
*Dreet, dreet, dreet!!
Iwa segera menyambar ponselnya yang tergeletak di depannya.
"Tuan... sepertinya Tuan Bisma Haryono ingin melengserkan anda dari PE Corporation. Dia sengaja menggunakan isu anjloknya harga saham untuk mempengaruhi para direksi dan juga investor untuk mengangkatnya menjadi CEO PE Corporation seperti sedia kala. Dua bahkan sudah mengundang para direksi dan investor untuk mengadakan rapat darurat besok pagi. Cepatlah bertindak sebelum kita terlambat," ucap sekretaris Iwa
"Baik, terimakasih informasinya." jawab Iwa kemudian menutup ponselnya.
"Ada apa Rey?" tanya Amy penasaran
"Ayahmu ingin menggulingkan dari PE Corporation, dia sepertinya masih terobsesi untuk menguasai perusahaan itu," jawab Iwa tersenyum kecut
" Cih, Sudah kuduga, dia pasti sengaja menggunakan sentimen pasar sebagai alasan. Pantas saja begitu gencar pemberitaan tentang kebodohan mu saat duduk di bangku sekolah di berbagai kanal berita online dan juga media sosial!" sahut Refan sinis
"Kau pasti sedih ya Karena usahamu untuk menggulingkan Bisma malah gagal dan justru menyerang ku?" tanya Iwa
"Kenapa harus sedih, kau justru harus berterima kasih padaku karena sudah menyumbang statemen negatif Bisma di masyarakat. Kau lihat kan dampaknya sangat luar biasa!" jawab Refan menyombongkan diri
"Luar biasa membuat ku pusing," jawab Iwa dengan tatapan polosnya.
Melihat ekspresi wajah polos Iwa membuat Amy, Refan dan Baron seketika menertawakannya.
"Kenapa ketawa memang ada yang lucu ya?" tanya Iwa
"Ekspresi mu membuatku benar-benar tak bisa menahan tawa Kanda," sahut Amy terpingkal-pingkal
"Hmm,"
"Jangan khawatir Rey, kali ini aku akan membantumu, anggap saja itu sebagai balas Budi karena kau telah menyelamatkan nyawaku. Lagipula aku juga sangat benci dengan bedebah Bisma, dan aku tidak akan membiarkan dia menjadi CEO PE Corporation," ucap Refan
"Bagaimana caranya??" tanya Iwa
"Aku tahu ada pihak ketiga yang sengaja memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan saham PE Corporation dengan harga murah. Entah siapa yang bermain di balik layar ini, tapi sepertinya dia memiliki rencana hampir sama dengan Bisma yaitu merebut PE Corporation darimu." terang Refan
"Terus??"
"Aku yakin saat ini pihak ketika memiliki lebih dari tiga puluh persen saham PE Corporation. Angka ini cukup besar untuk bisa ikut campur dalam manajemen perusahaan, jadi kita tidak boleh tinggal diam. Seperti kata pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Alih-alih kita menyingkirkan Bisma kita juga menendang benalu yang ingin menggerogoti PE Corporation," jelas Refan.
"Caranya??" tanya Iwa lagi
"Kita akan tetap membiarkan harga saham PE Corporation tetap anjlok bahkan dengan membuatnya semakin anjlok, dengan begitu pihak ketiga pasti akan menjual saham itu karena percuma saja ia menyimpan sesuatu yang merugikannya," jawab Refan
"Terus???"
"Biarkan hacker kita yang bekerja, aku yakin semuanya akan berjalan mulus seperti rencana kita." jawab Refan lagi
"Siapa hacker kita???" tanya Iwa lagi
"Baron, dia adalah seorang hacker terbaik di Ibukota bahkan mungkin di Indonesia." jawab Refan
"Pantas kau bisa meretas data anonim dengan mudah, ternyata kau seorang genius Bar," puji Amy
"Sekarang lakukanlah tugasmu sob," titah Refan
"Aku heran, kenapa sekarang kau begitu pintar Fan?" puji Iwa
Lelaki itu begitu penasaran dengan perubahan sosok Refan yang tiba-tiba menjadi pemuda genius.
