
Iwa terlihat memejamkan matanya, pemuda itu sengaja melakukan meditasi untuk menenangkan pikirannya. Bila enam ratus tahun sebelumnya ia selalu melakukan tapa untuk meminta wangsit dari sang Pencipta jika ada masalah, maka kali ini ia juga melakukan hal yang sama.
Cukup lama Iwa terdiam dalam keheningan dan kegelapan hingga suara ketukan pintu membuatnya mengakhiri meditasinya.
"Maaf menganggu tuan, tapi ada seseorang yang ingin menemui anda," ucap asisten rumah tangganya dengan wajah cemas
"Tidak apa, terimakasih sudah memberitahukan ku," jawab Iwa kemudian keluar dari kamarnya menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Seorang lelaki paruh baya mengulurkan tangannya saat melihat Iwa menghampirinya.
"Saya Haris Gunawan, pengacara Bisma Haryono," ucap lelaki itu memperkenalkan dirinya
"Saya Adrian, silakan duduk." jawab Iwa singkat
Lelaki itu kemudian memberikan sebuah USB kepada Iwa.
"Aku tidak bisa lagi memegang bukti-bukti ini, nyawaku terancam jadi seperti pesan dari Tuan Bisma... satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Bisma hanyalah dirimu. Aku sudah lelah terus di buntuti oleh para gengster, semoga kau bisa mengungkapkan kebenaran kasus ini. Karena aku yakin kau bisa mengungkapkan kebenaran itu," ucap sang pengacara kemudian berpamitan dan meninggalkan wastu Ares.
Iwa segera menghubungkan USB itu ke laptopnya, pemuda itu begitu terkesima melihat isi filenya.
Semuanya berisi bukti-bukti kejahatan Daniel, tapi lelaki itu sangat licin dan kebal hukum. Bahkan ia bisa lolos dari jeratan hukum padahal sudah jelas jika Shabu itu miliknya, dan ia begitu mudah mengalihkan semua tuduhannya kepada Bisma hanya dengan satu photo usang,
Iwa mencoba mencerna semua kejadian yang menimpa Bisma, dan Daniel.
Kini pemuda itu mulai memahami kenapa sang pengacara itu memberikan semua bukti-bukti kejahatan Daniel kepadanya.
"Sial, kenapa aku terlambat mengetahuinya," Iwa segera menyambar kunci mobilnya dan bergegas menyusul Haris.
Pemuda itu segera memasang GPS menuju alamat rumah Haris. Iwa terpaksa menghentikan mobilnya saat laju kendaraannya terhenti karena ada kecelakaan.
Cukup lama Iwa terjebak dalam kemacetan itu
Karena penasaran dan antrian mobil mengular begitu panjang membuat pemuda itu segera turun untuk melihat kecelakaan itu dari dekat.
Ia begitu terkejut saat melihat korban kecelakaan berhasil dikeluarkan dari dalam mobilnya.
Haris????.
Aku sudah lelah terus di buntuti oleh para gengster, semoga kau bisa mengungkapkan kebenaran kasus ini.
Iwa segera berlari kembali masuk ke mobilnya, ia segera memutar balik dan melesat pergi.
Tak lama terdengar suara ponselnya berdering membuat ia segera memasang head set untuk mendengarkan siapa yang menghubunginya.
"Baru saja aku akan mengunjungi mu, tapi kau sudah menelpon ku," ucap Iwa saat ia tahu Bisma yang menghubunginya.
"Sebaiknya kau jangan menemui mu, percuma saja, ada banyak mata-mata di sel tahanan ku. Jika kau memang benar-benar ingin mengungkapkan kebenaran kasus ini maka datanglah ke Panti Jompo Harapan Kasih, temui wanita bernama Melanie Suwito. Kau akan mengetahui kebenarannya dari wanita itu," sahut Bisma kemudian mematikan ponselnya.
Saat Bisma keluar dari toilet tiba-tiba seseorang berbadan kekar sudah berdiri didepan pintu dan segera melepaskan bogem mentah kearahnya.
Lelaki itu segera merebut ponselnya dan melihat siapa yang dihubungi oleh Bisma.
"Ambil saja kalau kau mau, aku sudah tidak membutuhkannya lagi," ucap Bisma menyeringai kemudian meninggalkannya
Tiba-tiba lelaki itu menarik baju Bisma dari belakang. Bisma mencoba menahan amarahnya karena ia tahu beberapa orang narapidana lain sudah bersiap menjegalnya.
