
Jam baru saja menunjukkan pukul 03.00WIB, Najwa terbangun karena ia merasa mual, dan kepala yang sangat sakit, ia langsung lari mencari kamar mandi untuk ke toilet, setelah memuntah, ia langsung mencuci mulutnya berkali-kali. Setelah selsai Najwa baru sadar kalau ia tidak di kamarnya, melainkan di kamar yang tidak asing, yaitu kamar Reyhan. Najwa langsung melihat ke baju yang ia pakai, kemeja polos kebesaran seperti daster di tubuhnya. Najwa langsung balik lagi ke arah ranjang, ia melihat Reyhan tertidur sambil telanjang dada
"Alkohol sialan! Apa saja yang sudah aku lakukan bersama laki-laki brengsek ini ."
Najwa langsung menjambak rambutnya sendiri, ia mencoba mengingat kejadian semalam, tapi ia hanya ingat Reyhan memaksanya keluar dari bar, lalu berciuman di mobil, setelah itu ia tidak ingat apa-apa. Najwa langsung memukul perut Reyhan
Bruk..
" Sialan! Dasar bajingan! Berani sekali kamu mencari keuntungan di saat aku sedang Mabuk! Apa ini sipatmu yang sebenarnya? Bilang tidak pernah mencium siapapun selain aku, tapi ternyata kamu berani meniduriku!"
Reyhan hanya mengerutkan keningnya bingung, bahkan perut yang di pukul Najwa tidak merasakan sakit, hanya saja kepalanya sedikit pusing, karena semalam Najwa berkali-kali muntah, hingga membuat Reyhan berkali-kali mengganti bajunya, dan berkali-kali juga menyuruh asisten rumah tangga untuk mengganti pakaian Najwa, karena lelah akhirnya Reyhan memutuskan untuk tidur telanjang dada di samping Najwa. Reyhan langsung duduk
" Apa maksudmu, Najwa?"
" Apa kamu bilang apa maksudku? Apa yang kamu lakukan semalam? Aku memang wanita murahan, tapi kamu lebih brengsek! Sudah! Aku mau pulang!"
Najwa langsung mengambil tasnya di meja samping ranjang, sebelum Najwa melangkah, Reyhan langsung memeluk Najwa dari belakang
" Aku tidak melakukan apa-apa padamu, semalam kamu berkali-kali muntah, itu kenapa aku menyuruh BI Ira untuk menggantikan pakaianmu. Kalau masalah aku telanjang dada, saat akan menyelimutimu, tapi kamu selalu muntah di bajuku. Najwa, walaupun kamu bilang aku berengsek, tapi aku tidak akan sebrengsek itu."
" Terserah! Aku mau pulang!"
" Tolong jangan tinggalkan aku."
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya, ia semakin merasa takut, takut kalau Najwa benar-benar meninggalkannya. Najwa mencoba melepaskan tangan Reyhan yang sedang memeluk pinggangnya
" Hubungan kita sudah selesai mas, tolong jangan seperti ini."
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya pada Najwa
" Apa maksudmu dengan mengatakan selsai? Jangan harap! Aku tidak mau, Najwa!"
" Brengsek! Sudah aku katakan, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."
Dari kemarin siang hingga sekarang, Najwa masih saja mengatakan kalau Reyhan adalah pria brengsek. Reyhan langsung melepaskan pelukannya, ia langsung membalikkan tubuh Najwa, matanya menatap mata Najwa dengan penuh rasa bersalah
" Najwa, aku minta maaf. Kemarin aku menyusulmu ke pengadilan, tapi kamu tidak ada di sana, sedangkan mobilmu masih terparkir di sana. Aku memutuskan untuk menelponmu, tapi telonmu tidak aktif, akhirnya aku meminta petugas keamanan untuk melihat Cctv. Aku melihatmu pergi bersama Alex. Aku juga melihat kamu seperti habis menangisinya, itulah yang membuat aku tidak bisa mengontrol emosi."
" Itu salah, aku bukan pergi bersamanya, tapi di paksa masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak menangisinya, kemarin aku melihat kucing mati di lindas mobil."
Akhirnya Najwa memutuskan untuk berbohong tentang kejadian kenapa kemarin ia menangis
" Najwa, aku minta maaf, kemarin aku cemburu saat melihatmu dekat dengannya lagi, aku hanya takut, aku takut kehilanganmu lagi. Aku tidak ingin seperti dulu lagi, dulu aku pernah kehilanganmu karena aku harus merawat adikku, tapi kali ini aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
" Aku tidak bisa, apa kamu kemarin tidak ingat? Kamu marah-marah sambil berteriak-teriak, bagaimana mereka bisa menghargaiku, kalau kamu sendiri tidak bisa menghargaiku."
