
*Grepp!!
"Kau!!" Daniel membelak saat melihat Adrian tiba-tiba membuka matanya dan menahan serangannya.
Darah segar bercucuran dari tangannya saat mencoba menahan samurai Daniel. Pemuda itu berusaha sekuat tenaga menahan pedang itu saat Daniel terus mendorongnya.
*Bruugghh!!
Daniel tersungkur ke lantai saat Iwa berhasil mendorongnya. Ia kemudian beranjak dari kursi rodanya dan mengambil samurai yang terjatuh di lantai.
Pemuda itu berjalan menghampiri Daniel dan mengarahkan pedangnya. Saat ia bersiap mengayunkan pedangnya kearah Daniel mendadak puluhan anak buahnya segera bergerak masuk mengepungnya.
Lelaki itu segera membalikkan badannya dan mengayunkan pedangnya kearah anak buah Daniel hingga mereka berjatuhan satu persatu. Puluhan anak buah Daniel yang baru memasuki ruangan itu langsung mundur ketika melihat rekan-rekannya tergeletak bersimbah darah setelah terkena tebasan samurai Iwa.
Saat Iwa berjalan mendekati mereka, semuanya langsung mundur dan berusaha menghindarinya.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian, pergilah jika kalian masih ingin hidup," ucapnya dengan tenang
Ia kemudian berbalik kearah Daniel dan mendekatinya.
*Tak, tak, tak!!
"Aku memang sangat ingin membunuhmu, tapi aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darahmu," Iwa kemudian berjalan meninggalkan Daniel.
Para anak buah Daniel segera beringsut mundur dan memberikan jalan kepadanya.
Saat ia hendak keluar dari pintu mendadak polisi datang dan menghentikannya.
"Berhenti, Saudara Adrian Prawiro anda kami tahan karena telah melakukan penyerangan terhadap tuan Daniel," ucap seorang Polisi kemudian memborgolnya
Adrian hanya tersenyum kecut dan menerima tanpa melawan saat Polisi membawanya ke lembaga pemasyarakatan.
"Apa anda ingin menghubungi pengacara anda?" tanya seorang polisi saat menginterogasinya.
"Aku tidak butuh pengacara tapi aku hanya ingin menghubungi adikku," jawabnya enteng
Polisi kemudian memberikan kesempatan kepadanya untuk menghubungi adiknya.
"Halo Rey, Lo dimana?" tanya Refan dengan nada cemas
"Temui aku di kantor polisi sekarang," jawabnya singkat
"Baiklah, aku akan datang menemui sekarang juga," jawab Refan kemudian mengakhiri panggilannya.
"Apa Rey yang menghubungi mu?" tanya Amy dengan nada cemas
"Benar,"
"Syukurlah, Akhirnya kita bisa menemukannya. Dimana dia sekarang?" tanya Amy lagi
"Kantor polisi,"
Seketika Amy langsung melotot mendengar jawaban Refan.
"What, kantor polisi!!" serunya tidak percaya
"Tenanglah, biar aku yang akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Refan
"Tapi...bukankah dia di culik, lalu kenapa sekarang malah di tahan di kantor polisi. Ini benar-benar aneh?" ucap Amy tak habis pikir
"Sudahlah Amy, lebih baik kau segara pulang, karena tempat ini pasti akan segera di periksa oleh polisi." jawab Refan
"Apa kau sudah baikan sob?" tanya Refan melirik kearah Baron
"Tentu saja,"
"Kamu juga harus pergi dari sini, karena Polisi pasti akan menangkap mu jika kau masih tinggal di sini," ucap Refan memperingatkan Baron
"Tidak perlu khawatir, aku sudah mempunyai tempat yang aman untuk kita tinggal sementara waktu," jawab Baron
"Syukurlah, kalau begitu sampai ketemu nanti malam," jawab
"Kau mau kemana?" tanya Baron
"Aku harus menjenguk Rey dipenjara, aku juga harus tahu kenapa ia sampai dipenjara," sahut Refan
"Kalau begitu aku ikut," jawab Baro
"Tapi??"
Baron kemudian segera membuka isi tasnya dan memberikan sebuah kumis dan aksesoris untuk melakukan penyamaran.
