Najwa

Najwa
BAB. 36 Saham



Najwa hanya menghela nafas berat saat mendengar ucapan dari ibunya Reyhan, menurut Najwa ibunya Reyhan sama saja seperti Reyhan, terlalu berlebihan


" Baik Tante, kita ketemu di mana?"


" Tante besok siang langsung ke kantormu saja."


" Baik Tante. Bagaimana dengan Leo Tante, apa tidak rewel?"


" Tidak, Leo sedang main-main dengan papahnya Alvin."


" Maaf kalau Leo suka bikin repot Tante."


" Tidak, kita berdua sangat senang dengan keberadaan Leo di rumah, iya sudah begitu saja, nanti siang Tante ke kantormu."


" Baik Tante."


Najwa dan Rika mengakhiri sambungan telponnya. Najwa langsung meletakkan ponsel Reyhan di meja


" Mamah bilang apa?"


" Besok siang mamahmu akan menjemputku di kantor, untuk mengantarku ke dokter kulit temannya."


Reyhan langsung tersenyum lebar, lalu ia langsung berbisik sesuatu pada telinga Najwa


" Najwa, boleh aku menciummu?"


Najwa hanya menganggukkan kepalanya. Reyhan langsung mencium Najwa dengan sedikit gugup, ini adalah pertama kalinya ia mencium bibir wanita


" Kamu apakan adikku?!"


Najwa dan Reyhan sangat terkejut, saat melihat Andre yang sudah berdiri di depan pintu. Najwa dan Reyhan masih saling diam, Kepalanya langsung menunduk karena malu, apa lagi Reyhan, ini adalah ciuman pertamanya, tapi sudah terpergok oleh Andre


" Katanya bilang tersiram sup panas, tapi kenapa kalian mesum di ruang tamu?"


Setelah saling menunduk, Najwa dan Reyhan langsung membenarkan posisi duduknya. Annisa langsung ke arah ruang tamu


" Eh ada Andre, ayo makan malam bersama."


" Aduh Bunda, mengganggu suasana saja."


Andre memang memanggil Annisa dengan panggilan Bunda, bukan Tente, itu adalah permintaan Annisa agar lebih dekat dengan keponakannya. Andre masih ingan bermain-main dengan Najwa dan Reyhan yang terlihat sangat malu, ia masih ingin menggoda keduanya, tapi ternyata Annisa datang, membuat suasana menjadi kacau balau


" Memangnya ada apa Andre?"


" Aku sedang memergoki kucing mencuri ikan, eh Bunda datang, jadi aku tidak jadi untuk mengejek kucing itu."


Annisa langsung melihat ke arah sekelilingnya, di situ tidak ada kucing, bahkan tidak ada ikan, entah apa yang keponakannya itu bicarakan, ia sama sekali tidak mengerti


" Kucingnya mana Andre? Lalu ikannya mana?"


Pertanyaan Annisa membuat Najwa dan Reyhan menundukkan kepalanya lagi, kalau sampai Andre bilang mereka telah berciuman, pasti mereka berdua akan di ceramahi habis-habisan oleh Annisa, walaupun Reyhan hanya mencium bibir Najwa sekilas


" Kucingnya sudah pergi Bunda, lagian Bunda cerewet, jadi kuncinya kabur."


Kata-kata Andre berhasil membuat Annisa menjewer telinga Andre, ini adalah kebiasaan Annisa, walaupun Andre sudah dewasa, bahkan Andre seorang mafia, tapi tetap saja bagi Annisa Andre hanyalah anak-anak


" Sakit tau telingaku Bunda, tolong lepasin. Aku sudah 29 tahun Bunda, bukan anak-anak lagi. Kenapa Bunda selalu kebiasaan menjewer telingaku?"


" Tapi kamu tetap anak-anak, buktinya kamu tidak bisa melawan Bunda."


" Aduh Bunda, dari pada aku durhaka karena melawan Bunda, lebih baik aku ikhlas di jewer kedua telingaku."


Kata-kata Andre berhasil membuat Annisa menjewer kedua telinganya sambil tersenyum. Najwa dan Reyhan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


" Bagaimana sudah puas?"


" Sangat puas Bunda, ayo makan Bun, aku tidak ingin terlihat kanak-kanakanku di lihat orang asing!"


" Hei! Siapa bilang Reyhan orang asing? Dia juga anak Bunda, bukan orang asing."


" Tapi bagiku, dia adalah orang asing!"


" Sudah ayo makan."


