My Immortal

My Immortal
Maju



Utsman memarkirkan mobilnya di parkiran VIP rumah sakit, lelaki itu segera turun dan membukakan pintu untuk Kebo Iwa.


"Terimakasih," ucap Iwa segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah sakit.


Di depan pintu tampak beberapa orang dokter dan staf rumah sakit berdiri menyambut kedatangannya.


"Selamat datang di rumah sakit kami Tuan," sapa sang Presdir rumah sakit


"Hm," Iwa segera berjalan masuk di dampingi oleh sang Presdir.


Para dokter ahli memperlakukan Iwa seperti seorang raja, mereka begitu hati-hati saat memeriksanya.


"Sebentar lagi hasilnya akan segera keluar, silakan tuan tunggu dulu di ruangan yang sudah kami siapkan," tukas sang Presdir


"Terimakasih," Iwa segera mengikuti lelaki itu menuju ke ruangan VIP.


"Maaf tuan muda saya tinggal sebentar, ada keperluan mendadak di kantor," ujar Utsman berpamitan


"Silakan,"


"Untuk berjaga-jaga, saya akan menyuruh bodyguard untuk melindungi anda," imbuhnya


"Tidak perlu paman, aku bisa menjaga diri saya sendiri,"


"Tapi aku tidak mau hal buruk terjadi lagi pada anda," jawab Utsman


"Baiklah, terserah kau saja,"


Utsman kemudian meninggalkan Iwa setelah menempatkan beberapa orang bodyguard di ruangan itu.


*********


"Apa yang harus kita lakukan Tuan, haruskah aku menyingkirkan bocah itu,"


Sesosok lelaki berbadan gempal terlihat begitu cemas melihat kegundahan di wajah Bisma.


"Sepertinya tidak perlu, aku punya rencana lain untuk bocah sampah itu. Jika kita tidak bisa menyingkirkannya dengan kekerasan maka kita bisa membunuhnya dengan cara halus," jawab Bisma


"Untuk saat ini biarkan saja dia, jangan usik dia sebelum aku memberimu perintah,"


"Baik Tuan,"


Kita lihat saja, berapa lama kau akan bertahan dalam Neraka ini bocah ingusan.


*******


Pagi itu suasana kantor PE corporation mendadak ramai dengan kedatangan para reporter dan awak media yang memenuhi aula gedung itu.


Bisma yang baru saja tiba di kantor begitu tercengang saat melihat Adrian yang ditemani oleh Utsman mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kembalinya sang pewaris tahta Prawiro Edy sekaligus memperjelas kedudukannya di PE corporation dengan hasil tes DNA dari rumah sakit.


"Cih, ternyata tua Bangka itu bergerak cepat,. tak ku sangka dia ternyata begitu pandai memanfaatkan peluang ini," tukas Bisma


Lelaki itu kemudian masuk kedalam Aula membuat semua orang langsung menatapnya.


"Wah Tuan Bisma Haryono datang,"


Terdengar suara bisik-bisik dari para awak media dan perwakilan PE corporation yang hadir di ruangan itu.


"Silakan duduk Paman," sapa Iwa mempersilakan lelaki itu duduk di sampingnya


"Terimakasih," sahut Bisma menyunggingkan senyumnya


"Karena Tuan Bisma ada disini, bolehkah kami mengajukan pertanyaan padanya," celetuk seorang jurnalis


"Silakan," jawab Bisma


"Dengan kembalinya sang pewaris tunggal PE corporation, apakah anda merasa posisi anda akan terancam dengan kehadirannya?"


Bisma menarik sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan jurnalis tersebut.


"Tentu saja tidak, karena bagiku posisi presiden direktur hanya untuk seseorang yang kompeten dan memiliki kemampuan memimpin. Meskipun dia seorang pewaris Syah tapi jika tidak ada persetujuan dari dewan direksi dan pemegang saham, tetap saja tidak bisa memimpin perusahaan ini," jawab Bisma melirik kearah Adrian


"Jadi jika Dewan Direksi dan pemegang saham mayoritas tidak memilih Tuan Adrian, anda akan tetap menjadi presiden direktur PE corporation?"


"Benar,"


"Tetapi bukankah pemegang saham terbesar PE corporation adalah Almarhum Tuan Prawiro Edy, jika benar begitu apa anda siap mundur dari posisi anda saat ini?" tanya seorang awak media lagi.


"Dengan senang hati, karena sebagai paman aku juga akan mendukung sepenuh hati jika memang Keponakan ku akan menggantikan posisi ku," jawab Bisma dengan tenang


********


"Dia sengaja berbicara seperti itu di depan para awak media, aku yakin dia merencanakan sesuatu yang besar untuk menyingkirkan anda Tuan Muda,"


Utsman terlihat begitu mencemaskan Adrian.


