
Sudah 2 Minggu dari pertemuan Reyhan dan Najwa. Reyhan masih termenung saat Kenyataan pahit yang harus di terima oleh Gadis yang Reyhan cintai. Setelah pertemuan di atas jembatan itu, Reyhan memang sudah menyuruh asistennya untuk mencari tau tentang Najwa. Reyhan sangat terkejut saat mengetahui segalanya, bahkan Reyhan juga tau pagi tadi Najwa berangkat ke Ausi. Sebenarnya Reyhan ingin minta maaf pada Najwa, tapi Reyhan tidak tau, harus dari mana ia memulai pembicaraannya. Reyhan tidak membenci Najwa, atas apa yang menempa Najwa sekarang, tapi ia sangat membenci dirinya sendiri, atas sandiwara yang ia buat, hingga membuat Najwa hamil di luar nikah. Reyhan yakin Najwa berani melakukan itu karena dulu ia bersandiwara calon istrinya hamil
" Rey, tidak seharusnya kamu bersandiwara seperti itu dulu, kenapa kamu begitu bodoh Rey, hingga membuat Najwa hamil karena mengikuti jejekmu." batin Reyhan
Reyhan memutuskan untuk minta maaf pada ibu tirinya, ia tidak ingin ibu tirinya membencinya atas contoh yang ia buat untuk Najwa. Reyhan langsung mengajak asistennya untuk pergi ke rumah ibu tirinya
" Pak Samsul, antar aku pergi ke rumah Najwa."
" Baik Den."
Reyhan langsung pergi ke rumah ibunya Najwa bersama Pak Samsul. Setelah menempuh perjalanan 15 menit, mereka sampai di rumah itu. Reyhan berdiri di depan pintu, ia langsung mengatur nafasnya
Tok-tok
Asisten rumah tangga itu langsung membuka pintu
" Eh den Reyhan."
BI Minah langsung menyapa Reyhan, kebetulan ia sudah kenal dengan tamu tersebut
" Bunda ada bi?"
" Ada den, di ruang tengah."
Reyhan langsung masuk ke dalam, ia langsung berjalan ke ruang tengah, lalu Reyhan langsung memanggil ibu tirinya dengan lirik
" Bund."
Annisa yang melihat putra tirinya, ia langsung berdiri
" Rey, akhirnya kamu mau datang ke rumah Bunda."
Reyhan langsung berlutut di kaki ibu tirinya. Annisa langsung membangunkan putra tirinya
" Apa yang kamu lakukan Rey, bangun, kamu tidak boleh seperti itu."
Annisa langsung mengajak putra tirinya duduk di sofa. Mereka berdua masih saling memegang tangan
" Bund, aku minta maaf, atas apa yang aku lakukan."
" Rey, Bunda yang harusnya minta maaf, Bunda tau, kamu mungkin sangat membenci Bunda, karena Bunda tau kamu tidak pernah mabuk-mabukan, tapi semenjak papahmu menikah dengan Bunda, kamu sering mabuk-mabukan, maafkan Bunda, dan terimakasih sudah mau datang lagi ke rumah Bunda."
" Rey, apa maksudmu? Kenapa kamu tidak bisa menganggap Najwa sebagai adik tirimu, dan sandiwara apa? Bukan'kah kamu tidak pernah bertemu Najwa lagi setelah malam itu kamu pergi?"
" Bund, sebenarnya aku bertemu lagi setelah pergi 2 Minggu dari rumah ini, karena Najwa terus menghubungiku dan terus mengirim pesan, untuk itu aku menemui Najwa, dan menyuruh Najwa untuk melupakan aku."
" Maksudmu apa Rey?"
" Bund, biarkan aku menceritakan dari awal tentang aku dan Najwa."
Annisa hanya menjawab dengan anggukan kepala
" Pertemuan pertamaku dengan Najwa, saat itu Najwa sedang di bully oleh teman sekolahnya, lalu aku menolong Najwa, dan di pertemuan pertama juga, aku sudah jatuh cinta pada Najwa, untuk itu aku memutuskan untuk menjadi guru di kelas Najwa, aku hanya ingin melindungi Najwa. Setelah beberapa bulan kita sering bersama, aku tau Najwa juga mencintaiku, tapi aku dan Najwa belum memiliki hubungan, aku ingin Najwa berpikir dengan matang, kalau Najwa mencintaiku, karena bagaimana pun juga usiaku dengan Najwa berbeda 12 tahun. Setelah 1 tahun aku bersama Najwa, papah memintaku ijin untuk menikahi Bunda, aku tidak bisa menolak, aku hanya bisa menerima pernikahan itu."
