
*Flashback
Disebuah jalanan sepi yang sengaja ditutup, terlihat dua orang pemuda yang sedang melakukan balapan motor.
Keduanya terlihat saling sikut demi memenangkan pertandingan.
Namun pada akhirnya sebuah motor sport merah terguling dan hanya seorang yang melaju hingga garis finish.
"Benarkah kau akan menikahi Helen??" kata Bisma parau.
Lelaki itu kemudian melepaskan helmnya dan mengobati luka di tangannya.Terlihat jelas kegetiran di paras tampannya. Dibandingkan sakit di sekujur tubuhnya, sakit hati karena kehilangan wanita yang dicintainya membuat pemuda itu begitu gundah.
Daniel tersenyum simpul dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Tentu saja, kau harus mengakui kekalahan mu dan merelakan Helen untukku," jawabnya tanpa merasa bersalah
"Tapi kau tidak mencintainya, kau bahkan lebih menyukai sesama jenis daripada seorang wanita. Lalu bagaimana kau bisa membahagiakannya, yang ada kau malah akan menyakiti Helen." kata Bisma mencoba memberikan pengertian kepada Daniel,
"Aku tidak peduli dengan semua itu. Yang terpenting bagiku adalah aku bisa mendapatkan segalanya dengan menikahi Helen. Aku hanya perlu memberikan ia seorang anak untuk membuktikan bahwa aku lelaki normal bukan??, itu hal yang mudah Bisma." sahutnya tertawa kecil
Daniel kemudian mengajak teman-temannya meninggalkan Bisma yang masih duduk mematung di tepi jalan.
Satu tahun berlalu setelah pernikahan Daniel dengan Helen, sebuah kecelakaan menimpa Daniel dan istrinya.
Mobil mereka tergelincir saat menuju ke Bandung untuk berlibur. Saat itu Helen tengah hamil besar, dan terpaksa ia dilarikan ke rumah sakit Hasan Sadikin karena pendarahan hebat yang dialaminya.
Wanita itu terpaksa harus menjalani persalinan lebih awal karena kecelakaan itu membuatnya kontraksi.
Bisma yang kebetulan ada di rumah sakit yang sama kerena istrinya juga sedang melakukan persalinan disana tergerak hatinya untuk melihat kondisi Helen. Lelaki yang masih menyimpan rasa terhadap Helen itu kemudian mendatangi ruang perawatannya diam-diam, untuk memastikan keadaan wanita yang dicintainya itu.
Setibanya di rumah sakit, ia segera menuju ruang VIP tempat Helen dirawat.
Ia begitu gusar melihat wajah pucat Helen yang terbaring di brankarnya. Bisma segera bersembunyi ketika mendengar seseorang membuka pintu ruangan itu.
"Nyonya, jangan lupa susui bayi anda jika sudah bangun," ucap seorang perawat kemudian mencoba membangunkannya.
"Kenapa ia belum sadar juga, bukankah seharusnya ia sudah siuman pasca operasi," imbuhnya begitu khawatir
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan pasien ini, aku harus segera memberitahukan dokter," ucap perawat itu
Ia kemudian meletakkan bayi yg di gendongnya di samping Helen dan segera berlari meninggalkan ruangan itu.
Bisma segera keluar dari bawah brankar dan menatap lekat bayi mungil di samping Helen. Lelaki itu kemudian menggendongnya, dan melihat lebih dekat bayi perempuan itu.
"Sayang sekali kau hanya akan di jadikan alat oleh Daniel untuk menguasai semua kekayaan ibumu. Akan lebih baik bila kau tidak lahir ke dunia ini," Bisma berusaha mencekik bayi itu namun wajah lucu dan senyumannya membuat lelaki itu mengurungkan niatnya.
Ia kemudian berlari meninggalkan tempat itu dan menyesali perbuatannya. Ia segera mengusap air matanya saat seorang dokter menghampirinya.
"Tuan Bisma, maaf kami sudah berusaha menyelamatkan istri dan bayinya. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, Istri anda selamat tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayinya," tukas sang dokter
"Bagaimana keadaan istriku dok?" tanya Bisma
"Sampai saat ini istri anda belum sadarkan diri pasca operasi,"
"Jadi dia belum tahu jika bayinya meninggal??" tanya Bisma
"Tentu saja belum, dan saya harap anda juga tidak terburu-buru untuk memberitahukannya ," jawab dokter
"Lalu dimana bayi kami?" tanya Bisma
"Ada si ruang mayat," jawabnya lugas
Bisma segera menunjuk ke ruang mayat. Lelaki itu segera menggendong bayi yang masih belum lepas tali plasentanya dan menciumnya.