"Siapa yang sudah kau hubungi," tanya lelaki itu penuh penekanan
"Bukankah kau sudah memegang ponselku, jadi untuk apalagi bertanya padaku?" jawab Bisma mengeratkan tangannya
"Jawab pertanyaan ku atau kau akan menerima akibatnya," tanya lelaki itu lagi
"Tidak ada siapapun yang aku hubungi," jawab Bisma melepaskan lengan lelaki itu
"Siapa dia???" tanya lelaki itu kali ini ia sengaja mendorong Bisma dan memojokkannya ke dinding toilet.
"Untuk apa aku menjawab jika kau tidak percaya dengan jawabanku," jawab Bisma sinis
"Rupanya kau ingin mati!!" ucap lelaki itu melepaskan pukulan kearahnya, namun Bisma segera menahannya dengan cepat.
"Bahkan semut pun akan menggigit jika di injak," ucap Bisma kemudian mendengkul ******** pria itu hingga ia mengaduh kesakitan.
Semua napi yang ada di dalam toilet seketika langsung mengeroyok Bisma dan memukulinya. Beruntung ada seorang opsir polisi yang lewat dan melerai mereka.
**********
Sementara itu Iwa ditemani Amy mengunjungi panti jompo Harapan Kasih.
Setibanya disana mereka langsung menemui kepala panti.
"Sayang sekali Ibu Melanie Suwito sudah meninggal, jadi kami tidak bisa memberikan informasi apapun kepada kalian, apalagi tentang siapa saja keluarganya," jawab kepala Panti saat Iwa menanyakan tentang Melanie Suwito padanya
"Kalau boleh bisakah kami melihat arsip data dirinya?" tanya Amy
"Maaf sekali, semua data pribadi Nyoya Melanie sudah kami musnahkan, sesuai prosedur panti." jawab wanita itu sumringah
"Apa tidak ada informasi lain yang ibu ketahui tentang beliau, misalanya dimana alamat keluarga atau walinya?" cecar Amy lagi
"Maaf nona, kami tidak tahu," jawab wanita itu
Keduanya kemudian meninggalkan tempat itu saat tak mendapatkan apa yang mereka cari.
"Sekarang kita harus bagaimana??" tanya Amy lirih
"Tetap semangat ya Dinda, aku yakin sebentar lagi aku akan menemukan cara untuk membebaskan ayahmu," jawab Iwa
***********
Lapas Cipinang, Jakarta Timur.
Bisma terlihat sedang meregangkan otot-ototnya, saat para napi lain sedang bermain bola di sore hari.
Lelaki itu terlihat enggan bergabung dengan narapidana lain dan memilih berolahraga sendirian.
"Wah kita kedatangan tamu VIP rupanya," ucap seorang Napi menghampirinya.
Bisma hanya tersenyum dan menghentikan aktivitasnya ketika segerombolan napi menghampirinya.
"Kau tahu kan peraturan di sini?" tanya lelaki itu menepuk pundak Bisma
"Apa yang kalian inginkan, katakan saja," jawab Bisma enteng
"Wah, kau benar-benar sombong seperti yang ku dengar." tutur lelaki itu menatapnya sinis
"Katakan saja yang kau inginkan, aku tidak suka basa-basi," jawab Bisma menyingkirkan tangan lelaki itu dari pundaknya.
"Kau benar-benar membuat ku muak dengan kesombongan mu," ucap lelaki itu segera melepaskan tinjunya ke arah Bisma hingga lelaki itu terhempas beberapa langkah darinya.
"Beri dia pelajaran!!" ucapkan lelaki itu memerintahkan anak buahnya
Bisma berusaha melawan mereka, namun karena ia kalah jumlah maka lelaki itu pun harus menjadi bulan-bulanan para Napi lainnya yang terus memukulinya hingga ia babak belur. Bahkan seorang opsir polisi yang melihatnya hanya diam menyaksikan tanpa berbuat apapun.
Revan dan Baron yang melihat kejadian itu segera datang dan membantu Bisma melawan para narapidana yang mengeroyoknya.
Meskipun Refan begitu membenci Bisma, namun pemuda itu tak bisa diam saja saat melihat lelaki itu menjadi bulan-bulanan para Napi yang ingin membunuhnya.
