
Seperti yang Reyhan rencanakan, sudah 1 Minggu ini Reyhan membawa Leo ke rumah orang tuanya. Setiap kali Leo pulang dari rumah orang tua Reyhan, ia selalu bercerita kalau di rumah itu sangat menyenangkan, setidaknya mereka menerima Leo sebagai tamu dengan baik, apa lagi Leo juga sekarang sudah tidak mengeluh lagi karena tidak ada teman di rumah. Najwa sekarang sudah ada di restoran bersama Shireen, wajahnya memperlihatkan kesal dan kelelahan, memang selama 1 Minggu ini Najwa terus saja di uber-uber oleh keluarga Adipati
" Najwa, kenpa dengan wajahmu seperti sangat kesal dan kelelahan, bukan'kah Andi sudah mulai mengurangi pekerjanmu?"
" Pusing aku mbak, keluarga Adipati sudah seperti rentenir, terus saja nguber-nguber aku."
Shireen hanya tertawa terbahak-bahak, melihat teman barunya sekaligus pengacaranya itu memasang wajah kesal dan kelelahan, ini memang pertama kalinya Shireen melihat wajah Najwa sangat kesal dan lelah
" Yang mana, yang terus nguber-nguber kamu, Alex, Alena, Siska, atau nyonya Adipati?"
" Semuanya, coba saja mbak bayangkan bagaimana aku tidak stres, kalau mereka terus nguber-nguber aku seperti orang gila."
" Abaikan saja Najwa, orang seperti mereka tidak pantas di kasih hati."
Najwa hanya mengangguk setuju, biarkan saja mereka kelimpungan dengan masalah yang di buat sendiri
" Bagaimana masalah dengan nyonya Adipati?"
" Sudah berkali-kali pengacaranya datang untuk mengajak damai dengan iming-iming uang."
Shireen langsung menggelengkan kepalanya, wanita itu pikir semua masalah akan bisa di selesaikan dengan uang
" Panjang umur, liat itu siapa yang datang Najwa."
Mata Shireen menujuk ke arah wanita itu. Mata Najwa mengikuti ke arah mata Shireen, benar saja ada empat orang wanita paru baya dengan dandanan ala sosialita, dan sepertinya baru saja datang ke restoran. Saat tatapan mereka bertemu, wanita itu langsung berbisik-bisik, lalu langsung menghampiri meja mereka. Najwa langsung menghela nafas panjang, entah drama apa lagi yang akan dia buat
" Kamu masih bisa duduk santai, setelah membuat kekecewaan di keluarga saya, apa yang ada di dalam otakmu itu? Berani-beraninya kamu menyebarkan video itu dan melaporkan saya!"
Sella berdiri dengan angkuh di samping meja Najwa, suaranya yang keras langsung memancing perhatian banyak pengunjung
" Anda sedang bicara dengan saya?"
" Jangan bertingkah kamu, anak kemarin sore ingin berurusan dengan saya!"
" Kalau bicara dengan saya, anda silahkan duduk dulu. Orang lain akan menganggap anda tidak sopan, kalau berdiri sambil berteriak-teriak begitu."
Najwa masih merendahkan amarahnya. Banyak orang yang menatap penasaran dengan mereka
" Saya tidak akan sudi duduk satu meja dengan wanita murahan seperti kamu."
" Kalau begitu anda bisa pergi, saya sedang berbicara dengan Client di sini, jadi tolong jangan mengganggu saya bekerja."
" Cabut tuntutanmu, bilang saja berapa uang yang kamu inginkan."
Najwa dan Shireen tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya, melihat Sella yang masih tetap saja sombong seperti dulu
" Tidak semuanya bisa di selesaikan dengan uang nyonya. Anda datang ke kantor saya, lalu menghina dan melakukan kekerasan pada saya, jadi sudah sewajarnya kalau saya menuntut Anda."
Sella menatap Najwa dengan tatapan tajam, wajahnya sudah merah padam menahan amarah
" Coba saja Anda tanya pada orang-orang di sini, mereka pasti akan melakukan hal yang sama seperti saya."
" Saya tidak butuh omong kosongmu, tinggal katakan saja apa maumu?"
" Apa masih kurang jelas yang saya katakan saat itu? Anda tinggal minta maaf saja pada Bunda saya, maka saya akan mencabut tuntutan itu."