"Dia sudah benar-benar meninggal," ucapnya lirih.
Tiba-tiba terbersit dalam benak lelaki itu untuk menukar bayi itu dengan anak Helen, namun nuraninya menolak. Iapun bergegas meninggalkan tempat itu, namun tak lama Bisma kembali lagi dan mengambil bayi itu.
Ia kemudian diam-diam menukarnya dengan bayi Helen.
"Aku akan merawat mu, dan menjadikan mu sebagai perisai untuk melawan ayahmu kelak,"
*Flashback off.
Iwa berlari sekencang-kencangnya menuju bangsal perawatan Amy.
Setibanya di ruang perawatan VIP, perlahan ia membuka pintu ruangan itu. Wajahnya seketika pucat pasi melihat keadaan Amy yang terbaring tak sadarkan diri di atas brankarnya.
"Aku harap kau bisa bertahan demi Adrian Dinda. Kau tahu ... betapa ia sangat mencintai mu," imbuhnya kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memakaikannya ke jari manis Amy.
"Cincin itu yang menghubungkan aku dengan dia, dan semoga cincin itu bisa menyatukan kalian lagi. Sepertinya ini adalah hari terakhir ku melihatmu Dinda. Semoga kau bahagia bersama Adrian," ucapnya menggenggam erat jemari wanita itu.
Ia kemudian melepaskan jemarinya, namun tiba-tiba Amy mengeratkan genggaman tangannya membuat pemuda itu mengurungkan niatnya.
"Apa kau sudah sadar dinda?" tanyanya kemudian mengusap lembut keningnya
"Apa kau ingin aku tetap disini?" tanyanya lagi
"Baiklah aku akan menemanimu sampai kau siuman," imbuhnya kemudian ia kembali duduk disampingnya.
Sampai kapanpun kejahatan di bumi ini akan terus ada, mati satu tumbuh seribu. Tapi yakinlah akan ada Kebo Iwa yang lain yang akan menumpas para penjahat itu. Jika dihatimu sudah tidak ada dendam maka sudah saatnya kau kembali,
Amy perlahan membuka matanya, dan menatap sekelilingnya.
"Kanda," ucap gadis itu saat melihat Adrian di sampingnya.
"Akhirnya kau sadar juga My," jawab Adrian tersenyum simpul menatapnya
Gadis itu terus menatapnya lekat membuat Adrian salah tingkah.
"Apa ada yang salah denganku?" tanyanya salah tingkah.
"Aku haus Kanda," jawab Amy lirih
Adrian segera mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Amy.
"Terimakasih Kanda," kata Amy memberikan gelas kosong itu kepadanya.
"Sama-sama My," sahut Adrian memperhatikan cincin di jari manis Amy
Sepertinya dia benar-benar sudah kembali, selamat jalan Kanda semoga kau bahagia disana,
Sebulan kemudian....
*Wastu Ares
Adrian segera keluar dan menyambut kedatangan Amy.
"Selamat datang sayang," sambutnya kemudian memeluk gadis itu
Rey, menggandeng lengan Amy dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Baron segera menyambangi mereka dan menjabat tangan Amy.
"Long time no see, bagaimana kabarmu Amy?" sapanya hangat
"Alhamdulillah baik Bar," jawab Amy
"Wah meriah sekali pestanya, btw dalam rangka apa Rey?" tanya Amy
"Party ini untukmu sayang, aku sengaja membuat acara ini khusus untuk menyampaikan isi hatiku padamu," ucap Adrian seketika membuat semuanya terdiam.
Alunan musim romantis kemudian bergema, "Amy Haryono, maukah kau menjadi istriku?" tanyanya memberikan bucket mawar merah kepadanya.
Amy menerima bunga itu dan menghitung jumlah kelopaknya.
Ada dua belas buah, dan itu berarti kau ingin aku menjadi milikmu. Oh romantis sekali Rey,
"Tentu Rey, aku mau jadi istrimu," jawabnya membuat semua yang hadir disana bersorak gembira.
"Cium, cium!!!" teriak mereka membuat Adrian langsung mencium mesra bibir Amy.
Terimakasih Kanda, kau sudah membuat Rey menjadi pria sejati.
Keduanya kemudian bergabung dengan yang lainnya menggerakkan badannya menikmati alunan musik DJ yang menggema di ruangan itu.
*Duaaarrrrr!!!!!
Seketika semua orang jatuh terkulai tak berdaya saat sebuah bom meledakan wastu Ares.
*The End
Teman-teman sampai jumpa lagi di My IMMORTAL season 2 ya....love you 😘😘😘