"Apa kau lupa aku ini lulusan Monash university, alasan kenapa aku begitu paham dengan dunia bisnis karena memang aku mengambil jurusan manajemen perusahaan," jawab Refan
"Oh pantas, ternyata benar... kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya saja, karena penampilan seseorang bisa menipu."
Malam itu juga mereka segera beraksi. Baron, Iwa dan Amy mendatangi kantor pusat PE corporation. Mereka sengaja membobol ruang kerjanya Bisma untuk meretas komputer milik direktur Eksekutif PE Corporation itu.
Setelah selesai mendapatkan data yang dibutuhkan, mereka juga bergegas menuju kediaman Bisma.
Setibanya dirumah Amy segera mengendap-endap menuju kamar Bisma dan mengambil laptopnya. Setelah memastikan aman dan sang ayah terlelap, ia segera membawa laptop itu keluar dan memberikannya kepada Baron. Tidak hanya laptop, Amy juga memberikan ponsel Bisma kepada Baron.
Dalam waktu singkat Baron berhasil menyadap semua informasi dan file-file dari barang-barang pribadi milik Bisma.
**********
Pagi harinya Baron sengaja menyamar sebagai tenaga Maintenance dan mendatangi kantor pusat PE Corporation seorang diri.
Lelaki itu segera menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya ketika berpapasan dengan Bisma.
Ia segera menuju ke toilet kantor untuk melakukan aksinya. Pemuda itu paham betul jika hanya toiletlah satu-satunya tempat yang tidak terdapat kamera CCTV sehingga ia bisa leluasa melakukan aksinya.
Setelah berhasil meretas data PE Corporation, ia kemudian segera mengirimkan sebuah pesan video kepada semua orang yang ada di gedung itu.
Suasana kantor pusat PE corporation tiba-tiba menjadi riuh saat semua karyawan menerima sebuah Video tentang aksi Iwa yang sedang melakukan promosi untuk memasarkan produk-produk PE FOOD. Dalam video itu juga terlihat Iwa sedang melakukan kegiatan sosial di sebuah panti asuhan. Ia menyumbangkan makanan gratis dan juga memberikan donasi kepada beberapa panti asuhan di seluruh Jakarta.
Namun sebuah file yang mereka terima membuat semuanya menjadi berang dan mengumpat Bisma yang telah menggelapkan uang pajak perusahaan dan melakukan banyak kecurangan untuk memperkaya diri.
*Ruang Rapat PE Corporation.
"Tepat sekali, rumor dan penilaian masyarakat. Itulah kenapa kita perlu membentuk penilaian positif dari masyarakat untuk membangun kepercayaan mereka untuk bisa menaikan kembali harga saham perusahaan. Jadi dengan kata lain kita harus memiliki figur pemimpin yang di percaya dan memiliki nilai plus di kalangan masyarakat. Kita tahu penyebab anjloknya harga saham kita adalah dengan beredarnya rumor tak sedap tentang diri saya dan disusul dengan beredarnya riwayat pendidikan Adrian. Bersama ini saya pastikan bahwa berita itu adalah bohong, kalian bisa melihat hasil tes hasil DNA di layar untuk memastikan alibi ku. Jadi sekarang kalian percaya bukan jika Refan bukan putraku tapi putra almarhum kakakku Prawiro Edy," tegas Bisma
Semua orang terlihat antusias mendengarkan jawaban Bisma. Namun sebuah pesan singkat tiba-tiba membuyarkan konsentrasi para peserta rapat.
*Ting!!!
Semua direksi dan para Investor segera membuka ponselnya saat menerima notifikasi pesan masuk.
"Jadi bagaimana menutut kalian, haruskah kita atasi Krisis di perusahaan kita ini dengan memilih pemimpin baru yang akan membawa perubahan bagi PE CORPORATION, atau dengan membangun image perusahaan untuk mengubah sentimen pasar, " tanya Bisma begitu antusias
"Wah benar-benar tidak tahu malu," umpat seorang direksi
Mereka kemudian segera memberikan pendapat mereka dalam sebuah kertas dan memasukannya kedalam kotak suara.
