My Immortal

My Immortal
Leona



"Hahahaha, aku suka gayamu anak muda. Kau benar-benar mewarisi jiwa Psikopat pamanmu itu. Tapi sayang sekali aku juga tidak mudah percaya dengan orang yang baru saja aku kenal," lelaki itu segera melepaskan tendangan keras kearah Iwa membuat pemuda itu terhempas menghantam meja bartender.


Semua wanita menjerit ketakutan saat Bridav mengeluarkan pistolnya dan menembak keatas untuk memberikan peringatan.


Semua pengunjung Bar segera berlarian keluar meninggalkan tempat itu, tidak terkecuali anggota geng Kalajengking yang membantu Iwa atas perintah dari Daniel.


Iwa segera bangun dan menghadapi anak buah Bridav yang menyerangnya dengan brutal.


*Brakkk!!


Kembali Iwa terhempas saat Bridav kembali melepaskan tendangannya.


Saat lelaki itu hendak kembali menyerangnya seorang pemimpin Geng Kalajengking segera membantunya dengan menyerang Bridav.


Saat situasi mulai kacau seorang Pemuda menarik Iwa menjauh dari tempat itu.


"Baron!!!" ucapnya begitu terkejut melihat pemuda itu.


Baron hanya memberi isyarat agar ia tidak membuka mulutnya lagi.


"Apa yang terjadi, katakan padaku siapa pelakunya?" cecar Iwa


"Aku tahu siapa pelakunya, tapi aku yakin dia tidak sendirian. Percuma saja jika kau meminta informasi kepada Bry karena dia tidak akan memberikan informasi secara cuma-cuma kepada siapapun meskipun Daniel sekalipun yang memintanya. Ada harga yang harus ia bayar dari semua informasinya dan itu sudah menjadi kesepakatan kami para gengster dengannya." terang Baro


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Iwa


"Alihkan perhatian Bridav, biar aku bisa leluasa meretas komputer di ruangannya. Bertahan selama mungkin karena aku yakin tidak mudah untuk meretas komputer milik seorang hacker terbaik," jawab Baron


"Pergilah, aku mengerti," ucap Iwa


Pemuda itu segera kembali untuk membantu Geng Kalajengking melawan Bridav dan anak buahnya.


Baron segera menuju ruang kerja Brosav yang ada di lantai atas bar itu. Pemuda itu segera membobol pintu masuk ruangan itu dan segera menyalakan komputer yang ada di atas meja kerja Bridav.


Alih-alih meretas data di komputer itu Baton yang penasaran dengan sosok wanita yang menyerangnya di Wastu Ares juga segera mencari tahu tentang wanita itu.


*Brakkkk!!!


Iwa segera bangkit dan menyingkirkan reruntuhan meja dari tubuhnya.


Bridav menyeringai dan melompat kearah pemuda itu sembari berusaha menikamnya dengan belati di tangannya.


Iwa segera melompat menghindari serangan lelaki itu. Ia kemudian bergelayut pada sebuah pilar dan melepaskan tendangan kearah Bridav hingga lelaki itu tersungkur.


Saat melihat Bridav tersungkur anak buah lelaki itu langsung bersiul dan tidak lama kemudian ratusan preman memasuki ruangan itu.


"Cepat pergi dari sini!!" seru ketua geng Kalajengking


Iwa segera menyusul lelaki itu dan berlari meninggalkan Bar.


Iwa segera kembali ke Bar saat mengingat Baron masih ada di dalam ruang kerja Bridav.


"Ah sial, kenapa aku melupakannya," saat ia membalikkan badannya sebuah motor sport berhenti di sampingnya


"Cepat naik!"


Tanpa berpikir panjang Iwa segera naik dan Baron melesatkan motornya meninggalkan Bar.


Baron menghentikan motornya di depan kantor pusat PE Corporation.


"Kenapa kita kesini?" tanya Iwa bingung


"Ada yang mau aku luruskan di tempat ini," sahut Baron segera berlari menuju ruang kerja Iwa


"Apa yang kau cari??" tanya Iwa


Baron segera membuka laptop milik Adrian dan membersihkan virusnya.


"Apa kau yang mengirimkan virus ke komputer kami?" tanya Iwa


"Aku sengaja melakukannya untuk mengamankan rahasia perusahaan mu, karena ada seorang hacker yang mengincarnya untuk menjatuhkan dirimu," sahut Baron


Menunjukkan foto seorang wanita kepada Iwa.


Tentu saja Iwa kaget bukan kepayang melihat wajah wanita itu.


"Leona???" ucapnya tak percaya


Baron segera bergegas menuju ruang kerja Leona dan mencari sesuatu di komputernya.


"Semuanya sudah bersih, dia sudah membersihkan semua jejaknya." ucap Baron kemudian mematikan komputernya.


Gadis itu begitu terkejut saat melihat Iwa berdiri di depan pintu rumahnya.


