
Baron dan Refan segera meluncur menuju lapas. Malam itu keduanya benar-benar membobol kantor polisi dengan keahlian mereka.
Setelah berhasil mendapatkan koper berisikan sabu-sabu milik Daniel keduanya segera menuju sel tahanan.
"Bagaimana bisa kalian menemui ku malam-malam begini?" tanya Daniel
"Kau lupa jika aku seorang hacker yang bisa membobol data FBI," sahut Baron menyeringai
"Harusnya orang genius seperti dirimu bukan menjadi seorang gengster, jika kau mau aku bisa memberimu pekerjaan bagus dengan gaji yang sangat besar. Bahkan lebih besar dari yang pernah kau terima sebelumnya," ucap Daniel
"Maaf, tapi aku tidak ingin berbasa-basi denganmu. Aku datang kemari untuk berbisnis denganmu," sahut Refan
"Katakan saja Rex, aku pasti akan senang bekerja sama dengan Gengster terkemuka seperti dirimu," jawab Daniel
Baron segera menunjukkan pesan singkat Helen kepada lelaki itu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk kalian??" tanya Daniel
"Kami sudah mendapatkan sabu-sabu itu, jika kau mau memberitahu tempat persembunyian Helen di kafe milikmu aku akan mengembalikan sabu ini kepadamu," ucap Refan
"Ck, ck, ck, aku sangat suka tawaranmu Rex."
Daniel segera mengambil pulpen dan menggambar denah di lengan Refan.
"Angka apa ini??" tanya Refan
"Itu adalah password agar kau bisa masuk ke banker itu," jawab Daniel
"Bagaimana kalau sandinya sudah dirubah?" tanya Baron
"Bagi seorang hacker pro seperti dirimu bukankah membobol sebuah password itu hal yang mudah??." jawab Daniel enteng
"Ok, senang berbisnis denganmu,"
Refan segera menjabat tangan Daniel kemudian pergi meninggalkannya.
Keduanya kemudian segera kembali ke kafe Las Vegas di kawasan Kemang.
"Apa kau yakin akan memberikan sabu itu kepada Daniel?" tanya Refan
"Aku yakin Daniel sebentar lagi akan bebas dari penjara, Iblis seperti dirinya akan dengan mudah keluar dari sel tahanan meskipun kesalahannya begitu besar. Kadang untuk menangkap seorang Monster kita perlu mereka ulang kejadiannya," sahut Baron
"Apa maksudmu??" tanya Refan benar-benar penasaran
Baron menyeringai menantap Refan.
Setibanya di Las Vegas Kafe kedua pemuda itu segera membobol pintu masuk kafe itu dan mengendap-endap menuju ruang VIP.
Keduanya segera menuju tempat yang digambar Daniel di lengan Refan.
"Apa kau yakin ini pintu masuknya?" tanya Refan
"Tentu, sebuah ruang diantara cahaya dan kegelapan. Sebuah petunjuk yang sedikit penuh teka teki,"
Baron segera mengusap tembok itu dan benar saja sebuah pintu kemudian muncul.
Ia kemudian menekan password yang diberikan oleh Daniel. Tak lama pintu pun terbuka dan kedua lelaki itu segera masuk kedalam.
Refan segera menarik Baron saat melihat Helen tengah membidikkan senjata api ke arah kedua sahabatnya itu.
Keduanya masih bersembunyi dan mengamati apa yang akan dilakukan oleh mereka kepada Amy dan Iwa.
Helen terlihat melepaskan bom waktu yang ada di tubuh keduanya. Namun wanita itu justru memberikan pistol kepada Amy.
"Bunuh Adrian, jika kau masih ingin hidup. Tapi kami akan membunuh kalian berdua jika kau tidak mau membunuhnya," ucap Helen
Wanita itu kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menodongkan senjatanya kearah Amy dan Iwa.
Amy yang tak pernah memegang senjata api begitu gemetar ketika menggenggam benda itu.
"Cepat tembak dia atau kau memilih mati bersama kekasih mu itu?" ucap Helen menyeringai
"Cepat tembak aku Dinda!" seru Iwa membuat tangis Amy Seketika pecah
"Bunuh mereka sekarang!!" serunya memberikan komando kepada anak buahnya untuk mengeksekusi Iwa dan Amy.