Bisma tercengang ketika mengetahui hasil voting menunjukkan bahwa para direksi menginginkan untuk membangun image perusahaan bukan memilih CEO baru seperti yang ia inginkan.
"Kenapa kalian memilih opsi yang jelas masih dipertanyakan keberhasilannya, kenapa kalian tidak memilih pemimpin baru yang bisa membawa perubahan untuk perusahaan kita!" seru Bisma begitu berang.
Melihat situasi ruang rapat yang mulai memanas, sekretaris Iwa segara menghubunginya dan menyuruh pemuda itu untuk segera memasuki ruang rapat.
"Untuk apa memilih CEO baru jika sentimen pasar tetap negatif, apa CEO baru bisa mengembalikan harga saham hanya dengan membeli saham saat harga anjlok??. Ingat paman...Saham yang sedang turun itu ibarat pisau yang berjatuhan, jadi jangan menangkap pisau yang berjatuhan jika kau tidak ingin terluka?" sahut Iwa berjalan memasuki ruangan rapat.
"Kau!!!!!" seru Bisma meradang
"Benar, bukan sebaiknya kita membangun image positif di masyarakat, aku yakin jika sentimen pasar positif maka harga saham akan perlahan naik," sahut seorang Direksi
Iwa segera memberikan applause kepada lelaki itu.
"Benar sekali, aku harap setelah melihat video itu kalian masih mempercayaiku sebagai CEO PE corporation. Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada perusahaan kita. Semoga dengan begitu perlahan harga saham kita bisa kembali merangkak. Aku yakin dengan dukungan dari kalian akan mempercepat proses itu, jadi tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan bahwa aku memang pantas menjadi CEO bukan karena aku seorang pewaris tunggal PE Corporation," ujar Iwa menundukkan kepalanya.
********
"Brengsek!!!" Seru Bisma melampiaskan amarahnya dengan menjatuhkan seluruh isi meja kerjanya
Ia begitu berang saat Adrian keponakannya yang dianggap idiot berhasil mempecundanginya di ruang rapat.
Ia begitu tak menduga jika Adrian benar-benar akan berubah menjadi lawan yang tangguh untuknya.
"Ternyata keledai yang selama ini aku remehkan telah berevolusi menjadi kuda hitam yang siap menyingkirkan aku dari arena balap," Bisma kemudiaan mengambil ponselnya dan segera meninggalkan ruang kerjanya.
Lelaki itu sengaja mendatangi sebuah Bar dikawasan Jakarta Selatan untuk melupakan kekalahannya.
Saat Bisma tengah menenggak segelas wine, seorang lelaki berpenampilan parlente menghampirinya.
Ia segera duduk di sampingnya dan mengisi gelasnya dengan minuman keras itu.
"Aku sudah tahu semuanya, aku harap kau bisa sabar menghadapi situasi ini. Aku yakin sebentar lagi keadaan akan segera berbalik." ucap lelaki itu kemudian meneguk minumannya.
"Berbalik, apa maksudmu?" tanya Bisma
"Kau tahukan alasanku memperkeruh sentimen negatif di pasar?" jawab Daniel balik bertanya
"Jadi kau rupanya yang membuat harga saham PE Corporation hancur, apa maksudmu melakukan semua itu, apa kau sengaja ingin menjatuhkannya agar kau bisa melakukan merger secepatnya dan menguasainya?" tanya Bisma menarik kerah baju Daniel
"Kau jangan salah paham dulu, aku melakukan semua itu untuk membantumu. Apa kau lupa aku sengaja mengambil resiko dengan membeli harga saham PE Corporation yang sedang anjlok untuk membalikan keadaan. Jika aku berhasil mendapatkan lebih dari tiga puluh persen saham PE Corporation, maka sudah dipastikan kau yang akan menjadi CEO perusahaan tanpa harus melakukan pemilihan. Itu sudah hukum alam karena jumlah saham kita melebihi lima puluh persen jika di gabung dan itu lebih banyak dari saham yang dimiliki oleh keponakan mu Adrian," jawab Daniel membela diri
"Untuk apa memiliki saham banyak jika tidak ada harganya di pasaran," jawab Bisma kemudian melepaskan Daniel
"Saat itu aku akan menaikan kembali harga saham PE Corporation,"
"Bagaimana caranya?" tanya Bisma kembali menuangkan minuman kedalam gelasnya
"Apa kau lupa jika aku seorang influencer, aku akan memanfaatkan semua followers ku untuk membantu meningkatkan harga saham dengan mengembalikan kepercayaan masyarakat," jawab Daniel.
