My Immortal

My Immortal
Tak Tik Gerilnya



"Bagaimana semuanya?" tanya Iwa menyapa kedua sahabatnya.


"Sejauh ini masih aman dan sesuai rencana," jawab Refan


"Bagaimana dengan pasar saham?" tanya Iwa lagi


"Aku masih berusaha keras mengirimkan balck dokumen untuk terapi shock para pemilik saham ilegal," jawab Baron


"Good job,"


"Kau harus gerak cepat Baron, karena pihak menteri perdagangan akan mengeluarkan peraturan baru tentang ketentuan investasi, jika kau tidak cepat maka semua rencana kita akan sia-sia. Bahaya juga kalau Daniel sampai tahu jika informasi yang kita sebar adalah hoax,"


"Santai saja, aku sudah menyelesaikan semuanya," jawab Baron segera menutup semua akun media sosialnya.


"Sekarang saatnya kita berubah menjadi seorang trader," ucap Baron segera memakai kacamata hitamnya.


"Kut, mari kita habisi para pecundang itu dan raih profit sebanyak-banyaknya hari ini," sahut Refan


"Apa kalian akan membeli saham PE Corporation?" tanya Iwa sedikit bingung melihat Refan dan Baron yang segera beralih membuka laptopnya


"Kita akan lihat pergerakan harga saham PE Corporation dari sini," jawab Refan menunjukkan grafik harga saham PE Corporation kepada Iwa


"Hmm, aku serahkan masalah saham PE Corporation kepada kalian, aku akan mengurus sisanya di kantor,"


Iwa segera merapikan penampilannya dan pergi meninggalkan wastu Ares.


Lelaki itu kemudian menghentikan mobilnya di depan kantor pusat PE Corporation. Seorang juru parkir valet segera mengambil kunci mobilnya dan membawanya pergi.


Iwa melangkah penuh percaya diri memasuki ruangan kantor yang dipenuhi oleh para investor yang melakukan demo pagi itu.


"Bisma Haryono keluarlah!!" seru mereka terus berteriak memanggil nama Bisma Haryono.


"Apa ada ini, kenapa kalian malah berteriak-teriak di sini. Bukankah sebaiknya kita berdiskusi di ruang rapat jika ada masalah??"


"Jika kalian terus seperti ini, maka keadaan akan semakin memburuk, bukan malah membaik. Jadi mari kita selesaikan masalah kita dengan damai," tutur Iwa membujuk para Investor


Pemuda itu membawa para investor menuju ruang rapat.


"Leona, bisakah kau panggilkan paman Bisma untuk datang ke ruangan ini,"


"Baik Tuan," jawab wanita itu kemudian segera bergegas pergi.


"Silakan sampaikan keluhan kalian satu persatu," ucap Iwa mempersilakan para investor untuk menyampaikan permasalahannya.


Satu demi satu para Investor menyampaikan keluhan sekaligus ketakutan mereka setelah melihat harga saham PE Corporation yang terus anjlok dari hari ke hari.


Bahkan hampir semua Investor ingin menjual saham mereka dan berhenti berinvestasi di perusahaan tersebut.


Bisma terlihat menundukkan wajahnya saat memasuki ruangan rapat. Lelaki itu segera duduk di samping Iwa dan mendengarkan keluhan para investor.


"Baiklah, sekarang saya akan coba jawab satu persatu keluhan kalian." jawab Iwa membuat semuanya langsung terdiam.


"Sekarang saya tanya kepada kalian, apa kalian masih ingin berinvestasi di perusahaan ini jika harga saham kembali naik?" tanya Iwa membuat semua investor langsung menatapnya tajam.


Kegelisahan mulai membayangi para investor saat Iwa kemudian memberikan paparan singkat mengenai rencananya untuk mengembalikan harga saham.


"Jadi bagaimana, apa kalian masih ingin menjual saham kalian?" tanya Iwa mengakhiri pidatonya


Semua investor kini merasa bingung, mereka yang awalnya begitu ingin menjual sahamnya tiba-tiba begitu enggan untuk membuka mulutnya untuk sekedar menjawab Iya.