" Rey, kenapa tidak katakan pada Bunda dari awal? Kalau kalian berdua saling mencintai, tentu Bunda tidak akan menikah dengan papahmu."
" Aku hanya ingin papah bahagia, aku hanya ingin papah membina rumah tangga lagi, sudah terlalu lama papah terpuruk atas perselingkuhan mamah. Mamah selingkuh dengan mantan pacarnya, entah apa yang ada di dalam pikiran mamah, hingga menghiantai papah, jelas-jelas sudah memiliki 3 anak, tapi mamah tidak memberikan contoh yang baik, walaupun sekarang mamah menikah dengan pria itu. Aku sebagai anak, aku sangat membenci mamah, tapi papah selalu menasehati aku dengan baik, agar aku tidak membenci mamah, dan untuk itu aku mengijinkan papah menikah lagi."
Annisa yang melihat mata putra tirinya memerah, ia langsung mengelus-elus punggungnya, ia tau kisah orang tuanya sangat menyedihkan
" Bund, itu kenapa aku tidak bisa menerima Najwa sebagai adik tiriku, aku sangat mencintai Najwa, tapi di sisi lain aku juga tau papah mencintai Bunda, untuk itu aku memilih melepaskan Najwa dengan cara yang salah, seharusnya aku tidak bersandiwara saat itu, mungkin Najwa tidak akan seperti ini. Aku saat itu membawa Renata untuk berpura-pura menjadi calon istriku, karena aku tau Najwa belum tau kalau Renata adalah adikku, jadi aku bilang pada Najwa kalau aku akan menikah. Bukan hanya itu, Renata juga mengaku sedang mengandung anakku. Mungkin Najwa melakukan itu karena Najwa pikir, Alex juga pria sepertiku yang akan bertanggung jawab. Bund, maafkan aku."
Reyhan langsung berlutut lagi di kaki ibu tirinya, ia memang sangat menyesal atas apa yang menempa Najwa. Annisa langsung membangunkan putra tirinya
" Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri Rey, ini pelajaran untuk Najwa, tidak semua pria memiliki sifat baik sepertimu. Bunda tidak pernah menyalahkan siapapun di sini Rey, apa lagi melihat Najwa yang memilih untuk mandiri, Bunda bahkan sangat bahagia, walaupun Najwa terpaksa mandiri, tapi Bunda harap Najwa menjadi wanita yang tangguh."
" Bun, ijinkan aku untuk menikahi Najwa."
" Kamu yakin Rey dengan ucapanmu? Kamu harus ingat Najwa sekarang bukan Gadis lagi"
" Yakin Bun, aku mencintai Najwa apa adanya Bun."
" Bunda akan mengijinkan, tapi nanti setelah Najwa pulang dari Ausi, biarkan Najwa menata hidupnya kembali, biarkan Najwa bertanggung jawab atas kesalahannya, terimakasih Rey, kamu masih saja mencintai Najwa, setelah keselahan besar yang Najwa buat."
" Bun, harusnya aku yang berterimakasih, bukan bunda, karena aku terlalu banyak membauat kesalahan. Bund, apa aku boleh menyusul Najwa ke Ausi? Aku tidak bisa lagi jauh dari Najwa, sudah cukup 1 tahun lebih aku meninggalkan Najwa, aku tidak ingin kehilangan Najwa lagi, walaupun aku tau hati Najwa bukan namaku lagi, tapi aku akan berusaha mendapatkan hati Najwa kembali."
" Bunda percaya kamu bisa mendapatkan hati Najwa kembali, tapi Bunda minta, jangan dulu untuk menemui Najwa. Najwa juga baru berangkat hari ini, kalau kamu kuatir, kamu bisa menelpon Najwa, tapi tidak untuk menemuinya, biarkan Najwa berdiri sendiri, tanpa ada orang di belakangnya, biarkan Najwa belajar bertanggung jawab. Rey, bunda juga minta maaf, mungkin kalau bunda tau kamu dan Najwa saling mencintai, keadaannya tidak akan seperti ini, maafin bunda nak."
" Bunda tidak perlu minta maaf padaku, semua terjadi karena sudah takdir."