
Sudah 3 bulan Najwa bekerja di gedung pengadilan yang baru, yaitu milik Andi, tapi hatinya masih saja tidak goyah, ia masih saja mengabaikan telpon dari Reyhan, ia tidak tau kenapa Reyhan lebih sering menemuinya di rumah, walaupun ia selalu menghindarinya, tapi pria itu tetap saja mendatanginya. Najwa sekarang masih saja sibuk dengan laporan dari kelayennya, bahkan ia mengabaikan Leo yang sudah bosan di ruang itu. Najwa memang hari ini membawa Leo, karena ibunya harus pergi ke butik, jadi ia memutuskan untuk membawa putranya, bukan karena Najwa tidak mampu untuk membayar pengasuh, tapi Najwa tidak percaya dengan orang luar. Tidak lama ada suara ketukan pintu
Tok-tok
Najwa yang mendengar suara ketukan pintu, ia langsung menyuruh untuk masak
" Masuk."
Reyhan langsung masuk ke dalam sambil tersenyum. Leo yang melihat Reyhan, ia langsung berlari kecil mendekati Reyhan
" Deddy!"
Reyhan yang melihat Leo berlari kecil, ia langsung berjongkok agar sejajar dengan Leo
" Apa kabar Deddy?"
" Baik, Leo bagaimana kabarnya?"
" Leo dan mommy juga baik, Deddy."
Reyhan langsung menggendong Leo. Najwa yang melihat percakapan putranya dan Reyhan, ia hanya bisa menghela nafas berat, ia pikir yang masuk ke ruangannya adalah Andi, tapi ternyata bukan. Reyhan langsung mendekati tempat duduk Najwa
" Najwa, aku ingin berbicara denganmu, apa ada waktu?"
" Maaf mas Rey, aku masih sibuk, lain kali saja."
" Sekarang sudah waktunya jam makan siang."
Najwa langsung melihat jam di tangannya, ternyata benar sekarang sudah waktunya makan siang, ia sudah tidak bisa lagi menghindar dengan pria yang ada di hadapannya
" Oh, iya mas."
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu lagi
Tok-tok
Najwa langsung menyuruh orang itu untuk masuk
" Masuk."
Andi langsung masuk ke dalam, ia langsung tersenyum saat melihat Reyhan sedang menggendong Leo
" Oh rupanya ada tamu, Selamat siang pak."
" Siang juga, jangan memanggilku dengan panggilan pak, kamu bukan anak didikku lagi."
Reyhan merasa sangat risih di panggil pak oleh Andi, apa lagi sekarang Andi adalah rekan bisnisnya, karena Andi bukan hanya pemilik gedung pengadilan, tapi ia juga memiliki perusahaan, walaupun itu adalah perusahaan ayahnya, tapi sudah di pindahkan pada Andi
" Tapi biasanya juga selalu memanggil pak."
" Iya, tapi sekarang kamu bukan anak didikku, dan kita juga tidak sedang membahas pekerjaan, jadi kamu boleh panggil Abang."
" Oh, baiklah bang."
Andi memutuskan untuk mengajak Leo, agar masalah mereka cepat selesai, bagaimana pun juga Andi tau kalau Reyhan belum menjelaskan tentang Renata, apa lagi Andi tau Najwa terus menghindarinya
" Leo, kamu makan sama om saja."
Leo yang mendengar ajakan dari Andi, ia langsung menenggelamkan kepalanya di dada Reyhan
" Leo tidak mau, Leo mau sama Deddy."
" Leo, Deddy dan mommy ada hal yang harus di bicarakan, ini tentang hal dewasa, jadi Leo tidak boleh ikut, Leo sama om saja."
Leo langsung mengangkat kepalanya, ia langsung melihat ke arah Andi
" Maksud om Andi, Deddy dan mommy mau pacaran?"
" Leo, siapa yang mengajari berbicara tentang pacaran?"
" Tante Celara dan Tante Calista, Deddy."
Reyhan hanya bisa menghela nafas berat, saat mendengar jawaban dari Leo
" Maksud Leo?"
" Leo sering menonton drama pacaran bersama mereka."