"Terimakasih nak, sebaiknya kau jangan membantuku jika kau tidak ingin terkena masalah," ucap Bisma segera bangun dan berjalan menuju sel tahanannya.
"Dia sepertinya takut jika aku menggagalkan rencananya, hingga ia sengaja ingin menghabisi ku di sel ini," sahut Bisma menghela nafas panjang
"Apa rencana mu sekarang?" tanya Refan
Bisma tersenyum mendengar pertanyaan Refan , "Aku senang mendengar kau mengkhawatirkan ku, tapi aku juga sedih karena aku takut jika kah akan mendapat masalah besar jika membantuku," jawab Bisma memperhatikan kamera CCTV di hadapannya.
Seperti tahu yang dimaksud Bisma Refan segera meninggalkannya dan Bisma segera menyusulnya.
"Katakanlah, disini aman karena tidak ada CCTV," ucap Refan
Bisma kemudian memberikan sebuah kertas kepadanya.
"Cepat hapalkan dan bakar kertas itu," ucap Bisma kemudian meninggalkan Refan.
*************
Pagi itu semua pemegang saham dan para direksi berkumpul di ruang meeting kantor pusat DM Company.
Daniel tersenyum sinis saat melihat Iwa duduk di kursi rapat.
"Maaf Tuan Adrian, ini adalah rapat khusus pemegang saham dan Dewan Direksi DM Company, jadi silakan keluar bagi yang tidak memiliki kepentingan," ucap Daniel mengusirnya.
"Ah, mohon maaf Tuan Daniel, saya lupa untuk memberitahukan Anda jika saya mendapatkan undangan untuk mengikuti rapat hari ini," ucap Iwa menunjukkan surat undangan kepada Daniel.
"Meskipun hanya 15 persen tapi saham ku lebih banyak darimu jika digabungkan dengan saham milik paman Bisma yang sudah di wariskan atas nama diriku," jawab Iwa membuat Daniel meradang
Darimana si brengsek ini mendapatkan saham DM Company??.
"Aku tahu kau pasti penasaran bagaimana aku bisa memiliki saham DM Company bukan??" tanya Iwa dengan senyum khasnya
Sial, bagaimana bajing*n itu tahu yang aku pikirkan,
"Maaf aku tidak perlu tahu kau mendapatkan dari mana saham itu, aku tidak peduli." Jawab Daniel kemudian segera duduk di kursinya dan memulai rapatnya.
Daniel benar-benar geram saat tahu Iwa memiliki saham di perusahaannya, 15 persen bukanlah angka yang kecil. Dengan jumlah kepemilikan sahamnya Iwa bisa ikut menentukan kebijakan perusahaan bahkan berperan penting dalam menentukan produk baru perusahaan.
Tentu saja Daniel khawatir jika rahasia perusahaannya akan diketahui oleh Iwa, itulah yang membuat ia begitu hati-hati saat menyampaikan produk baru perusahaannya.
Setelah Rapat usai Iwa segera menuju lembaga pemasyarakatan untuk mengunjungi Refan.
"Syukurlah kau datang, ada yang ingin aku sampaikan padamu," bisik Refan
"Berikan ponselmu sekarang," imbuhnya
Iwa segera memberikan ponselnya kepada Refan. Tak lama Refan segera memberikan kembali ponsel itu kepada Iwa.
"Datangi tempat itu dan temui wanita bernama Sahira," ucap Refan lirih
Iwa segera bergegas menuju alamat yang diberikan oleh Refan.
Pemuda itu menghentikan mobilnya disebuah kompleks kumuh di pinggiran kota Jakarta.
Ia berjalan memasuki pemukiman itu sembari mencari alamat yang diberikan oleh Refan.
Karena komplek yang begitu padat membuat ia kesulitan menemukan alamat itu dan terpaksa harus bertanya kepada beberapa orang warga untuk membantu menemukan alamat yang di carinya.