"Kenapa paman berkata seperti itu?" tanya Iwa


"Tentu saja karena aku tahu betul siapa Bisma, orang-orang boleh menganggap dia itu seperti dewa tapi bagiku dia tidak lebih dari seorang Iblis yang melakukan segala cara untuk mendapatkan tujuannya," jawab Utsman


"Bagaimana anda bisa tahu dia seorang Iblis?" tanya Iwa lagi


"Sudah lama aku diam-diam menyelidiki Tuan Bisma. Saya berhasil menemukan beberapa bukti kasus penggelapan dana pajak perusahaan dan juga korupsi yang dilakukan olehnya selama bekerja di perusahaan ini. Semua bukti-bukti sudah saya amankan di tempat yang tidak terjamah oleh siapapun. Dan juga kasus kematian anda, aku yakin semua itu adalah konspirasi tuan Bisma," terang Utsman


"Kau benar paman, dia memang orang yang sudah mendorong ku dari lantai lima rumah sakit, tapi karena aku tidak punya cukup bukti aku tidak bisa melaporkan kasus percobaan pembunuhan ini kepada pihak polisi. Satu-satunya saksi kunci peristiwa itu sudah mati bunuh diri di penjara, jadi aku tidak bisa menahannya," ucap Iwa


"Kalau begitu jalan satu-satunya mengusir iblis itu dari Perusahaan ini adalah dengan menjadikan dirimu sebagai Presiden Direktur menggantikan ayahmu," jawab Utsman


Bisma tekekeh mendengar obrolan Ustman dan Adrian.


"Tidak sia-sia aku memasang penyadap di ruangan itu, kalian pikir siapa berani melawanku," ucap Bisma menyeringai


Hari itu Utsman benar-benar fokus mendampingi Iwa mempelajari bisnis PE Corporation.


"Kau sepertinya sudah jauh berubah Tuan Muda, kau jauh lebih cepat mengerti semua materi yang diajarkan oleh para tutor dan sangat pandai dalam mengatur strategi pemasaran," puji Utsman


"Kau terlalu berlebihan paman," jawab Iwa


"Sebaiknya kau pelajari buku-buku itu sebelum rapat dewan direksi. Kita harus menunjukkan kemampuan barumu pada launching produk baru kita," Utsman memberikan setumpuk buku-buku tebal kepada Adrian


Saat pemuda itu sedang asyik membaca buku-buku itu di kamarnya, tiba-tiba seseorang datang dan langsung menutup matanya membuat Iwa reflek langsung menyerangnya.


*Buuggghhh!!!


"Awww!" teriak Amy saat wanita itu terjatuh dan tanpa sengaja Iwa menindihnya.


Sejenak keduanya saling pandang, sebelum akhirnya Iwa melepaskan wanita itu.


"Ah..Maaf Dinda, aku kira kamu orang jahat jadi reflek aku menyerang dirimu," ucap Iwa merasa canggung


"Tidak masalah Rey, hanya saja aku tidak menyangka jika sekarang kamu begitu kuat," jawab gadis itu segera meraih lengan Iwa.


"Terimakasih,"


"Sama-sama, Ada apa Dinda datang kemari?" tanya Iwa


"Aku hanya ingin mengajakmu keluar,"


"Tapi aku harus menyelesaikan membaca buku-buku itu dulu," sahut Iwa


"Bolos bentar gak papa kan, lagipula besok aku harus balik lagi ke Australia jadi aku pengin menghabiskan waktu bersama mu hari ini," ucap Amy bergelayut manja di bahu Iwa


"Baiklah, tunggu sebentar," Iwa segera merapikan buku-bukunya.


"Yes!!" seru gadis itu merasa senang


"Tunggulah di luar, aku harus berganti pakaian," ucap Iwa


"Mager Rey, aku di sini saja gak papa kan. Lagipula aku udah lihat tahu kamu semuanya jadi gak usah malu," jawab Amy menggodanya


"Eh," ucap Iwa melotot kaget


"Wkwkwkwk, canda kok Rey, jangan serius gitu apa," ucap Amy terkekeh melihat ekspresi wajah Iwa


"Baiklah, kau pikir hanya kau yang bisa bercanda," tukas Iwa segera membuka bajunya membuat satu persatu di depan Amy membuat gadis itu langsung menutup matanya.


"Jangan bilang kau sudah melihat semuanya jika tak berani menatap ku sekarang," bisik Iwa


Astaga, sejak kapan Rey punya dada bidang dan roti sobek itu,


Amy membuka matanya sedikit mengintip Rey yang masih bertelanjang dada di hadapannya.


Iwa tersenyum simpul saat tak sengaja melihat melihat tatapan mata Amy.


Sementara itu wajah Amy langsung merah padam saat tahu Iwa memergokinya, ia segara lari meninggalkan kamar itu.