"Brengsek, ternyata wanita itu benar-benar Iblis. Ia bahkan tidak menepati janjinya," gerutu Baron
"Bukankah lebih baik memang seperti ini. Kita jadi bisa menyelamatkan mereka tanpa harus memberikan barang haram ini padanya," jawab Refan
Ketua geng Cobra Hitam itu segera mengeluarkan pistol dari saku celananya.
Ia kemudian melemparkan pistol kearah Baron.
"Mari kita buktikan siapa sniper terbaik di kota ini," ucap Refan mengerlingkan matanya
"Maafin aku ya Rey," ujar Amy terisak
"Dinda, cepat tembak aku. Aku tidak mau kehilangan mu untuk kedua kalinya. Aku ingin melihatmu bahagia bersama Adrian di kehidupan ini, jadi please tembak aku. Percayalah padaku Rey akan baik-baik saja," ucap Iwa mencoba meyakinkan Amy
"Aku tidak bisa Rey, aku tidak bisa membunuh lelaki yang aku sayangi. Aku tak bisa Rey, aku tak bisa hidup dalam kesendirian dengan penuh penyesalan. Lebih baik aku mati bersamamu karena itu lebih baik untuk kita," ucap wanita itu kemudian membuang pistolnya.
"Aku benar-benar muak melihat mereka. Kill them now!!" seru Helen dengan suara lantang
Suara ledakan pistol membuat Iwa menutup matanya, pemuda itu tak kuasa untuk menyaksikan kematian wanita yang dicintainya untuk kedua kalinya.
Ia segera membuka matanya ketika tak merasakan sesuatu.
Iwa segera melepaskan pukulannya kearah lelaki yang hendak menarik pelatuk pistolnya kearah Amy.
"Aarrgghh!!" seru lelaki itu mengerang keras ketika Iwa mematahkan lengannya.
Refan segera menangkap Helen yang mencoba kabur saat semua anak buahnya jatuh terkapar terkena luka tembak.
"Kalian pikir sudah memenangkan permainan ini, ingat kau tidak akan bisa menjatuhkan Daniel semudah itu. Hanya aku yang bisa mengalahkan iblis itu," ucap Helen merancau
"Berhentilah mengoceh Tante," ucap Refan menyeret wanita itu menuju mobilnya.
"Lepaskan aku Fan, aku berjanji padamu akan memberikan imbalan yang setimpal jika kau melepaskan aku," bujuk Helen mencoba merayu Refan
"Tentu saja aku tidak akan menyerahkan mu ke kantor polisi Tante, aku ingin kau bersaksi untuk memberatkan Daniel. Karena seperti katamu, hanya kau yang bisa mengalahkan iblis itu," sahut Refan menyeringai
"Dasar bajinga*n, beraninya kau mempermainkan aku!!" seru Helen meronta berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Refan
Setibanya di kantor polisi, wanita itu tetap bungkam dan tak mau bicara.
"Biarkan saja dia, aku yakin sebentar lagi dia akan membuka mulutnya," ucap seorang tim penyidik
************
"Bagaimana keadaan Amy?" tanya Refan begitu khawatir
"Dia baru saja tidur setelah meminum ramuan herbal yang ku berikan," jawab Iwa
"Syukurlah, aku yakin dia pasti mengalami trauma setelah kejadian itu,"
"Jangan khawatir Fan, aku akan membantunya menyembuhkan trauma itu," sahut Iwa
"Thanks Bro, aku harap kau bisa menjaga adikku itu dengan baik,"
"Lalu bagaimana dengan sabu itu?" tanya Iwa
"Seperti rencana kita tinggal menunggu Daniel," sahut Refan
"Apa kau yakin bisa menjebak lelaki itu?" tanya Iwa
"Tentu saja, kali ini kita tidak boleh gagal," jawab Refan begitu yakin.
Senyumnya mengembang ketika handphonenya berdering.
"Daniel menelpon," ucap Refan
"Temui aku di alamat yang sudah aku share, ingat jangan melibatkan polisi, dan jangan berusaha menjebak ku. Ingat...aku bukan Helen ataupun Bisma yang bisa dengan mudah kalian jebak. Salah sedikit saja, aku bisa menghancurkan semuanya," tutur Daniel
"Ok, aku mengerti," sahut Refan mematikan ponselnya.