"Pada awalnya kami memang ketakutan akan kehilangan aset berharga kami. Untuk itulah kita sepakat untuk menjual saham kami di perusahaan ini. Sebagai seorang investor tentu saja kami tidak mau berinvestasi di perusahaan yang bermasalah, kami hanya ingin berinvestasi pada perusahaan yang bisa memberikan kami keuntungan bukan kebangkrutan. Mendengar presentasi anda membuat kami sedikit bingung , dan kami sepakat untuk tidak menjual saham kami dengan syarat kami butuh seorang pemimpin perusahaan yang benar-benar tangguh dan kompeten untuk melindungi aset kami. Kami tidak butuh pimpinan yang hanya ingin memperkaya diri dan bersembunyi saat perusahaan sedang dalam masalah," tutur salah seorang investor melirik kearah Bisma.


"Terimakasih paman atas kepercayaannya, terimakasih juga kepada para Investor yang masih mempercayaiku. Baiklah aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menaikan harga saham perusahaan ini," jawab Iwa


**********


Sementara itu Refan dan Baron langsung tos ketika berhasil membeli saham DM Company.


"Akhirnya hari pembalasan tiba juga, sudah saat kita membalas apa yang Daniel lakukan terhadap Cobra Hitam," ucap Refan begitu senang


"Setelah kita berhasil membakar Lumbung padi milik Daniel, sekarang saatnya kita hancurkan pertahanannya dengan taktik gerilya," sahut Baron


"Kuy," jawab Refan segera bergegas naik keatas motor sportnya.


Baron segera duduk dibelakangnya dan keduanya melesat meninggalkan wastu Ares.


Refan menghentikan motornya tepat di depan sebuah arena balap liar.


Lelaki itu segera turun dari motornya dan mendekati seorang lelaki bertubuh kekar yang sedang mempersiapkan lomba balap liar.


"Apa gue boleh gabung?" tanya Refan menepuk pundaknya.


"Tentu saja Bro, tapi Lo tahu kan syarat ikut di balapan liar ini?" tanya lelaki itu sinis


"Tidak semua orang bisa ikut balapan liar di tempat ini, karena hanya para gengster saja yang boleh bermain di sini," imbuhnya


Refan tersenyum sinis dan kemudian membuka jacketnya, lelaki itu begitu terkejut ketika melihat tato Cobra Hitam di tubuh Refan.


"Apa kau Rex si ketua Cobra Hitam??. Tapu bukannya kau sudah mati bersama geng Cobra Hitam lainnya??" tanya lelaki itu tidak percaya melihat ketua Cobra Hitam ada di hadapannya


"Seorang ular Cobra tidak akan mati dengan mudah, aku sengaja datang ke sini untuk memberitahukan kepada semua jika Rex si Cobra Hitam masih hidup," sahut Refan kembali memakai bajunya


"Ok, kita lihat saja nanti," jawab Lelaki itu memberikan nomor peserta lomba


Refan segera memakai jacketnya dan melajukan motornya menuju garis start.


Saat ia sedang melakukan tes Drive dan mencoba Medan perlombaan. Daniel terlihat memasuki area balap dan menghampiri salah seorang pembalap.


"Aku harap kau bisa menghibur ku malam ini dengan memberikan kemenangan," ucap Daniel memeluk erat lelaki itu.


"Tentu saja, aku akan memberikan yang terbaik untuk mu,"


"Cih, kenapa aku begitu jijik melihatnya," ucap Refan begitu muak melihat Daniel


Pertandinganpun di mulai, Refan segera menarik gas motornya dan melesat dengan cepat meninggalkan lawan-lawannya.


Lelaki itu terus berusaha mengejar seorang pembalap yang berada di depannya. Kecepatannya yang begitu tingga dan kemahirannya meliuk-liukkan motornya saat Refan hendak menyalipnya membuat sang ketua Cobra Hitam begitu berang.


Sial, siapa bocah ini. Kenapa ia begitu sulit untuk dikalahkan,


Refan kembali berusaha menyalipnya saat di tikungan, namun lagi-lagi pemuda itu kembali berhasil mempecundanginya.


Tinggal sisa Lap terakhir, Refan yang selalu gagal saat menyalipnya di tikungan, kini merubah strateginya dengan menyalipnya di track lurus.


"Meskipun ini terlalu sulit aku yakin bisa mengalahkannya," Refan menarik gas motornya dan melesat meninggalkan musuhnya di posisi ke dua.


*Ciiittt!!!!


Refan sengaja menghentikan motornya tepat di depan Daniel dan membuka helmnya.


"Sekarang nikmatilah kekalahan mu Daniel?" ucapnya menyeringai