Najwa

Najwa
BAB. 20 Sahabat laknat



Setelah mengatakan itu, Najwa memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya, ia sudah benar-benar kesal dengan Reyhan, yang seenaknya mengajaknya menikah, sedangkan hati Reyhan masih tertulis nama Renata


" Mas, aku harus bekerja lagi, dan terimakasih sudah mengajak aku makan siang, kalau begitu aku permisi dulu."


Najwa langsung berjalan, tapi baru 2 langkah, Reyhan langsung bertanya padanya


" Jadi kamu menolakku?"


Najwa yang mendengar pertanyaan dari Reyhan, ia tidak menjawab pertanyaan itu, ia langsung berjalan lagi meninggalkan Reyhan. Setelah sampai di ruangannya, sudah ada Andi, sementara Leo sudah tertidur pulas di sofa. Najwa langsung menghempaskan tubuhnya di kursi. Andi langsung mendekati Najwa


" Najwa, kenapa kamu terlihat kesal?"


" Bagaimana tidak kesal, mas Rey mengajakku menikah."


" Kamu menolak bang Rey?"


" Iya, bagaimana tidak aku tolak, kalau mas Rey tadi mangis karena membicarakan Renata, aku juga punya hati Andi, walaupun aku cinta, aku tidak mungkin mau menerima pernikahan hanya dari rasa kasihan."


" Najwa, maksud kamu apa? Apa bang Rey tidak menjelaskan tentang Renata?"


" Tentu saja mas Rey menjelaskan tentang Renata, kalau Renata sudah meninggal."


" Maksud aku, apa bang Rey tidak menceritakan siapa Renata padamu?"


" Tanpa mas Rey cerita juga aku sudah tau Andi, dulu mas Rey sudah mengenalkan Renata padaku, kalau Renata adalah calon istrinya, bahkan aku juga dulu sudah cerita padamu, apa kamu sudah pikun?"


Andi yang mendengar jawaban dari Najwa, ia hanya bisa menghela nafas berat, membuat Andi berpikir di sini itu yang bodoh Najwa atau Reyhan, bahkan masalah sepele itu terus saja berlarut-larut


" Kalau sampai seperti ini terus, kapan Najwa tau kalau bang Rey tulus mencintai Najwa, kapan Najwa tau, kalau bang Rey dari pertemuan pertama saat usia Najwa 16 tahun dulu sudah jatuh cinta, ah benar-benar kesal. Kenapa bang Rey tidak menceritakannya tadi, aku sudah menjaga Leo dan meninggalkan pekerjanku hanya untuk mereka berdua, tapi bisa-bisanya mereka membuat aku kecewa karena tidak mendapatkan hasil yang baik." batin Andi


Andi langsung mengacak-acak rambutnya, ia sangat perustasi dengan kedua sijoli yang susah untuk berbicara, bahkan mereka berdua saling mencintai, tapi hasilnya tetap nihil. Najwa yang melihat Andi mengacak-acak rambutnya sendiri, ia langsung menyuruh Andi untuk keluar


" Kamu keluar saja dari sini, mengganggu pekerjanku saja, dan satu lagi, kamu jangan sering-sering ke sini Andi, mereka semua pasti mikir kalau aku selalu bisa menyelesaikan pekerjaanku karena di bantu olehmu."


" Mana mungkin mereka mikir seperti itu Najwa, bahkan karena kecerdasanmu, kamu hanya kuliah 3 tahun, langsung memiliki gelar sarjana, dan semua berita juga sudah penuh dengan namamu, kamu adalah pengacara termuda dari Indonesia, bilang saja kalau kamu mengusirku."


Najwa langsung tersenyum saat tau, kalau ia memang mengusir Andi


" Bagus kalau kamu sadar diri."


" Sialan! Seharusnya aku yang mengusirmu karena setiap datang kamu selalu saja tidak tepat waktu, dan setelah istirahat masuk tidak tepat waktu, memang dasar sahabat laknat."


" Ko kamu jahat sama aku."


Najwa langsung merucutkan bibirnya, saat di bilang sahabat laknat oleh Andi. Andi yang melihat bibir Najwa, ia sangat gemas, tapi ia masih ingat sahabat


" Najwa, kamu harus bersyukur kalau aku masih belum khilafah, kalau sudah khilafah, bisa abis aku makan itu bibir. Jujur saja siapa yang tahan melihat bibirmu yang menggemaskan."