"Apa kau masih sakit?" tanya Iwa


"Alhamdulillah sudah baikan Tuan," jawabnya lirih


"Sebenarnya kau sakit apa, jika memang sakit mu parah maka sebaiknya aku harus membawamu ke rumah sakit terbaik di Jakarta. Kau tahukan aku tidak bisa bekerja jika kau tidak ada," ucap Iwa menepuk pundaknya


"Tidak perlu Tuan, saya sudah baikan dan besok saya sudah bisa bekerja lagi," jawab gadis itu menyingkirkan lengan Iwa dari pundaknya


"Kenapa lenganmu, kenapa berdarah?" tanya Iwa membelalakan matanya saat melihat darah di baju Leona.


"Tidak apa-apa Tuan, hanya luka kecil," sahut Leona segera menutupi lengannya


"Aaarrrggghhhh!!" tiba-tiba wanita itu menjerit saat Baron meremas lengannya yang terluka.


"Apa yang kau lakukan brengsek!!" serunya reflek melepaskan tendangan keras kearah Baron


"Kenapa kau terkejut Leona, apa kau takut identitas mu terbongkar karena aku masih hidup," ujar Baron menyeringai


"Kenapa aku begitu bodoh dan tak mengenali rival ku saat duduk di bangku kuliah," imbuhnya kemudian melepaskan kacamata tebal yang dipakai Leona.


"Leana Key, kau boleh saja memakai identitas palsu tapi aku sudah mengetahui semuanya,"


"Lalu apa maumu Berry??, apa kau akan menjadi seorang pengadu untuk meringkus ku," sahut Leona sinis


"Sekarang kau pasti sudah tahu siapa aku, jadi apa kau ingin membunuh ku Tuan Adrian?" tanya Leona tersenyum padanya


Wanita itu kemudian membungkukkan badannya dan mengambil belati dari balik celana. Dengan Ia segera menebaskan belati itu kearah Baron, namun Iwa segera menarik kemeja pemuda itu untuk menghindari serangan Leona.


Iwa kembali menghindar saat Leona melepaskan pukulan kearahnya.


Ia kembali menyerangnya dengan melepaskan tendangan keras kearah Iwa, gadis itu begitu gesit sehingga mampu melepaskan pukulan bertubi-tubi kearah Iwa. Mengetahui lawannya begitu tangguh ia segera mengambil benda apapun di hadapannya dan melemparkannya kearah Iwa dan Baron untuk mengalihkan perhatian kedua pria itu.


Leona berhasil melarikan diri setelah mengecoh Iwa dengan memanggil sekuriti apartemen.


"Berhenti!!" seru seorang sekuriti saat melihat Iwa dan Baron mengejar Leona.


"Sial, dia terlalu licin," gerutu Baron


**********


Lapas Cipinang Jakarta Timur.


"Aku tidak menduga jika dia adalah pelakunya," ujar Daniel begitu geram


"Bagaimana bisa dia melakukan semuanya dari dalam penjara, dan siapa yang membantunya," imbuhnya


"Sepertinya Adrian sudah mengetahui siapa yang membunuh Rex dan memfitnah anda." ucap Ketua geng Kalajengking


"Bagaimana dia bisa tahu??" tanya Daniel


"Baron masih hidup, dan aku melihatnya saat di Bar milik Bridav," sahut lelaki itu


"Aku sudah tidak sabar untuk melihat siapa yang akan menang dalam perseteruan ini. Apakah Rey atau Bisma??" ucap Daniel menyeringai


"Tidak mungkin Paman Bisma dalang dibalik semua ini!" seru Iwa tak percaya saat Baron menjelaskan siapa Leona.


"Bagaimana mungkin dia tega membunuh Refan anak kandungnya sendiri," imbuhnya


"Apapun akan ia lakukan demi meraih tujuannya, kau tahu dari dulu ia tidak pernah mengakui Refan sebagai anaknya meskipun ia tahu kalau Rex adalah darah dagingnya sendiri," terang Baron


"Sebaiknya kau bersiap-siap, karena aku yakin ia akan segera bertindak saat tahu aku masih hidup,"


"Kalau begitu mari kita akhiri saja peperangan ini malam ini juga!!" ucap Iwa


*******"


Kediaman Bisma Haryono,


"Ayah!" seru Amy saat melihat lelaki itu berdiri di depannya.


Ia segera memeluknya erat, "Syukurlah ayah bebas juga, aku sangat senang ayah bisa kembali lagi ke rumah ini," tuturnya sembari membenamkan kepalanya di pelukan Bisma


Bisma tersenyum simpul melihat putri semata wayangnya itu.


"Aku akan menelpon Rey, dan memberitahunya kalau ayah sudah bebas. Aku yakin dia pasti senang," ucap gadis itu kemudian mengambil ponselnya dan melakukan Video Call dengan Iwa.


Namun tiba-tiba senyumnya memudar saat melihat Bisma menodongkan pistol kepadanya.