Najwa

Najwa
BAB. 37 Belum memafkan masa lalu



Rendi juga menghela nafas berat, lagi-lagi kakanya masih saja belum menerima Bagas Sanjaya sebagai Ayah tirinya, kalau di bilang sulit, Rendi juga sulit untuk menerimanya, tapi semuanya sudah takdir, tidak bisa di hindari


" Bang, aku tau Abang masih belum bisa menerimanya, tapi jangan terlalu egois, sekarang Abang sedang membutuhkan bantuan dari Bagas Sanjaya."


" Aku tidak tau harus mulai bicara dari mana, bahkan sekedar tegur sapa saja aku terlalu sulit untuk berbicara, rasanya seperti tercekik setiap kali berbicara dengannya. Aku juga tidak membencinya, aku hanya benci kelakuannya, tapi aku juga tidak sepenuhnya menyalahkan dia, aku tau, semuanya terjadi atas dasar mau sama mau, tapi aku sebagai anak, aku merasa sangat tidak berguna, jelas-jelas mamah sudah memiliki anak-anak, tapi masih saja mau dengan laki-laki di masa lalunya."


Menurut Reyhan luka lamanya tidak pernah sembuh, hatinya selalu saja tidak bisa berdamai dengan masa lalu, kalau di pikir secara pikiran jernih, harusnya yang lalu biarlah berlalu, tapi tetap saja ia tidak bisa menerimanya


" Rey, aku tau masalah di masa lalumu, tapi benar apa kata Rendi, hanya Bagas Sanjaya yang bisa membantumu, kita tidak tau bagaimana caranya untuk mengungkapkan kebusukan tentang Arman Malik, hanya dia satu-satunya yang bisa mengungkap semuanya."


Riki pun angkat bicara saat melihat Reyhan mulai murung dan kekeh tidak mau meminta bantuan pada Bagas Sanjaya


" Aku akan mencobanya."


Akhirnya mau tidak mau Reyhan mengatakan untuk meminta bantuan dari Ayah tirinya, walaupun ia sangat tidak mau, tapi ia sangat membutuhkannya, kalau tidak meminta bantuan, ia juga tidak tau harus bagaimana lagi agar mendapatkan saham dari Arman Malik. Semua orang yang di situ tersenyum saat Reyhan menyetujui saran dari adik dan sahabatnya. Kenny memutuskan untuk bertanya pada Reyhan, ia sangat penasaran dengan tujuan Reyhan yang menginginkan saham perusahaan dari Adipati


" Apa ini ada kaitannya dengan adik tirimu Rey? Kamu tidak mungkin mau berurusan dengan orang lain, apa lagi berebut kursi kekuasaan, itu bukan sifat kamu."


" Iya, ini ada kaitannya dengan adik tiriku. Mereka mencoba merebut Leo dari ibu kandungnya."


" Kenapa bisa Rey?"


" Leo adalah anak kandung Alex, ini adalah satu-satunya cara agar mereka tidak menganggu Najwa dan Leo lagi."


Temen-temen Reyhan dan adiknya Reyhan hanya menatap Reyhan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menurut mereka cinta Reyhan pada Najwa tidak pernah mati, dari usia Najwa masih 16 tahun, hingga sekarang, bahkan Najwa sudah memiliki anak, tapi Reyhan masih saja mencintai Najwa


" Aku sangat kagum denganmu, dari dulu kamu masih saja mencintai wanita yang sama."


Riki bukan hanya memuji dari mulut, ia memang sangat kagum dengan kesetiaan dan kesabaran Reyhan untuk mendapatkan Najwa


" Tidak perlu ada kata kagum, dia memang wanita satu-satunya yang bisa membuat aku jatuh cinta."


Para sahabatnya dan adiknya hanya mengangguk-angguk


" Jaga yang benar adikku Rey. Awas saja kalau membuat adikku menangis lagi seperti kemarin!"


" Tunggu dulu, jangan bilang kalau wajah Abang bonyok itu karena ulah Andre?"


Reyhan tidak menjawab pertanyaan dari adiknya, ia hanya tersenyum. Sedangkan Rendi, sorot matanya tajam menatap sahabatnya itu


" Rey sudah membuat Najwa menangis, dan lain kali kalau Rey tidak bisa menepati janjinya, kamu juga tau apa yang akan aku lakukan pada abangmu itu."


Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ancaman dari Andre


" Ternyata benar, adikku dan Andre sama gilanya." batin Reyhan


" Aku tidak tau, bisa memegang janjiku atau tidak, tapi yang jelas aku mencintai Najwa dari dulu. Aku sudah menantikan untuk bersamanya sudah lama, tentu aku akan melakukan apapun untuknya, asalkan aku bisa bersamanya."


" Gila memang kamu Rey, banyak wanita, tapi masih saja kamu mencintai wanita yang sama."


Kata-kata Kenny membuat Andre menjitak kepala Kenny


" Itu balasan kalau punya mulut tidak di jaga."


" Sadis banget sahabat kamu Rendi."


Kenny mengusap-usap kepala yang dapat jitakan dari Andre


" Iya, katakan saja kalau aku memang sudah gila."


Reyhan memang tidak bisa memungkiri, ia memang sangat mencintai Najwa, bahkan saat di Perancis, ia pernah menangis saat merindukan Najwa, ia saat itu ingin sekali menelponya, tapi ia tidak tau harus berbicara apa pada Najwa, ia takut Najwa sudah membencinya karena ia mengaku sudah memiliki calon istri


" Iya ampun, ada iya orang di bilang gila sama sahabatnya mau."


" Biarkan saja Riki, apa yang Kenny katakan memang benar."


Mereka langsung meminum alkohol yang sudah di sediakan, hanya Reyhan yang menatap gelas itu lalu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan Reyhan tidak suka minum alkohol, tapi janji di masa lalu dengan adik perempuannya harus ia tepati, selama ia tidak memiliki masalah yang berat, ia tidak akan meminum alkohol untuk melupakan masalahnya


" Ternyata setelah dari Perancis kebiasaan mabukmu sudah hilang Rey?"


Andre menatap Reyhan dengan tatapan tidak percaya kalau Reyhan adalah laki-laki pemabukan. Reyhan mengerti dengan tatapan Andre


" Aku bukan laki-laki pemabuk, tapi saat itu masalahku terlalu berat, jadi jangan berbicara seperti Kenny."


Kenny yang mengerti dengan tatapan Andre pada Reyhan, ia langsung menjelaskan masa lalu Reyhan


" Jangan salah paham dulu Andre, Rey memang bukan laki-laki pemabuk, saat itu masalahnya terlalu berat untuk Rey, papahnya menikah lagi dengan ibunya Najwa, sedang Rey sangat mencintai Najwa, tapi Najwa harus menjadi adik tirinya, kedua hidup adik perempuannya sudah di ponis tersisa 6 bulan lagi, Rey harus menanggung beban itu seorang diri, tidak ada yang tau kalau penyakit adiknya sudah sangat parah, dan aku juga yakin kamu tidak tau kan Rendi soal itu?"


" Iya, aku tidak tau kalau adikku sudah di ponis, yang aku tau kondisi adikku memang sudah melemah."


Andre langsung menganggukkan kepalanya, ia paham dengan situasi yang Reyhan alami di masa lalu, bahkan mungkin kalau ia di posisi yang sama juga akan melakukan hal yang sama, akan meminum alkohol untuk melupakan masalahnya beberapa saat


" Baiklah, jadi soal membahas tentang saham cukup sampai di sini saja, aku akan meminta bantuan Bagas Sanjaya untuk mendapatkan saham perusahaan dari Arman Malik."


" Begitu-begitu juga papah tirimu Rey, jangan katakan Bagas Sanjaya, kamu itu sudah seperti orang asing saja padanya."


" Bagas Sanjaya memang orang asing buatku, kalau saja tidak mengingat pesan terakhir papah dan Renata, mungkin mulutku juga masih belum bisa memafkan perbuatan mereka."


Riki hanya bisa menghela nafas berat, Reyhan memang berbeda dari kedua adiknya, Rendi dan Renata memang mudah emosi, tapi juga mudah memafkan, berbeda dengan Reyhan, selama ia bersahabat dengan Reyhan dari SD, Reyhan tidak pernah menunjukkan kemarahannya pada siapapun itu yang mengusik hidupnya, tapi tentang perselingkuhan ibunya dan Bagas Sanjaya, Reyhan sangat sulit untuk memafkan mereka, jelas-jelas mereka berdua sudah menikah untuk tidak berbuat dosa lagi, tapi Reyhan masih saja sama, ia tidak bisa menerimanya