"Permisi pak, apa anda tahu alamat rumah ini," tanya Iwa kepada seorang lelaki bertato yang sedang menikmati secangkir kopi di depan kedai
"Untuk apa kau mencarinya, apa ia berhutang padamu, atau dia menipumu?" jawab lelaki itu balik bertanya
"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengannya karena ada urusan yang belum terselesaikan," jawab Iwa
"Jam segini dia tidak ada di rumahnya, kau bisa menemui dia di tempat lokalisasi yang ada di dekat sini," jawab lelaki itu
"Kalau tidak keberatan bisakah kau mengantarku ke sana," ucap Iwa hati-hati
Lelaki itu menatap sinis kearah Iwa,
"Tidak usah khawatir, aku akan memberikan imbalan jika kau mau mengantarkan aku ke tempat itu," jawab Iwa memberikan sejumlah uang kepada lelaki itu
"Baiklah, semuanya akan beres jika ada imbalan yang setimpal," sahut lelaki itu kemudian mengajak Iwa menuju ke sebuah motel yang tak jauh dari tempat itu.
"Sebaiknya kau ganti pakaianmu agar tidak terlihat mencolok," ucap lelaki itu memberikan sebuah kaos kepada Iwa.
Setelah berganti pakaian Iwa segera memasuki motel itu untuk menemui Sahira.
Ia begitu terkejut saat memasuki motel itu, tidak seperti tampilan luarnya. Motel itu terlihat lebih megah dan elegan di dalam. Beberapa wanita penghibur segera menghampirinya saat ia memasuki ruangan itu.
"Maaf, saya hanya ingin dilayani oleh Sahira," ucap Iwa menolak semua wanita yang menghampirinya.
"Haish, sialan... kenapa dari tadi selalu Shei yang dicari, apa servisnya begitu memuaskan hingga banyak sekali lelaki yang ingin menidurinya!" celetuk seorang PSK saat Iwa menolaknya.
"Shei sedang melayani tamu, kalau kau tetap menginginkan pelayanannya, maka kah harus menunggu dulu," ucap seorang wanita menawarinya rokok.
"Baiklah, apa kau bisa menemaniku," sahut Iwa mengambil sebatang rokok darinya.
"Tentu saja sayang, tapi tidak ada yang gratis disini," jawab wanita itu menyalakan korek api untuknya
"Tentu saja, aku tahu itu," sahut Iwa kemudian memberi beberapa lembar uang ratusan ribu padanya.
"Sepertinya kau baru pertama berkunjung ke tempat ini, apa aku benar?" tanya wanita itu
"Hmm," jawab Iwa mengangguk pelan
"Apa kau tidak ingin tidur denganku?" goda wanita itu menciumi tengkuk leher Iwa
"Maaf sayang, aku kesini bukan untuk bercinta. Aku ingin menemui seseorang wanita bernama Sahira, " jawab Iwa membuat wanita itu menghentikan permainannya.
"Apa bedanya aku dengan dia, kenapa semua lelaki menginginkannya," sahut wanita itu kemudian duduk di pangkuannya
"Kalian tidak berbeda, hanya saja aku memiliki sedikit bisnis dengannya?" jawab Iwa membelai lembut rambut wanita itu
"Dasar Lont* sialan, apa maksudmu berkata seperti itu, apa kau sengaja ingin merebut pelanggan ku" hardik seorang wanita memasuki ruangan itu dan menamparnya dengan keras.
"Tunggu Shei, aku tidak melakukan apapun dengan pelanggan mu, jadi Sans aja sis," jawab wanita itu kemudian meninggalkanya
"Dasar Lont* jamuran, pasti Lo iri kan dengan gue!" teriak Sahira kemudian mendorong wanita itu
Iwa segera menarik Sahira, dan menutup pintu kamar itu.
Sahira segera mendorong Iwa keranjangnya dan membuka pakaiannya.
"Maaf sayang, aku datang kesini bukan untuk bercinta denganmu tapi ada yang harus aku bicarakan denganmu," jawab Iwa segera membalikkan posisinya.
"Katakan saja, apa yang kau inginkan dariku," sahut Sahira segera bangun dan memakai kembali pakaiannya.
"Aku ingin mengambil milik Tuan Bisma yang di titipkan padamu," ucap Iwa membuat wanita itu menyeringai.
"Dasar brengsek, kenapa kau tidak bilang dari tadi jika kau adalah utusan Bisma," wanita itu kemudian mengajak Iwa meninggalkan tempat itu.
Iwa begitu tercengang saat melihat Seorang wanita yang terbaring di brankar rumah sakit.
"Melanie Suwito??" ucapnya terbelalak