
Najwa berhenti di atas jempatan, ia memutuskan untuk bunuh diri, tidak ada gunanya ia hidup, hanya akan membuat malu ibunya
" Aku tidak tau, apa salahku di masa lalu, kenapa hidupku selalu saja menyedihkan, dari papah meninggalkanku untuk selamanya, teman sekolahku membulliku, mas Reyhan menikah, dan Alex, menyuruh menggurkan kandunganku. Najwa, mati saja, percuma kamu hidup hanya akan menjadi aib Bunda, mati saja Najwa!" batin Najwa
Air mata Najwa semakin deras, ia mengelus perut ratanya, begitu menyedihkan kehidupannya, lagi-lagi ia harus menangis dan menangis
" Maafkan aku Bund, aku tidak bisa menjadi anak yang baik, maafkan aku telah mengecewakanmu."
Mata Najwa menatap nanar ke arah bawah jembatan itu. Hening, hanya ada suara hujan yang menemani ia sekarang
" Nak, maafkan Bunda, yang tidak bisa menjadi ibu yang baik, sekarang kita pergi, di tempat yang jauh, agar orang tidak bisa menyakiti kita."
Najwa langsung memejamkan mata, ia sudah akan melompat ke arus sungai, tapi tiba-tiba tubuh Najwa di tarik keras ke belakang hingga ia terjatuh, ia masih memejamkan mata, rasanya bukan aspal atau pun sungai, tapi ia terjatuh di atas tubuh Kokoh milik seorang pria yang masih telentang sambil memeluk erat pinggang Najwa. Pria itu langsung bertanya pada Najwa
" Kamu apa-apaan?! Apa kamu sudah gila! kamu bisa mati kalau lompat dari jembatan setinggi itu!"
Teriakkan keras pria itu seperti mengembalikan kembali akal sehat Najwa, bahkan Najwa tidak menyadari suara pria itu, pria yang pernah ada di dalam hatinya dulu. Najwa duduk bersimpuh di atas aspal dengan tubuh yang menggigil. Pria itu juga belum menyadari Gadis yang duduk bersimpuh di atas aspal itu siapa, karena ia masih terlalu panik dengan kejadian tadi. Pria itu langsung membantu Najwa berdiri, lalu langsung membawanya berteduh di bawah pohon besar yang tak jauh dari jembatan. Najwa langsung menangis sekencang-kencangnya, ia lelah dan benar-benar lelah dengan kehidupannya, hingga akan melakukan bunuh diri
" Apa yang hampir saja aku lakukan. Najwa kenapa kamu menjadi tidak waras." batin Najwa
Pria itu yang mendengar suara tangisannya, ia langsung menatap wajah Gadis yang ia tolong dengan seksama, ternyata ia mengenali Gadis yang ia tolong, bahkan hingga 1 tahun lebih, Gadis itu terus saja terbayang di ingatanya, ia langsung memanggilnya dengan suara lirih
" Najwa."
Najwa yang di panggil namanya, ia pun sadar pria yang menolongnya adalah pria yang pernah ada di dalam hatinya
" Mas Rey."
Reyhan langsung memeluk Najwa sangat erat, ia memang tidak pernah bisa melupakan Najwa, pikiran dan hatinya selalu ada nama Najwa, tapi ia enggan untuk menemui Najwa, ia memang sudah pulang dari Perancis 1 bulan yang lalu, tapi ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana pada Najwa, dan harus menjelaskan apa tentang Renata, ia terlalu takut kalau Najwa semakin membencinya. Najwa tidak membalas pelukan dari Reyhan, ia diam membeku, dan malu dengan keadaannya yang sekarang, dulu Reyhan yang menjaganya dengan baik, hidupnya selalu baik-baik saja, tapi setelah 1 tahun lebih, hidup ia sangat menyedihkan. Reyhan langsung melepaskan pelukannya
" Najwa, aku tidak tau kenapa kamu ingin melompat dari jembatan itu, tapi apapun masalahmu jangan pernah punya pikiran ingin mengakhiri hidupmu sendiri, itu tindakan yang sangat bodoh, ingat, Bunda hanya memilikimu, jika sampai kamu tidak ada, bagaimana dengan kehidupan Bunda?"
