
Adrian berhasil meloloskan diri dari kejaran anak buah Steve dan membawa Daniel ke banker milik ayahnya.
"Kenapa kau membawanya kemari?" tanya Leona mendengus kesal
"Hanya ini satu-satunya tempat yang aman dan tak terendus oleh Steve," jawab Adrian merebahkan tubuhnya di sofa
"Tapi Daniel tidak bisa dipercaya?" ucap Leona lagi
"Saat seseorang sedang terjepit, aku yakin dia akan berubah," sahut Rey
"Kau terlalu baik Rey, kau belum tahu saja bagaimana para Mafia itu. Mereka lebih licik dari yang kita duga. Jangan terlalu baik atau terlihat baik karena itu akan menjadi kelemahan bagimu," terang Baron
"Santai saja, aku bisa profesional kok." Rey segera bangkit dan mengambil makanan dan minuman dari kulkas.
Ia kemudian meletakkannya di atas meja.
"Makan saja kalau kau lapar, aku tidak punya banyak stok makanan," ucap Adrian kemudian bergegas meninggalkanya
Pemuda itu segera membuka pakaiannya dan segera melakukan olahraga untuk melatih otot-ototnya.
Daniel hanya memperhatikannya sembari menikmati makanan yang di sajikan oleh Adrian.
Malam itu Rey dan Baron memutuskan untuk menginap di Banker, begitupun dengan Leona.
Malam semakin larut, saat semua terlelap hanya Adrian yang terjaga. Entah kenapa pemuda itu merasakan kepalanya berat hingga harus keluar bangker untuk mencari udara segar.
Ia segera naik tangga dan keluar dari tempat itu menuju kamarnya di lantai utama Wastu Ares.
Ia kemudian mengambil laptop di laci meja kerjanya.
Lelaki itu tersenyum tipis saat membuka sebuah dokumen yang hanya bisa dibuka olehnya.
"Sekarang aku tahu kenapa ayahku di bunuh, dan kenapa paman Bisma mencoba membunuhku???" ia kemudian menutup kembali laptopnya dan bergegas menuju ke banker.
Saat ia keluar dari kamarnya tiba-tiba terdengar suara ledakan dari kamar ayahnya (Prawiro Edy).
Rey segera berlari menuju ke kamar itu dan memeriksa keadaan Baron dan Leona di dalam banker.
"Are you Ok?" tanya Rey mengguncang tubuh Baron
Pemuda itu mengangguk pelan, "Untungnya Tuhan masih melindungi ku, jadi aku masih bisa selamat. Tapi aku tidak tahu keadaan Lea," jawab pemuda itu.
Adrian segera bergegas mencari Leona, pemuda itu menemukan tubuh Leona tertimbun reruntuhan bangunan.
"Kita harus segera pergi dari sini sebelum polisi datang," ujar Baron menarik lengan Rey
"Lalu bagaimana dengan Leona??"
"Biarkan saja polisi yang akan mengurus jenazahnya, yang terpenting sekarang kita harus pergi dan menyelamatkan diri," Baron segera memanjat tangga dan keluar dari banker itu.
Kedua pemuda itu langsung menyelinap saat melihat polisi yang datang dengan cepat ke lokasi.
"Aku yakin semua ini adalah ulah Daniel, hanya bajingan itu yang tahu banker kita," ucap Baron tertatih menuju ke mobil mereka yang terparkir jauh dari Wastu Ares
"Bagaimana kau begitu yakin dia pelakunya?" tanya Rey
"Apa kau lihat mayat bajingan itu di banker??. Dan juga kenapa polisi begitu cepat datang ke TKP padahal biasanya mereka lelet seperti kura-kura," cibirnya sembari memasang sabuk pengamannya.
"Aku bersumpah akan menghabisi bajingan itu jika bertemu dengannya," umpatnya lagi
"Tenanglah, kita harus menyelesaikan teka-teki ini dengan ketenangan," sahut Rey kemudian melesatkan mobilnya
"Sekarang kita akan kemana?" tanya Baron bingung
"Tidak ada yang lebih aman selain sarang musuh,"
"Apa maksudmu?" tanya Baron semakin penasaran
Rey kemudian memberikan secarik kertas kepada Baron.
"Aku menemukan ini ditangan Leona, aku yakin benda ini yang ingin dicari oleh orang yang membom banker kita," terang Rey
Baron segera mencermati angka-angka itu.
"Apa kau sudah dapat gambaran dari angka-angka itu?" tanya Adrian
Baron segera mengambil ponselnya dan membuka emailnya.
Ia mencoba memasukan angka-angka itu dan mencoba membukanya.
"Ini sebuah email rahasia??" ucap Baron membelalakan matanya
Adrian segera menghentikan mobilnya dan melihat informasi yang di berikan oleh Baron.
"Tidak mungkin???" ucap pria itu begitu terkejut
"Darimana Lea punya data-data ini??" Baron mencoba berpikir keras memecahkan teka-teki itu.
"Bridav, aku yakin sumbernya dari lelaki itu. Hanya dia yang mengetahui semua informasi para mafia. Itulah kenapa Daniel begitu ingin membunuhnya. Daniel sengaja menjadikan Steve anak buahnya untuk memata-matai Bridav, dan mencuri semua informasi darinya, tapi gagal karena Bri lebih dulu mengendus pengkhianat Steve dan lebih mempercayakan semua yang ia miliki kepada Leona, putri angkatnya." tutur Adrian
"Kalau begitu kita harus memberikan dokumen ini kepada Polisi untuk mengungkapkan kejahatan Daniel,"
"Jangan, percuma saja kita memberikan data ini pada polisi. Karena Daniel memiliki banyak koneksi para pejabat tinggi di kepolisian, kejaksaan bahkan anggota Dewan. Aku punya cara sendiri untuk menghentikan Iblis itu," sahut Baron
"Bagaimana caranya?" tanya Rey
"Kita manfaatkan pertikaian antara Daniel dengan Steve untuk menjebak keduanya,"
Baron segera menghubungi Daniel, sedangkan Rey segera menghubungi Steve.
Keduanya sengaja menjanjikan informasi rahasia dari Bridav untuk memancing Steve dan Daniel keluar dari sarangnya.
Rey kemudian melesatkan mobilnya ke tempat yang sudah ditentukan oleh Steve.
"Bagaimana kalau usaha kita gagal?" tanya Adrian
"Bersiaplah untuk mati sebagai pahlawan," ucap Baron segera memasang rompi anti peluru.
"Ini adalah usaha terakhir kita untuk menghabisi kedua gengster itu dan membalaskan dendam kematian Rex," sahut pemuda itu sembari mengisi peluru pistolnya.
Baron segera turun dari mobil dengan Kerambit di kedua tangannya.
Kedua pemuda itu segera memasuki sebuah gudang kosong dan menemui Steve yang sudah menunggu di sana.
"Akhirnya kau datang juga Barry!" seru lelaki itu menyambut kedatangan Adrian dan Baron
"Sekarang serahkan diska itu dan aku pasti akan menghabisi Daniel sesuai permintaan mu," ucap lelaki itu menatapnya lekat
Baron kemudian mengeluarkan sebuah diska dan menunjukkannya kepada Steve.
"Aku akan memberikannya jika kau sudah membunuh Daniel di hadapan ku," ucapnya menyeringai
"Hahahaha, kau pikir aku bodoh apa. Ingat Barry...kau sudah terkepung di markas ku jadi mustahil kau bisa melepaskan diri dari tempat ini dengan," sahut Daniel keluar dan menghampirinya
"Sudah kuduga kalian bekerjasama untuk membunuh Leona, kalian juga berusaha menyingkirkan COBRA HITAM karena geng kami sangat berbahaya bagi kalian bukan. Kau juga sengaja membunuh Amy untuk mengalihkan isue, agar kau tak di curigai. Tapi sayangnya tidak ada kejahatan yang sempurna," ujar Baron menyingkirkan tangan Steve dari bahunya
"Habisi dia!" seru Daniel
Steve segera menodongkan pistolnya ke kepala Baron. Begitupun anak buahnya yang langsung mengarahkan senjata mereka kepada Adrian.
"Bunuh saja kami, tapi setelah kami mati maka kalian juga akan membusuk di bui. Aku bukan orang bodoh yang menyerahkan nyawa kami sia-sia. Kalian memang memiliki koneksi dengan pihak kepolisian, itulah sebabnya aku tidak menyerahkan informasi ini kepada Polisi. Tapi aku sudah mengirimnya kepada BIN. Dan kau tahu pasti bagaimana cara institusi itu bekerja, so let kill me...." tantang Baron
Steve segera menurunkan pistolnya dan menoleh kearah Daniel.
Daniel hanya mengangguk seolah menyetujui apapun yang akan dilakukan oleh Steve.
Saat lelaki itu bersiul, Baron segera melepaskan tendangannya untuk menjatuhkan senjata api yang di pegangnya.
Ia kembali melepaskan tendangannya saat pria itu mencoba mengambil senjata apinya.
Tidak lupa Baron juga menembaki anak buah Steve yang berusaha membidiknya dengan senjata api.
Pemuda itu begitu gesit melawan satu persatu anak buah Daniel, begitupun dengan Adrian .
Keduanya bertarung habis-habisan demi untuk menyelamatkan diri dari sarang lawan.
"Ulur waktu selama mungkin, aku yakin para anggota BIN sebentar lagi tiba di tempat ini!" seru Baron
Adrian seketika terkulai di lantai saat Daniel berhasil menghantamkan baton ke kepalanya.
"Aku sudah lama ingin menghabisi mu Rey, kita lihat saja apakah malam ini Dewi Fortuna masih tetap berpihak padamu atau meninggalkan dirimu??" lelaki itu menarik baju Adrian dan melepaskan pukulannya bertubi-tubi hingga mata Adrian tak bisa terbuka karena lebam.
"Hahahaha!!" Daniel terbahak-bahak melihat Adrian yang sudah tak berdaya di hadapannya.
"Sayang sekali, aku belum bisa melihat kekuatan mu yang luar biasa itu. Padahal aku belum puas merisak mu, tapi aku tidak akan membuang waktu demi sampah seperti dirimu," Daniel segera menarik pedang dari batonnya dan menebaskannya kearah Adrian
*Grepp!!!
Pemuda itu seketika menahan pedang itu dengan telapak tangannya membuat Daniel tak percaya melihatnya.
Adrian kemudian melepaskan tendangannya hingga membuat Daniek terjungkal.
Lelaki itu kemudian mengambil pedang milik Daniel yang tergeletak dan menghunjamkannya ke tubuh lelaki itu.
"Ini untuk membalaskan kematian Dinda Prameswari," ucap Adrian dengan mata berkilat-kilat.
Melihat sosok Adrian yang berubah garang membuat anak buah Daniel seketika mundur.
Tak lama terdengar suara sirine mobil polisi membuat semua anak buah Daniel lari tunggang-langgang meninggalkan gudang itu.
"Berhenti jangan bergerak!" seru Seorang polisi menghentikan Steve yang mencoba kabur.
Polisi kemudian mengamankan semua orang yang ada di tempat itu tidak terkecuali dengan Adrian dan Baron.
********"The End*********