"Apa yang terjadi?" tanya Refan begitu penasaran
Iwa hanya memberikan sebuah catatan kecil kepadanya tanpa berbicara sedikitpun.
"Apa ini??" tanya Refan semakin bingung
"Bantu keluarkan aku dengan catatan itu, aku yakin kau pasti mengerti." sahut Iwa singkat
Baron kemudian segera mengambil catatan itu dan membacanya.
"Ok aku mengerti," jawabnya kemudian merobek-robek kertas itu.
"Apa ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Baron
"Tidak ada, aku hanya ingin cepat keluar dari sini. Aku tidak tahan harus tinggal bersama didalam jeruji besi saat aku sedang sakit seperti ini." jawab Iwa
"Baiklah, aku janji besok kau pasti akan segera pulang dan bisa tidur nyaman di kasur mu lagi," sahut Baron menepuk pundaknya.
Keduanya kemudian berpamitan dan meninggalkan Iwa.
Malam harinya, Baron dan Refan sengaja menyelinap masuk kedalam Wastu Ares yang dijaga ketat oleh polisi.
Keduanya segera masuk ke kamar Adrian untuk mengambil laptop milik pemuda itu. Setelah berhasil mendapatkan laptop Adrian keduanya kemudian menuju ruang security untuk memeriksa rekaman CCTV rumah itu.
Setelah berhasil mendapatkan semuanya kedua pemuda itu segera keluar dan meninggalkan wastu Ares.
"Apa semuanya ada di laptop itu?"
Refan begitu penasaran saat Baron mulai membuka file di laptop milik Adrian.
Mereka begitu terkejut ketika melihat mind mapping milik Adrian.
"Gila, ternyata dia tidak sebodoh yang aku kira. Rey benar-benar sudah berubah. Dia bahkan bisa menemukan dalang dibalik penggulingan dirinya dari PE Corporation." ucap Regan begitu takjub
"Sekarang kita harus segera ke Bar tempat aku di jebak, aku yakin kita bisa menemukan bukti yang bisa membebaskan Rey dari penjara," jawab Baron
"Baiklah, ayo bergerak cepat sebelum si brengsek Daniel mendahului kita," Refan segera menyambar kunci mobilnya dan melesat meninggalkan kosannya.
Setibanya di Bar, keduanya langsung menuju ruang security, disana Baron segera melakukan aksinya setelah Refan berhasil membius beberapa tenaga sekuriti.
"Bagaimana apa kau mendapatkannya?" tanya Refan sembari mengawasi situasi di depan ruang sekuriti
"Sepertinya mereka sudah menghapusnya," jawab Baron membuat Refan begitu kecewa
"Kalau begitu ayo cepat pergi dari sini sebelum para bajing*n itu memergoki kita," sahut Refan
"Tunggu sebentar,"
Baron segera memasukan USB miliknya kedalam PC setelah menemukan beberapa file mencurigakan.
"Berhasil," ia kemudian mengambil kembali Flashdisk miliknya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Kita ke bandara lebih dulu," ucap Baron
"Untuk apa?"
"Aku ingin menyampaikan salam perpisahan kepada Ester,"
"Baiklah,"
Refan segera memutar balik mobilnya menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Setibanya di Bandara Baron segera berlari mencari Ester.
Ia memeriksa satu persatu orang yang sedang melakukan check-in, namun sayangnya ia tak menemukannya.
"Dasar bodoh, mencari seseorang di tempat seperti ini tidak bisa hanya menggunakan otot, tapi otak," sahut Refan menggendong anak Ester
"Ada apa kau mencari ku?" tanya wanita itu
"Aku butuh bantuan mu sekali ini saja," ujar Baron
"Apa kau ingin aku mengorbankan nyawa ku seperti suamiku," jawab wanita itu acuh
"Kau tahu suamimu mati di bunuh bukan, kalau kau ingin membalas dendam kepada pembunuh itu, maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada semua orang siapa pembunuh Gilbert." jawab Baron
"Percuma saja, meskipun aku mengungkapnya kepada publik, apa mereka bisa menghukumnya. Dan apakah ada jaminan untuk ku bisa tetap hidup setelah mengungkapkan semuanya???"
"Aku yang akan menjamin keselamatan mu, dan aku juga yang akan menghukumnya jika memang hukum tak bisa menyentuhnya," jawab Baron meyakinkannya.