Andi yang di bilang belok, ia langsung memukul kepala Najwa, memakai laporan yang ada di meja


Buk..


" Sakit tau, kamu apa-apaan coba?"


" Kamu itu kalau berbicara di saring dulu, enak saja kamu bilang aku belok."


" Iya-iya maaf, sini aku sayang dulu."


Najwa langsung memeluk, Andi. Andi juga membalas pelukan Najwa


" Najwa, seandainya kamu tau alasan kenapa aku belum memiliki pasangan, mungkin akan membuatmu menghindariku, tapi niatku sudah bulat, sebelum kamu menikah, aku tidak akan memiliki pacar, aku hanya takut kalau pacar aku cemburu dengan kedekatan kita. Aku hanya ingin menjagamu, melindungimu hingga kamu di miliki oleh orang yang tepat bisa melindungimu dan menerimamu apa adanya." batin Andi


Andi memang hingga sekarang belum pernah pacaran, alasannya ia hanya ingin menjaga sahabat kecilnya, hingga sahabat kecilnya benar-benar memiliki pria yang tepat, baru ia akan mencari pendamping hidup. Najwa semakin mempererat pelukannya, ia memang tidak tau alasan Andi belum memiliki pacar hingga sekarang, tapi Andi adalah sabat paling berarti untuk ia, karena Andi selalu ada di saat ia sedih dan di saat ia benar-benar rapuh. Setelah beberapa menit, mereka langsung melepaskan pelukannya. Andi langsung mengelus pucuk kepala Najwa


" Sudah, lanjutkan pekerjaanmu, sebentar lagi kamu juga akan ada sidang."


" Iya Andi."


Andi memutuskan untuk keluar dari ruangan Najwa, agar Najwa segera menyelesaikan pekerjaannya, dan ia juga akan kembali ke kantor


" Aku akan pergi ke kantor lagi, nanti saat pulang aku jemput."


" Iya Andi."


Andi langsung berjalan ke luar, setelah di pintu Najwa langsung berteriak


" Andi! Maaf, soal ucapanku yang mengatakan kamu belok, aku hanya bercanda. Aku tau kamu normal, hanya saja aku tidak pernah tau alasanmu."


Andi langsung membalikkan badannya ke arah Najwa sambil tersenyum


" Tidak apa-apa Najwa, alasanku adalah ada seseorang yang ingin aku jaga, tapi kamu tidak perlu tau siapa dia, yang jelas suatu saat aku pasti akan memiliki pendamping hidup."


" Iya aku tau."


Andi langsung berjalan ke luar, hingga menghilang di balik pintu. Setelah Andi keluar, Najwa menjadi penasaran siapa orang yang ingin di jaga oleh Andi


" Siapa yang ingin di jaga oleh Andi, apa Andi mencintai Gadis masih berstatus pelajar? Hingga Andi ingin menjaganya, terserahlah, siapapun dia, aku berharap Andi memiliki pendamping hidup yang tepat, dan sifatnya sama seperti Andi, yang selalu bersikap dewasa dan bijaksana dalam hal apapun." batin Najwa


Setelah itu Najwa langsung menyiapkan laporan yang akan di bawa ke dalam sidang hari ini, lalu ia langsung melihat putranya yang masih tertidur pulas. Najwa langsung bersimpuh di depan putranya


" Leo, maafkan mommy. Mommy telah menolak Reyhan untuk jadi Deddymu, mommy hanya tidak ingin sakit hati, dulu saat di Ausi juga kamu hidup dengan baik tanpa sosok seorang Deddy. Jadi sekarang kamu tidak boleh mengharapkan siapapun untuk menjadi Deddymu. Kamu hanya memiliki mommy, nenek dan om Andi, kamu tidak boleh mengharapkan siapapun lagi. Mommy sayang Leo."


Najwa langsung mencium kening putranya, ia memang merasa sangat bersalah dengan putranya karena telah menolak Reyhan, tapi ia takut kalau rasa cintanya semakin besar, ia takut sakit hati lagi seperti dulu. Reyhan adalah pria yang mudah memasuki hatinya, tapi Reyhan pria yang susah untuk di lupakan dari hatinya, bahkan dari dulu Najwa masih saja tidak bisa membenci Reyhan, jelas-jelas saat itu Reyhan hanya menganggapnya sebagai adik, dan akan menikah dengan orang lain, tapi tetap saja tidak bisa benci