Reyhan sangat terkejut, saat mendengar jawaban dari Najwa, ia memang tidak memikirkan itu sebelumnya, yang ia pikirkan hanyalah cemburu dan takut kehilangan Najwa. Najwa melihat reaksi Reyhan, ia langsung tersenyum dan menggeleng pelan, jelas ia yakin kalau Reyhan tidak pernah berpikir seperti itu, bagaimana pun juga Reyhan adalah bos besar, siapa saja sudah mengenal namanya, terutama adalah nama papahnya yaitu Berayen Nugraha, yang terkenal orang terkaya, jadi walaupun Reyhan di kenal laki-laki yang ramah, Najwa yakin kalau Reyhan juga pernah marah-marah pada bawahannya, buktinya Reyhan bisa marah-marah sambil berteriak-teriak padanya
" Cinta saja tidak cukup untuk menjaga komitmen, mas. Banyak mereka yang menikah karena cinta, tapi tetap berakhir dengan perceraian."
" Aku mengerti, Najwa."
" Justru itu untuk apa kita melanjutkan hubungan kalau kamu saja tidak pernah memberikan kepercayaan padaku?"
Reyhan langsung meraih kedua tangan Najwa
" Aku tidak mau Najwa, tolong berikan aku kesempatan, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Najwa langsung menghela nafas kasar, ia lelah terus memberikan kesempatan pada Reyhan
" Berapa kali lagi aku harus memberikan kesempatan padamu? Bahkan saat aku masih Gadis, kamu pergi meninggalkan aku, kamu juga mengatakan tidak pernah mencintaku, setelah itu kamu hadir kembali dan mengatakan kamu selalu mencintaiku, tapi nyatanya kamu tidak bisa menerima masa laluku. Sudah cukup mas, akhiri semuanya, aku tidak ingin hatiku terus-menerus merasakan sakit."
Najwa langsung menghempaskan genggaman tangan Reyhan
" Aku mau pulang, biar aku yang akan menjelaskan pada orang tuamu."
Reyhan langsung memeluk Najwa sangat erat, hingga meneteskan air mata begitu saja, tapi ia sebisa mungkin untuk menyembunyikan tangisannya. Najwa yang di peluk, ia sangat nyaman, tapi ia tidak ingin lemah karena kata cinta
" Mas, tolong lepaskan aku, kamu jangan seperti ini. Kamu laki-laki yang sangat baik dan sempurna, aku yakin kamu mudah untuk mendapatkan wanita yang pantas untukmu, dan itu jelas bukan wanita murahan sepertiku."
Najwa langsung mendorong tubuh Reyhan untuk menjauh darinya, tapi hatinya merasakan sakit saat melihat laki-laki yang di cintainya ada sisa air mata di pipinya. Tangan Najwa terulur begitu saja untuk menghapus sisa air mata Reyhan
" Aku sangat mencintaimu, mas, tapi jalan untuk mendapatkanmu sangat sulit." batin Najwa
" Aku tidak memaksamu untuk menerima masa laluku, tapi jangan gunakan masa laluku untuk menyakitiku. Beri waktu untuk sama-sama berpikir, mau di bawa kemana hubungan kita ini. Kalau mas Rey menyesal, masih ada waktu untuk mundur."
" Najwa, walaupun kamu menyuruh untuk berpikir seribu kali pun, aku tetap menginginkanmu dan Leo, menjadi bagian dari hidupku. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa lagi, kalau kamu ingin meminta waktu untuk kita sama-sama berpikir, tidak apa-apa, tapi jangan pernah coba-coba untuk lari dariku, walaupun sampai ke ujung dunia pun akan aku kejar."
" Aku ingin pulang sekarang, nanti aku akan menghubungimu, kalau hatiku sudah lebih baik."
" Iya, aku tunggu, Najwa."
" Baiklah, aku pulang dulu mas. Aku takut Bunda marah kalau aku pulang pagi-pagi bau alkohol."
" Aku akan mengantarmu pulang."
" Tidak perlu, aku akan mencari taksi, untuk kali ini saja aku tidak ingin di antar olehmu."
" Tapi, Najwa."
" Tidak ada kata tapi."