Akhirnya obrolan yang tidak jelas itu di akhiri untuk makan malam. Mereka makan tidak ada pembicaraan, semuanya masih saling diam. Annisa seperti ada sesuatu dengan mereka bertiga yang hanya diam membisu, apa lagi Andre masih menunjukkan senyum mengejek dengan kedua sijoli yang terpergok berciuman


" Masakan Bunda enak, membuat suasana hatiku tenang."


Annisa hanya menggangguk. Setelah selesai makan Andre dan Reyhan langsung pamit pulang


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul 22.00WIB, Reyhan sekarang sudah ada di Golden


" Riki Keman Kenny?"


" Mungkin bentar lagi juga datang Rey, memang kenapa?"


" Aku ingin minta bantuan pada kalian."


Reyhan langsung duduk di sofa, tidak lama Andre dan Riki datang. Arga datang sambil membawa botol minuman


" Tumben, Rey ngajak ketemu di Golden, biasanya juga anak mamih hanya sibuk bekerja dan bekerja."


" Diam kamu Arga."


Bukan tanpa alasan, biasanya Reyhan selalu saja datang ke rumah para sahabatnya jika ada perlu. Tidak lama Rendi datang


" Tumben ada Abang di sini, pantas saja bintang hari ini terang."


" Berisik kamu! Aku kesini hanya ingin meminta bantuan kalian, untuk membeli saham perusahaan keluarga Adipati. Aku selama 5 bulan ini diam-diam membeli saham keluarga Adipati."


Semuanya tampak terkejut, kecuali Andre yang tidak terkejut


" Sejauh ini Alex dan ayahnya memegang empat puluh persen, sepuluh persen di pegang Arman Malik, dan yang sepuluh persen lagi di pegang Andrian Salim."


" Lalu Abang mau bagaimana?"


Biasanya adiknya itu langsung paham, tapi memang semenjak menikah otak adiknya itu selalu saja tidak tanggap setiap kali Reyhan bicara


" Aku heran, semenjak punya istri kamu jadi lemot iya Ren?"


" Maklum Rey, otak adikmu itu isinya hanya istrinya."


Semua orang tertawa saat mendengar ucapan Riki. Memang benar adanya Rendi semenjak menikah selalu pulang lebih awal, dan datang paling telat


" Tolong bantu aku untuk mendapatkan saham dari Arman Malik, dan Andrian Salim."


" Berapa uang yang kamu habiskan untuk membeli empat puluh persen saham itu? Apa kamu sudah gila Rey?"


" Aku tidak peduli dengan uang Kenny, yang jelas aku ingin dua puluh persen saham lagi."


" Bagaimana pun juga Arman Malik mertua Alex, dia tidak akan semudah itu melepaskannya."


Andre yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara


" Inilah yang membuat rencanaku terhambat, Arman Malik adalah seorang pejabat, sulit untuk menyentuhnya."


" Kalau Andrian Salim, biar aku yang urus."


Reyhan bernafas lega saat mendengar Andre bersedia membantunya, kalau Andre bisa mendapatkan sepuluh persen saham dari Andrian Salim, itu artinya Reyhan memiliki lima puluh persen saham


" Tapi aku juga harus mendapatkan sepuluh persen saham dari Arman Malik, kalau sampai berebut kursi kekuasaan, pasti Arman Malik akan berpihak pada Alex."


" Rey, cukup ancam saja Arman Malik untuk mendapatkan saham itu, kita juga bisa melihat kalau kekayaan Arman Malik semakin meningkat, aku yakin dia tidak jujur, lalu kenapa kamu tidak meminta bantuan pada Ayah tirimu saja?"


Siapa yang tidak mengenal Bagas Sanjaya, semua kalangan bisnis juga sudah mengenal kecerdasan dari Bagas Sanjaya. Reyhan hanya menghela nafas panjang saat mendengar pertanyaan dari Riki


" Aku tidak ingin meminta bantuan padanya."


" Sampai kapan Abang masih tidak menerima Bagas Sanjaya sebagai papah tiri Abang?"


Reyhan memang sangat berbeda dengan Rendi. Rendi menganggap semua itu terjadi sudah takdir, tapi bagi Reyhan perselingkuhan ibunya di masa lalu bersama Bagas Sanjaya tidak bisa di maafkan, walaupun kata mulut bisa, tapi kata hati Reyhan masih tetap tidak bisa menerima kehadiran Bagas Sanjaya di hidupnya


" Aku tidak tau."


Andre hanya menepuk-nepuk punggung Reyhan, walaupun tidak tau permasalahannya, tapi ia bisa melihat kalau Reyhan tidak bisa menerima Bagas Sanjaya sebagai Ayah tirinya