Najwa yang melihat Reyhan sedikit tidak suka dengan ucapan putranya, ia langsung mendekati Reyhan
" Mas Rey, aku minta maaf atas ucapan Leo, mas juga tau kalau aku sangat sibuk, jadi Leo selalu bersama mereka, jujur aku tidak percaya dengan orang asing mas, jadi untuk itu aku tidak mengambil pekerja untuk mengasuh Leo."
" Tidak apa-apa Najwa."
Leo yang menyadari ibunya minta maaf atas ucapannya, ia juga langsung melihat ke wajah Reyhan, lalu ia langsung minta maaf pada Reyhan
" Deddy, Leo minta maaf, Leo tau, mommy suka marah-marah kalau Leo melihat drama bersama mereka, tapi Leo bosan kalau hanya diam, jadi Leo ikut nonton bersama Tante."
" Leo tidak perlu minta maaf pada Deddy, yang jelas Leo harus menjaga ucapan Leo."
" Baik Deddy."
Leo langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri Reyhan
" Deddy, Leo sama om Andi dulu."
" Iya Leo."
Andi langsung mengambil alih untuk menggendong Leo, lalu Andi langsung berbicara pada telinga Reyhan
" Semangat bang."
Setelah itu Andi langsung keluar bersama Leo. Leo langsung melambaikan tangannya pada Reyhan
" Bye Deddy."
Reyhan hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu ia langsung mengajak Najwa untuk makan
" Ayo makan, Najwa."
Najwa hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia menjadi gerogi setelah di ruang itu hanya ada ia dan Reyhan. Reyhan langsung menggandeng tangan Najwa. Najwa yang di gandeng tangannya, ia langsung melepaskan tangannya
" Mas Rey, kita tidak perlu bergandengan tangan, aku tidak enak dengan teman-teman kerjaku, bagaimana pun juga aku baru pulang dari Ausi, yang ada nanti banyak gosip."
" Baiklah."
Reyhan dan Najwa berjalan beriringan ke arah Restoran tersebut, jaraknya hanya 5 menit dari gedung pengadilan. Setelah di Restoran, mereka langsung memesan makanan. Mereka berdua tidak ada yang berbicara, hingga selesai makan. Setelah selesai makan, Najwa langsung membuka pembicaraan
" Mas Rey, aku minta maaf karena Leo memanggil mas dengan panggilan Deddy. Dulu Leo selalu saja bertanya denganku tentang Deddy nya, hingga aku mengatakan kalau Deddy nya sudah meninggal. Aku pikir setelah mengatakan Deddy nya meninggal, Leo tidak akan berharap dengan sosok seorang Deddy, tapi ternyata salah, Leo masih menginginkan memiliki Deddy."
Setelah mengatakan itu, Najwa langsung menghela nafas berat, ia sangat malu dengan Reyhan dari pertemuan terakhirnya saat akan bunuh diri, apa lagi sekarang putranya memanggil Reyhan dengan panggilan Deddy, membuat malunya semakin bertambah. Reyhan langsung tersenyum
" Tidak apa-apa Najwa, aku senang Leo memanggilku dengan panggilan Deddy, dan aku juga berharap bisa menjadi Deddy Leo sesungguhnya."
" Mas Rey, tapi kamu bukan Deddy kandung Leo, dan aku juga takut kalau Renata marah mas, bagaimana pun juga mas harus ingat, mas sudah memiliki istri."
Wajah Reyhan yang awalnya tersenyum ceriah, tapi setelah Najwa mengatakan Renata, wajahnya menjadi sangat murung, ia mengingat kembali kejadian masa lalunya, saat ibu Najwa memberi kabar kalau papahnya meninggal, tapi setelah 3 jam, Renata juga meninggal, dan itu masa-masa sulit untuk Reyhan, harus kehilangan orang yang di sayanginya dalam waktu sehari, hingga tidak terasa air matanya langsung membasahi pelupuk matanya. Najwa yang melihat Reyhan menangis, ia menjadi bersalah, tapi ia juga bingung, di mana letak kesalahannya
" Mas Rey, apa ucapanku salah? Aku minta maaf kalau ucapanku salah, atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada Renata?"
" Ucapanmu sama sekali tidak salah."
Najwa menjadi semakin bingung, dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua