reyhan bisa memanggil Bagas dengan panggilan papah, setelah sekian lama terus berharap, sekarang menjadi kenyataan." batin Rika
" Bang mau pergi ke kantor?"
" Iya, aku mau pergi ke kantor, kenapa?"
" Aku boleh ikut naik mobil Abang tidak? Pak Hendro hari ini sedang cuti untuk pulang kampung."
Sebelum Reyhan menjawab pertanyaan dari Alvin, Bagas lebih dulu berbicara pada Alvin, ia takut kalau Reyhan akan marah lagi
" Nak, kalau begitu kamu berangkat sama papah, jangan merepotkan Reyhan."
Sebelum Alvin menjawab ucapan dari Bagas, Reyhan lebih dulu menjawab ucapan Bagas
" Tidak apa-apa pah, kantorku melewati kampus Alvin."
Bagas masih tersenyum, mungkin sekarang Reyhan sudah benar-benar menerima ia, dan menerima anaknya juga sebagai sodaranya
" Terimakasih Bang."
Reyhan hanya menjawab dengan anggukan kepala, hatinya sudah bisa menerima Bagas dan Alvin, walaupun ia masih sedikit kaku untuk beribicara pada mereka, tapi ia sudah benar-benar menerima mereka berdua
" Nak, terimakasih sudah mau memaafkan kesalahan mamah dan papah."
" Sudahlah mah, yang lalu biarlah berlalu, maaf, mungkin kalian terlalu lama menungguku untuk menerima semuanya, tapi kali ini aku tulus dari hatiku untuk memafkan kesalahan kalian, apa lagi sekarang aku juga sudah mendapatkan Najwa kembali, tidak ada gunanya aku terus membenci kalian, walaupun sampai saat ini aku masih saja penasaran tentang letek kesalahan papah kandungku hingga mamah tega mengkhianatinya, tapi sepertinya sekarang aku tidak perlu jawaban kenapa mamah bisa tega mengkhianati papahku, seperti aku yang selalu mencintai Najwa, walaupun bagaimana pun keadaan Najwa, bagiku itu sudah cukup untuk menjawab rasa penasaranku, yang jelas semuanya akan melakukan hal gila karena cinta. Jika kita tidak bisa mengontrol diri kita."
Rika masih tersenyum, walaupun ia juga merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati almarhum suaminya, tapi mau bagaimana lagi, selama bertahun-tahun hidup dengan almarhum suaminya, tapi hatinya tetap milik Bagas, andaikan dulu orang tuanya tidak memaksa menjodohkan ia dengan Berayen, mungkin tidak akan pernah memiliki masalah yang rumit, yaitu harus di benci oleh Reyhan dan Renata, hanya Rendi yang masih menerimanya cukup baik saat itu, walaupun ia sudah melakukan kesalahan yang besar, tapi Rendi masih tetap menerimanya dan mau tinggal bersamanya dulu
" Terimakasih sudah mau mengerti tentang perasaan mamah, Rey."
" Sama-sama mah."
Reyhan memang sudah tidak membutuhkan jawaban kenapa ibunya tega mengkhianati papahnya hanya untuk Bagas, karena ia sudah menemukan jawabannya, yaitu karena cinta, seperti ia yang selalu mencintai Najwa dalam hal apapun, ia tidak peduli dengan status Najwa yang sekarang, ia tetap mencintai Najwa, mungkin perasan itu juga sama seperti ibunya, walaupun sudah memiliki tiga anak, tapi ibunya masih tetap mencintai Bagas, dan pada papahnya mungkin hanya menghargainya dan menghormatinya sebagai suami tidak lebih dari itu
" Alvin, ayo kita berangkat, sebentar lagi aku akan ada rapat."
" Iya bang."
" Mah, pah, aku dan Alvin berangkat dulu."
Mereka langsung menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum