
Baron membelalakan matanya saat menemukan sebuah informasi rahasia dari diska yang ada di laci meja kerja Adrian.
"Amy Haryono bukan putri kandung Bisma!!" ucap Baron benar-benar tidak menyangka.
Ia kembali membuka file-file yang ada di dalam diska itu dan terus menggali informasi tentang Bisma dan Amy.
#Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta Timur.
Pengacara Daniel memberikan sebuah foto bayi kepada Daniel.
"Siapa dia, kenapa kau memberikan foto itu kepada ku," ujar Daniel sinis
"Dia putri anda," jawab sang pengacara membuat Daniel langsung menarik kemejanya
"Jangan asal bicara, putriku sudah meninggal bersama istriku. Jadi jangan pakai foto itu untuk membodohi ku," ucap Daniel dengan wajah bengisnya
"Putri anda masih hidup, Bisma yang merawatnya selama ini," ujar sang pengacara memberikan bukti salinan DNA Amy.
"Tidak mungkin!!" seru Daniel tak percaya mendengar ucapan anak buahnya.
"Selama ini Bisma sengaja merawatnya demi untuk membalas dendam kepada Anda. Dia sengaja akan menggunakan anak itu untuk menjatuhkan Anda Tuan," tukas sang pengacara lagi
"Apa dia melakukan semua ini karena Helen?" ucap Daniel
"Sepertinya begitu,"
"Dasar Iblis, kalau dia mencintai Helen kenapa ia membunuhnya," sahut Daniel
"Itu karena istri anda sudah mengetahui tentang putrinya yang ditukar oleh Bisma,"
Sang pengacara memberikan ponsel Helen kepada Daniel.
"Kebetulan anak buah ku menemukan ponsel ini," tukas sang pengacara
Daniel kemudian membuka ponsel itu dan memeriksa semua file di dalamnya.
Lelaki itu segera terduduk lemas di lantai, ia merasakan separuh jiwanya sirna dan dadanya begitu sesak sampai ia harus memukul-mukulkan tangannya untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Ia juga kehilangan semangat hidupnya dan seketika mati rasa.
"Tuan, jadi apa yang harus kita lakukan??" tanya anak buahnya
"Lepaskan aku dari sini, aku harus menolongnya. Setidaknya aku harus melihatnya untuk terkahir kalinya," ucap Daniel dengan wajah pias.
"Sepertinya itu sulit Tuan, dan tidak akan pernah bisa." Jawan Pengacaranya pesimis.
Tidak lama kemudian seorang pemuda muncul dan menghampiri mereka.
"Aku bisa membantunya keluar dari," ucap Baron seketika memberikan harapan kepada Daniel.
Lelaki itu berseri-seri dan tersenyum simpul kearahnya.
"Bagaimana kau bisa mengeluarkan aku?" tanya Daniel
"Aku bisa menemukan siapa pembunuh Helen sebenarnya," Baron segera memberikan ponselnya kepada Daniel.
"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Daniel tertegun
"Apa kau lupa aku hacker terbaik di negeri ini, aku bahkan bisa meretas data FBI atau AL QAEDA," sahut Baron menyombongkan dirinya
"Aku berhutang budi padamu dan aku tidak akab pernah melupakannya seumur hidupku," ucapnya lirih.
Daniel merasakan kekuatan dan harapan baru setelah pemuda itu berjanji akan mengeluarkannya dari sel tahanan.
"Terimakasih Barry, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan ini,"
Pengacara Daniel segera menemui tim penyidik dan memberikan bukti-bukti yang dibawa oleh Baron.
Lelaki itu juga menjadikan dirinya sebagai jaminan untuk pembebasan bersyarat Daniel.
Daniel segera menuju ke Kantor pusat PE Corporation bersama Baron dan anak buahnya.
#Roof top Gedung PE Corporation.
"Aaarrrggghhhh!!"
Amy menjerit keras saat Bridav kembali menangkapnya ketika ia berusaha kabur. Lelaki itu kemudian menarik rambutnya dan menyeretnya hingga Amy terus berteriak kesakitan.
"Rey, tolong aku!" serunya membuat Bridav langsung menyumbat mulutnya dengan tangannya.
Iwa yang sudah terbakar amarah segera menghampirinya.
"Hiaaat!!" Pemuda itu kemudian melepaskan tendangannya kearah Baridav hingga lelaki itu jatuh terjerembab ke lantai.
*Dor!!!
Seketika Amy jatuh tersungkur sembari memegangi dadanya yang terkena tembakan.
Dengan tangan gemetar Amy berusaha menutup lukanya untuk menghentikan perdarahan yang tak kunjung berhenti.
"Bukan aku yang membunuh Amy, tapi kamu Rey...kamu yang sudah membunuhnya. Kamu yang memaksaku untuk membunuhnya jadu salahkanlah dirimu sendiri!" celoteh Bisma
"Dasar Iblis!" seru Iwa meradang
"Hahahaha, sekarang kau sudah tahu siapa aku bukan jadi bersiaplah menyusul kedua orang tua mu ke Neraka!" seru Bisma kemudian membidikknya.
*Dor!!!
*Bruugghh!!!
"Hahahaha, dasar brengsek!" Bisma segera mengarahkan pistolnya kearah Daniel.
Namun Daniel lebih dulu melepaskan tembakannya hingga membuat Bisma langsung roboh ke tanah.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mengalahkan aku Bisma," ucapnya mendekati Bisma yang sekarat.
Lelaki itu kembali melepaskan tembakannya, "Ini balasan karena kau sudah membunuh istri dan anakku," tandasnya sebelum kembali menembaknya berkali-kali hingga lelaki itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Iwa segera menghampiri Amy dan memeluknya, "Bertahanlah Dinda, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucapnya kemudian memapahnya
Bridav segera berlari dan menghadangnya.
"Takan ku biarkan musuhku, meninggalkan medan perang selama perang belum berakhir," ujar Bridav memainkan belati di tangannya.
"Biarkan aku yang akan menghadapinya," ujar Baron menghampiri Iwa
"Hahahaha, Baron dari Cobra Hitam apa kau ingin membalas dendam atas kematian Rex ketua geng mu,"
"Tentu saja, aku harus mengirim mu ke Neraka untuk menemaninya," sahut Baron mengepalkan tangannya.
*Bruugghh!!!
Lelaki itu terhuyung-huyung kebelakang saat Leona berhasil melepaskan tendangan keras kearahnya.
Leona menyeringai dan kembali menendanginya. Iwa segera menurunkan Amy dan menghampiri Bridav dengan wajah bengisnya.
Ia segera melepaskan pukulannya kearah lelaki itu. Namun Bridav hanya tersenyum dan tak membalas serangannya.
"Apa hanya segitu kemampuan seorang Adrian yang memiliki seribu nyawa??" ejeknya
"Bahkan, pukulan mu tak lebih keras daripada tinju seorang wanita, ck, ck, ck!" imbuhnya sengaja memancing kemarahan Iwa.
"Baiklah, mari kita buktikan tinju siapa yang paling mematikan," sahut Iwa dengan enteng
Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan kekuatannya. Daniel yang hendak membantunya segera menyingkir saat melihat Iwa mulai memejamkan matanya.
Lelaki itu seakan tahu jika pemuda itu akan mengeluarkan serangan mematikan kepada Bridav.
Hanya Bri, satu-satunya gengster yang tidak mau tunduk kepadaku. Wajar saja itu karena ia memiliki kekuatan bertarung yang mumpuni daripada gengster lain. Tidak seorangpun dari gengster di Jakarta yang berani kepadanya, semuanya segan dan tunduk padanya mengingat kekuatan dan kemampuan bertarungnya yang luar biasa.
Daniel memerintahkan anak buahnya untuk segera mundur. Kini hanya ada Iwa yang bertarung dengan Bridav dan juga Leona dengan Baron.
Daniel segera menghampiri Amy dan membawa gadis itu pergi dari tempat itu.
"Maafkan ayah yang tidak mengenalimu sayang," ucapnya mencium kening gadis itu.
Kini Iwa memasang kuda-kudanya dan menggerakkan tangannya.
Ternyata dia memiliki kemampuan beladiri yang lumayan, aku harus waspada. Dilihat dari gerakannya aku yakin dia bukan orang biasa. Dia seperti seorang kesatria dari sebuah kerajaan.
Bridav kemudian menggerakkan tangannya, lelaki itu juga mengeluarkan jurus andalannya untuk menghadapi serangan Iwa.
"Hiiaaaaattt!!"
Iwa segera melesat terbang dan menghantamkan tinjunya kearah Bridav hingga lelaki itu terhempas ke tepi bangunan.
Bri segera mengalihkan pandangannya dan segera bangun. Namun dengan cepat Iwa kembali melepaskan tendangannya hingga lelaki itu terhempas dan jatuh dari atas gedung.
*Bruugghh!!!
Iwa kemudian menghampiri Leona yang masih merisak Baron.
Lelaki itu segera menjambak rambutnya dan menghempaskan wanita itu hingga jatuh tersungkur ke tanah.
"Pergilah, aku tidak mau membunuh seorang wanita," ucapnya kemudian mengulurkan tangannya
Namun Leona segera melepaskan tendangan kearahnya dan segera bangun.
"Kenapa kau tidak mau membunuhku, apa kau pikir aku wanita lemah!" seru Leona menantangnya.
Iwa segera membersihkan noda di bajunya dan berdiri tegap menatap Leona.
"Lalu apa mau mu?" tanya Iwa
"Lawan aku!" ucap Leona lantang
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan," Iwa segera merangsek maju menyerang Leona
Gadis itu terus menahan serangannya tanpa bisa membalasnya. Gerakan Iwa begitu cepat hingga membuatnya tak sempat melawan ataupun menghindar.
Sebuah jap keras berhasil menumbangkan tubuh wanita itu hingga darah segar mengalir dari pelipisnya.
"Biarkan aku yang mengakhiri pertarungan ini Rey," tukas Baron menghampiri Leona
Pemuda itu kemudian mengeluarkan Kerambitnya, "Ini untuk Rex!" serunya
Namun Iwa segera menahannya, "Jangan bunuh dia, biarkan polisi yang akan menghukumnya," ucap Iwa kemudian menarik Baron meninggalkan tempat itu.