Sella semakin marah, ia langsung menyiram Najwa dengan jus yang di meja Najwa
Byur...
" Hei, apa-apa Anda ini!"
" Kamu pikir siapa kamu, berani-beraninya menyuruh saya untuk minta maaf!"
" Kalau sekedar minta maaf saja tidak bisa, maka kita akan tetap bertemu di pengadilan. Saya tau anda banyak uang, tapi tidak semuanya bisa di beli dengan uang."
" Tidak perlu meladeni orang seperti ini Najwa, percuma hanya menguras tenaga. Ayo kita pergi dari sini."
Najwa langsung berdiri, lalu langsung mengambil tasnya, tapi Sella masih ingin melanjutkan keributan di sini
" Serahkan anak itu, Kalau kamu menolak, saya akan merebutnya dari kamu!"
Najwa tersentak saat mendengar ancaman dari Sella, amarah yang berusaha ia tahan, hingga tidak bisa ia tahan lagi
" Dari sekian banyak orang, hanya Anda yang tidak berhak menyebut anak itu, kalau Anda begitu menginginkan cucu, untuk apa mengambil anak itu? Bukan'kah putri Anda sedang hamil, walaupun harus hamil di luar nikah."
Kata-kata Najwa membuat amarah Sella meledak. Sella langsung mendorong keras kursi yang ada di sampingnya, tangannya terangkat tinggi siap untuk menampar Najwa, tapi apa yang Sella lakukan membuat terkejut seorang pelayan yang lewat sambil membawa nampan berisi tiga sup panas, tangan Najwa langsung bergerak cepat untuk menangkap nampan yang terjatuh, hingga hampir menyiram pengunjung yang lain di samping meja Najwa, tapi Najwa terlambat hingga sup itu tumpah mengenai tangannya dan sebagian pahanya, membuat Najwa menjerit kesakitan
" Aaa.."
" Najwa!"
Shireen langsung menjerit, termasuk orang-orang yang melihat Najwa
" Lihatlah itu akibatnya kalau memiliki mulut lancang dan tidak sopan."
Setelah selesai memaki Sella tersenyum puas, ia langsung pergi dari situ. Najwa meringis kesakitan, dan Shireen hampir menangis saat melihat keadaan Najwa. Pemilik restoran tersebut langsung menghampiri mereka
" Maaf atas keteledoran pelayanan kami, tolong anda ikut ke staf. Kami akan mengobati luka anda."
" Baik. Ayo Najwa, kita harus segera cepat mengobati lukamu."
Najwa berjalan tertatih di bantu oleh Shireen
" Tunggu, kami ikut bersama kalian."
Najwa dan Shireen langsung menoleh, mereka adalah dua wanita paru baya, yang duduk di samping meja Najwa, yang akan tersiram oleh sup tadi langsung mengikuti Najwa dan Shireen. Pemilik restoran itu langsung membawa ke ruangan staf. Shireen meringis saat melihat keadaan tangan dan paha Najwa yang sudah merah
" Kita ke rumah sakit saja Najwa, aku takut lukamu inspeksi."
" Di mobilku ada baju bersih mbak, tolong ambilkan bajuku, aku ganti baju dulu baru ke rumah sakit."
Najwa langsung mengulurkan kunci mobil pada Shireen. Shireen langsung mengambil kunci mobil Najwa, lalu pergi untuk mengambil baju ganti. Wanita paru baya yang tadi mengikuti mereka langsung mengambil kotak obat yang di serahkan pemilik restoran
" Biar saya bantu untuk mengobati lukamu."
" Terimakasih."
Najwa meringis saat wanita itu mengoleskan salep di tangannya
" Terimakasih tadi sudah menolong kami, kalau tidak kami yang akan terluka di sini."
" Tidak perlu berterimakasih, kalau kalian yang terluka, justru saya yang akan merasa bersalah. Semua ini karena saya, jadi tidak perlu merasa tidak enak begitu Tante."
" Kamu Najwa, ibunnya Leo kan?"
Najwa langsung menodongkkan kepalanya, ia langsung melihat ke arah wanita paru baya yang duduk di depannya sambil mengoleskan salep di tangan Najwa
" Siapa dia? Kenapa dia tau kalau aku adalah ibunya Leo? batin Najwa