"Kau memang benar-benar baj*ngan Niel, andai saja mereka tahu siapa dirimu yang sebenarnya, pasti tidak akan ada seorangpun yang akan menjadi followers mu apalagi menjadikan mu sebagai idola. Dasar brengsek!" ucap Bisma
"Sekarang yang harus kau lakukan adalah mencari kelemahan Adrian. Sekarang aku benar-benar sadar jika bocah itu benar-benar berbahaya untuk kita. Jika kita berhasil menyingkirkan Refan dan juga geng Cobra Hitam, maka kali ini kita juga tidak boleh gagal menyingkirkan bocah setan itu. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sepak terjangnya yang banyak merugikan aku," keluh Daniel
"Merugikan mu, yang benar saja Niel. Dia bahkan belum mengenalmu ataupun pernah berurusan dengan dirimu jadi bagaimana bisa dia merugikan mu?" tanya Bisma lagi sambil terkekeh
"Dia hampir saja menguak jati diriku, dan semuanya akan berantakan jika dia sampai berhasil mengungkap Semuaya," jawab Daniel
"Sepertinya kau terlalu mabuk Niel, sehingga bicaramu semakin ngawur, kalau begitu sebaiknya kau segera pulang, cuci kaki, dan tidur," jawab Bisma terkekeh
"Sial, ternyata dia sudah mabuk berat. Tapi syukurlah dengan begitu dia tidak tahu apa yang aku bicarakan barusan," Daniel kemudian memapah Bisma dan membawanya pergi dari Bar itu.
Sementara itu, Baron tiba-tiba mendapatkan telepon dari teman polisinya. Ia mengajak pemuda itu untuk bertemu dengannya karena ia ingin memberitahukan sesuatu tentang siapa pelaku penyerangan rumah Tikus.
"Apa kau yakin akan menemuinya seorang diri?" tanya Refan mengkhawatirkannya
"Tentu saja, aku akan menemukannya seorang diri, lagipula ia memintaku datang sendirian," jawab Baron
"Aneh, bukankah kalian lebih suka berbagi informasi melalui ponsel. Lalu kenapa kalian harus bertemu jika ia tahu sangat berbahaya jika ia menemui lagi. Bukankah kau juga bilang dia tidak sudah memutuskan hubungannya dengan mu dan melarang mu untuk menemuinya lagi, so kenapa sekarang ia malah meminta bertemu. Aku yakin ini jebakan Bar," ujar Refan meyakinkannya
"Tidak mungkin aku sudah mengenal Gilbert sejak kami masih sama-sama di panti asuhan. Mustahil ia menjebak ku, kau juga tahu siapa dia bukan?" jawab Baron balik bertanya
"Dia mungkin tak menjebak dirimu tapi orang lain sengaja menggunakan kelemahannya untuk menjebak mu karena mereka tahu ia adalah satu-satunya kelemahan mu," jawab Refan
"Baiklah, kalau begitu kau boleh ikut denganku tapi menggunakan mobil terpisah. Anggap saja kau sedang mengawasi ku dari kejauhan. Aku tidak mau membuat Gilbert kecewa dengan membawamu terang-terangan,"
"Baiklah kalau begitu, Karena aku juga belum pulih maka Iwa akan mendampingi ku."
"Aku??" tanya Iwa mengernyitkan keningnya
"Tentu saja, sekarang aku tahu jika kau adalah seorang petarung handal, untuk itulah kali ini aku minta kau untuk melindungi satu-satunya rekan kerja yang sudah ku anggap sebagai aduk kandung kandungku sendiri Baron. Anggap saja sekarang kita bertiga adalah satu tim, jadi please bantu aku kali ini saja Rey," pinta Refan
"Baiklah, mulai sekarang kita adalah tim," jawab Iwa