Reyhan masih memanggil ibu tirinya dengan panggilan Bunda, walaupun ayahnya sudah meninggal 8 bulan yang lalu, tapi ia sudah terbiasa memanggilnya seperti itu
" Apa hakmu untuk menasehatiku?, berhenti memanggil Bunda! Dia bukan Bundamu!"
" Najwa, dia tetap Bundaku."
" Papah sudah meninggal mas, jadi jangan pernah panggil Bunda dengan panggilan Bunda!"
" Najwa, ayo kita ke mobil sekarang, di sana ada jas dan handuk kecil."
" Tidak perlu, aku bisa mencari taksi."
" Najwa, sekarang hujan deras, di jalan ini sepi, tidak akan ada taksi yang lewat, kamu boleh benci denganku, tapi tolong jangan keras kepala."
" Apa hakmu?!"
" Ingat Najwa, aku ini adalah Kaka tirimu!"
" Sudah aku katakan! Jangan pernah menganggap aku sebagai adik tirimu!"
Reyhan tidak meladeni ucapan Najwa lagi, ia langsung mengangkat tubuh Najwa di bahunya, seolah-olah ia seperti sedang menyulik seorang Gadis, walaupun Najwa memberontak, ia tidak peduli dengan hal itu. Setelah sampai di dalam mobil, Reyhan langsung memberikan jasanya pada Najwa
" Najwa pakailah, dan keringkan rambutmu."
" Tidak!"
Reyhan langsung memakaikan jasnya dengan paksa, lalu langsung mengeringkan rambut Najwa
" Jangan menyentuhku!"
" Najwa, berhentilah egois, tubuhmu bisa sakit!"
Setelah Reyhan membentaknya, Najwa diam membisu, ia tidak menolak apa yang Reyhan lakukan, walaupun ia sangat malu sekarang, lagi-lagi Reyhan yang menyelamatkannya, entahlah apa pria di sampingnya masih bisa ia anggap seperti malaikat tak bersayap seperti dulu, seperti pertemuan pertama saat Reyhan menolongnya dari pembully-an anak-anak sekolah, karena hanya pria ini yang lagi-lagi muncul saat ia mendapatkan masalah. Setelah selesai mengeringkan rambut Najwa, Reyhan langsung melajukan mobilnya untuk mengantar Najwa pulang, ia juga tidak ingin bertanya kenapa Najwa akan bunuh diri, yang jelas ia merasakan hatinya sakit, saat Gadis yang ia cintai hidupnya sangat menyedihkan, bahkan ia menyesalinya, harusnya dulu ia tidak melepaskan Najwa, mungkin hidup Najwa tidak akan seburuk ini, tapi situasi dan kondisi saat itu ia juga tidak ada alasan untuk mempertahankan Najwa
" Najwa, aku menyesal telah melepaskanmu, aku pikir hidupmu akan baik-baik saja, tapi ternyata di luar dugaanku. Najwa, apa aku bisa mengisi hatimu kembali seperti dulu, jujur sampai saat ini aku tidak bisa melepaskanmu, semakin aku mencoba melepaskanmu, semakin membuat aku tersiksa, bayang-bayangmu selalu ada di otakku." batin Reyhan
Reyhan menyetir sambil sesekali melihat ke arah Najwa yang hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, entah apa yang sebenarnya terjadi pada Najwa, Reyhan juga sangat penasaran, tapi ia tidak ingin bertanya pada Najwa. Reyhan berharap waktu yang akan menjawab semua keadaan Najwa sekarang. Najwa terus menatap nanar sambil terus berbicara di dalam hatinya
" Kenapa harus mas Rey yang menolongku, kenapa pria di sampingku selalu seperti malaikat tak bersayap, lagi-lagi mas Rey yang menolongku." batin Najwa
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka sampai di depan rumah Najwa. Sebelum Najwa turun, Reyhan langsung berbicara
" Najwa, jangan lupa langsung mandi, setelah itu makan dan minum obat kalau merasa sakit, lalu langsung istrihat."
Najwa yang mendapat perhatian dari Reyhan, ia hanya tersenyum kecut. Menurut Najwa Reyhan masih seperti dulu, Reyhan selalu cerewet saat melihat kondisi Najwa yang tidak baik-baik saja. Najwa hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu ia langsung melepaskan jas milik Reyhan, setelah itu ia langsung turun dari mobil tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut Najwa